Kutipan Serial TV yang Membuat Nekat ke Jember

Aku hanya ingin menulis menurutku. Seorang penulis yang sekarang jadi pekerjaan
Tulisan dari bob bimantara leander tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"kapan nih ke Jember?", "kita gak tau apa-apa loh?", "hey ya apa ini rek", dan chat lain semacamnya memenuhi grup PKL saya h- lebaran sampai h+ beberapa lebaran.
Semua pada bingung tentang nasib mereka PKL. Apa yang harus dilakukan, Apa yang harus dikoordinasikan dan bagaimana tempat tinggal mereka di sana.
Betapa tidak bingung kelompok kami, di Jember tidak ada saudara. Tidak ada kenalan dekat dan celakanya dosen pembimbing juga tidak terlalu concern terhadap nasib kami. Maksudnya, tidak concern ialah tidak memberikan informasi apapun kepada kami tentang "apa itu Jember?", "bagaimana tempat PKL kami". Kecuali satu "enjoy Jember ya jangan lupa bawa kendaraan disana.".
Sedangkan saya, saya di rumah adem ayem santai dan tak bingung sama sekali. Bahkan saya sempat berfikir untuk ngemper di sana selama di Jember.
Pokoknya gak tau apa-apa dan gak risau. Karena pikir saya ini bukanlah keinginan saya berada di Jember. Ini pilihan mereka, fakultas saya. Simple as that. Saya inginnya di Jakarta yang ada teman saya atau gak Malang kota saya.
Chat semacam kebingunan dan bertanya tentang nasib masih memenehui grup PKL di WA selama lebaran kemarin. Akhirnya, tanggal 19 kemarin saya untuk pertama kalinya chat.
Saya chat karena, saya agak kesindir gitu, karena mereka semua bertanya ke grup yang anggotanya ya sama-sama tidak taunya. Jadi percuma dong kayak bertanya pada rumput yang bergoyang. Lebih lagi mereka seperti bilang "ayo dong muncul o kasih kepastian.". Itu versi PD saya. Hehe.
Awalnya, saya minal-minul sebagai syarat saja. Terus sok basa-basi bertanya bagaimana kabar PKL ini. Tapi karena saya ini lagi nonton serial film 13 reasons why di laptop dan membuat saya tak mau berlama-lama menatap smartphone. Saya tuntaskan dengan kalimat ini
Betapa tidak bingung kelompok kami, di Jember tidak ada saudara. Tidak ada kenalan dekat dan celakanya dosen pembimbing juga tidak terlalu concern terhadap nasib kami. Maksudnya, tidak concern ialah tidak memberikan informasi apapun kepada kami tentang "apa itu Jember?", "bagaimana tempat PKL kami". Kecuali satu "enjoy Jember ya jangan lupa bawa kendaraan disana.". Sedangkan saya, saya di rumah adem ayem santai dan tak bingung sama sekali. Bahkan saya sempat berfikir untuk ngemper di sana selama di Jember. Pokoknya gak tau apa-apa dan gak risau. Karena pikir saya ini bukanlah keinginan saya berada di Jember. Ini pilihan mereka, fakultas saya. Simple as that. Saya inginnya di Jakarta yang ada teman saya atau gak Malang kota saya. Chat semacam kebingunan dan bertanya tentang nasib masih memenehui grup PKL di WA selama lebaran kemarin. Akhirnya, tanggal 19 kemarin saya untuk pertama kalinya chat. Saya chat karena, saya agak kesindir gitu, karena mereka semua bertanya ke grup yang anggotanya ya sama-sama tidak taunya. Jadi percuma dong kayak bertanya pada rumput yang bergoyang. Lebih lagi mereka seperti bilang "ayo dong muncul o kasih kepastian.". Itu versi PD saya. Hehe. Awalnya, saya minal-minul sebagai syarat saja. Terus sok basa-basi bertanya bagaimana kabar PKL ini. Tapi karena saya ini lagi nonton serial film 13 reasons why di laptop dan membuat saya tak mau berlama-lama menatap smartphone. Saya tuntaskan dengan kalimat ini "tanggal 24 aku berangkat ke Jember. Siapa yang mau ikut? Tapi persiapkan untuk ngemper." tegas saya. Lalu saya off lagi.
Saya juga ingin menyampaikan pesan kepada mereka harus ada seorang decision maker yang nekat ketika tak ada harapan untuk 'bersandar'.
Saya bisa nekat ini karena ya nonton 13 reasons why. Di suatu dialog, Jason Foley yang sudah kehilangan semuanya karena konflik berkata ke antagonis, Bryce Walker "I have nothing to lose and that makes me a dangerous one."
Entah mengapa compound sentence itu terniang di kepala saya.
Malam harinya saya cek WA saya. Beberapa pesan muncul. "oke tanggal 24 ya aku pesenin tiket kereta."
"berangkatnya jam 4 sore rek? Gimana?" ujar Lion, teman kelompok sata. Karena lama jawabnya saya jawab sendiri, "oke jam 4 ya fix tanggal 24."
Tanpa planning apapun insyallah kami berangkat tanggal 24.
