Bye-bye Obat Kimia! Mahasiswa KKN UBP Sulap Halaman Rumah Jadi Apotek Alami

Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Bramusti aji prabowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

MEKARJAYA, KAB.BEKASI - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Buana Perjuangan (UBP) meluncurkan program inovatif Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di Desa Mekarjaya sebagai upaya mewujudkan ketahanan pangan mandiri tingkat keluarga. Program yang mengusung konsep "Satu Keluarga, Satu Apotek Hidup" ini berhasil menarik antusiasme tinggi dari masyarakat setempat.
Memberdayakan Pekarangan Rumah Jadi Apotek Hidup
Tim KKN UBP yang terdiri dari 22 mahasiswa lintas fakultas mengadakan serangkaian pelatihan intensif kepada 30 kepala keluarga Desa Mekarjaya. Pelatihan ini mencakup teknik budidaya tanaman obat tradisional seperti jahe, kunyit, temulawak, sereh, kumis kucing, jeruk purut, kunyit putih yang mudah ditanam di pekarangan rumah.
"Kami tidak hanya mengajarkan cara menanam, tapi juga bagaimana mengolah tanaman obat ini menjadi produk yang bermanfaat untuk kesehatan keluarga sehari-hari," ungkap Agil Muniarti Mahadewi, Ketua Pelaksana Kegiatan Toga .
Melalui metode pelatihan partisipatif, masyarakat diajak praktik langsung mulai dari persiapan lahan, pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan. Setiap keluarga peserta mendapat bantuan bibit dan panduan lengkap perawatan tanaman obat.
Kontribusi Nyata untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Program TOGA Desa Mekarjaya ini sejalan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:
SDGs 2 (Zero Hunger) - Program ini memperkuat ketahanan pangan lokal dengan memanfaatkan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman yang bernilai gizi tinggi dan berkhasiat obat.
SDGs 3 (Good Health and Well-being) - Dengan tersedianya tanaman obat di setiap rumah, masyarakat memiliki akses mudah terhadap pengobatan alami untuk penyakit ringan, mengurangi ketergantungan pada obat kimia.
SDGs 11 (Sustainable Cities and Communities) - Pemanfaatan lahan pekarangan secara optimal menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan berkelanjutan di tingkat komunitas.
Dampak Positif yang Terukur
Dalam kurun waktu dua bulan pelaksanaan, program ini telah menunjukkan hasil menggembirakan. Sebanyak 80% keluarga peserta berhasil memanen hasil tanaman obat perdana mereka. Beberapa keluarga bahkan sudah mulai mengolah hasil panen menjadi produk jamu tradisional untuk konsumsi keluarga.
"Sekarang kalau anak-anak sakit perut atau masuk angin, saya sudah bisa bikin jamu sendiri dari tanaman di halaman. Selain hemat, saya juga yakin keamanannya," cerita Ibu Ningsih, salah satu peserta pelatihan.
Kepala Desa Mekarjaya, Bapak Apendi, mengapresiasi inisiatif mahasiswa UBP ini. "Program TOGA ini sangat membantu masyarakat, terutama di masa sulit seperti sekarang. Kami berharap program ini bisa berlanjut dan meluas ke RT-RT lainnya."
Keberlanjutan Program
Tim KKN UBP Karawang juga membentuk kader TOGA di setiap RW untuk memastikan keberlanjutan program setelah masa KKN berakhir. Kader-kader ini akan bertugas mendampingi masyarakat dan mengembangkan program ke tingkat yang lebih luas.
Selain itu, tim juga menginisiasi pembuatan marketplace digital sederhana untuk membantu masyarakat memasarkan hasil olahan tanaman obat mereka, sehingga tidak hanya berdampak pada kesehatan tapi juga ekonomi keluarga.
Program inovatif ini diharapkan dapat menjadi model replikasi untuk desa-desa lainnya dalam mewujudkan ketahanan pangan dan kesehatan mandiri di tingkat komunitas, sekaligus berkontribusi nyata terhadap pencapaian target SDGs Indonesia.
