Jangan Salip Masa Depan

Aku hanya ingin menulis menurutku. Seorang penulis yang sekarang jadi pekerjaan
Tulisan dari bob bimantara leander tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sepertinya semakin orang itu membual, semakin dunia itu tidak menginginkannya. Semua harapan yang diucapkan, diceritakan, itu tidak akan terjadi. Percaya atau tidak itu lah kenyataan yang terjadi pada saya.
Saya hidup 25 tahun. Hanya delapan tahun mungkin saya dididik untuk tidak berbicara apa yang saya harapkan. Sebelumnya saya masih kecil dan anak-anak atau remaja yang hidup tanpa harapan panjang. Hanya besok main kemana atau makan apa saja pikiran saya.
Selama delapan tahun itu pula saya mencoba memendam harapan saya. Harapan saya cukup banyak. Saya ambisius sebagai manusia dan lelaki. Ingin ini dan itu. Tapi saya tidak akan membicarakannya ke siapapun.
Bapak saya berkata, sekali saya membicarakan mimpi saya ke orang lain, saat itu juga mimpi itu akan pudar.
Benar saja, saat itu saya SMA. Saya ingin menghadirkan gelaran konser musik di SMA saya. Sepertinya mimpi itu cukup mudah untuk digapai. Cukup mudah karena saya punya aksesnya. Saya ketua OSIS dan memang wajibnya untuk menggelar acara pensi tahunan yang bergengsi di kalangan anak SMA waktu itu. Tahun 2014 atau delapan tahun yang lalu.
Saya mulai dengan awalan cukup baik. Tim saya lengkap. Seksi acara hingga perlengkapan semua adalah yang terbaik. Orang yang saya pilih mungkin layaknya Sri Mulyani di Kementrian Keuangan atau Ibu Susi di Menteri Perikanan.
Saya semakin yakin saat proposal gelaran acara musik itu diterima oleh Wakil Kepala Kesiswaan Sekolah. Dia optimis bisa berjalan lancar proses gelaran konser musik pertama di SMA saya.
Semua anggota saya cukup yakin. Tiga minggu berjalan semua sesuai rencana. Iuran per siswa lancar. Semua siswa setuju diadakan gelaran konser musik itu meskipun mengeluarkan uang. Alasannya mendatangkan artis ibu kota.
Saya pun berjalan gagah setiap masuk sekolah. Saya seperti pemeran utama di film-film. Saya akan menjadi pemeran yang mengorbankan hidupnya untuk keselamatan umat se dunia. Itulah perasaan saya saat masuk sekolah setiap pagi.
Saya pun mulai lupa dengan nasihat bapak saya. Jangan membual kalau harapannu tidak ingin pudar.
Waktu itu di kelas cukup lengang. Guru Sosiologi saya sedang ada acara di luar sekolah. Siswa di kelas hanya diarahkan untuk membaca buku paket BAB II termasuk saya.
Saat itulah saya mulai diajak mengobrol dengan teman-teman kelas. Awalnya tentang sepak bola. Terus mereka berganti topik jadi musik.
Saat musik itu lah tercetus pertanyaan tentang rencana saya membuat gelaran konser musik di SMA. Saya sebenarnya pingin menahan tidak berbicara banyak.
Saya hanya jelaskan itu semua masih proses. Tapi karena mereka memaksa karena obrolan sudah terlanjur asyik di jam kosong itu, saya akhirnya memberitahu mereka.
Saya akan mengundang artis ini. Saya berkata seolah-olah sudah pasti akan mengundang artis ibu kota di SMA saya. Padahal nyatanya semua itu masih 20 persen untuk dikatakan selesai persiapan gelaran konser musik itu.
Mereka semakin penasaran dan tersenyum sambil menatap mata saya. Ada tiga atau sampai empat orang menatap mata saya.
Suara saya keraskan saat melanjutkan rencana-rencana yang belum mantang itu. Tujuannya secara sengaja agar satu kelas mendengar.
Akhirnya satu kelas mendengar. Saya pastikan itu lightingnya seperti konser musik di Jakarta. Saya juga membual bahwa artis yang saya undang ini tidak main-main dan semua akan tahu lagunya.
Satu kelas pun bersemangat. Beberapa mulai urun ide. Beberapa mulai ingin jadi panitia dan beberapa mulai ingin membantu saya secara suka rela.
