Problematika Pendidikan: Kebanyakan 'Menghafal' sampai 'APBN yang tak Optimal'

Aku hanya ingin menulis menurutku. Seorang penulis yang sekarang jadi pekerjaan
Tulisan dari bob bimantara leander tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kembali ke 8 tahun lalu, pada waktu SMP, saya merasakan 'kemuakkan' dalam hal persekolahan. Betapa tidak, saya belajar kurang lebih 16 mata pelajaran dari pelajaran keterampilan seperti TIK (Teknologi dan Informatika) sampai sosial (Geografi, Sejarah, dan Ekonomi), dan exact (Fisika, Kimia, dan Biologi). Konsekuensinya, senin sampai kamis saya harus menghabiskan waktu selama kurang lebih 9 jam untuk belajar, belum tugas yang diberikan guru-guru. Memang, tujuannya baik (agar menumbuhkan pengetahuan siswa Indonesia agar menjadi manusia yang cerdas) , namun apakah benar ini memang benar-benar baik hasilnya?
Bicara tentang pendidikan saat ini, tak elok jika kita hanya melihat index sekolah-sekolah di Indonesia. Maka dari itu, ada baiknya kita lihat index pendidikan Indonesia dalam skala dunia (untuk melihat baik atau tidaknya sistem pendidikan yang sudah diterapkan). Dalam laporan di laman Jakartapost.com, Indonesia berada pada peringkat 62 dari 72 negara yang termasuk dalam penilitian PISA (badan research yang meniliti tentang index pendidikan berdasarkan kemampuan matematika, sains, dan membaca). Dari paparan tersebut, mensiratkan bahwa dengan banyaknya mata pelajaran sistem pendidikan Indonesia belum mencapai hal yang dinginkan.
Padahal, lebih ironinya lagi, pemerintah sudah menuangkan porsi paling besar dalam APBN untuk sektor pendidikan, yaitu 20%. Namun, lagi-lagi tak ada hasil yang nampak dari "modal" yang besar itu. Menurut Uman Isman (CPO Indonesia Mengajar) dalam video youtube "Pendidikan Indonesia Konyol | late Night Nasi Goreng #4" meskipun paling besar dana APBN yang digelontorkan untuk pendidikan tidaklah maksimal karena pemerintah tak punya "guide line" atau yang ia sebut "blue print" pendidikan. Jadi, setiap sharing dana dari top hingga ke daerah mengalami bias visi dan misi. "kita akan menemui jawaban yang berbeda jika kita bertanya ke dirjen dan kementrian pendidikan soal 'akan dibawa kemana pendidikan kita 10 tahun ke depan?' " Ujarnya dalam video akun youtube skinnyindonesian24. Masih dalam takaran "top" sudah terlihat berbeda, karena no guide-line atau blue print apalagi di daerah, padahal daerah adalah bagian yang menerima paling banyak dalam hal 'sharing 20%' itu. Jadi, dalam penjelasan diatas, saya dapat menyimpulkan bahwa besarnya 'modal' itu belum maksimal karena belum ada 'pedoman' dipakai apa dana itu.
Kembali kepada problema sistem pendidikan, dilihat dari mata pelajaran, sangat banyak sekali yang di jejalkan ke siswa Indonesia. Ditambah lagi, mereka harus dituntut menghafal dan mengahafal berbagai mata pelajaran banyak itu. Buktinya, ketika mereka memasuki tingkat akhir, mereka hanya diminta untuk mengisi satu jawaban yang benar dari 4 opsi A,B,C,D atau bahkan E. Lebih jauh lagi, menurut Hasannudin Abdurakhaman, doktor fisika terapan, dalam kolomnya di Kompas.com, berkata bahwa menghafal bukanlah belajar. Karena ditelisik, dari cara otak memformat informasi. Dalam belajar, informasi dicerna melalui konsep dan itu akan berlaku secara lama. Sedangkan, dalam mengahafal itu hanya berupa short-term memory, bila mana tak digunakan, akan segera terlupakan. Inilah yang menjadi dasar saya mengapa sistem menghafal itu harus dikurangi dan mengajarkan konsep ditambahkan.
Mengajarkan konsep kepada siswa juga mengembangkan critical thinking siswa tersebut. Mereka akan kreatif dalam kehidupan dimasa depan. Karena critical thinking itu menghubungkan theory yang dipelajari untuk menyelesaikan masalah di kehidupan nyata. Ini, yang menjadi masalah pendidikan di Indonesia terutama dari dasar sampai atas(SMA), mereka tak pernah menerima filosofi atau konsep, mereka hanya dijejali bahan-bahan yang harus dihafalkan dan lewat LKS pula. Implikasinya, satu tak kreatif, dua sangat mudah menemui jalan buntu karena kebanyakan hafal tak tau konsep, tiga stress berat yang menjadikan mereka akan malas belajar. Jadi tak mengherankan jika, seperti ditulis dalam liputan DeutscheWelle "Rangking Pendidikan Negara-negara ASEAN", hanya 44% warga Indonesia yang menyelesaikan pendidikan menengah (SMP) , sementara 11% dari populasi dinayatakan gagal atau drop-out dari sekolah. Mirisnya lagi, dari laporan terbut, Indonesia(108) berada pada peringkat dibawah Somalia, Samoa, dan Palestina.
Menumbuhkan critical thinking adalah dengan hal-hal yang simple. Mungkin ujian akhir dari berbagai jenjang, mulai diganti dengan Essay yang mana jawabannya juga bisa meninjau kemampuan berfikir siswa. Sedangkan, dalam proses belajar menuju UAS soal-soal yang memuat 'when', 'where', and 'who' mulai dikurangi, dan diperbanyak pertanyaan-pertanyaan 'how', 'what', 'why'. Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, satu, siswa dilatih menunjukan cara berfikir logisnya dalam menjawab pertanyaan. Daripada, hanya menjawab, contoh, 'kapan X meninggal?'., karena itu tidak melatih cara berfikir, dan itu hanya bagaimana cara mereka menghafal. Fenomena diatas mengakibatkan beberapa mahasiswa (siswa tungkat tinggi) sangat tidak percaya diri mengerjakan tugas-tugasnya yang membutuhkan 'kemerdekaan berifkir', mereka bingung bertanya dan tak berani mengambil langkah, meskipun 'langkah'nya sudah logis.
Saya membuktikannya dengan survey kecil-kecilan. Dari 20 orang mahasiswa yang saya kasih pertanyaan tentang tugas menganalisis dan membuat paper Via WA chat, 17 mengatakan bahwa mereka kesulitan. Oleh karena itu, mereka akan brekata 'saya menjadi malas' berdasarkan pertanyaan yang saya ajukan. Jadi, dari survey yang saya lakukan, itu mengisyaratkan bahwa ilmu yang mereka pelajari selama SD sampai SMA yang banyak itu, tak begitu membantu. Inilah yang membuat saya ingin memperbaik sistem pendidikan Indonesia yang kebanyakan 'menghafal' dan merubahnya menjadi kebanyakan 'mengetahui', jadi ketika mahasiswa tidak kaget dengan 'ini' dan 'itu'
(Semangat 2035 yang dipredeksi usia produktif indonesia mencapai 70%, inilah saatnya mencerdaskan dan membahagiakan kehidupan bangsa)
