Ibu Resign sampai Pindah Kota: Perjuangan Keluarga di Balik Mimpi Maria Prawesti

kumparanSPORTverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Maria Veronica Ngadien Prawesti, student-athlete badminton Universitas Padjajaran, saat berlaga di Campus League Badminton Regional Bandung. Foto: Dok. Campus League
zoom-in-whitePerbesar
Maria Veronica Ngadien Prawesti, student-athlete badminton Universitas Padjajaran, saat berlaga di Campus League Badminton Regional Bandung. Foto: Dok. Campus League

Bagi sebagian orang, meninggalkan pekerjaan setelah 15 tahun berkarier bukan keputusan mudah. Namun, bagi Maria Shinta, pilihan itu natural saja demi karier putrinya, Maria Veronica Ngadien Prawesti, yang memutuskan serius mengejar karier badminton.

Sang ibu rela meninggalkan pekerjaan yang dicintainya di Jakarta demi satu hal, yakni mendampingi Prawesti kala latihan dan menuntaskan pendidikan.

Tak cukup sampai di situ, keluarga Prawesti bahkan rela pindah dari Bogor ke Bandung agar Prawesti mendapat tempat latihan terbaik dalam karier badmintonnya.

"Ibu resign kerja, ikut pindah ke Bandung, karena kan kerjanya di Jakarta. Jadi ikut ke Bandung nemenin aku kuliah sama latihan (badminton) setiap hari," tutur Prawesti saat berbincang dengan Campus Sport Indonesia di GOR Bandung, Rabu (16/9).

Maria Shinta, ibu dari Maria Veronica Ngadien Prawesti student-athlete Universitas Padjajaran, usai berbincang dengan Campus Sport Indonesia di GOR KONI Bandung. Foto: Aji Nugrahanto/kumparan

Main Badminton dari Umur Tiga Tahun

Badminton sebenarnya sudah akrab dengan Prawesti sejak kecil. Perempuan kelahiran Jakarta, 2 April 2003 itu dikenalkan pada badminton oleh ayahnya kala menginjak tiga tahun di sebuah gelanggang olahraga.

Sadar bahwa Prawesti adalah anak yang aktif, kedua orang tuanya mengenalkan sang anak dengan berbagai macam jenis olahraga. Tak cuma tepok bulu, Prawesti juga sempat menekuni renang sampai taekwondo semasa belia.

Namun, saat kelas 5 SD, orang tuanya hanya memberikan satu pilihan. Prawesti dengan yakin memilih bulu tangkis. “Karena sudah passion aku, terus aku lebih suka ke badminton,” ujar Prawesti.

Bagi kedua orang tuanya, pilihan itu kemudian harus diikuti dengan komitmen. Mereka tidak menentukan jalan Prawesti, tetapi siap mendukung ketika putrinya telah menentukan pilihan.

“Dia yang menentukan, tapi dia harus komit dan harus menjalankan sampai tuntas,” kata Maria Shinta saat ditemui usai menonton anaknya di gelaran Campus League Regional Bandung.

instagram embed

Ibu Resign Kerja, Keluarga Pindah Kota

Keseriusan Prawesti membuat keluarga mulai mencari lingkungan latihan yang lebih mendukung. Ketika ayahnya mendapat tugas di Bandung, kesempatan itu membuka jalan baru. Pelatih Prawesti di Bogor menyarankan agar ia berlatih bersama mendiang Iie Sumirat.

Iie Sumirat adalah sosok besar di badminton Indonesia. Setelah karier gemilangnya kala menjadi juara Asian Games hingga kejuaraan dunia medio 1970-an, ia mendirikan PB Sarana Muda yang kemudian menjadi SGS Elektrik dan melahirkan nama besar seperti Taufik Hidayat hingga Anthony Sinisuka Ginting.

Itulah mengapa Maria Shinta dan keluarganya memilih Bandung dan mendaftarkan Prawesti ke SGS PLN.

Prawesti meninggalkan Bogor dan pindah ke Bandung saat masih sangat muda. Di sana, ia mulai menekuni bulu tangkis dengan lebih serius.

Ada lingkungan baru, klub baru, sekaligus rutinitas latihan yang lebih intens. Tetapi ada satu hal lain yang ikut pindah bersama Prawesti, itu adalah ibunya.

Maria Sinta sebelumnya bekerja di Kompas Gramedia selama 15 tahun. Ketika turnamen Prawesti semakin banyak dan berlangsung di berbagai daerah, termasuk luar pulau, kebutuhan untuk mendampingi putrinya pun semakin besar. Akhirnya, Maria mengambil keputusan besar untuk resign.

“Memang agak berat, tapi akhirnya demi anak, demi masa depan anak, ya saya pasti akan lebih mementingkan anak saya,” tuturnya.

Keputusan itu membuat Maria bisa hadir dalam lebih banyak bagian dari perjalanan Prawesti. Bukan hanya pertandingan, tetapi juga latihan dan berbagai proses yang berlangsung jauh dari sorotan.

Bagi seorang ibu, perjalanan seorang atlet ternyata bukan hanya tentang melihat anaknya bertanding.

Ada perjalanan menuju lokasi pertandingan, menunggu latihan selesai, mendengarkan cerita setelah pertandingan, hingga menghadapi masa ketika sang anak sedang lelah atau mengalami penurunan performa.

Bagi keluarga Prawesti, mendukung seorang atlet bukan berarti selalu mendorongnya maju. Ada kalanya dukungan berarti memberi ruang untuk berhenti sejenak.

“Kalau dia capek ya kita ajak-ajak refreshing,” ujar Maria.

Maria Veronica Ngadien Prawesti, student-athlete badminton Universitas Padjajaran, saat berlaga di Campus League Badminton Regional Bandung. Foto: Dok. Campus League

Berprestasi Hingga Luar Negeri

Sadar betapa besar pengorbanan orang tuanya demi karier badminton, Prawesti tak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan. Berbagai macam kompetisi ia jajal, berbagai macam prestasi juga sudah dikantongi.

Salah satu yang terbesar baginya adalah kala mewakili Indonesia di ASEAN University Games 2024. Turun di nomor Beregu Putri, Prawesti dkk sukses mengamankan medali perunggu untuk Merah Putih.

Tapi, prestasinya di level kampus tak cukup sampai di situ saja. Dalam gelaran Campus League Badminton Regional Bandung, Prawesti sukses jadi yang terbaik.

Student-athlete Universitas Padjajaran itu menyabet medali emas di nomor Tunggal Putri usai mengandaskan berbagai unggulan seperti Aura Ihza (Binus) hingga Alya Zafira (Universitas Gunadarma) dalam final yang berakhir 15-9, 15-12 di GOR Bandung, Rabu (16/9).

Prawesti tentu senang bisa membawa nama Unpad berdiri di podium tertinggi, tapi baginya itu bukan akhir. Target berikutnya sudah menanti, mengalahkan unggulan-unggulan nasional dan membawa pulang gelar juara di Campus League Badminton The Nationals.

"Kalau untuk di nasional nanti harapannya bisa juara satu. Tapi ngelihat lawan-lawan yang lain juga yang bagus, ya yakin aja. Bisa sampai juara gitu," tutup mahasiswi Administrasi Bisnis semester tujuh tersebut.

instagram embed