Konten dari Pengguna

Upload Story WhatsApp Sedang Beribadah, Alim atau Caper?

Bramantio Hasha

Bramantio Hasha

Mahasiswa normal yang berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Prodi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) fakultas Dakwan dan Ilmu Komunikasi.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bramantio Hasha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah Kritik: Fenomena Upload Story Ibadah

Ada sebuah fenomena yang tidak lekang oleh waktu dan usia. Fenomena ini tidak lekang oleh waktu, karena semenjak era digital semakin masif, fenomena ini selalu saja bermunculan dan tidak pernah hilang hingga saat ini. Fenomena ini tidak lekang oleh usia, karena fenomena ini menjangkit seluruh kalangan usia, tidak mengenal muda ataupun tua. Fenomena tersebut adalah mengunggah story ibadah.

koleksi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
koleksi pribadi

Pasti pernah kita liat di media sosial kita ataupun di WhatsApp kita, orang-orang mengunggah ibadah yang sedang mereka lakukan. Tentu saja itu hak mereka, tetapi karena saya merasa risih, saya mencoba membuat tulisan untuk mengkritik fenomena ini.

Sangat jarang yang mengunggah kegiatan ibadah-ibadah pokok seperti salat, zakat, dan puasa. Jadi, konteks ibadah yang saya maksudkan di sini adalah ibadah yang bukan merupakan ibadah pokok seperti yang saya sebutkan di atas. Ibadah-ibadah yang saya maksud adalah seperti hadir di majelis taklim, mengunggah foto sedang tilawah Al-Quran, dan ibadah-ibadah sejenisnya.

Saya pun pernah ada di masa tersebut, masa di mana saya ingin terus-menerus mengunggah kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan ibadah keagamaan yang saya lakukan. Saya menerka-nerka dan menyimpulkan, ada tiga alasan mengapa seseorang mengunggah kegiatan ibadah mereka di media digital.

1. Validasi

Validasi dapat dimaknai sebagai pengakuan dari orang lain. Menurut saya, validasi menjadi salah satu motif seseorang mengunggah kegiatan ibadah mereka. Kurangnya validasi dari dunia nyata membuat orang-orang mencari validasi dari media digital. Seolah-olah ketika mereka mengunggah kegiatan ibadah mereka, mereka mengatakan “ini, gua orang yang sering hadir di majelis taklim.”, “gua orang yang berilmu dan soleh”, dan perkataan-perkataan lainnya.

Mereka lebih memilih mengejar validasi dari manusia daripada validasi dari Tuhan. Hal ini dapat dimengerti, karena validasi dari Tuhan bersifat abstrak—seperti pahala dan surga—sedangkan validasi dari manusia, seperti pujian, sanjungan, dan gelar 'orang alim', terasa lebih nyata secara sosial dan langsung dirasakan.

Saya pun berpikir, buat apa mengunggah kegiatan ibadah hanya untuk validasi? Karena validasi yang konteksnya keagamaan justru akan menjadi rantai pengekang. Seseorang yang tervalidasi sebagai 'orang alim' dan 'orang soleh' terkekang oleh gelar-gelar tersebut, sehingga ketika orang tersebut melakukan kesalahan atau dosa, mereka akan mendapatkan sanksi sosial juga. Seperti contohnya, “padahal dia rajin majelis taklim, tapi kok mulutnya badword?”, “padahal dia remaja masjid, tapi kok sering ninggalin solat?”, “padahal dia orang alim, tapi kok dia pacaran?”.

Memang benar, pada kenyataannya, seseorang yang tervalidasi sebagai orang yang alim/saleh karena sering mengunggah kegiatan ibadah mereka, ternyata di dunia nyata, mereka jauh dari kata alim/saleh. Validasi dalam konteks keagamaan itu memiliki beban yang berat, kalau seandainya tidak mampu menerima beban tersebut, jangan dicari.

2. Caper kepada lawan jenis

Sebenarnya caper juga bisa dimasukkan kepada alasan yang pertama, karena perhatian merupakan salah satu bentuk validasi. Tetapi, saya menuliskan 'caper kepada lawan jenis' sebagai satu alasan yang berdiri sendiri, karena saking pentingnya dan saking jijiknya saya dengan orang yang seperti ini.

