Konten dari Pengguna

Sampah Cuan: Mahasiswa KKN UBP Edukasi Warga Mengubah Limbah Jadi "Emas Hijau"

Bramusti aji prabowo

Bramusti aji prabowo

Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

·waktu baca 5 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bramusti aji prabowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

pak Asep salah satu warga yang mengikuti pelatihan pemanfaatan limbah dengan mahasiswa KKN UBP di desa Mekarjaya
zoom-in-whitePerbesar
pak Asep salah satu warga yang mengikuti pelatihan pemanfaatan limbah dengan mahasiswa KKN UBP di desa Mekarjaya

BEKASI - Antusiasme tinggi terlihat di Balai Desa Mekarjaya ketika puluhan warga mengikuti program sosialisasi "Kelola Sampah, Kelola Rupiah" yang diselenggarakan tim mahasiswa Universitas Buana Perjuangan Karawang. Program sosialisasi ini bertujuan memperkenalkan teknologi pengolahan limbah rumah tangga dan pertanian menjadi pupuk organik bernilai ekonomi tinggi.

Sosialisasi Komprehensif untuk Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Program sosialisasi yang berlangsung selama satu hari ini dirancang khusus untuk memberikan pemahaman menyeluruh kepada masyarakat tentang potensi ekonomi dari pengelolaan sampah organik. Tim mahasiswa yang terdiri dari 22 orang dari berbagai jurusan menyajikan materi yang mudah dipahami dengan pendekatan praktis dan interaktif.

"Tujuan utama sosialisasi ini adalah mengubah mindset masyarakat bahwa sampah organik bukan beban, melainkan aset yang bisa menghasilkan pendapatan tambahan," ungkap Rahma Agit, ketua tim sosialisasi dari Program Studi Teknik Industri.

Materi sosialisasi mencakup pengenalan jenis-jenis limbah organik yang dapat diolah, teknik dasar pembuatan kompos, penggunaan mikroorganisme lokal (MOL), hingga strategi pemasaran produk pupuk organik. Setiap peserta mendapat modul panduan lengkap dan contoh hasil pupuk organik berkualitas.

Metode Sosialisasi Inovatif dan Partisipatif

Tim mahasiswa menerapkan metode sosialisasi yang inovatif dengan pendekatan "edutainment" - kombinasi edukasi dan hiburan. Sesi dimulai dengan ice breaking berupa permainan tebak jenis sampah organik, dilanjutkan dengan presentasi visual yang menarik, dan diakhiri dengan demo langsung pembuatan kompos mini.

"Kami sengaja membuat suasana sosialisasi yang santai dan menyenangkan. Warga tidak merasa digurui, tapi diajak berdiskusi dan berbagi pengalaman," jelas Marsha koordinator divisi sosialisasi.

Dalam sesi tanya jawab, antusiasme warga sangat tinggi. Berbagai pertanyaan dilontarkan mulai dari teknis pengomposan, potensi pasar, hingga modal awal yang dibutuhkan. Tim mahasiswa juga menyiapkan sesi konsultasi individual bagi warga yang tertarik mendalami lebih lanjut.

"Saya baru tahu kalau kulit pisang dan sisa sayuran bisa jadi pupuk mahal. Selama ini dibuang percuma," ungkap Ibu Siti Aminah, salah satu peserta sosialisasi yang tampak antusias.

Respons Positif dan Komitmen Tindak Lanjut

Hasil sosialisasi melampaui ekspektasi dengan partisipasi 120 warga dari berbagai kalangan. Kepala Desa Mekarjaya, Budi Santoso, menyambut baik inisiatif ini dan berkomitmen mendukung implementasi program.

"Sosialisasi ini sangat tepat waktu. Selama ini kami kesulitan mengelola sampah organik yang semakin meningkat volumenya. Kalau bisa dijadikan sumber penghasilan, kenapa tidak?" ujar Asep.

Dari hasil evaluasi pascasosialisasi, 85% peserta menyatakan tertarik untuk mencoba membuat pupuk organik di rumah masing-masing.

