Konten dari Pengguna

Juara FIFA ASEAN Cup Setelah 35 Tahun, Piala Dunia Tetap Jadi Tolok Ukur

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Nur Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image by Pexels from Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Image by Pexels from Pixabay

Setelah 35 tahun tanpa gelar, trofi FIFA ASEAN Cup 2026 pantas disambut meriah. Timnas Indonesia mengalahkan Thailand lewat adu penalti 4-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin, 5 Oktober. Namun, kegembiraan itu tidak boleh menutupi satu fakta, yaitu Indonesia gagal menembus Piala Dunia 2026 setelah kalah dari Arab Saudi dan Irak di putaran keempat kualifikasi.

Dua fakta itu hidup berdampingan, yakni gelar regional dan kegagalan global. Cara menimbangnya akan menentukan arah sepak bola nasional ke depan.

Arti 35 Tahun Puasa Gelar Juara FIFA ASEAN Cup.

Gelar ini diraih pada edisi perdana FIFA ASEAN Cup dan mengakhiri puasa gelar selama 35 tahun. Bagi suporter, maknanya sangat emosional, sebab penantian panjang akhirnya berbuah trofi. Penyerang Ole Romeny pun menyebut gelar ini sangat berarti bagi Indonesia.

Kemenangan semacam itu membangun kepercayaan diri. Tim yang pernah menang di final panjang dan lolos adu penalti punya modal mental baru. Modal inilah yang bisa berguna di laga penting berikutnya.

Kegagalan Piala Dunia sebagai Pembanding yang Jujur.

Langkah Indonesia ke Piala Dunia 2026 terhenti di putaran keempat kualifikasi. Sebelum laga melawan Arab Saudi dan Irak, target yang disampaikan adalah meraih enam poin demi lolos langsung. Target itu tidak tercapai.

Membandingkan dua hasil ini bukan untuk meremehkan gelar, melainkan menempatkannya secara proporsional. Level Asia dan dunia menuntut lawan yang lebih kuat dan persaingan yang lebih ketat daripada turnamen regional.

Merayakan Juara FIFA ASEAN Cup tanpa Menurunkan Ambisi.

Merayakan gelar tidak berarti berhenti mengevaluasi. Di level usia muda, hasilnya masih campuran. Timnas U-22 tersingkir di fase grup SEA Games, sementara Timnas U-17 mencatat hasil yang cukup membanggakan.

Gambaran itu menunjukkan bahwa pembinaan berjenjang masih perlu dibenahi agar prestasi tidak bergantung pada satu generasi. Gelar senior bisa menjadi motivasi, tetapi fondasi yang kuat tetap dibangun dari bawah.

Gelar sebagai Pijakan Menuju Panggung Lebih Besar.

Juara FIFA ASEAN Cup layak dirayakan sebagai tonggak, sebab menutup penantian panjang dan memberi energi baru. Namun, Piala Dunia tetap menjadi tolok ukur yang menentukan seberapa jauh sepak bola Indonesia sudah melangkah.

Jika gelar ini dijadikan pijakan, bukan puncak, Indonesia punya alasan untuk berharap pada panggung yang lebih besar. Perayaan hari ini akan terasa lebih bermakna bila diikuti kerja keras untuk target berikutnya.