Konten dari Pengguna

"Komedi" dan "Tragedi" dalam Reuni

bob bimantara leander

bob bimantara leander

Aku hanya ingin menulis menurutku. Seorang penulis yang sekarang jadi pekerjaan

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari bob bimantara leander tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

 "Komedi" dan "Tragedi"  dalam Reuni
zoom-in-whitePerbesar

Baru 3 hari kemarin saya sempat mendatangi reuni SMA saya. Dengan planning memakai kemejah hitam dan bawahan coklat saya akan melaju ke tempat acara.

Selama di perjalanan, saya hanya berfikir apa yang harus saya lakukan disana? Karena fyi aja saya kelas 3 hampir tak mempunyai kenangan karena sibuk belajar. Teman-teman saya yang dulu saya ajak ngopi pun ya akan canggung atau bahkan menjauh jika berbincang dengan saya.

Betapa tidak sudah berapa kali mereka mengajak saya ngopi dulu itu atau sekedar bertemu dan berapa kali mereka gagal mengajak saya? Jawabannya adalah linear. Sama jumlahnya.

Tapi satu hal yang membuat saya tetap optimis walaupun ada problem di atas tersebut, yaitu saya disini mau memperbaiki hubungan saya terutama dengan teman-teman terdekat saya ketika SMA.

Sebenarnya saya tidak ingin lagi berhubungan lagi dengan sebagian teman SMA saya, karena saya memang sudah menjauh dari mereka sejak kelas 12 dulu. Karena menurut saya mereka mempunya bad habit.

Bahkan, ketika diundang di grup whatsapp untuk buber ramadhan kemarin saya menolaknya karena memang saya selalu merasa bersalah dan tak enak ke mereka. Padahal, mereka punya itikat baik. Namun, bodohnya saya menolaknya dan memilih menyinmpan rasa bersalah ini.

Sial, perasaan yang disimpan ternyata seperti bola salju yang turun. Semakin lama semakin membesar. Dalam hal ini, semakin membesar pula perasaan tidak enak saya.

Chat personal dari WA pun berdatangan, dari teman-teman saya "teko o ageh", "ayo tak barengi, bob", dan "kon melok a?" contohnya.

 "Komedi" dan "Tragedi"  dalam Reuni (1)
zoom-in-whitePerbesar

Itu yang membuat saya ingin datang. Tapi saya tidak langsung mengiyakan. Malah, saya menjawab tidak bisa karena ada acara lain. Alasan.

Mereka pun menjawab dengan santai dan seperti bukan masalah besar "oalah yo wes. Mben-mben teko o yo?" salah satu kawan memohon.

"Oke" singkatku.

Tiba-tiba entah apa si panitia, menchat saya dan memberikan saya part dalam pembukaan. Memberikan speech.

Saya sempat bingung datang atau tidak. Ini sungguh gila dan tak terduga. Betapa gilanya panitia memberikan speech ke orang yang sudah hilang masa SMAnya.

Karena juga saya lihat di IG banyak snapgram tentang reuni tersebut, saya beranjak dari kasur dan menulis poin-poin yang akan saya sampaikan disana.

10 menit saya gunakan untuk mandi. Saya agak keburu dan sedikit bergetar badan saya, saya mau bicara di depan teman-teman SMA saya. Sampai lupa menyetrika kemeja hitam saya.

Untung ada ibu di rumah. Ia mengingatkan saya untuk melepas kemeja kusut itu.

Sembari menunggu saya melanjutkan membuat draft speech. Saya sudah mencatat semua yang ada, saya bahas kenangan yang lucu, saya bahas kesuksesan teman-teman yang sudah sukses.

5 menit selesai saya kenakan itu kembali dan tak lupa menyimpan kertas itu di saku kemeja saya.

Berangkat. Sampai. Bayar parkir. Selesai. Saya menuju ke lantai 2. Teman-teman sudah banyak yang datang.

Mereka menyapa saya. Bertemu mantan atau apalah itu sudah biasa. Tapi energinya membuat saya semangat.

Namun saya tak melihat teman-teman dekat saya yang mana saya melakukan hal tak enak kepadanya.

Ah, langsung saja aku salamin semua yang datang. "kuliah dimana?" "yo opo kabarmu?" adalah pertanyaan basa-basi yang sering dilontarkan di acara ini, termasuk saya juga sering melontarkannya.

Saya duduk dan mengobrol banyak hal tentang "apa yang saya lakukan sekarang." dan "apa yang mereka lakukan sekarang." dan tak lupa saling ejek tentang masa lalu adalah topik pencair dalam percakapan ini.

Saya tiba-tiba dapat ilham dari percakapan itu. Saya buang kertas speech itu. Saya akan bicara berdasarkan apa yang lucu yang sudah terekam dari otak saya secara mendalam. Tentang kejadian-kejadian masa lalu kami yang akan terdengar seperti komedi saat ini.

Saya mulai dari membicarakan mantan calonpacar saya, yang 3 kali saya ditolak dan ia berada disana, entah ia tersenyum atau tertawa saya juga tak melihatnya. Tapi mendengar sebagian tertawa itu sudah cukup.

2, saya membicarakan kegagalan OSIS dulu merealisasikan acara tahunan Heksa Reborn dimana saya menjadi penanggung jawab. Semua tertawa melihat saya menyampaikan kekonyolan saya dan mengakui bahwa saya gagal. Ternyata gagal akan jadi hal yang senang saya bicarkaan.

Mungkin kalau dulu ini dibicarakan akan terjadi debat dan demo minta uang di kembalikan.

Dan yang terakhir saya menceritakan betapa bodohnya saya dan teman-teman dekat saya bolos sekolah dan ketahuan rokokan di kamar mandi belakang sekolah. Masih terekam jelas betapa takutnya mereka ketika kegap guru rokokan dan bolos pelanaran namun, sekarang mereka tertaea sembari menghirup rokoknya di pojokan.

Seusai gave a little speech. Saya turun panggung dan menghampiri teman-teman saya. Mereka ternyata baik-baik saja tak seperti yang saya pikirkan. Saya sangat negative thinking padahal kenyataannya sangat positive.

Kami tertawa bersama akhirnya pada malam itu. Ada beberapa pelajaran yang saya dapat pada acara tersebut. Satu, mungkin ini sedikit kuno tapi, memang, jangan pernah berfikir negatif dulu, usahakan psoitif. Dua, Ketika pidato, saya menyadari bahwa apa yang menjadi tragedi pada masa lalu akan menjadi komedi masa kini, seperti yang dikatakan dosen saya. Tiga, coba cari sendiri.