Litium Iran dan Daya Tawar Indonesia di Rantai Pasokan Baterai Global

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Kristen Indonesia.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Boby Purba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Litium adalah logam ringan keperakan yang kini menjadi tulang punggung revolusi kendaraan listrik global dan akan mengubah peta geopolitik energi dunia.
Pada Maret 2023, Kementerian Industri Iran mengumumkan penemuan cadangan litium sebesar 8,5 juta ton metrik di Provinsi Hamedan. Jika terbukti akurat, Iran menjadi pemegang cadangan terbesar kedua di dunia, hanya kalah dari Chile. Verifikasi teknis pertama baru dilakukan pada Maret 2025 melalui sampling di 46 stasiun di tiga provinsi, menggunakan teknologi ICP-OES bersama mitra Rusia yang memberikan dasar ilmiah yang jauh lebih kuat, meski belum sepenuhnya memenuhi standar cadangan terverifikasi internasional.
Geopolitik Mineral Kritis: Siapa Menguasai Litium, Menguasai Masa Depan
Selama ini, dunia bergantung pada tiga negara untuk lebih dari tiga perempat cadangan litium dunia yaitu Chile, Australia, dan Argentina yang dikenal sebagai Lithium Triangle.
Iran hadir sebagai pendatang baru yang langsung mengubah peta itu. Namun berbeda dengan minyak yang bisa langsung diekspor mentah, litium membutuhkan ekosistem industri yang kompleks seperti teknologi ekstraksi, infrastruktur pemrosesan, jaringan investasi, dan akses pasar. Di sinilah sanksi internasional menjadi variabel penentu yang memisahkan potensi dari realita.
Dalam kerangka teori ketergantungan sumber daya (resource dependency theory), negara yang menguasai mineral kritis tidak serta-merta memiliki kekuatan tawar kecuali ia juga menguasai teknologi dan akses pasar. Iran memiliki cadangan, tetapi terisolasi dari sistem keuangan global Barat. Yang justru paling diuntungkan dari celah ini adalah China.
China sebagai Penerima Manfaat Terbesar
Saat ini China mengimpor 70 hingga 74 persen litiumnya dari Australia, Brasil, Kanada, dan Zimbabwe. Ketergantungan ini menjadi titik lemah strategis di tengah eskalasi perang dagang mineral antara Beijing dan Washington.
China sudah menguasai sekitar 85 persen kapasitas pemrosesan katoda baterai global menurut IEA Global EV Outlook 2025. Jika Beijing berhasil mengamankan akses ke cadangan Hamedan, dominasi itu akan semakin sulit ditandingi. Amerika Serikat tengah membangun rantai pasokan mineral independen melalui Inflation Reduction Act namun strategi itu akan kehilangan daya efektifnya jika China memperkuat posisi lewat jalur yang tidak bisa disentuh sanksi.
Normalisasi hubungan Iran-Saudi pada Maret 2023 yang dimediasi China menambah dimensi baru. Beijing kini memiliki leverage diplomatik di kawasan Timur Tengah yang belum pernah dimiliki sebelumnya. Kombinasi akses mineral dan pengaruh diplomatik regional menjadikan China sebagai aktor yang paling siap mengkapitalisasi potensi litium Iran.
Implikasi Langsung bagi Indonesia
Sebagai produsen nikel terbesar dunia, Indonesia sedang membangun ambisi besar di rantai pasokan baterai EV global. Nikel adalah komponen kritis dalam baterai NMC (Nickel Manganese Cobalt) yang digunakan mayoritas kendaraan listrik saat ini. Strategi hilirisasi pemerintah bertumpu pada posisi ini sebagai kartu utama negosiasi dengan investor global.
Namun perkembangan litium Iran memunculkan variabel baru yang harus diperhitungkan. Pertama, jika China semakin mengunci akses ke litium Iran, dominasi Beijing di seluruh ekosistem baterai mulai dari bahan baku hingga sel baterai jadi akan semakin absolut. Ini mempersulit upaya Indonesia untuk bernegosiasi sebagai mitra setara, bukan sekadar pemasok bahan mentah.
Kedua, ada skenario yang lebih menguntungkan. Tambahan pasokan litium dari Iran berpotensi meredam proyeksi defisit litium global yang diperkirakan mulai terasa setelah 2029. Pasokan yang lebih terdiversifikasi bisa menekan harga litium, membuka ruang bagi Indonesia untuk membangun industri baterai terintegrasi yang lebih kompetitif asalkan kebijakan industrinya cukup responsif dan tidak terlambat bergerak.
Pelajaran Pahit dari Pegunungan Hamedan
Iran duduk di atas 8,5 juta ton litium, namun sanksi internasional, ketiadaan infrastruktur, dan minimnya teknologi ekstraksi membuat potensi itu tersandera dua tahun sebelum verifikasi ilmiah pertama bisa dilakukan.
Ini mengingatkan kita pada paradoks 'kutukan sumber daya' (resource curse) yang kerap menimpa negara kaya mineral dan kekayaan alam justru menunda pembangunan kapasitas teknologi dan institusional yang diperlukan untuk mengolahnya. Bolivia, negara dengan cadangan litium terbesar ketiga dunia di Salar de Uyuni, masih berjuang mengkomersialisasikan cadangannya setelah dua dekade wacana nasionalisasi.
Indonesia perlu mengambil pelajaran ini secara serius. Kekayaan nikel adalah modal awal, bukan jaminan. Yang menentukan adalah kecepatan membangun ekosistem industri hilir, kualitas kebijakan investasi, dan kemampuan menegosiasikan transfer teknologi yang bermakna.
Dari Reaktif ke Antisipatif
Krisis geopolitik mineral yang sedang berlangsung mulai dari perang dagang AS-China hingga kemunculan litium Iran seharusnya mendorong Indonesia keluar dari mode reaktif. Kita tidak bisa terus menunggu kebijakan global terbentuk baru kemudian menyesuaikan diri.
Dibutuhkan peta jalan mineral kritis yang komprehensif yang isinya tidak hanya nikel, tetapi seluruh ekosistem elemen baterai termasuk litium, kobalt, dan grafit. Dibutuhkan pula diplomasi mineral yang lebih aktif dalam membangun aliansi strategis dengan negara-negara yang membutuhkan alternatif dari dominasi rantai pasokan China.