Seorang teman kelompok Monika. Langsung bingung bukan main. Ia langsung mengkontak teman-teman komunitasnya.
Saya? Meskipun saya tau Monika banyak teman. Saya juga gak berharap banyak. Tetap pada no planning untuk tempat tinggal atau harus kemana ketika turun di stasiun.
Tak disangka, H-2 keberangkatan saya dikirimi nomer WA oleh Monika.
Namanya Mas Agus, kenalan dari teman Monika, anak Sastra Indonesia UNEJ. Saya bisa menginap disana. Di Jalan semeru kota Jember.
Okelah. Alhamdulilah.
Berangkatlah, saya tanggal 24 itu ke Jember. Mas Agus dari pagi sudah mengirim pesan jepada saya "Mas nanti kalau sudah di Jember kontak saya ya atau langsung saja ke OASE warung kopi.", ramahnya.
Saya balas ke ramahan itu dengan emot senyum dan memberikan informasi waktu kepulangan saya, yaitu jam 9 Malam.

Sesampainya di Jember. Saya sungguh bergembira tiba-tiba. Saya juga tidak tau mengapa. Padahal di kereta saya hanya diam dan membaca buku dan mendengarkan lagu atau sesekali mengetweet.
Saya berfikir "anjir ini perjalanan tanpa planning yang jelas kok bisa saya berada disini." Saya juga berteriak seperti orang gila di depan stasiun Jember itu karena ini pertama kalinya saya keluar kota sendirian tanpa keluarga.
Seorang kawan seperti malu berjalan dengan saya melewati gelapnya kota Jember waktu itu.
"jangan seperti anak kecil lah. Kamu ini kena euphoria." ucap Lion, kawan saya, sambil menutupi mukanya.
Aku bahkan semakin menggila "awakmu tiduro di rumah mbak Ina ambek Monika. Pesen o Grab. Aku tidur di pujasera Sudirman sini saja." gurau ku.
Itu ucapan euphoria saja. Saya juga tidak segila itu ketika ada kesempatan untuk memiliki tempat tinggal. Akhirnya, saya juga pesan grab untuk ke OASE di jl. Semeru.
Sesampainya di sana. Saya tingak-tinguk gak tau mas Agus yang mana, foto WA nya saja gambar tulisan.
Akhirnya seorang keturunan Cina menghampiri saya "Mas Agus mas?" tanya saya. "oh mas Agus di atas mari ke atas" sambil menguide saya ke lantai 2.
Sambil melewati beberapa penikmati kopi dan mobile legend, saya melihat interior kedai kopi OASE ini. Di samping kanan terdapat rak buku yang tertata rapi. Rata-rata bukunya tentang pergerakan. Ada, salah duanya, Madilognya Tan Malaka, dan Das Kapitalnya Karl Marx. Sisanya novel atau antalogi puisi.
Dinding-dindingnya pun digambari kutipan dan wajah-wajah tokoh-tokoh pergerakan dan perdamaian, seperti Gus Mus, Gus Dur dan Tan Malaka. Fix ini kopian tentang sastra dan pergerakan. Keren. Gak kebayang saya tiba-tiba berada di tempat ini.
Tiba di Lantai 2. Ruangan tanpa atap. Saya bisa melihat bulan disini. Sambil memakan donat gratis, saya dan mas Agus dan mas Redi, pemuda keturunan cina itu berbincang tentang apapun, pergerakan, sastra, dan politik masa kini. Sedangkan, Monika dan Lion, pulang dengan mbak Ina, teman komunitas Monika dari duta cerita Habibie pulang ke rumah mbak Ina.
Karena tahu saya capek. Habis perjalanan jauh. Saya dipersiapkan tempat tidur di lantai 1 dan disuruh beristirahat di sana.
Satu kata ini gila. Saya sehari sebelumnya gak kenal saya chat cuma sekali tapi orang-orang ini sangat perhatian kepada saya. Tempat tidurnya pun empuk. Meskipun tanpa dipan, ini sudah lebih dari cukup.
Saya buka smatphone saya yang tiba-tiba ada WA dari DPL saya. Beliau berkata bahwa besok tanggal 25, ia ingin mengenalkan kami ke staff dan "dosen" kami di tempat PKL. Gila kok kayak sudah terplanning gitu ya.
Jadi, ketika mau tidur saya berfikir dan merenung. Ya Allah, saya ini nekat dan benar-benar nekat datang ke Jember tapi kok bisa ya saya terkoneksi dengan orang-orang baik ini dan pas sekali DPL saya berkeinginan untuk bertemu keesokan harinya di Jember.
Ternyata, ketika saya pasrah semua berjalan baik-baik saja dan bahkan beruntung. Saya jadi mengigau seandainya saya dari dulu pasrah dan hidup no planning begini. Pasti saya tidak akan capek berfikir dan risau akan "apa yang akan terjadi?" dan "bagimana jika...". Tapi kembali pikiran negatif muncul "inikan cuma sekali kamu begini?". Namun, mata sudah tertutup, saya tertidur dengan tersenyum.