"Antusiasme warga ini membuktikan bahwa sosialisasi yang tepsasaran dapat menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam program pembangunan berkelanjutan," tambah Zeze sebagai Ketua KKN Mahasiswa UBP Karawang di desa Mekarjaya.

Dampak Sosialisasi terhadap Kesadaran Lingkungan

Program sosialisasi ini berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan limbah yang bertanggung jawab. Pre-test dan post-test yang dilakukan menunjukkan peningkatan pemahaman warga tentang konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sebesar 70%.

"Sebelum sosialisasi, banyak warga yang tidak tahu kalau sampah organik bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Sekarang mereka mulai memilah sampah di rumah," cerita Pak Asep, RT 03 yang turut membantu koordinasi acara.

Tim mahasiswa juga membagikan leaflet berisi tips praktis pengelolaan sampah organik dan poster edukasi yang dapat dipasang di rumah-rumah warga sebagai pengingat sehari-hari.

Keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs)

Program sosialisasi ini secara strategis mendukung pencapaian beberapa target SDGs melalui peningkatan awareness dan capacity building masyarakat:

SDG 1 (No Poverty): Sosialisasi potensi ekonomi pupuk organik membuka wawasan warga tentang peluang usaha baru yang dapat meningkatkan pendapatan keluarga dengan modal minimal.

SDG 4 (Quality Education): Memberikan edukasi praktis kepada masyarakat tentang teknologi pengolahan limbah dan kewirausahaan berbasis lingkungan yang dapat diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

SDG 6 (Clean Water and Sanitation): Mensosialisasikan pentingnya pengelolaan limbah organik yang benar untuk mencegah pencemaran air tanah dan menjaga kualitas sumber air bersih di desa.

SDG 11 (Sustainable Cities and Communities): Membangun kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah mandiri untuk menciptakan lingkungan desa yang bersih dan sehat.

SDG 12 (Responsible Consumption and Production): Mengedukasi masyarakat tentang konsep ekonomi sirkular dan pemanfaatan limbah sebagai bahan baku produk bernilai ekonomi.

SDG 13 (Climate Action): Mensosialisasikan kontribusi pengelolaan sampah organik terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca dan dampak perubahan iklim.

SDG 17 (Partnerships for the Goals): Memfasilitasi dialog dan kemitraan antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah desa dalam upaya pencapaian pembangunan berkelanjutan.

Rencana Sosialisasi Lanjutan dan Replikasi

Melihat antusiasme tinggi dari masyarakat, tim mahasiswa merencanakan program sosialisasi lanjutan dengan format yang lebih spesifik. Akan ada sesi khusus untuk ibu-ibu PKK tentang pengelolaan limbah dapur, workshop untuk pemuda tentang aspek bisnis pupuk organik, dan sosialisasi untuk petani tentang manfaat pupuk organik bagi produktivitas lahan.

"Kami juga berencana membuat video tutorial sosialisasi yang dapat digunakan untuk replikasi program di dusun. Setiap dusun punya karakteristik berbeda, tapi prinsip dasarnya sama," ungkap Marsha.

Tim juga akan mengembangkan materi sosialisasi digital melalui media sosial dan platform online untuk menjangkau generasi muda yang lebih aktif di dunia maya. Hashtag #SampahJadiCuan akan digunakan sebagai campaign awareness di berbagai platform digital.

Program Sosialisasi sebagai Katalis Perubahan

Program sosialisasi di Desa Mekarjaya membuktikan bahwa edukasi yang tepat sasaran dapat menjadi katalis perubahan sosial yang signifikan. Dalam waktu singkat, sosialisasi berhasil mengubah persepsi masyarakat terhadap sampah dari beban menjadi peluang.

"Sosialisasi bukan sekadar transfer informasi, tapi proses pemberdayaan masyarakat untuk menjadi agen perubahan di lingkungannya sendiri," refleksi Avicennia selaku Dosen Pembimbing Lapangan KKN Desa Mekarjaya.