VIRAL ! Mahasiswa KKN Temukan 'Sumur Ajaib' dan 7 Situs Bersejarah Tersembunyi

Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Bramusti aji prabowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kabupaten Bekasi - Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang berhasil mengeksplorasi dan merekap enam situs cagar budaya bersejarah di Desa Mekarjaya kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi yang berpotensi besar menjadi destinasi wisata religi unggulan. Upaya ini dilakukan dalam rangka menciptakan kemandirian ekonomi pariwisata berkelanjutan yang sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs).
Kekayaan Spiritual Tersembunyi
Desa Mekarjaya menyimpan warisan sejarah Islam yang sangat berharga melalui enam lokasi keramat yang telah berusia ratusan tahun. Untuk memahami kekayaan spiritual ini, penting mengetahui perbedaan antara makam, maqam, dan tempat keramat.
Makam adalah tempat pemakaman atau kuburan seorang tokoh yang dihormati, biasanya ulama, wali, atau orang saleh yang telah wafat. Makam menjadi tempat ziarah karena keyakinan masyarakat terhadap keberkahan dari sosok yang dimakamkan di sana.
Maqam memiliki pengertian yang lebih luas, yaitu tempat atau lokasi yang dianggap suci dan bermartabat tinggi. Maqam bisa berupa tempat seorang wali atau ulama pernah beribadah, bermeditasi, atau melakukan aktivitas spiritual, meskipun belum tentu merupakan tempat pemakamannya. Istilah ini juga mengacu pada tingkatan spiritual yang tinggi.
Tempat Keramat adalah lokasi yang dipercaya memiliki kekuatan supernatural atau spiritual khusus, seperti mata air, danau, atau sumur yang diyakini berkhasiat. Tempat-tempat ini sering dikaitkan dengan cerita-cerita spiritual dan menjadi lokasi ritual atau doa khusus.
Ketiga jenis lokasi ini tidak hanya memiliki nilai spiritual tinggi, tetapi juga menjadi saksi bisu perkembangan Islam di wilayah tersebut.
"Setiap situs memiliki keunikan dan nilai historis yang luar biasa. Ini adalah aset tak ternilai yang harus kita lestarikan dan kembangkan secara berkelanjutan," ujar Zeze Zakaria ketua tim KKN UBP.
1. Maqom Syekh Maulana Saefi Yakub bin Syekh Maulana Ibrahim
Maqom yang terletak di area persawahan ini merupakan patilasan seorang ulama besar yang berperan penting dalam penyebaran Islam di kawasan ini. Syekh Maulana Saefi Yakub, putra dari Syekh Maulana Ibrahim, dikenal sebagai sosok penyebar agama yang bijaksana dan memiliki karamah tinggi. Kompleks makam yang asri dengan arsitektur sederhana ini sering dikunjungi peziarah dari berbagai daerah untuk berdoa.
2. Makam Raden Arya Wijaya Kusuma
Makam Raden Arya Wijaya Kusuma yang bergelar Sekh Ma'mun Nasi'in bin Sekh Muhammad Yahya merupakan tempat peristirahatan terakhir seorang tokoh bersejarah yang memiliki peran penting dalam perjuangan melawan Kesultanan Banten pada abad ke-17. Beliau adalah seorang bangsawan yang tidak hanya memilih jalan dakwah dan mengabdikan hidupnya untuk masyarakat, tetapi juga tercatat sebagai pendamping setia Pangeran Wiraperbangsa dalam menyingkirkan tentara Banten pada tahun 1632. Setelah berjuang dengan gagah berani, Raden Arya Wijaya Kusuma wafat pada tahun 1633 dan dimakamkan di wilayah yang kini menjadi Kampung Cebong, Desa Mekarjaya RT. 02/01, Kecamatan Kedung Waringin, Kabupaten Bekasi. Lokasi makam yang dikelilingi pepohonan rindang menciptakan suasana khusyuk dan damai, menjadikannya tempat yang sering dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah untuk berdo'a dan mengenang jasa-jasa sang pahlawan yang telah mengabdikan hidupnya untuk tanah air dan agama.
3. Makam Kyai H. Ahya Al-Ansori
Kyai H. Ahya Al-Ansori adalah seorang ulama kharismatik yang dikenal luas karena ilmu agama dan kemampuan mengobati berbagai penyakit dengan doa-doa dan amalan-amalan tertentu. Makamnya kini menjadi tempat ziarah favorit, Bangunan makam yang sederhana ini mencerminkan kesederhanaan sang kyai.
4. Makam Mu'Alim Thabri
Menurut warga sekitar Kyai Mu'Alim Thabri adalah seorang guru agama yang sangat dihormati karena dedikasi tingginya dalam mendidik generasi muda. Makamnya terletak di area yang strategis dan mudah diakses.