Saya merasa perhatian ke saya semua. Saya merasa puas dengan tanggapan mereka meskipun progres gelaran konser musik itu masih 20 persen dan sangat mentah.
Bel berbunyi. Jam kelas sosiologi pun telah selesai. Saya keluar kelas dengan gagah lagi. Dunia adalah milik saya. Dan saya merasa puas dengan hanya bercerita saja.
11 Bulan Berlalu
Hari gelaran konser musik itu adalah hari ini. Seharusnya di gedung konser di Kota Malang malam nanti ada konser musik dengan tulisan dan logo SMA saya.
Namun kenytaan berkata lain. Gedung itu sepi. Tak ada aktivitas manusia. Suara drum, gitar, dan bass bersaut-sautan tidak ada. Cewek-cewek antri tiket pun tak nampak.
Di sekitar gedung hanya ada cahaya lampu dan jalan yang lengang. Malam yang dingin dan juga sesekali ada kedip lampu sepeda motor yang akan belok.
Itulah kenyataannya. Harapan saya telah sirna. Impian menggelar konser musik untuk SMA saya hanyalah ucapan saja. Dan kekinian menjadi cerita legenda adik-adik SMA saya.
Saya gagal, dan saya hanya bisa mengambil hikmah dari itu dengan susah. Banyak tangisan dan kekecewaan atas kegagalan itu.
Intinya semua satu. Saya teringat kegagalan ini karena saya terlalu banyak membual sejak kelas Sosiologi itu. Dua bulan dari kelas itu, saya sibuk membual dan berbicara tentang harapan.
Selama Sebelas Bulan
Saya cukup bangga seperti biasa masuk ke sekolah. Tapi bukan sebagai pemeran film utama yang akan mengalahkan monster. Tapi layaknya pemeran utama yang telah mengalahkan monster.
Padahal monster itu belum saya taklukkan. Hanya saja perasaan saya layaknya sudah melakukan aksi heroik itu dengan bercerita ke teman-teman saya.
Bercerita tentang gelaran konser musik yang belum kejadian itu kini jadi aktivitas favorit saya. Di kelas, di kantin atau bahkan di warung kopi cerita tentang rencana gelaran konser musik itu layaknya segelas kopi. Cerita itu selalu ada dan selalu menghangatkan obrolan. Apalagi ketika selesai, saya selalu merasa aman dan nyaman serta puas pada diri sendiri yang sebenarnya belum melakukan apa-apa.
Di sisi lain, rapat terus berjalan. Seksi acara hingga seksi perlengkapan yang saya pilih masih kerja dengan jalan yang benar. Semua tahapan demi tahapan dilalui. Mulai dari mengontak artis ibu kota yang akan diundang, dan juga mengirim proposal di mana-mana.
Saya semakin yakin acara itu akan terjadi dan menggemparkan SMA bahkan Kota Malang.
Saya semakin bangga bercerita. Saya sibuk membual, anggota saya sibuk bekerja. Itu terjadi dalam kurun waktu satu bulan.
Sampai rapat pun, saya tidak urun ide, tidak urun tenaga untuk menyelesaikan progres acara. Semua saya serahkan ke anggota. Saya sibuk membuat status di BBM dengan poster gelaran konser musik yang baru saja dibuat sie desain grafis.
Semua mata tertuju ke saya. Hanya dengan bercerita saja saya merasa puas. Seperti tidak ada yang menghentikan gelaran konser musik ini. Saya yakin.
Namun keyakinan itu kian hari mulai memudar. Masalah datang silih berganti mendekati acara. Hingga membuat seksi acara saya jatuh sakit.
Seminggu dia tidak masuk sekolah. Saya selama seminggu itu seperti orang dungu. Anggota atau panitia saat rapat seperti tak mendengar perkataan saya. Atau saya yang memang tidak berkata-kata.
Seminggu saat sie acara saya tidak masuk. Tidak ada kemajuan persiapan gelaran konser musik itu. Hanya ada perdebatan saya dengan sekretaris saya.
Saya dikritik karena tidak pernah membantu pekerjaan apapun. Saya hanya sibuk bermain dengan teman-teman saya di luar panitia atau anggota OSIS.
Saya tidak terima. Saya berteriak dan mengatakan, semua acara ini tidak akan terlaksana jika tidak ada ide dan keberanian saya. Saya intinya membela diri.
