Ibu Sulidawati, Sang Ibu Berwatak Wonder Woman dari Kampung Gandekan.

Aku hanya ingin menulis menurutku. Seorang penulis yang sekarang jadi pekerjaan
Tulisan dari bob bimantara leander tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mulai Kecil Sudah Terlatih Menjadi Pekerja, Sampai Tua tak Bisa Diam
Ketika teman-teman kecilnya asyik bermain petak umpet. Ia bekerja sebagai pembantu. Ketika teman-temannya meminta uang ke orang tua. Ia harus bekerja untuk mendapat uang dengan menjual dagangan. Iya. Sejak kecil sudah menjadi pembantu orang Cina dan berkeliling untuk menjajakan jajanan. Itulah sekelumit kisah dari sosok ibu Sulidawati. Bagaimana kisah hidupnya yang dipenuhi dengan kerja, kerja dan kerja ini?
Bob Bimantara Leander
Ditengah himpitan ruko-ruko dan bangunan-bangunan besar terdapat gang sempit bernama kampung Gandekan. Ketika memasuki jalan paving kampung tersebut, anak-anak kecil ramai-ramai bermain dan bercengkrama. Ibu-ibu duduk dan mengawasi anak-anaknya. Ada beberapa bapak-bapak yang sedang asyik mengobrol. Sangat kental rasa kampungnya. Jika diteruskan kebawah, akan ditemui bangunan sekolah, SDN Kauman 3 Malang. Disitulah terdapat kantin seluas 2x4 meter.
Di kantin tersebut, ibu Sulidawati mengais rejeki untuk penghidupan keluarganya. Berbondong-bondong siswa-siswi SD memenuhi kantinnya. Terlihat kualahan melayani pembeli cilik tersebut. Tapi, Ibu yang biasa disapa Mentul ini tetap sabar memebereskan satu persatu konsumennya tersebut.
Selain bekerja sebagai penjaga kantin, ibu 3 anak ini juga pedagang lumpia. Ketika anak-anak dan suami masih tidur, bu Mentul menyiapkan dagangannya. Lumpia goreng tersebut telah siap sebelum jam 5 untuk dikirimkan ke beberapa warung terdekat. “Selain kantin, saya juga jualan lumpia mas. Kalau lumpia itu saya siapkan jam set 5. Terus kirim.”, ujar ibu lulusan SMKN 1 Malang ini.
Dengan berjualan dagangannya tersebut, bu Mentul, sapaannya, bisa menyekolahkan anak-anaknya yang sekarang duduk di bangku kuliah, SMK, dan SMP. Tak hanya menyekolahkan, ibu berkulit sawo matang ini juga dapat membeli 3 sepeda motor untuk anak-anaknya bersekolah. “Alhamdulilah... saya bisa menyekolahkan anak-anak saya dan bisalah untuk beli kendaraan buat mereka ke sekolah.”, jelas ibu yang 3 maret lalu merayakan ulang tahunnya ke-49.
Istri dari Bapak Reymon ini tak pernah tergantung pada pendapatan suaminya. Ia selalu menyisihkan gaji pak Reymon, seorang guru PNS, untuk keperluan masa depan anak-anaknya. Dia juga tak pernah meminta uang untuk keperluan sandangnya. Baju, tas, dan sepatu yang dibelinya tersebut adalah uang dari hasil pendapatannya yang ia sisihkan. Lebih jauh lagi, untuk perawatan wajah ia juga memakai uang penghasilannya sendiri.
Sebelum seperti sekarang, ibu penyuka fashion muslim ini sangat jauh dari kata cukup. Hidup berpindah-pindah rumah. Hutang kemana-kemana. Gali lubang tutup lubang. Suami belum menjadi PNS. Kemana-mana bajunya sama aja. Ke kondangan bajunya hanya satu. Tak pernah ia menikmati waktu luang untuk bersantai.
Beberapa kali ibu dengan tinggi 160 cm ini menjajal berbagai minuman dan makanan untuk di dagangkan, seperti es ketan hitam, martabak, mie pangsit, sampai es sinom. Namun, tak pernah dagannganya bertahan lama. Kerugian sempat menimpanya. Modal tak kembali, malah yang ada tekor. Sampai pada suatu saat, ia dan suami menggadaikan baju-baju untuk keperluan sehari-hari dan modal berjualan esok hari. “Dulu itu sampai pernah saya mas. Sangking gak ada uangnya sampai gadaiin daster-daster saya sama bapak untuk makan dan beli bahan untuk jualan he he”, tertawa bu Mentul membayangkan masa lalunya itu.
Selain dengan hiruk-pikuk susahnya mencari uang, ibu ini juga ditimpa masalah lain, yaitu pendidikan anak-anaknya. Anak pertamanya waktu itu tidak naik kelas, ketika SMP. Padahal untuk membiyayai anaknya tersebut bu Mentul sampai mencari pinjaman sana-sini untuk membayar uang gedung dan biaya SSPnya yang terbilang mahal. Tapi, bu Mentul tetap tawakal untuk mencari uang untuk membiyayai pendidikan anak pertamanya tersebut demi masa depan cerah. Walaupun, suami pada waktu itu bilang untuk menghentikan pendidikan anaknya dan menyuruhnya untuk bekerja menjadi tukang becak. “Saya gak mau mas... walaupun gimanapun saya harus menyekolahkan anak saya walaupun saya harus kerja sampai sakit. Pendidikan nomor satu.”, jelas ibu penyuka sinteron “Dunia Terbalik” ini.
Karena terlatih menjadi pekerja dan hidup susah di masa kecilnya, itu terbawa sampai kehidupannya sekarang. Bu Mentul tak pernah menyerah. Meskipun sesekali mengeluh karena kerjaannya yang menghabiskan waktu 12 jam sehari itu, ibu itu tak pernah keluar dari rutinitasnya sebagai pekerja. Entah itu masalah besar atau kecil, dia hadapai sembari berdoa kepada Allah SWT. Mungkin dia tak punya kekuatan seperti Wonder Woman atau Black Widow, tapi dia punya kemiripan dengan super hero wanita tersebut, yaitu keinginan untuk tetap menerjang masalah.
Kedepannya, bu Mentul hanya berharap agar ia dapat menunaikan umroh bersama suami. Bukan tanpa alasan, ini adalah impiannya sejak kecil, sejak ia bekerja sebagai ‘babu’ dan ‘ pedagang cilik. “Saya ini sekarang cuma ingin umroh mas sama suami. Doakan aja ya.", tandas ibu Sulidawati.