Tidak bisa dipungkiri, keinginan memiliki pasangan yang paham agama adalah salah satu kriteria banyak orang, khususnya para calon mertua yang ingin memiliki menantu yang paham agama. Selain itu, orang yang paham agama atau orang alim terlihat lebih menarik dibandingkan orang yang tidak paham agama atau orang yang tidak alim.

Karena hal inilah, yang membuat seseorang mengunggah kegiatan ibadah mereka. Mereka mencari validasi dari lawan jenis dan dia mencari perhatian dari lawan jenis. Mereka menggunakan agama sebagai alat mendekati lawan jenis. Menjijikan, bukan? Itulah yang saya pikirkan, memang sangat-sangat menjijikan.

Misalnya, Fulan mengunggah status WhatsApp video dirinya yang sedang mengikuti majelis sholawat. Fulan mengunggah video tersebut, agar Fulan mendapatkan validasi dan mendapatkan perhatian si Fulanah. Fulan melakukan hal tersebut, agar Fulanah berpikir, “wahh, dia anaknya alim.”

Ada juga seseorang yang melakukan hal serupa, menjadikan agama sebagai alat untuk mencari perhatian dan mendekati lawan jenis. Karena sang lawan jenis juga dikenal sebagai sosok yang paham agama. Jadi, orang itu mengunggah kegiatan ibadahnya dalam rangka membuat dirinya seolah-olah setara dengan lawan jenis yang diincarnya.

Lucunya, bagaimana jika seseorang sudah mendapatkan perhatian lawan jenisnya, mendapatkan validasi 'alim' dari lawan jenisnya. Kemudian terbongkar bahwa, orang tersebut ternyata tidak sealim yang terlihat di media digital? Di media digital, orang tersebut mengunggah dirinya ikut majelis ini-itu, ternyata di dunia nyata, orang tersebut adalah seseorang yang sering badword.

3. Memotivasi

Kita harus memandang dengan adil. Ada juga orang-orang yang mengunggah kegiatan ibadahnya dalam rangka ingin memotivasi orang lain. Tetapi, sayangnya saya tidak akan terfokus terhadap keutamaan memotivasi orang lain dalam beribadah, sudah banyak tulisan tentang hal tersebut di media digital. Karena tulisan saya adalah bentuk pikiran liar dan kritik saya.

Orang-orang yang mengunggah ibadah mereka dalam rangka memotivasi orang lain adalah orang-orang yang hebat. Tetapi, apakah benar-benar ada orang seperti ini? Menurut saya ada, tetapi tidak banyak. Saya mengakui adanya orang-orang hebat ini.

Poin yang ingin saya kritisi adalah orang-orang yang menggunakan alasan ini sebagai cover atau alibi atau pembenaran. Ada orang-orang yang mengatakan bahwa niat mereka mengunggah kegiatan ibadah mereka adalah untuk memotivasi orang lain, padahal niat sebenarnya adalah untuk mencari validasi atau untuk mendapatkan perhatian dari lawan jenis.

Mereka menggunakan alasan “memotivasi” sebagai cover, padahal isi sebenarnya adalah “validasi” atau “caper”. Mereka menggunakan alasan “memotivasi” sebagai pembenaran atas riya yang mereka lakukan.

Saya meyakini adanya orang-orang yang sungguh-sungguh ingin memotivasi dan jumlahnya sangat sedikit yang mampu memiliki niat yang seperti ini. Di sisi lain, saya meyakini banyak orang yang menggunakan alasan ini sebagai cover dan pembenarannya saja.

Kemudian sebagai penutup, kita sebagai seseorang yang melihat orang lain mengunggah ibadah mereka, kita tidak bisa melarang mereka, karena itu hak mereka. Masalah niat adalah masalah amalan hati, itu adalah urusan dia dengan Tuhannya. Tetapi, SEBAIKNYA KITA JANGAN LANGSUNG MEMERCAYAI ORANG YANG SERING MENGUNGGAH IBADAHNYA SEBAGAI ORANG ALIM.

Tulisan ini hanyalah kritik liar yang saya miliki, jadi dapat dibantah.