Konten dari Pengguna

Energi Listrik: Solusi Alternatif Penggunaan Petroleum

BRAMANTYO WULUNG
Bramantyo Wulung bergabung sebagai mahasiswa aktif Universitas Katolik Parahyangan Bandung 2022. Ia suka mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan alam terbuka. Ia juga gemar mengikuti perkembangan berita global.
30 Desember 2022 14:25 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari BRAMANTYO WULUNG tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto Pembangkit Listrik Tenaga Angin: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Foto Pembangkit Listrik Tenaga Angin: Pixabay
ADVERTISEMENT

Tahukah kalian bahwa penggunaan petroleum menjadi salah satu penyumbang terbesar pada pemanasan global? Pemanasan global menjadi sangat berbahaya karena dampak yang tercipta semakin nyata di tunjukkan di kehidupan modern. Penggunaan bahan bakar fosil ini juga memiliki dampak buruk tidak hanya pada lingkungan tapi juga pada manusia. Sayangnya, usaha untuk menghentikan penggunaan petroleum memiliki hambatan dan membawa dampak besar bagi masyarakat. Negara-negara maju juga sudah sadar dan mulai menghentikan penggunaan petroleum dengan berkomitmen untuk menggunakan energi terbarukan. Energi terbarukan seperti energi listrik menjadi energi alternatif dengan minat tinggi untuk mengurangi penggunaan petroleum.

