Konten dari Pengguna

Bola-Bola Emosi Bangsa

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sartana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar dibuat dengan aplikasi Microsoft Designer
zoom-in-whitePerbesar
Gambar dibuat dengan aplikasi Microsoft Designer

Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat kembali menunjukkan bahwa sepak bola tidak pernah sekadar olahraga. Di berbagai penjuru dunia, jutaan orang mengikuti pertandingan dengan keterlibatan emosional yang luar biasa. Mereka bersorak ketika timnya menang, cemas ketika pertandingan berlangsung ketat, dan kecewa ketika harapan kandas di lapangan hijau.

Peristiwa semacam ini menarik karena memperlihatkan sesuatu yang sering luput dari perhatian. Bangsa tidak hanya hidup sebagai entitas politik, tetapi juga sebagai pengalaman emosional yang dirasakan bersama.

Ketika tim nasional bertanding, pertandingan itu tidak lagi sekadar urusan sebelas pemain melawan sebelas pemain. Di dalamnya tersimpan harga diri, harapan, dan kebanggaan kolektif. Kemenangan terasa sebagai kemenangan bersama, sementara kekalahan sering dirasakan sebagai luka yang juga ditanggung bersama.

Menariknya, keterlibatan emosional itu tidak hanya dialami oleh negara-negara peserta. Masyarakat di negara yang tidak memiliki wakil pun sering ikut larut dalam suasana yang sama. Mereka memilih tim favorit, mengikuti pertandingan hingga larut malam, dan ikut merasakan kegembiraan maupun kekecewaan yang menyertainya. Di era media digital, emosi olahraga bergerak melampaui batas negara dan menjadi pengalaman global.

Sepak bola memiliki kemampuan yang jarang dimiliki institusi sosial lainnya, yakni menciptakan kesamaan perasaan dalam skala yang sangat besar. Dalam hitungan detik, jutaan orang dapat mengalami ketegangan yang sama ketika penalti akan dieksekusi atau merasakan kegembiraan yang sama ketika gol tercipta pada menit-menit akhir pertandingan.

Di sinilah olahraga membantu kita memahami bagaimana bangsa bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering memandang bangsa melalui konstitusi, wilayah, lembaga negara, atau simbol-simbol resmi. Semua itu memang penting. Namun, bangsa juga hidup melalui pengalaman emosional yang dibagi bersama oleh para anggotanya.

Sejarawan emosi Barbara Rosenwein (2006) memperkenalkan konsep emotional communities, yaitu komunitas yang dipersatukan oleh nilai, norma, dan pengalaman emosional tertentu. Dalam konteks kebangsaan, konsep tersebut membantu menjelaskan mengapa jutaan orang yang tidak saling mengenal dapat merasa terhubung oleh kegembiraan, kecemasan, atau kebanggaan yang sama.

Karena itu, olahraga memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar kompetisi. Ketika sebuah negara berinvestasi dalam olahraga, yang dibangun bukan hanya peluang meraih medali atau trofi. Yang juga dibangun adalah sumber-sumber kebanggaan kolektif yang dapat memperkuat ikatan emosional antarwarga.

Hal ini semakin penting di era global. Dalam beberapa dekade terakhir, kebanggaan nasional sering muncul melalui pencapaian di panggung internasional. Ketika atlet Indonesia meraih prestasi dunia, ketika musisi Indonesia tampil di hadapan publik internasional, atau ketika ilmuwan Indonesia memperoleh pengakuan global, masyarakat merasakan bahwa keberhasilan tersebut bukan semata-mata milik individu. Ada perasaan bahwa Indonesia ikut hadir dan diperhitungkan.

Sebaliknya, kegagalan di panggung internasional juga kerap menghadirkan kekecewaan kolektif. Kita merasa kehilangan sesuatu yang sebenarnya tidak kita miliki secara langsung. Namun justru di situlah kekuatan identitas nasional bekerja. Ia membuat keberhasilan dan kegagalan orang lain terasa sebagai keberhasilan dan kegagalan kita bersama.

Rasa kebangsaan karena itu dapat diibaratkan seperti balon yang terus mengembang dan mengempis. Ia mengembang ketika bangsa memperoleh prestasi dan pengakuan. Ia mengempis ketika harapan tidak terpenuhi. Namun selama masih ada peristiwa-peristiwa yang membuat masyarakat tertawa, cemas, bangga, atau sedih secara bersama-sama, selama itu pula ikatan kebangsaan akan terus menemukan energinya.

Mungkin itulah sebabnya sepak bola tidak pernah hanya soal pertandingan. Di balik bola yang bergulir di lapangan, ada jutaan harapan, kecemasan, kebanggaan, dan kekecewaan yang bergerak bersama. Dari pengalaman emosional semacam itulah rasa kebangsaan terus memperoleh energi untuk hidup.