Bola Gembira: Piala Dunia di Ruang Tamu Rakyat

Pemerhati Masalah Sosial Politik, Alumnus S2 Ilmu Politik UI
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Fajar Supriyatna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada kalanya negara hadir bukan dalam bentuk pidato panjang, rapat besar atau spanduk yang wajah pejabatnya lebih besar daripada isi pesannya. Kadang negara hadir dengan cara yang sangat sederhana, lewat layar televisi di ruang tamu, di warung kopi ataupun di pos ronda ketika rakyat bisa menonton Piala Dunia bersama-sama.
Di situlah kehadiran TVRI dalam menyiarkan Piala Dunia 2026 patut mendapat apresiasi. Bukan semata karena sepak bola adalah olahraga paling populer di muka bumi, tetapi karena melalui siaran itu ada rasa keadilan kecil yang terasa hangat. Bahwa kegembiraan tidak boleh hanya menjadi milik mereka yang mampu membayar lebih. Bahwa gol indah, drama adu penalti, selebrasi pemain, hingga komentator yang ikut tegang, juga berhak hadir di rumah rakyat biasa.
Semboyan “Bola Gembira” terasa sederhana, tetapi mengandung pesan sosial yang kuat. Bola, karena sepak bola memang bahasa dunia. Gembira, karena di tengah hidup yang tidak selalu ringan, rakyat tetap membutuhkan ruang untuk tersenyum. Harga kebutuhan naik-turun, cicilan tetap disiplin menyapa setiap bulan, rupiah kadang bikin jantung ikut main pressing, tetapi setidaknya selama 90 menit, rakyat bisa duduk bersama dan berkata: “Sudahlah, nanti dulu pusingnya, sekarang nonton bola dulu.”
TVRI, sebagai lembaga penyiaran publik, memiliki posisi penting. Dalam hal ini ia bukan semata-mata televisi yang mengejar rating atau iklan. TVRI adalah Lembaga Penyiaran Publik yang bersifat independen, netral dan tidak komersial. Karena itu, ketika TVRI membawa Piala Dunia ke layar televisi di Indonesia, ia tidak sedang sekadar menayangkan pertandingan. Ia sedang menjalankan fungsi sosial, menghadirkan akses, membangun kebersamaan dan menjadikan peristiwa dunia bisa dinikmati secara lebih merata oleh rakyat Indonesia.
Menurut penulis, inilah salah satu wajah paling membumi dari Demokrasi Pancasila. Demokrasi Pancasila tidak hanya hidup dalam pemilu, rapat politik atau perdebatan para elite. Demokrasi Pancasila juga terasa ketika negara memastikan rakyat ikut serta dalam menikmati kebahagiaan bersama. Sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia hadir secara sederhana: memberikan kesempatan menonton pertandingan dunia tanpa merasa menjadi penonton kelas dua.
Piala Dunia jelas bagian dari industri global yang sangat besar. Di sana ada hak siar, sponsor raksasa, iklan, apparel, pariwisata, platform digital, hingga kalkulasi bisnis yang rumit. Sepak bola hari ini bukan hanya sebelas pemain melawan sebelas pemain. Ia juga sebelas investor melawan sebelas strategi pemasaran. Namun justru di tengah kapitalisme global semacam itu, Pancasila tidak boleh minder. Pancasila tidak harus menolak dunia. Pancasila harus mampu mengatur agar di Indonesia, dunia harus tetap manusiawi.
TVRI telah menyatakan komitmennya untuk menghadirkan tayangan Piala Dunia FIFA 2026 agar dapat dinikmati secara luas oleh masyarakat Indonesia. Komitmen semacam ini penting karena Piala Dunia bukan sekadar tontonan. Piala Dunia adalah peristiwa sosial. Di banyak tempat, satu pertandingan bisa menghidupkan suasana kampung. Warung kopi menjadi penuh, gorengan laku keras, kacang-kacangan jadi favorit dan teh manis mendadak menjadi minuman resmi analis sepak bola lokal.
Di warung kopi, sepak bola menemukan panggung rakyatnya. Ada bapak-bapak yang mendadak menjadi pelatih berlisensi imajinasi. Ada anak muda yang hafal nama pemain asing, tetapi kadang lupa nama dosennya sendiri. Ada yang menebak skor dengan yakin, lalu pura-pura lupa ketika tebakannya salah total. Ada pula yang marah kepada striker karena gagal mencetak gol dan aneka ragam perilaku lainnya.
