Konten dari Pengguna

Paradigma Unik: Polemik Nilai Indeks Prestasi dengan Cara Kerja Otak

bob bimantara leander

bob bimantara leander

Aku hanya ingin menulis menurutku. Seorang penulis yang sekarang jadi pekerjaan

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari bob bimantara leander tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Paradigma Unik: Polemik Nilai Indeks Prestasi dengan Cara Kerja Otak
zoom-in-whitePerbesar

(Disclaimer: tulisan ini bukan merepresentasikan saya. Saya secara pribadi masih takut akan nilai IP dan saya berfikir pula bahwa IP itu segalanya, kadang. Ini tulisan hanya untuk memberikan pandangan yang berbeda dan menjadi self-reminder untuk saya secara pribadi. Untung-untungan jika menjadi self-reminder untuk pembaca, secara luas. Selanjutnya, saya juga akan membuat tulisan hal yang positive tentang otak kiri pada masa kini.)

Minggu-minggu berkeluh kesah tentang tugas, bagi mahasiswa telah usai. Semua bergembira menatap liburan dan keluarga tentunya. Hangat sekali jika dibayangkan. Apalagi mereka yang merantau.

Itulah bayangan saya melihat teman-teman yang 4 hari lalu sudah pulang ke kampung masing-masing. Kampus terasa sepi, dan kota Malang juga sepi tentunya tanpa mereka.

Namun, kehangatan itu tak bertahan lama. Saya melihat status yang risau akan nilai IP (Indeks Prestasi). Banyak yang mengatakan “aduh...”. Kebanyakan dari mereka mengeluh akan nilai yang didapat.

Menurut mereka, dari beberapa wawancara 1 minggu lalu melalui chat “whatsapp” mereka berkata bahwa IP itu pasti nanti buat kerja. Ada pula yang bilang bahwa IP bukan segalanya. Atau dalam arti lain, itu bukan hidup dan matinya nanti dalam dunia kerja. Bahkan ada yang bilang sambil bergurau “Aku gak butuh IP, yang penting aku paham.”. Menarik sekali pendapatnya.

Akhirnya saya mencoba browsing dengan kata kunci “Nilai IP”. Banyak laman yang memaparkan bahwa IP itu tidak penting. Saya menghitung dari halaman pertama Google, ada 8 judul dari 10 judul yang mengatakan bahwa IP bukanlah penentu di masa depan.

Supposed masa depan berarti pasti dunia kerja. Menurut saya, IP memang bukanlah segalanya untuk meenetukan masa depan (dunia kerja). Namun, ada yang perlu dikritisi disini.

Jika pendapat kebanyakan karena “yang penting paham”, itu kurang lengkap. Menurut saya, bukan paham atau tidak, namun karena penilaian melalui IP sudah tidak relevan dengan dunia kerja saat ini. Penasaran?

Saya akan memulai dengan otak. Seperti kita tau otak dibagi menjadi dua bagian, yaitu otak bagian kiri dan kanan. Secara singkat, Otak kiri bekerja secara sistematik, analitik, dan logic. Sedangkan, otak kanan itu bekerja untuk menimbulkan intuitition, creativity dan imagination.

Pada awalnya, pak Wrenick, pada tahun 1860-an, mengatakan bahwa otak kiri lah yang dominan atau bagian otak yang superior sedangkan otak kanan hanyalah complement dari otak kiri. Karena, menurutnya otak kiri adalah bagaimana cara kita berbahasa.

Lebih lagi, Ia membuat suatu pernyataan yang mencenangkan pada waktu itu. Singkatnya “otak kiri yang membuat kita berbeda dengan binantang. Kita bebahasa. Ini yang membuat beberapa orang pada waktu itu berkeseimpulan bahwa otak kanan itu cacat, tak berguna.

Namun, pernyataan itu bertahan hingga 1950-an. Penemuan oleh bapak Roger. W. Sperry yang mengatakan bahwa otak kanan juga berfungsi juga. Ia menjelaskan ada yang cacat dari dalil pak Wrenick. Ia berargumen bahwa otak kanan bukanlah sesuatu yang inferior. Ia hanya bekerja secara berbeda dengan otak kiri.

Karena penemuan itu, ia dianugerahi nobel award. Thanks to pak Roger. Maka muncul penjelasan otak kiri itu analitis, dan suatu yang exact, sedangkan kanan holisitk, kreatif, dan imaginatif, dan bisa menginterpretasi sesuatu, seperti wajah. Lebih lagi, ia mengatakan, otak kanan dan kiri itu bekerja bersama-sama. Tak seperti tombol on off. Yang satu on yang satu off dan sebaliknya.

Cara kerjanya begini. otak kanan bekerja dengan salah satunya melalui emosi dan kiri melalui bahasa yang pasti diucapkan secara sistematik --sintaksis.

