Konten dari Pengguna

Paradigma: Bad News is Bad atau Good News?

bob bimantara leander

bob bimantara leander

Aku hanya ingin menulis menurutku. Seorang penulis yang sekarang jadi pekerjaan

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari bob bimantara leander tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Paradigma: Bad News is Bad atau Good News?
zoom-in-whitePerbesar

Dalam keseharian kita, berapa kali kita membaca berita? Sudah? Terus berapa kali kita membaca, atau setidaknya melihat, berita tentang kecelakaan, korupsi, pembunuhan, pemerkosaan, dan berita senada lainnya? Coba bandingkan dengan berita prestasi(good news) yang kita baca? Hal ini memang sangat menarik ditelisik. Saya tidak akan bermain data. Coba rasakan apa akhir-akhir ini yang viral di media pemberitaan? pasti teror, pembunuhan, dan korupsi. Itu semua memenuhi headline-headline koran besar.

Jika saya bertanya jauh lagi, apakah kita tahu bahwa di Jakarta ada seorang ibu yang menyantuni 1000 anak yatim dan dhuafa? Namun apa kita tau tentang pengeboman di surabaya, siapa keluarga tersebut? Coba rasakan sendiri anatara good news dan bad news. Mana yang kita ketahui lebih baik antara hal yang buruk seperti teroris dan ibu-ibu yang menyantuni anak yatim?. Ini bukan salah anda sebagai manusia, tapi juga bukan salah media sebagai jembatan pemberitaan.

Kalau berbicara koran “besar”, pasti berbicara industri. Seperti diketahui, suatu perusahaan dalam dunia industri harus bertahan menuruti kemauan pasar, dalam hal ini adalah para pembaca. Itu hukum ekonomi dasar. Jika kita mencoba berlogika, koran memuat bad news, dan mereka tetap bertahan dan malah melonjak penjualan koran. Hanya satu jawabannya, pelanggan suka dengan berita yang surat kabar terebut sajikan.

Hal tersebut cukup beralasan, sebagaimana Psikolog, Tom Stafford, seperti dikutip theguardian.com, mengatakan bahwa hal buruk ada korelasinya dengan insting ketakutan manusia. Ia menambahkan bahwa konsekuensi dari hal tersebut manusia condong tertarik pada hal negatif dibandingkan dengan hal yang positif. Contoh, kita sedang lapar dan di meja ada sepotong Pizza. Namun, di bawah meja ada seeokor ular. Secara otomatis otak kita akan bereaksi kepada ular di bawah meja dibandingkan Pizza di meja. Perhatian kita, Inilah yang di sebut “Negativity Bias”.

Jika kita hubungkan kepada pemberitaan. Sangatlah logis bila suatu perusahaan media masa condong menulis berita yang buruk. Dalam hal ini, memang pembaca secara otomatis lebih terikat kepada hal yang buruk (Negativity Bias). Bagi perusahaan tesebut, berita buruk itu menimbulkan apa yang kita sebut sebagai keuntungan. Dalam salah satu seminar, Pimpinan Redaksi (Pimred) suatu surat kabar, memaparkan bahwa most-reviewed news dalam laman onlinenya ialah berita tentang pemerkosaan dan dilanjutkan oleh kasus korupsi. Dan hal tersebutlah sangat mendongkrak pemasukan dalam hal pengiklanan, tandasnya.

Jadi bisa dikonklusikan semakin banyak pembaca semakin banyak pula iklan masuk. Jadi tidak salah juga mereka, wartawan, menulis berita “bad news”. Kalau tidak, ya tak ada pembaca. No reader no money. No money isi aja sendiri...

Bukan hanya sebagai sumber keuntungan. Berita buruk seperti kejadian korupsi, penyelewangan dana, dan sejenisnya juga berfungsi sebagai social control. Hal ini termaktub dan dilegimitasi pada UU no. 40 tahun 1999. Sayangnya, fungsi pers saat ini lebih condong hanya sebagai social control. Padahal, dalam UU tersebut juga menyatakan fungsinya sebagai media pendidikan, dan hiburan. Dalam study yang dilakukan Arry Rahmawan (2012), dalam laman Good News From Indonesia (GNFI) mencatat perbandingan anatara berita positive dan negative adalah 1 : 11. Sangat jelas pada study tersebut mensiratkan media saat ini memang memberikan porsi yang besar untuk Bad News kepada pembacanya.

Ada pula faktor banyaknya pemberitaan “bad news”, yaitu karena Amygdala. Amygdala adalah bagian kecil yang berbentuk seperti kacang Almond dalam struktur otak Manusia. Jaringan ini berfungsi sebagai komponen utama penghasil emosi dan pendeteksi segala bahaya.

Contoh, seorang mendapati sebuah kerdus bergerak. Secara tidak langsung ia akan mendeteksi kerdus itu mengandung suatu bahaya atau tidak, atau dalam hal ini ilmuan menyebutnya sebagai proses “Fight or Flight”. Inilah kecenderungan manusia dari jaman purba sampai sekarang selalu ingin mendeteksi sesuatu yang dianggapnya berpotensi menimbulkan suatu bahaya.

Hal ini sangat relevan jika dihubungkan dalam konteks pemberitaan. Pembaca, karena memiliki amygdala. Mereka akan selalu penasaran dengan suatu yang belum mereka ketahui. Contoh, pembunuhan yang terjadi tapi belum ada pemberitaan. Mereka, pembaca, akan mencari dan mencari sumber kebenaran dari hal tersebut. Oleh karena itu, secara news value, kepenasaran pembaca ini akan menambah nilai suatu berita tersebut. Otomatis, pembaca akan membeli koran yang memberitakan akan hal buruk tersebut untuk mengindikasikan “fight or flight”. Lagi-lagi, karena kepenasaran pembaca, perusahaan “besar” mendapat untung dengan penjualan oplak yang banyak.

Mungkin bagi pihak perusahaan, ini sangat memberikan dampak positif, yaitu untung. Namun bagi pembaca, seringnya mengkonsumsi berita “bad news” akan memunculkan anxiety, rasa cemas, gelisah, dan depresi. Seorang profesor psikologi dari University of Texas San-Antonio Dr. Mary McNaughton-Cassil berpendapat bahwa semakin banyaknya kita membaca suatu berita yang buruk akan menimbulkan sakit kepala, mati rasa, stres akut, atau bahkan tendensi untuk enggan bersimpati. Satu kata: menakutkan.

Lebih lagi, jika pembaca hanya dijejali berita-berita buruk, bagaimana bisa mereka merasakan rasa aman, dan nyaman hidup dalam bernegara. Inilah sebenarnya yang menjadi paradoks. Di satu sisi, surat kabar, yang hari ini semakin surut pendapatannya, harus mencari segala cara untuk bertahan dan mendapat keuntungan. Namun, di sisi lain, jika hanya memproduksi berita buruk atau bad news, perss juga menghianati tujuannya untuk mendidik masyarakat. Malah, mereka secara tidak langsung memberikan rasa takut, dan kecemasan bagi pembacanya dan munculah adagium “bad news is good news”.

Inilah mengapa SBY pada saat menjabat presiden dulu, 2009, menaganjurkan media untuk mengurangi memberitakan hal-hal buruk dan mulai mengubah paradigma “good news is good news”. Hal ini diamini pula di tahun 2018 oleh Prof. Abdul Haris, rektor UIN Malang, yang mengatakan jangan lagi terfokus pada berita negatif, karena barang siapa yang menutupi aib saudaranya, akan ditutupi pula aibnya oleh Allah SWT. Akhirukallam Wassalamualaikum wr.wb.