5. Situ Pacinan: Danau Keramat Tradisi Hajat Bumi
Situ Pacinan bukan sekadar danau biasa, melainkan tempat sakral yang telah menjadi pusat ritual hajat bumi tahunan selama berabad-abad. Setiap tahun, masyarakat Desa Mekarjaya dan sekitarnya berkumpul di situ ini untuk melakukan ritual syukuran hasil panen dan memohon keberkahan untuk tahun yang akan datang. Air danau yang jernih dan suasana yang asri menjadikan tempat ini sangat cocok untuk wisata spiritual dan ekowisata.
6. Sumur Keramat: Sumber Air Penyembuh
Sumur keramat yang berlokasi tidak jauh dari kompleks makam-makam utama ini dipercaya memiliki khasiat penyembuhan yang luar biasa. Air sumur yang jernih dan segar ini konon dapat mengobati berbagai jenis penyakit, mulai dari penyakit ringan hingga yang kronis. Yang membuatnya istimewa, air ini aman untuk diminum langsung tanpa pengolahan khusus. Banyak pengunjung yang sengaja datang dari jauh untuk mengambil air berkah ini.
7. Jalur Bambu Kuning Ir.soekarno
Jalur Bambu Kuning Ir. Soekarno merupakan jalan desa di Mekarjaya yang menyimpan kenangan sejarah bangsa Indonesia. Menurut penuturan warga setempat, ini dahulu pernah dilalui oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, dalam perjalanannya menuju momen proklamasi kemerdekaan. Kesakralan jalur ini semakin menguat pada era pemerintahan Soeharto, ketika setiap menjelang perayaan kemerdekaan Indonesia, ratusan mahasiswa dari Jakarta melakukan perjalanan kaki (long march) dari arah Cikarang menuju Rengasdengklok melalui jalan desa ini. Para mahasiswa tersebut sengaja memilih rute ini karena meyakini sedang mengikuti jejak langkah sang proklamator, menjadikan perjalanan mereka sebagai bentuk ziarah spiritual kebangsaan. Tradisi yang berlangsung bertahun-tahun ini, ditambah dengan kepercayaan masyarakat akan nilai historisnya, akhirnya membuat jalan desa sederhana yang dikelilingi bambu kuning ini secara resmi dinamai "Jalan Proklamasi Bambu Kuning", sebagai pengakuan atas perannya dalam perjalanan sejarah kemerdekaan Indonesia. Namun, Tradisi kegiatan Jalan Kaki tersebut sudah hilang.
Menuju Kemandirian Ekonomi Berkelanjutan
Upaya tim KKN UBP ini sejalan dengan beberapa poin penting dalam SDGs, khususnya:
SDG 8 (Decent Work and Economic Growth): Pengembangan wisata religi akan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal sebagai pemandu wisata, penjual souvenir, pengelola homestay, dan usaha kuliner khas daerah.
SDG 11 (Sustainable Cities and Communities): Pelestarian situs-situs bersejarah ini akan menjaga warisan budaya sambil mengembangkan komunitas yang berkelanjutan dan inklusif.
SDG 15 (Life on Land): Konservasi area sekitar situs-situs keramat akan melindungi ekosistem lokal dan keanekaragaman hayati.
Potensi Ekonomi Kreatif
"Kami melihat potensi besar untuk mengembangkan paket wisata religi yang komprehensif. Mulai dari tur sejarah, retreat spiritual, hingga workshop kerajinan tradisional," jelaskan salah satu anggota tim KKN.
Rencana pengembangan meliputi:
• Pembuatan jalur wisata terpadu yang menghubungkan semua situs
• Pengembangan produk kerajinan dan kuliner khas
• Pembangunan fasilitas pendukung yang ramah lingkungan
• Program edukasi sejarah dan budaya untuk generasi muda
Dukungan Masyarakat dan Pemerintah
Kepala Desa Mekarjaya bapak H. Apendi menyambut positif inisiatif mahasiswa UBP ini. "Ini adalah langkah yang sangat baik untuk memperkenalkan kekayaan sejarah desa kami kepada dunia. Kami berkomitmen untuk mendukung pengembangan yang berkelanjutan."
Dengan pendekatan yang menggabungkan pelestarian budaya, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan prinsip-prinsip berkelanjutan, proyek ini diharapkan dapat menjadi model pengembangan wisata religi yang dapat ditiru oleh daerah lain.
Tim KKN UBP berencana untuk melanjutkan program ini dengan mengadakan workshop pelatihan bagi masyarakat lokal dan berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata setempat untuk pengembangan lebih lanjut. Mereka yakin bahwa dengan pengelolaan yang tepat, keenam situs bersejarah ini dapat menjadi magnet wisata yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga melestarikan warisan spiritual yang tak ternilai harganya.