Pada waktu, pacar anda bilang “kamu nanti pulang jam berapa?”. Jika hanya otak kiri anda yang bekerja, anda akan berkata jam 5. Disini anda memandang perkataan pacar anda sebatas level sintaksis yang sistematis tersebut. Namun, jika hanya otak kanan yang bekerja, anda mendapatkan interpretasi dari wajah pacar anda yang agak manja dan mengisyaratkan kangen, tapi anda tak bisa melihat kalimat “kamu nanti pulang jam berapa?”. Jadi, anda hanya tau bahwa pacar anda kangen dengan anda, tapi tak tau apa yang harus anda lakukan.

Coba bayangkan jika hanya satu yang bekerja dan lainnya diam. Ada kerancuan disitu.Maka dari itu, otak kanan dan kiri itu bekerja bersama-sama dalam waktu yang sama.

Karena tadi masalahnya adalah nilai IP, ya saya mau tidak mau menghubungkan ini dengan dunia kerja. Pertama, coba tengok penilaian IP. IP didapat dari hasil tugas dan kemampuan mahasiswa di dalam kelas dan ujian. Semua dosen pasti memberi tugas untuk melatih cara kerja otak kiri, yaitu analisis, logika, dan keruntutan, contoh makalah, dan laporan yang anda kerjakan.

Masalahnya ialah otak kanan tak mendapat jatah dalam mengkonstruksi nilai IP. Masalah selanjutnya, apakah iya peniliain berdasarkan kemampuan berfikir otak kiri itu (IP) masih cocok dengan masa kini?

Coba telaah, dari jaman dahulu sampai sekarang, manusia telah mengalami berbagai revolusi. Pertama, revolusi industri. Dalam masa ini, para kapitalis mengambil pekerja yang ulet dan tekun, semua tergantung dengan kemampuan fisik yang kuat, disiplin lah. Revolusi kedua, yaitu revolusi informasi, disini yang mendominasi orang-orang yang disebut oleh Daniel H. Pink dalam bukunya “Misteri Otak Kanan Manusia” sebagai L-direct thinking. Informasi banyak bermunculan dari berbagai penelitian dalam hal ini. Jika hidup pada masa ini beruntung penilaian universitas masih relevan.

Tapi, sekarang kita memasuki dunia konseptual. Mengapa begitu? Satu, informasi dimana-mana mudah didapatkan. Mahasiswa sekarang tak akan kekurangan informasi dan data. Google jawabannya. karena kelimpahan dan otomasi itu, suatu informasi akan menjadi hal yang biasa dan iniliah yang disebut era konseptual. Masyarakat butuh lebih dari itu.

Kenyataannya sudah jelas. Sekarang banyak orang merujuk pada google. Para pekerja sekarang jika hanya menyajikan data dan analitis saja, itu sangatlah umum dan bisa didapat dengan hal yang gratis. Maka dari itu, pekerja sekarang dituntut juga bekerja secara lebih.

Tengoklah, fakultas kedokteran dimana menjadi representasi paripurnanya penggunaan otak kiri selama ini, fakultas tersebut menambahkan kurikulumnya untuk mengatasi era konseptual saat ini.

Para Mahasiswa di fakultas kedokteran Colombia, contohnya. Disana terdapat kurikulum baru yang disebut “kedokteran naratif” dimana mahasiswa kedokteran diwuruki membuat cerita. Cerita? Pasti otak kanan yang berperan. Dalam hal ini peran creativity, imaginatiion, dan emphaty bekerja.

Setali tiga uang, Fakultas kedokteran di Yale, untuk memperkuat daya observasinya terhadap penyakit, mereka berbondong-bondong ke Yale Center for British Art. Ini dikarenakan dengan melihat lukisan, mahasiswa bisa menjadi sangat unggul dalam melihat rincian sederhana kondisi pasiennya. Dan bahkan banyak lagi fakultas terkemuka yang mulai membenahi kurikulumnya.

Tidak mau kalah, di Fakultas saya, sudah mulai berbenah. Jika dulu laporan individu PKL dibuat seperti makalah. Sekarang, mahasiswa fakultas kami akan membuat suatu cerita naratif yang menginspirasi untuk mengganti laporan yang membosankan itu. Alhamdulilah.

Coba kita analogikan. Dulu, nenek saya membeli botol minum itu ya dengan tujuan untuk wadah air putih. Tapi sekarang. Kemarin, saya baru saja ke Mall. Saya melihat banyak sekali botol minum, melimpah. Banyak pilihan disana.

Ibu mendekati saya. Ia mencari botol minum. “Kalau memang untuk botol minum saja. Ya langsung saja pilih bu... kan yang di depan ibu itu juga botol minum” ujar ku dalam hati yang ingin cepat pulang. Namun, ibu memilah-milah. Ternyata ia memilih yang cantik dan bagus warnanya.

Jika dulu mahasiswa, ia akan masuk kerja karena IPnya yang bagus. Itu wajar. Itu dulu. Pada waktu era informasi. Sekarang? Sangat melimpah lulusan dari perguruan tinggi seperti botol minum di Mall. Sekali lagi, apakah masih relevan kah IP tersebut menjadi suatu hal penting yang menentukan masa depan di era ini?