Di Makassar Panen Juara, Tim Badminton Unhas Kaget Level di Campus League

Jauh-jauh dari Makassar, tiga wakil tim badminton Universitas Hasanudin (Unhas) datang ke Campus League Badminton Semarang dengan bekal prestasi di level regional asal mereka.
Di Sulawesi, tim badminton Unhas cukup disegani. Mereka kerap meraih gelar juara dan menjadi salah satu kekuatan yang cukup diperhitungkan dalam kompetisi badminton antar-kampus.
Akan tetapi, perjalanan mereka di Campus League Badminton Regional Semarang menghadirkan pengalaman baru yang berbeda.
Lawan yang belum pernah ditemui, atmosfer pertandingan yang tak biasa, hingga tekanan di tengah lapangan membuat Unhas menyadari bahwa level persaingan yang baru saja mereka hadapi ternyata jauh lebih menantang dari perkiraan.
"Kalau Unhas sendiri panen juara biasanya kalau di Sulawesi," kata Jovan Euginio, mahasiswa semester 7 yang didapuk menjadi pelatih tim Unhas, di Polytron Stadium, Semarang, Rabu (26/8).
Dua pemain yang dibawa Unhas, yakni Muhammad Alvian dan Andi Dhiya 'Us Syam, memaksimalkan kans dengan turun di tiga nomor berbeda di Campus League. Masing-masing dari mereka bermain di Men's Single lalu berpasangan di Men's Double.
Sayangnya, tak ada satu pun gim yang berhasil mereka menangkan di hari pembuka. Andi kalah 15-4 & 15-7 dari wakil Universitas Islam Indonesia, sedangkan Alvian harus mengakui keunggulan wakil Universitas Negeri Semarang dengan skor 7-15 & 5-15.
Harapan terakhir mereka di nomor MD juga harus sirna. Alvian & Andi menyerah saat berjumpa wakil dari UIN Sunan Ampel Surabaya dengan skor 8-15 & 7-15. Tiga nomor yang diikuti Unhas langsung gugur di hari pertama dan tak ada yang melaju ke babak berikutnya.
"Kalau di Makassar kemarin kami baru dapat juara juga di internal Unhas. Kemudian pas bawa ke sini kayak ekspektasinya bisalah kayak round-round delapan besar targetnya. Tapi tadi pada saat main memang mentalitasnya sudah grogi duluan, jadi memang di luar ekspektasi sih lawan-lawan di sini ternyata wah hebat-hebat," ungkap pelatih tim badminton Unhas itu.
Jujur dari awal nggak ekspek bahwa oh sekeras ini ternyata region Jawa.
- Jovan Euginio, Pelatih Badminton Unhas
Tertantang Lawan Tim Jago
Unhas mungkin bisa saja berpuas diri dengan dominasi mereka di Sulawesi, tapi bukan itu yang mereka cari. Unhas haus akan hal yang belum banyak mereka dapatkan selama berkompetisi di daerah sendiri: menghadapi pemain dari berbagai wilayah dengan kultur dan pengalaman bertanding yang berbeda.
Itulah yang jadi alasan Unhas memutuskan menempuh perjalan jauh dan merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa tiba di Semarang.
“Kalau di kami bertanding sendiri di Makassar kan oke, kita sudah tahu kondisi lapangan, kondisi lawan-lawannya di sana. Kalau di Pulau Jawa sendiri kami tertarik untuk mencoba bagaimana sih perasaannya bertanding di luar,” ujar Jovan.
Perjalanan ke Semarang bukan tanpa tantangan. Sebagai satu-satunya wakil dari Sulawesi, Unhas harus mengurus berbagai kebutuhan sejak jauh-jauh hari, mulai dari proses administrasi setumpuk, isu akomodasi, sampai pendanaan. Jovan memperkirakan perjalanan tim beranggotakan empat orang itu membutuhkan biaya minimal Rp15 juta.
Untungnya, pihak kampus menyediakan mayoritas dana bagi tim tersebut. Kebutuhan besar seperti penerbangan dan penginapan ditopang oleh Fakultas Ekonomi & Bisnis Unhas.
“Itu sebagian dari kampus, kami juga sebagian pakai uang pribadi, seperti makan. Karena kalau pesawat, penginapan, alhamdulillah ditanggung (kampus). Tapi kalau cukup lagi kami belanjakan untuk makan juga pastinya,” kata Andi setelah melakoni duel Men’s Double di Campus League Badminton Regional Semarang.
Ambisi Bangkit di Edisi Berikutnya
Kegagalan tim badminton Unhas tentu jadi pelajaran penting bagi mereka yang baru saja menjajal kompetisi di luar regional mereka.
Jovan meyakini apabila secara kemampuan para pemainnya sebenarnya masih bisa mengimbangi persaingan. Masalah terbesar justru muncul dari kepercayaan diri dan kemampuan mengendalikan diri ketika berada dalam situasi pertandingan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Ada pemain yang mampu tampil baik saat latihan, tetapi belum tentu bisa mengeluarkan kemampuan yang sama ketika berhadapan dengan lawan dari daerah lain. Ketika kehilangan poin secara beruntun, mental juga bisa langsung turun.
Karena itu, pengalaman di Campus League justru menjadi bahan evaluasi paling berharga bagi Unhas. Jovan menilai timnya membutuhkan lebih banyak jam terbang, lebih sering keluar dari zona nyaman, dan bertemu dengan lawan yang lebih beragam.
Begitu juga dengan Andi. Ia melihat satu perbedaan besar dengan pemain-pemain di regional Jawa, yaitu kesempatan bertanding dengan lawan-lawan yang berkualitas.
"Orang-orang (di) Jawa sih jam terbangnya ya cukup banyak yang lawan lawan dari atas kan, boleh sparring-sparring gitu. Kami di Sulawesi juga ada, tapi ya begitulah. Kalau daerah Jawa pemainnya cukup-cukup kuatlah buat bersaing di internasional begitu,” kata Andi.
Meski belum bisa optimal di percobaan pertama, Unhas tidak melihat perjalanan ke Semarang sebagai sebuah kegagalan yang harus disesali. Justru sebaliknya, mereka pulang dengan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang perlu diperbaiki.
Jovan mengatakan Unhas berencana kembali mengikuti Campus League pada edisi berikutnya. Satu tahun ke depan akan mereka gunakan untuk meningkatkan kualitas latihan dan membuktikan bahwa kekuatan Unhas tidak berhenti pada dominasi di Makassar.
“Dari Unhas sendiri pasti mau ikut lagi karena kan apalagi kami belum bisa untuk maksimal di event kali ini. Tentunya kami mau tahun depan membuktikan lagi Unhas itu gimana sebenarnya,” ujar Jovan.
"Sepuluh kali kita gagal, dua puluh kali kita bangkit," pungkasnya.