Pertengkaran itu pun cukup dahsyat hingga membuat semua terdiam saat suara cukup keras saya keluar dari mulut dan telunjuk saya menunjuk sekretaris saya dengan mata penuh amarah.
Saya keluar dari ruang rapat. Saya bilang ke semua panitia bahwa mereka harus mencoba mengerjakan semua sendiri tanpa saya.
Sehari berselang, seksi acara itu masuk sekolah. Dia begitu kaget dengan keadaan panitia saat ini. Dia mencoba mengirim pesan di grup BBM. Namun tidak ada balasan. Semua seperti kompak menjadi pembaca yang diam di grup itu.
Saya mencoba untuk mengirim pesan pribadi ke seksi acara. Saya jelaskan kejadian yang menyebabkan tidak ada respon saat sie acara itu mengirim pesan di grup BBM.
Dia terkejut. Dia marah kepada saya. Saya bodohnya waktu itu malah balik marah. Saya tinggalkan dia dan berkata persis saat saya mendebat sekretaris saya itu. Gelaran konser musik ini tidak akan sampai progresnya di titik ini kalau tidak diawali dengan saya.
Seksi acara itu hanya mengangguk. Saya pulang. Saat senggang saya cek grup BBM. Saya cukup marah dan mata saya melotot melihat semua panitia keluar dari grup yang sudah dibuat 10 bulan lalu.
Hanya tersisa saya saja. Saya mencoba untuk mengirim pesan ke sie acara tidak ada jawaban. Semua saya kirim pesan, bertanya apa yang terjadi hingga keluar grup panitia itu. Tidak ada jawaban.
Besoknya, saya mencoba ke kelas seksi acara saya. Dia hanya diam membisu seperti patung. Saya memohon dan meminta maaf atas kelakuan saya. Dia hanya diam seperti es batu.
Saya mau marah tapi saya pikir itu malah membuat rencana gelaran konser musik ini sirna.
Ternyata meskipun saya tidak marah, rencana membuat konser musik itu tetap sirna.
Sebulan saya menunggu di ruang rapat setiap pulang sekolah. Tidak ada satu pun panitia yang hadir. Saya pun tetap sabar.
Teman-teman yang di luar panitia mulai bertanya. Apakah konser musik itu jadi dihelat karena waktunya tinggal empat bulan dan tidak nampak ada progres apapun sejak seksi acara saya sakit.
Saya pun hanya bisa jawab acara itu akan jadi digelar. Mereka cukup tenang dan doa serta fokus belajar saja.
Satu bulan berlalu, kondisinya sama saja. Tidak ada satu panitia yang hadir ke ruang rapat. Bahkan bicara atau menanyakan kabar saya tidak.
Akhirnya, Wakil Kepala Kesiswaan Sekolah menegur saya. Dia mengancam jika tidak niat membuat gelaran konser musik itu dibatalkan saja.
Saya awalnya tidak mau. Saya akan membuat panitia baru dan melanjutkan kinerja panitia lama dalam menyiapkan gelaran konser musik itu.
Namun, sialnya saya. Tidak ada yang mau jadi panitia. Sebab mereka sudah bayar iuran dan dirasa itu cukup untuk berkontribusi.
Saya malah dituduh oleh salah satu siswa bahwa saya melakukan korupsi dana iuran itu. Padahal kenyataanya tidak.
Saya pun mau melawan dengan mendebat tapi itu cukup bodoh karena saya punya pengalaman mendebat ke sie acara dan sekretaris malah menghancurkan rencana gelaran konser musik.
Akhirnya saya diam. Sejak saat kediaman saya, semua makin runyam. Proposal gelaran musik itu ditarik. Wakil Kepala Sekolah Kesiswaan itu menyuruh seksi acara untuk mengontak artis ibu kota untuk pembatalan undangan.
Iuran dikembalikan ke seluruh siswa. Saya pun malu sangat malu. Saya menyendiri.
Tidak ada lagi saya masuk sekolah seperti pemeran utama dalam film pembasmi monster.
Saya seperti pecundang. Kalah adalah nama tengah saya.
Tetapi sejarah tetap saya buat. Saya adalah satu-satunya Ketua OSIS yang mengundurkan diri sebelum massa jabatan berakhir. Saya kalah karena bualan saya sendiri.
