Konten dari Pengguna

Pencitraan itu Permainan Zuma

bob bimantara leander

bob bimantara leander

Aku hanya ingin menulis menurutku. Seorang penulis yang sekarang jadi pekerjaan

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari bob bimantara leander tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pencitraan itu Permainan Zuma
zoom-in-whitePerbesar

Pencitraan itu seperti Main Zuma

Baru masuk ruangan, sudah dibilang pencitraan. Jawab pertanyaan guru dibilang pencitraan. Itulah seorang teman SMA dulu. Ia selalu dibilang pencitraan apapun yang ia lakukan di kelas. Teman-teman sekelas, terutama laki-laki sedikit tak suka dengannya. Termasuk saya. Ya. Itu karena pencitraannya.

Bukan tanpa alasan saya dan teman-teman kelas saya menjadi hatersnya, dia ketika di luar sekolah nakal sekali. Dia itu ibarat seperti Genji di film Crows Zero, suka sekali cari masalah. Tapi, hal itu berbeda jika dalam sekolah, dia seolah berubah menjadi sosok Park Bong Pal dalam drama korea 'let's fight the ghost' itu. Intinya, seratus persen bertolak belakang, penuh pencitraan dan penuh kebohongan. "emang ada yang salah?" sinis teman saya ketika saya mengejeknya. Ada gak ya?

Manusia ini hidup memiliki beberapa peran. Kalau menurut Gus Mus ketika diwawancarai oleh Najwa Shihab, beliau hidup sebagai satu manusia dunia, manusia Indonesia, dan Muslim. Terlebih lagi, dalam buku Dahsyatnya Kata-Kata, tertulis bahwa manusia itu mempunyai beberapa peran, yaitu sebagai individu, mahluk sosial, dan mahkluk religi. Ini sungguh tepat seorang teman hukum saya di status instagramnya berkata 'dimata Tuhan aku adalah hamba, di mata rakyat aku adalah pengayom, dan di mata mu aku adalah butiran debu'. Dari berbagai pernyataan diatas, ya tidak salah sebagai manusia ini kita mempunyai beberapa peran.

Kalau kita bermain zuma, kita pasti memposisikan bola hijau dengan bola hijau, bola biru dengan biru, dst. Kalau tidak sewarna dan senada. Yang terjadi ialah bola-bola mu akan tertelan kodok. Artinya, kamu sudah tamat tapi bukan sebagai pemenang tapi pecundang, game is over.

Analoginya dari permainan zuma tersebut adalah, kita memiliki banyak peran atau warna bola, kalau merujuk ke teman saya, dia berperan sebagai siswa SMA, sebagai remaja, sebagai adik, sebagai anak, dan lainnya. Dia harus menempatkan perannya, jika ketika jadi anak dari orang tua harus patuh, dan santun. Jika jadi siswa SMA, dia akan berlagak pintar dan rajin. Jika jadi remaja dia akan menjadi sedikit 'nakal'. Kalau saja dia menukar peran remajanya di peran siswa SMA, game over lah dia. Ibarat, menyandingkan bola kuning dengan ungu di permainan zuma, tidak lama akan kandas.

Jadi, sebenarnya pencitraan itu bukanlah sesuatu yang harus dikonotasikan negatif. Bagaimana jika pencitraan itu adalah untuk menselaraskan bola-bola di permainan zuma atau peran-peran di dunia nyata? Apa salah?