Konten dari Pengguna

Mengolah 1,96 Ton Limbah Organik per Bulan dengan Sistem Hugelkultur

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Boy Macklin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa yang menyangka kalau tumpukan ranting pohon, batang kayu lapuk, dan dedaunan kering yang sering dianggap sampah justru bisa disulap jadi media tanam super subur tanpa perlu pupuk kimia mahal? Pengelolaan sampah organik atau limbah organik merupakan bagian penting dari upaya menjaga lingkungan. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah Hugelkultur, yang menggabungkan pengelolaan bahan organik dengan kegiatan bercocok tanam.

Pendekatan ini sedang diterapkan di lingkungan Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor. Kampus yang dikenal asri ini ternyata menghasilkan limbah organik dalam jumlah cukup besar dari kegiatan pemangkasan pohon dan pembersihan taman. Tercatat sekitar 65,4 kg limbah organik dihasilkan setiap hari, atau setara dengan sekitar 1,96 ton per bulan. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa limbah organik tidak hanya menjadi persoalan yang perlu ditangani, tetapi juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali.

Tumpukan Sampah Organik dari gedung kuliah Teknik Pertanian Unpad. Foto: Dokumentasi Pribadi, 2026
zoom-in-whitePerbesar
Tumpukan Sampah Organik dari gedung kuliah Teknik Pertanian Unpad. Foto: Dokumentasi Pribadi, 2026

Daripada sekadar ditumpuk, dibakar, atau bikin pemandangan kampus kurang estetis, para peneliti dari Program Studi Teknik Pertanian Unpad, Boy Macklin Pareira Prawiranegara, Mochammad Agung Trianto, Deaby Febrianti Patiha, Agung Dyan Catur Pratama, dan Muhammad Rigel Lazuardi menemukan solusi cerdas nan ramah lingkungan.

Jawabannya adalah: Hugelkultur.

Apa Sih Teknik Hugelkultur Itu?

Bagi sebagian orang, istilah Hugelkultur (dibaca: hoo-gul-kul-toor) mungkin terdengar asing. Teknik yang berasal dari Jerman ini secara harfiah berarti "kebun gundukan".

Proses Pembuatan Media Tanam Hugelkultur di pekarangan gedung Prodi Teknik Pertanian Unpad. Foto: Dokumentasi Pribadi, 2026

Prinsip dasarnya sangat sederhana: meniru cara alam bekerja di dalam hutan. Di hutan, kayu-kayu dan daun tumbang tidak dibersihkan, melainkan dibiarkan menumpuk, membusuk, dan menyerap air hujan layaknya spons alami.

Nah, di Teknik Pertanian Unpad, gundukan Hugelkultur ini dibuat dalam bentuk bedengan berukuran 1 x 0,5 x 0,5 meter dengan susunan berlapis:

  1. Lapisan Bawah (Paling Tebal): Potongan kayu lapuk (sekitar 88,25 kg) dan ranting-ranting pohon (21,5 kg). Lapisan ini berfungsi sebagai penyimpan cadangan air jangka panjang.

  2. Lapisan Tengah: Daun-daunan kering (10 kg), daun kipahit (30 kg), arang (5 kg), serta kompos (32 kg).

  3. Lapisan Atas: Tanah (60 kg) sebagai penutup dan media tanam.

  4. Pemicu Alami: Disiram dengan larutan Bioaktivator (bakteri pengurai) untuk mempercepat proses dekomposisi alami.

Plot tanam sistem Hugelkultur setelah 3 bulan. Foto: Dokumentasi Pribadi, 2026

Kenapa Teknik Ini Menarik dan Efektif?

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan para peneliti dari bulan Juli 2025 hingga Agustus 2026, ada beberapa alasan mengapa metode Hugelkultur ini layak diacungi jempol:

  • Irit Air dan Tahan Keringat: Kayu di dalam gundukan bertindak seperti spons. Pengukuran kelembapan relatif (Relative Humidity - RH) menunjukkan angka yang sangat stabil (rata-rata 7,95 dari skala 10). Artinya, media tanam ini bisa menyimpan air dalam jumlah besar, sehingga tanaman tidak perlu sering-sering disiram.

  • Tanah Makin Lama Makin Subur: Seiring berjalannya waktu, nilai potential of Hydrogen (pH) tanah merayap naik menuju kondisi netral (rata-rata 5,37). Ini menandakan mikroba pengurai bekerja aktif mengubah limbah kayu menjadi hara organik yang siap diserap tanaman.

  • Bebas Polusi Pembakaran: Tidak ada lagi cerita asap pembakaran sampah daun yang bikin pernapasan terganggu dan menyumbang emisi karbon.

Langkah Konkret Menuju Green Campus & Circular Economy

Penerapan Hugelkultur ini bukan cuma sekadar proyek eksperimen laboratorium Teknik Sumber Daya Lahan dan Air, Program Studi Teknik Pertanian, Universitas Padjadjaran, melainkan langkah nyata Unpad menuju konsep Green Campus dan Circular Economy.

Tanaman caisim pada sistem Hugelkultur berbasis limbah organik. Foto: Dokumentasi Pribadi, 2026

Limbah yang tadinya dianggap masalah lingkungan kini "diputar kembali" menjadi sumber daya bernilai guna. Selain mengurangi hampir 2 ton (perhari berkisar 65 kg per hari) potensi tumpukan sampah tiap bulannya, kebun Hugelkultur ini bisa dimanfaatkan untuk menanam sayur-sayuran, tanaman obat, hingga tanaman hias tanpa bergantung pada pupuk kimia.

Hasil panen tanaman caisim dari sistem Hugelkultur. Foto: Dokumentasi Pribadi, 2026

Metode ini juga sangat mudah ditiru, tidak membutuhkan modal besar, dan cocok diterapkan bukan hanya di area kampus, tetapi juga di pekarangan rumah atau program urban farming perkotaan.

Hasil panen tanaman pakcoy dari sistem Hugelkultur saat baru di panen. Foto: Dokumentasi Pribadi, 2026.

Kesimpulannya? Sampah organik bukanlah musuh jika kita tahu cara mengolahnya. Lewat sentuhan teknologi tepat guna seperti Hugelkultur, tanah jadi subur, lingkungan makin asri, dan bumi pun jadi lebih sehat!