Pewarisan Kesenian Angklung Desa Pagongan

Mahasiswa Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Bagas Lesmana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesenian adalah bagian dari kebudayaan manusia, tersusun dari berbagai aspek yang kompleks dan menawan. Seni adalah hasil karya manusia yang memiliki nilai luar biasa, di mana di dalamnya dapat berisikan ekspresi, emosi, bahasa, gerakan, bunyi, spiritual, juga keindahan.
Sedangkan kesenian adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan seni. Bentuk seni dapat bermacam-macam, misalnya berupa tarian, musik, lukisan, dan sebagainya.
Desa Pagongan memiliki beberapa kesenian yang cukup unik, salah satunya yaitu kesenian angklung. Kesenian Angklung yang dimiliki Desa Pagongan berupa sebuah komunitas yang bernama Angklung Laras Sworo.
Angklung Laras Sworo berdiri dengan dua kosa kata jawa yaitu laras dan sworo. Laras merupakan bahasa jawa kuno yang dapat disebut juga dengan saras, memiliki arti kondisi yang ideal. Sedangkan sworo merupakan bahasa jawa ngoko yang memiliki arti suara. Jadi singkatnya Laras Sworo dapat diartikan sebagai suara yang ideal.
Angklung Laras Sworo merupakan sebuah kelompok yang berisikan pelaku-pelaku kesenian, di mana mereka menampilkan sebuah pertunjukan pentas seni dengan memadukan unsur tarian dan alunan alat musik angklung.
Dalam pertunjukannya biasanya melibatkan kurang lebih 20 orang, ada penari perempuan, penari laki-laki, dan pemegang alat musik angklung. Pertunjukan angklung Laras Sworo kurang lebih berjalan selama 10 menit.
Angklung Laras Sworo dapat dibilang cukup berprestasi, telah banyak menjuarai atau juara satu lomba kesenian yang diadakan ditingkat kecamatan, sampai pada suatu kejadian Desa Pagongan tidak diperbolehkan ikut serta dalam lomba tersebut, karena dianggap kandidat yang terlalu kuat, dan dimaksudkan untuk memberikan kesempatan pada desa yang lainnya. Namun masih diperbolehkan mengikuti lomba ditingkat kabupaten.
Sayangnya Angklung Laras Sworo kurang memiliki eksistensi di Desa Pagongan, kelompok tersebut hanya unjuk gigi ketika diadakan perlombaan saja, sedangkan jika dilihat dari track record-nya Angklung Laras Sworo cukup berprestasi.
Dengan adanya latar belakang tersebut, penulis ingin memberikan eksistensi yang lebih layak didapatkan oleh Angklung Laras Sworo, yaitu mengajukan konsep inovasi wisata religi dengan menambahkan unsur kesenian Angklung Laras Sworo.
Konsepnya adalah membentuk paket wisata desa yang melibatkan wisata religi (Makom Mbah Datuk), dan pertunjukan pentas seni Angklung Laras Sworo.
Secara tidak langsung konsep ini membantu dalam pelestarian atau pewarisan budaya kesenian angkulng Desa Pagongan. Karena secara logic jika eksistensinya menurun, akan membuat kesenian angklung ini kurang diminati oleh masyarakat, dan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi adalah punahnya kesenian angklung di Desa Pagongan.
Jika disatukan dengan paket wisata desa, artinya desa menjaga kesenian ini agar tetap utuh, juga dengan para penerusnya. Hal ini sejalan lurus dengan bertambahnya minat masyarakat terhadap kesenian angklung.
Karena ini juga merupakan lapangan usaha yang diciptakan desa untuk masyarakatnya, terutama untuk para pelaku kesenian di Desa Pagongan.
Konsep ini nantinya akan didiskusikan terlebih dahulu dengan komunitas Angklung Laras Sworo, kemudian diajukan ke perangkat desa.
