Konten dari Pengguna

Stop Anggap Remeh! Kesehatan Mental Ibu Hamil Ternyata Pengaruhi Masa Depan Anak

Bramusti aji prabowo

Bramusti aji prabowo

Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bramusti aji prabowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peserta FGD Maternity dan Mahasiswa KKN Universitas Buana Perjuangan Karawang dari berbagai prodi khususnya psikologi
zoom-in-whitePerbesar
Peserta FGD Maternity dan Mahasiswa KKN Universitas Buana Perjuangan Karawang dari berbagai prodi khususnya psikologi

BEKASI - Sebuah inisiatif menarik terjadi di Kelurahan Mekarjaya mahasiswa KKN dari Universitas Perjuangan Karawang mengadakan Focus Group Discussion (FGD) bersama ibu hamil dan calon ibu untuk membahas topik yang kerap terabaikan: kesiapan mental dalam menghadapi kehamilan dan persalinan.

Kegiatan yang berlangsung di area pendopo Desa Mekarjaya, Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, dihadiri oleh ibu hamil dari berbagai usia kehamilan, wanita yang sedang merencanakan kehamilan, serta tim mahasiswa dari Program Studi Psikologi dan berbagai prodi yang lainnya.

Mengapa Kesehatan Mental Ibu Hamil Penting?

"Selama ini fokus kita sering terpaku pada kesehatan fisik ibu dan janin, padahal kesehatan mental sama pentingnya," ungkap Bram, mahasiswa Psikologi yang menjadi koordinator kegiatan. "Data menunjukkan bahwa 1 dari 5 ibu mengalami gangguan mood selama kehamilan atau setelah melahirkan."

Diskusi yang berlangsung selama tiga jam ini mengangkat berbagai isu nyata yang dihadapi para ibu, mulai dari kecemasan berlebihan tentang proses persalinan, kekhawatiran finansial, hingga kurangnya dukungan dari keluarga dan lingkungan.

Temuan Mengejutkan dari Lapangan

Hasil FGD mengungkap fakta menarik bahwa 70% peserta mengaku belum pernah mendapat informasi komprehensif tentang perubahan psikologis selama kehamilan. Banyak yang merasa bingung menghadapi mood swing, kecemasan, dan perubahan emosi yang drastis.

"Saya pikir wajar kalau sedih-sedih gitu selama hamil. Ternyata ada caranya untuk mengelola perasaan ini," cerita Rina (28), ibu hamil 7 bulan yang mengikuti diskusi dengan antusias.

Keterkaitan dengan Sustainable Development Goals

Kegiatan ini sejalan dengan beberapa poin penting dalam SDGs, khususnya:

SDG 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan): Memastikan kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia, termasuk kesehatan mental ibu hamil yang berdampak pada perkembangan janin.

SDG 4 (Pendidikan Berkualitas): Memberikan edukasi komprehensif tentang kesehatan reproduksi dan mental kepada masyarakat, khususnya perempuan usia subur.

SDG 5 (Kesetaraan Gender): Memberdayakan perempuan melalui pengetahuan dan dukungan psikologis dalam menghadapi fase penting kehidupan mereka.

SDG 10 (Mengurangi Ketimpangan): Memastikan akses informasi kesehatan mental yang setara bagi semua lapisan masyarakat.

Rekomendasi dan Langkah Selanjutnya

Tim mahasiswa berencana mengembangkan program pendampingan berkelanjutan berupa:

• Kelas persiapan mental pra-persalinan bulanan

• Peer support group untuk ibu hamil

• Pelatihan untuk kader kesehatan tentang deteksi dini gangguan mood pada ibu hamil

• Pembuatan modul edukasi kesehatan mental yang mudah dipahami

"Kami berharap inisiatif ini bisa menjadi model untuk daerah lain. Kesehatan mental ibu hamil bukan lagi isu sekunder, tapi kebutuhan primer yang harus dipenuhi," Bu Fatimah sebagai bidan di Desa Mekarjaya.

Dampak Positif yang Diharapkan

Kepala Kelurahan Mekarjaya, Bapak Apendi, menyambut baik inisiatif ini dan berkomitmen untuk mendukung program lanjutan. "Ibu yang sehat mental akan melahirkan generasi yang kuat. Ini investasi jangka panjang untuk kemajuan daerah kita."

Kegiatan yang digagas secara bottom-up ini membuktikan bahwa kolaborasi antara akademisi dan masyarakat dapat menghasilkan solusi nyata untuk permasalahan kesehatan yang selama ini terabaikan. Program serupa direncanakan akan diperluas ke kelurahan-kelurahan lain di kota ini, dengan harapan dapat menjadi bagian dari upaya nasional dalam mencapai target SDGs 2030, khususnya dalam bidang kesehatan ibu dan anak.