Konten dari Pengguna

Membaca Buku, Pendidikan, Dan Negara Bahagia

bob bimantara leander

bob bimantara leander

Aku hanya ingin menulis menurutku. Seorang penulis yang sekarang jadi pekerjaan

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari bob bimantara leander tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membaca Buku, Pendidikan, Dan Negara Bahagia
zoom-in-whitePerbesar

Najwa Shihab, duta Baca Indonesia, mengatakan bahwa Indonesia saat ini berada pada peringkat 60 dari 61 negara dalam hal minat baca. Jika ditelisik lebih jauh memang tak mengagetkan bahwa minat baca Indonesia sangat rendah. Banyak bukti yang menunjukan low interest in reading ini. Salah satu contohnya ialah turunnya konsumsi buku di beberapa gerai toko buku. Seperti dipaparkan oleh wakil ketua IKAPI, Indra Laksana: "sekarang di toko buku modern seperti gramedia buku hanya mengakuisisi tempat sebesar 40% sedangkan 60%nya ialah diisi produk non buku". Inilah, yang membuat toko buku "Aksara" yang beroperasi selama 18 tahun menutup beberapa gerainya beberapa waktu yang lalu.

Meskipun, Indra juga menambahkan bahwa preferensi minat baca masyarakat telah berganti dari printed ke digital. Namun perlu dicatat, berdasarkan survei oleh Perpustakaan Nasional, dari 12 provinsi yang terdiri dari 38 kabupaten/kota, dipaparkan bahwa 90% masyarakat Indonesia gemar menonton televisi daripada membaca. Sementara itu, Najwa Shihab, mengatakan pada portal tirto.id, bahwa anak Indonesia hanya membaca buku 0,01 persen per tahun. Ini sungguh sangat jauh dengan minat baca anak-anak negara maju seperti Amerika yang membaca 25-27% buku pertahun.

Hal ini seolah paralell dengan rangking Pendidikan Indonesia berdasarkan PISA, barometer penilaian mutu pendidikan International, yang dilakukan oleh Pearson. Pada setiap kali ada penilaian, Indonesia selalu menempati peringkat buncit. Padahal, Indonesia sudah menggelontorkan 20% APBNnya untuk masalah pendidikan ini lebih 8% yang diglontorkan oleh pemerintahan Finlandia sebagai peringkat 1 negara yang mutu pendidikannya terbaik. Sebenarnya apa yang salah disini?

Jawabannya adalah minat baca. Seperti dipaparkan oleh Nancy C. Jordan, David Kaplan, dan Laurie Hanich dalam “Achievement Growth in Children with Learning Difficulties in Mathematics” yang diterbitkan Journal of Educational Psychology (2002), kemampuan akademik seorang anak atau siswa berjalan bersamaan dengan kemampuan bacanya.

Lebih jauh lagi, menurut Coumley dari Temple University, Amerika Serikat. Ia berkata bahwa ada hubungan kasual dari kemampuan membaca seorang anak dan kemampuannya memecahkan masalah sains atau ilmu pasti. Inilah yang mengakibatkan para siswa di negara-negara maju seperti Amerika dan beberapa negara Eropa mewajibkan siswanya untuk membaca beberapa bacaan pada kurikulumnya. Contoh siswa sekolah menengah di Amerika diwajibkan membaca "To Kill a Mocking Bird (1960)" karya Harper Lee. Senada, di Finlandia, juga mewajibkan siswanya untuk membaca Seven Brothers (1870) karya Aleksis Kivi. Coba bandingkan, dengan Indonesia yang hanya mewajibkan siswanya untuk membaca LKS atau buku paket tentang beberapa pelajaran. Ini tidak akan meningkatkan minat baca, karena bacaannya yang singkat dan tidak menarik. Akibatnya, siswa Indonesia tidak tertarik dengan membaca buku. Atau secara luasnya masyarakat Indonesia yang seperti 'anti' terhadap membaca.

Padahal seandainya Indonesia bisa membenahi sistem pendidikannya dengan mewajibkan siswa dasarnya untuk membaca buku sastra seperti sedia kala pada zaman orba bukan tidak mungkin bahwa Indonesia akan menjadi negara terbahagia seperti Finlandia dan maju seperti Amerika. Lewat baca buku inilah kita bisa memulai membangun Indonesia. Ayo baca buku, Ayo terapkan ilmunya, Ayo benahi Indonesia, Ayo bahagia.