Refleksi: Suatu Hari Bersama Bapak

Aku hanya ingin menulis menurutku. Seorang penulis yang sekarang jadi pekerjaan
Tulisan dari bob bimantara leander tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemarin, diajak bapak pergi ke sekolahannya. Aku rada heran, tapi juga kagum. Orang yang dulu belajar bahasa Inggris sekarang jadi ahli teknik alat berat.
Tapi kenyataan memang iya bapak mengajar anak-anak SMK jurusan alat berat. Aku melihat traktor yang bannya itu hampir sebahu ku. Ruangannya pun besar. Seperti pabrik-pabrik mobil yang aku lihat di tv.
Waktu itu, Bapak mengajar selama 1 jam. 1 jamnya ia selipkan untuk bercerita. Memang ini tekniknya dalam memahamkan siswanya, katanya. Para siswa, yang mayoritas kaum Adam mlongo dibuatnya. Ceritanya sangat simple seperti kisah-kisah Fabelnya Aesop tapi masih relate dengan hikmah pelajaran hari itu. Dan mereka terlihat begitu menikmati. Buktinya, mereka terlihat sumringah setelah kelas bapak.
Saya berpikir? Apa hubungannya mengajar hal-hal mesin dengan bercerita? Bukankah mereka harusnya full diajarkan bagaimana merakit? Ini bukan sekolah kesusastraan. Singkatku.
Bel berbunyi. Aku hampiri bapak yang sedang menata peralatan mengajarnya. Sembari menunggu membereskan. Ia menerangkan, mengapa ia harus bercerita bukannya full menerangkan tentang bagaimana menjalankan alat berat.
"ya perlu lah. Ini adalah bagaimana membuat siswa berimajinasi." Ujar ia sambil berjalan keluar kelas.
Terus apa hubungannya mendengar cerita bapak dengan merakit alat berat atau mengoperasikan alat berat. Apa mereka perlu berimajinasi? Pikirku.
Ternyata, bukan seperti itu, bukan imajinasi berupa berkhayal. Tapi, tujuan bapak dalam bercerita ialah melatih siswanya dalam hal mendengar suatu penjelasan. Jika mereka terbiasa mendengar dan paham akan hal itu, mereka juga akan paham dengan penjelasan bapak dengan hal yang rumit. Singkatnya.
Ada benarnya. Tapi itu penjelasan yang sangat singkat. Karena rasa penasaran, saya coba browsing-browsing di internet apa hubungan cerita dan pemahaman siswa. Juga, aku coba mengingat apa yang aku pahami dari pengalaman empiris. Ini paparanku.
Sebelumnya aku bukan bermaksud menggurui, tapi hanya memamparkan apa yang aku pahami.
Jika berbicara pemahaman, itu tak jauh dari bagaimana bekerja otak. Secara dasar, otak kita itu sangat terbatas dalam menyimpan memori akan hal-hal yang abstrak apalagi tanpa konteks. Sedangkan, informasi sekarang ini sangat berlimpah dan tak terbatas.
Dalam kata lain, otak kita itu sangat mudah melupakan hal-hal yang berupa data tanpa konteks dan tanpa susunan wacana. Apalagi, datanya banyak. Dua kata: muda terlupakan.
Saya akan bertanya. Sapa yang tau lahir bung Tomo? Sapa yang tau bagaimana bung Tomo memperjuangkan kemerdekaan? Sudah? coba refleksikan.
Seseorang akan lupa nama kawan lamanya ketika SMP atau SMA. Namun, ia akan ingat betapa lucunya dia dulu di hukum ketika ketauan merokok dalam kelas dan akhirnya ia mendapat hukuman merokok 12 batang di lapangan.
Kita, dalam kata lain, tau cerita dari kawan lama itu, karena otak kita menerima konteks yang dibalut dengan emosi tersebut dan juga ada susunan sequence of event disana. Ada sistem.
Namun, nama hanya sekedar nama. Tidak heran, kita kadang mengingatnya dan mungkin dalam hati memanggilnya dengan "rokok" daripada namanya.
"Rokok" ada konteks sedangkan nama tak ada konteks. Sulit dicerna karena hanya berupa fakta, yaitu nama. Yang membuat ini terjadi adalah otak kita terdapat Amygdala yang menghasilkan emosi. Ini yang menguatkan ingatan kita. Dan lagi otak kita terbiasa bekerja secara tersistem. Celakanya, jika hanya memaparkan suatu data. Sistem tak ada. Ini buktinya.
Dalam kegiatan di kelas psycholinguistic 2 bulan yang lalu. Dosenku mencoba eksperimen mencari cara menghafal lebih muda. Dalam power pointnya ia tulis "secara perkata atau secara wacana yang tersistem (paragraph) ?"
Pada awal, semua mahasiswa mengira bahwa yang lebih muda pasti per kata, karena singkat dan mudah dihafal. Sedangkan paragraf pasti itu panjang dan sulit untuk menghafal banyak kata.
Tapi asumsi mahasiswa terbalik 180 derajat dengan kenyataan. Saya sebagai kelinci percobaan pada percobaan itu, gagal menghafal kata-kata yang terpisah.
Namun, ketika saya dihadapkan pada paragraf dan disuruh mengungkapkan kembali. Saya lakukan itu dengan baik.
Dalam eksperimen tersebut membuktikan bahwa narasi atau paragraph yang mempunyai konteks akan lebih mudah dicerna otak. Karena sekali lagi ada suatu sistem dalam paragraph atau narasi, yaitu koherensi dari satu kalimat ke kalimat lain.
Saya akan membuat suatu silogisme tanpa bertanya ke bapak secara detail akan jawabannya yang singkat tadi. Jadi, jika (A) adalah manusia itu lebih mudah memahami jika dihadapkan pada paragrpah dan (B) Bapak mengajari muridnya dengan bercerita Jadi hasilnya cocok jika bapak memang tujuannya untuk memudahkan muridnya untuk paham. Dalam hal ini ia berhasil.
Karena aku sempat berbincang dengan salah satu siswanya menanyakan bagaimana tanggapannya akan cara pengajaran bapak. "enak mas santai. Yo sering ngono cerito kadang aku kongkon cerito malahan tentang yo opo coro kerjone mesin ngunu. Enak wes." ujarnya.
Dalam jawabannya memang tak ada hubungan antara "iyakah dia paham? Dengan metode bercerita?", tapi coba lihat kalimat "kadang aku yo dikongkon cerito ngono...". Ketika orang bercerita berarti ia paham karena ia mampu mengkonstruksi beberapa kalimat dalam satu nada yg bernama parapgraph.
"Mari bercerita, tentang ikan paus dilaut atau mungkin bunga indah pagi di sawah." - Payung Teduh-
