Belajar Manajemen Strategis dari Pria Terkaya di Babilonia
Tulisan dari Bonardo C H Sianipar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di kota Babilonia, salah satu kota terkaya pada masanya, hiduplah seorang pria bernama Arkad. Menariknya, Arkad tidak dilahirkan sebagai orang kaya. Ia hanyalah seorang juru tulis sederhana yang kemudian berhasil menjadi orang terkaya di Babilonia. Kisah Arkad menjadi salah satu cerita utama dalam The Richest Man in Babylon karya George S. Clason, sebuah buku yang pertama kali diterbitkan pada 1926 dan merupakan salah satu karya klasik dan telah terjual jutaan eksemplar sampai dengan saat ini.
Yang menarik dari kisah Arkad bukan sekadar berapa banyak kekayaan yang berhasil ia kumpulkan, tetapi bagaimana ia membangun kekayaan tersebut. Arkad memahami bahwa menjadi kaya bukanlah hasil dari keberuntungan atau satu keputusan besar. Kekayaan dibangun melalui kebiasaan yang konsisten: menyisihkan sebagian penghasilan, mengendalikan pengeluaran, membuat uang bekerja, melindungi kekayaan dari kerugian, mempersiapkan masa depan, dan terus meningkatkan kemampuan untuk menghasilkan pendapatan.
Dari kisah tersebut, terdapat satu pelajaran penting: Arkad tidak hanya memiliki tujuan, tetapi memiliki proses untuk mencapai tujuan tersebut. Ia tidak sekadar mengatakan ingin kaya. Ia mengubah keinginannya menjadi aturan, kebiasaan, keputusan investasi, pengendalian pengeluaran, dan pembelajaran yang dilakukan secara terus-menerus.
Jika dilihat dari perspektif manajemen, cara Arkad membangun kekayaan sebenarnya memiliki kemiripan dengan Strategic Management Process yang terdiri atas empat tahapan utama: Environmental Scanning, Strategic Formulation, Strategic Implementation, serta Evaluation & Control. Tahapan tersebut menunjukkan bahwa strategi bukan hanya mengenai membuat rencana, tetapi merupakan suatu siklus yang menghubungkan analisis, keputusan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Pertama, Environmental Scanning. Sebelum mengambil keputusan, organisasi perlu memahami kondisi internal dan eksternalnya. Hal yang sama dapat kita lihat dalam prinsip Arkad. Ia menyadari bahwa pendapatan yang besar tidak otomatis menghasilkan kekayaan apabila pengeluaran tidak dikendalikan. Ia juga menyadari bahwa investasi yang tidak dipahami dapat membawa kerugian. Karena itu, keputusan keuangan harus didasarkan pada pemahaman terhadap kondisi dan risiko, bukan sekadar keinginan memperoleh keuntungan cepat. Prinsip ini sejalan dengan pentingnya memahami lingkungan, sumber daya, kemampuan, serta risiko sebelum menentukan strategi.
Kedua, Strategic Formulation. Setelah memahami kondisi, diperlukan pilihan mengenai apa yang ingin dicapai dan bagaimana cara mencapainya. Dalam konteks Arkad, formulanya sederhana tetapi fundamental: sebagian pendapatan harus disisihkan, pengeluaran harus dikendalikan, dan tabungan harus ditempatkan pada aktivitas yang produktif. Dengan kata lain, ia memiliki aturan strategis dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya.
Ketiga, Strategic Implementation. Strategi yang baik tidak akan menghasilkan apa-apa tanpa implementasi. Pelajaran terbesar dari Arkad justru terletak pada konsistensi menjalankan prinsip tersebut. Menyisihkan sebagian pendapatan harus dilakukan secara rutin. Mengendalikan pengeluaran harus menjadi kebiasaan. Investasi harus dilakukan dengan pertimbangan yang matang. Kemampuan juga harus terus dikembangkan.
Keempat, Evaluation & Control. Kekayaan yang sudah diperoleh juga harus dijaga. Clason bahkan menempatkan prinsip guard thy treasures from loss sebagai salah satu dari tujuh prinsip pengelolaan kekayaan. Artinya, pertumbuhan tanpa pengendalian risiko dapat menghilangkan hasil yang telah dibangun.
Dari sini, kisah Arkad memberikan perspektif menarik bahwa kekayaan pada dasarnya adalah hasil dari strategic management dalam skala individu. Pendapatan dapat dipandang sebagai sumber daya; tabungan sebagai alokasi sumber daya; investasi sebagai strategi pertumbuhan; pengendalian risiko sebagai mekanisme perlindungan; dan peningkatan kemampuan sebagai investasi pada human capital.
Yang paling penting, Arkad mengajarkan bahwa hasil besar tidak selalu berasal dari tindakan yang besar, tetapi dari proses yang benar dan dilakukan secara konsisten. Dalam organisasi pun demikian. Visi yang besar tidak akan tercapai hanya melalui dokumen strategi. Ia membutuhkan proses yang menghubungkan tujuan dengan program, anggaran, sumber daya manusia, indikator kinerja, pelaksanaan, serta evaluasi.
Pada akhirnya, The Richest Man in Babylon bukan hanya berbicara tentang bagaimana seseorang menjadi kaya. Jika dibaca dari perspektif manajemen strategis, kisah Arkad menunjukkan sesuatu yang lebih universal: keberhasilan adalah kemampuan mengubah tujuan menjadi strategi, strategi menjadi tindakan, dan tindakan menjadi hasil yang terus dievaluasi.
Arkad menjadi kaya bukan semata karena ia mengetahui apa yang ingin ia capai, tetapi karena ia mengetahui proses untuk mencapainya. Dan mungkin di situlah pelajaran terbesarnya bagi organisasi: strategi bukan hanya tentang menentukan ke mana kita ingin pergi, tetapi tentang membangun proses yang membuat kita benar-benar sampai ke sana.

