Pergaulan Sehat Dalam Kehidupan Sosial dan Bermasyarakat

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwan Dan Ilmu Komunikasi
Tulisan dari Bagus Prasetyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat ini dalam masa perkembangan dewasa, terlihat jelas bahwa pergaulan negatif lebih mengarah pada perilaku remaja dalam kehidupan bermasyarakat. Sementara remaja jarang menunjukkan hubungan positif dalam kehidupan sosial mereka, remaja sangat dipengaruhi oleh lingkungan khusus mereka. Remaja harus dapat memilih dan mengikuti apa yang dianggapnya baik atau pergaulan yang positif (Wardani & Fitri, 2021).
Asosiasi merupakan kelanjutan dari proses interaksi sosial yang ada di antara orang-orang individu dalam lingkungan sosialnya. Kekuatan interaksi sosial sangat memengaruhi keberadaan asosiasi. Seorang anak yang akan selalu bertemu dan berinteraksi dengan yang lain membentuk lebih banyak asosiasi selama periode waktu yang lebih lama. Berbeda dengan orang-orang yang hanya bertemu sesekali atau hanya melakukan interaksi sosial informal langsung (Ihsan, 2017). Dalam kehidupan sosial ada berbagai bentuk pergaulan, ada yang sehat ada pula yang dikategorikan pergaulan yang tidak sehat.
Pergaulan sehat merupakan pergaulan yang membawa pengaruh positif bagi perkembangan kepribadian seseorang. Pergaulan memiliki sejumlah manfaat, yaitu lebih mengenal nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berlaku sehingga mampu membedakan mana yang pantas dan mana yang tidak pantas dalam melakukan sesuatu dan dapat meningkatkan rasa percaya diri.
Dalam pergaulan yang sehat, biasanya setiap siswa cenderung lebih dominan dalam melakukan kegiatan aktif seperti; mengikuti pengajian, aktif dalam organisasi/komunitas, terutama kebaikan dan sejenisnya. Dalam pergaulan ini tentunya juga dapat menimbulkan dampak positif, yaitu: Pelajar/remaja dominan dalam lingkungan yang terpelihara dengan baik, memiliki pola pikir yang baik, menghindari/menghindari hal-hal negatif, memiliki nilai agama dan sosial (Anwar, Martunis, & Fajriani 2019)
Remaja memiliki tugas perkembangan yang meliputi mencapai kemandirian emosional dari orang tua atau figur otoritas, mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal, dan belajar bergaul dengan teman sebaya, teman sebaya atau orang lain, secara individu atau kelompok, serta memperkuat pengendalian diri (self control) atas dasar nilai, prinsip, atau filosofi. (Noviyana & Sovina 2020)
Daftar Pustaka
(Wardani, S. P. D. K., & Fitri, D. M. . (2021). Edukasi tentang Pergaulan Remaja yang Sehat di Lingkungan Sekolah dan Keluarga. Abdi Wiralodra : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(1), 61–70)
(UTAMI, E. D. (2018). EDUKASI PERGAULAN SEHAT REMAJA MELALUI GAME TEEN SOCIETY (Doctoral dissertation, Unika Soegijapranata Semarang).)
(Ihsan, M. (2017). Pengaruh Terpaan Media Internet dan Pola Pergaulan terhadap Karakter Peserta Didik. Tsamratul Fikri | Jurnal Studi Islam, 10(1). )
(Anwar, H. K., Martunis, M., & Fajriani, F. (2019). Analisis Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Pergaulan Bebas Pada Remaja Di Kota Banda Aceh. JIMBK: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bimbingan & Konseling, 4(2).)
(Noviyana, A., Lestari, N. T., & Sovina, D. (2020). Remaja Sehat dalam Bersosialisasi. Jurnal ABDIMAS-HIP: Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(2), 52-59.