Namun begitulah sepak bola, sejenak membuat hidup terasa ringan, bahkan bisa membuat orang yang tidak saling kenal bisa duduk satu meja. Ia membuat perbedaan usia, pekerjaan, suku, agama, pilihan politik, bahkan perbedaan klub lokal, untuk sementara bisa diparkir dulu di luar pagar. Selama 90 menit, yang penting hanya satu: bola jangan sampai lepas, kopi jangan sampai dingin dan remote jangan sampai hilang.
Di ruang tamu rakyat, Piala Dunia menjadi pesta kecil yang hangat. Seorang kakek bisa bercerita tentang pemain legendaris pada zamannya. Seorang ayah sok paham formasi dan strategi. Seorang ibu yang awalnya hanya lewat membawa camilan, tiba-tiba ikut bertanya, “ada Inzaghi dan Maldini nggak?”
Di sinilah “Bola Gembira” menjadi lebih dari sekadar slogan. Ia menjadi simbol bahwa kegembiraan publik tidak boleh seluruhnya diserahkan kepada mekanisme pasar. Kalau semua hal harus berbayar, berlangganan, berkode akse dan bergantung pada sinyal internet yang kadang hilang saat dibutuhkan, maka rakyat kecil akan selalu berada di pinggir pesta. TVRI, dengan mandat publiknya, hadir untuk mengingatkan bahwa ada jenis layanan yang seharusnya tetap berpihak pada kepentingan bersama.
Tentu, apresiasi tidak berarti menutup mata terhadap kebutuhan pembenahan. TVRI harus terus memperbaiki kualitas siaran, kemasan program, teknologi digital dan kedekatan dengan generasi muda. Lembaga publik tidak boleh hanya mengandalkan nostalgia. Ia harus bergerak dengan zaman tanpa harus kehilangan akar sosialnya. Momentum Piala Dunia kali ini harus menjadi ruang pembuktian bahwa TVRI masih relevan, masih dibutuhkan dan masih bisa menjadi rumah bersama bagi tontonan yang sehat, meriah dan bermakna.
Lebih jauh, Piala Dunia 2026 di TVRI memberi pelajaran tentang bagaimana Pancasila menghadapi kapitalisme global. Bukan dengan menutup pintu, bukan pula dengan menyerah total kepada pasar. Pancasila harus hadir sebagai penyaring, penyeimbang dan pengarah. Globalisasi boleh masuk, tetapi manfaatnya harus sampai ke rakyat. Komersialisasi boleh tumbuh, tetapi ruang publik jangan sampai hilang. Modernisasi boleh berkembang, tetapi kebersamaan jangan sampai punah.
Maka, ketika bola bergulir di layar TVRI, yang bergerak bukan hanya si kulit bundar, Rasa kebangsaan juga ikut bergerak. Bukan hanya lampu stadion yang menyala, tetapi juga harapan di rumah-rumah rakyat kecil ikut menyala. Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat menemukan jeda. Di tengah kesibukan hidup, mereka menemukan tawa. Di tengah dunia yang sering terasa keras, sepak bola menawarkan kegembiraan yang sederhana.
Dan barangkali, dari ruang tamu, warkop, pos ronda, hingga kampung-kampung jauh, kita bisa melihat satu hal yang indah: negara hadir bukan hanya ketika rakyat diminta sabar, tetapi juga ketika rakyat diberi alasan untuk gembira.
Itulah makna terdalam dari Bola Gembira. Bukan sekadar pertandingan, bukan sekadar tayangan dan Bukan sekadar euforia sesaat. Ia adalah cara sederhana untuk mengatakan bahwa kegembiraan pun bagian dari keadilan sosial.
Maka, saat Piala Dunia hadir di layar TVRI dan rakyat menontonnya bersama-sama, kita boleh tersenyum sambil berkata: Inilah Piala Dunia di Ruang Tamu Rakyat, inilah Bola Gembira, inilah Demokrasi Pancasila yang terasa sampai ke meja kopi dan piring gorengan.
Tabik...