Energi fosil tidak terbarukan ini mulai menunjukkan sisi jahat dengan membawa banyak dampak negatif pada sisi lingkungan. Rusak dan semakin menipisnya lapisan ozon menjadi awal gejala dari berbagai perubahan fenomena pada lingkungan. Suhu rata-rata dunia yang cenderung naik, juga dapat mengakibatkan kebakaran hutan yang sering terjadi pada lahan-lahan gambut dan sekaligus, dapat merusak ekosistem pada hutan. Penipisan lapisan ozon karena polusi udara membuat sinar ultraviolet dengan mudah masuk ke dalam bumi dan mengakibatkan berbagai masalah lain. Meningkatnya suhu rata-rata dunia juga berimbas pada meleleh atau mencairnya gletser kutub utara dan kutub selatan, sehingga air laut semakin naik dan meningkatkan potensi bagi pulau dengan ketinggian rendah untuk tenggelam seiring berjalan waktu.
ADVERTISEMENT
Besarnya pengaruh penggunaan bahan bakar petroleum baik untuk kehidupan sehari-hari maupun, untuk kegiatan industri meninggalkan masalah sosial yang lebih rumit untuk diselesaikan. Lebih dari 70 persen masyarakat yang hidup di sekitar pabrik pengolahan industri petroleum, mengaku setuju bahwa hadirnya pabrik memberikan masyarakat peluang kerja, sekaligus mengangkat kondisi ekonomi. Petroleum sebagai penggerak utama kegiatan industri masih banyak digunakan seperti pada industri tekstil dan industri plastik. Pemberhentian penggunaan petroleum akan sangat berdampak pada industri-industri ini, karena dapat mengakibatkan ratusan hingga ribuan pekerja untuk di rumahkan. Bahkan hasil dari industri ini sendiri juga masih banyak digunakan oleh masyarakat luas, sehingga masyarakat selain pekerja juga dapat merasakan dari efek berantai ini. Selain itu juga, pembatasan atau pemberhentian penggunaan petroleum sebagai energi rumah tangga, khususnya pada kendaraan juga memiliki dampak luas dan dapat berakhir dengan ketidaksetujuan oleh berbagai pihak.
ADVERTISEMENT
Masalah kesehatan pada manusia juga sering terlihat pada wilayah perkotaan dengan kadar polusi udara tinggi. Buruknya kadar udara pada lingkungan kota akibat dari gas sisa kendaraan, juga menurunkan angka harapan hidup masyarakat. Polusi udara telah memberikan implikasi negatif terhadap kesehatan manusia secara luas. Polusi udara telah memicu berbagai penyakit seperti infeksi saluran pernafasan, kanker maupun jantung. Banyak juga di temui peningkatan suhu bahkan mencapai suhu ekstrem di perkotaan juga mempengaruhi kehidupan di kota. Tercatat hingga saat ini sudah ada lebih dari 1.700 korban jiwa akibat dari gelombang panas di Spanyol dan Portugal, sehingga masalah gelombang panas menjadi hal serius.
Menanggapi hal ini, Benua Eropa mulai mengajak negara-negara lain untuk menghentikan penggunaan petroleum dan mulai melakukan transisi pada energi ramah lingkungan. Adanya kesadaran bersama dari negara-negara Eropa dalam kerusakan lingkungan akibat dari energi fosil, menghasilkan sebuah perjanjian dengan mengikat negara-negara Eropa sebagai awal dari era energi terbarukan. Di penghujung tahun 2015 di bentuk sebuah konvensi dengan nama Paris Agreement, sebagai tujuan untuk merespon ancaman perubahan iklim pada dunia. Hingga saat ini sudah tercatat lebih dari 150 negara meratifikasi Paris Agreement dan lebih dari 180 negara menandatangani perjanjian ini. Negara-negara maju seperti Austria sudah memulai langkah penggantian energi petroleum, dengan energi lebih ramah lingkungan seperti energi gas ataupun energi listrik.
ADVERTISEMENT
Energi listrik sebagai energi terbarukan juga cenderung tidak menghasilkan jejak karbon dan emisi yang menurut saya dapat menjadi peran yang cocok untuk menggantikan petroleum sebagai sumber energi vital. Bahkan proses penghasilan energi listrik ini juga sangat ramah lingkungan karena hanya dapat mengandalkan energi alam, seperti pemanfaatan energi surya, energi angin, dan bahkan energi air. Konversi energi angin menjadi energi listrik banyak dilakukan dan dimanfaatkan karena memiliki biaya relatif murah sekaligus mudah untuk diterapkan. Penggunaan energi listrik sebagai tenaga penggerak pada kendaraan juga tidak meninggalkan sisa seperti pada tenaga petroleum yang sebelumnya meninggalkan gas karbon dan emisi. Perlu diketahui bahwa penggunaan kendaraan pribadi menyumbang gas karbon hampir 50 persen dari seluruh gas karbon di dunia. Semakin meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi juga memperparah situasi yang ada. Karena itu, pemerintah berusaha mengurangi jumlah kendaraan pribadi ini dengan memperbanyak transportasi umum, dan memperbolehkan untuk naik secara gratis. Selain itu juga, pemerintah memberikan subsidi pada penggunaan kendaraan pribadi dengan energi listrik. Langkah ini dilakukan Indonesia untuk mencapai target pengurangan emisi CO2 29 persen - 41 persen pada tahun 2030.
ADVERTISEMENT
Energi terbarukan dan bersih, menjadi kunci untuk mengatasi masalah lingkungan di dunia modern dan energi listrik adalah jawaban dalam mengatasi masalah energi tidak terbarukan dan kotor. Manusia juga harus semakin sadar akan bahaya dari penggunaan petroleum dan akibat dari petroleum sendiri kepada lingkungan dan manusia. Tapi, pemberhentian penggunaan petroleum baik untuk kehidupan rumah dan pabrik sulit untuk dipisahkan dan membawa dampak sosial yang jauh lebih rumit untuk dipecahkan. Jejak karbon dari pembakaran petroleum pada kendaraan ini meningkatkan resiko terjadi radang paru-paru dan dapat berakhir dengan penyakit seperti kanker. Sementara jika produksi petroleum di kurang atau ditutup demi mengurangi penggunaan petroleum, dapat mempengaruhi kesempatan bekerja masyarakat dan menyebabkan peningkatan angka pengangguran.
ADVERTISEMENT
Semakin mengancamnya masalah iklim menyebabkan negara-negara maju terutama di Eropa membuat sebuah perjanjian, untuk mengurangi penggunaan petroleum dan mulai menggunakan energi terbarukan. Energi listrik menjadi kunci dalam menghadapi krisis pengganti energi minyak yang meninggalkan emisi karbon. Intensi negara Eropa dalam memerangi masalah iklim sangat serius dengan menghasilkan sebuah perjanjian dan di sebut Perjanjian Paris. Energi listrik sebagai energi terbarukan memiliki peran besar seperti, pengganti petroleum dalam menggerakkan kendaraan yang bebas dari jejak emisi karbon.
Daftar Pustaka
Dasanto, Bambang D. (2022). DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP KENAIKAN MUKA AIR LAUT DI WILAYAH PESISIR PANGANDARAN. Bogor: Kampus Institut Pertanian Bogor.
Nurbiantara, S. (2010). PENGARUH POLUSI UDARA TERHADAP FUNGSI PARU PADA POLISI LALU LINTAS DI SURAKARTA. Surakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.
ADVERTISEMENT
Mujiyanto, S. (2016). Dampak Kegiatan Usaha Hulu Migas terhadap Perekonomian Regional Wilayah Kerja Migas. Jakarta: ESDM.
Arisca, Grace S. (2018). ANALISIS KEBIJAKAN RATIFIKASI PARIS AGREEMENT OLEH INDONESIA TAHUN 2016. Malang: Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang.
Sudjoko, C. (2021). Strategi Pemanfaatan Kendaraan Listrik Berkelanjutan Sebagai Solusi Untuk Mengurangi Emisi Karbon. Bogor: Departemen Ketahanan Energi, Universitas Pertahanan Indonesia, IPSC Area, Sentul.