Konten dari Pengguna

Mari Telisik Bahasa agar Tak 'Binasa'

bob bimantara leander

bob bimantara leander

Aku hanya ingin menulis menurutku. Seorang penulis yang sekarang jadi pekerjaan

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari bob bimantara leander tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Sesi curhat: udah lama tidak 'menulis'. Karena banyak hal yang harus dikerjakan selain 'menulis')

Mari Telisik Bahasa agar Tak 'Binasa'
zoom-in-whitePerbesar

Coba buka google dan tulis kata kunci 'produksi kata setiap hari'. Laman teratas akan ditemui report dari liputan6.com yang menjelaskan bahwa wanita memproduksi 20.000 kata perhari sedangkan pria hanya 7000 perhari. Dalam arti lain, generally wanita sangat lihai memainkan kata-kata daripada pria. Jika kita lihat secara umum, dalam hal ini manusia, mereka tak terelakkan dari menggunakan kata-kata untuk bersosialisasi atau singkatnya berbahasa dalam kehidupannya.

Tapi yang mengherankan mereka kebanyakan tidak 'concern' dengan bahasa itu sendiri. Hanya beberapa mungkin yang 'concern' terhadap bahasa itu, contohnya linguist dan ahli ilmu komunikasi. Buktinya, masih banyak orang-orang yang 'hancur' karena penggunaan bahasa yang kurang tepat. Contoh konkret dan yang masih panas adalah polemik Ahok pada pilkada dan puisi adik ibu Megawati. Oleh karena itu, penting bagi kita, manusia, untuk mengetahui sifat-sifat dasar bahasa.

Bicara soal bahasa itu tidak jauh-jauh dari makna dan arti. Atau kalau kata seorang linguist Ferdinand de Saussure, 'signified' dan 'signifier'. Apa itu? Untuk mudahnya, itu seperti suatu tanda(signifier) 'kucing' itu berarti 'hewan berkaki empat yang menyusui' (signified). Dan, hubungan antara signifier dan signified ini adalah arbiter atau 'mana suka' (based on convention, instead of natural relationship). Semua berhak mengartikan sesuatu itu secara berbeda. Maka dari itu, bahasa di dunia ini berbeda-beda berdasarkan persetujuan masyarakat sekitar.

Bukan hanya berbeda-beda, kadang di satu bahasa pun, makna suatu kata yang dikategorikan sebagai suatu sinonim juga bisa berbeda dalam hal interpretasi. Ini dibahas dalam ilmu semantik. Contoh, dua kata 'politisi' dan 'negarawan' mempunyai arti yang sama. Namun, ketika masuk dalam rana praktik, itu adalah suatu hal yang mempunyai makna berbeda. Politisi itu lebih condong bermakna negatif, dan negarwan bermakna positif. Perbedaan makna ini dikarenakan oleh dua level dalam hal permakanan, yaitu makna denotasi(makna netral) dan konotasi(makna yang bisa condong ke negatif dan positif).

Tidak mengherankan dalam masalah puisi ibu Sukmawati, puisi itu banyak dihujat oleh para netizen. Jawabannya ya karena (saya bukan ahli dalam hal ini) pemilahan diksi yang kurang tepat. Yang membuat orang-orang interpretasinya langsung tertuju pada hal negatif, dalam case ini syariat Islam. Sejurus dengan Ahok, ia juga terkena masalah karena penggunaan kata yang kurang tepat. Namun, di sisi lain, sebenarnya untuk mengkritik seperti ibu Sukmawati itu juga bisa diterima sebenarnya, seperti dalam puisi gus Mus yang salah satu baitnya 'Kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat'. Puisi ini tak mendapat ejekan karena pemilihan diksi yang tepat -konotasinya tidak 'mbelehar'.

Inilah alasan mengapa banyak orang yang bilang, 'bahasa itu bisa mendekatkan seseorang dan juga bisa menjauhkan seseorang.'. Salah satu alasannya, penggunaan kata atau bahasa inggrisnya 'word choice'.

(sesi tamabahan: ada tulisan lagi, tergantung polemik apa yang terjadi habis ini tentang kebahasaan)