Konten dari Pengguna

Pekerja Kita Siap Untuk AI, Apakah Tempat Kerja Kita Siap?

Juliana Cen

Juliana Cen

Juliana Cen adalah Presiden Direktur HP Indonesia dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di industri teknologi, memimpin pertumbuhan bisnis dan transformasi digital dengan fokus pada inovasi inklusif serta pemerataan akses digital di Indonesia.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Juliana Cen tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Karyawan yang sedang memanfaatkan AI dalam pekerjaan/Dok. HP
zoom-in-whitePerbesar
Karyawan yang sedang memanfaatkan AI dalam pekerjaan/Dok. HP

Kita semakin sering melihat pekerja yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) secara mandiri. Di lapangan, karyawan sudah menggunakan AI untuk merangkum rapat, menyusun proposal, hingga mempelajari keterampilan baru, tak jarang karena inisiatif sendiri.

Jelas bahwa tenaga kerja Indonesia tidak sekadar penonton revolusi AI. Di berbagai fungsi, industri, dan generasi, karyawan sudah memanfaatkanya untuk bekerja lebih cepat, memecahkan masalah, dan mempelajari keterampilan baru. Kesiapan terhadap AI ini nyata dan tumbuh dari bawah.

Hal ini tercermin dalam temuan HP Work Relationship Index (WRI) 2025. Indonesia mencatat salah satu tingkat penggunaan AI tertinggi dari 14 negara. Sebanyak 94% knowledge worker menggunakan AI dalam pekerjaan, dan separuhnya menggunakannya setiap hari. Ini merupakan tingkat penggunaan AI harian tertinggi secara global.

Adopsi ini menunjukkan penggunaan AI di Indonesia sudah meluas dan menjadi kebiasaan, tanpa menunggu kebijakan formal. Hal ini seharusnya mematahkan pandangan skeptis bahwa sumber daya manusia kita belum siap memanfaatkan AI.

Karyawan Indonesia juga termasuk yang paling optimistis terhadap peran AI. Tak sedikit yang melihat AI sebagai alat untuk meningkatkan kualitas kerja, membantu mengurangi tugas berulang, dan mendukung pengambilan keputusan. Optimisme ini terutama nampak pada karyawan Gen Z dan milenial sebagai pengguna awal AI yang bereksperimen dan mengoptimalkan pemanfaatannya, baik dalam pekerjaan maupun side hustle. Mereka cepat beradaptasi dan bahkan menyesuaikan cara kerja meski prosedur perusahaan belum berubah.

Karyawan Bergerak Cepat, tetapi Tempat Kerja Masih Tertinggal

Meski penggunaan AI secara individu sudah tinggi, hanya 28 persen knowledge worker di Indonesia yang merasa memiliki hubungan yang sehat dengan pekerjaan. Ini tentu menimbulkan tanda tanya. Kalau AI bisa mempermudah kerja kita, mengapa pekerjaan justru terasa lebih berat?

AI memang membantu mempercepat pekerjaan, tetapi juga meningkatkan ekspektasi dan beban kerja. Tanpa penyesuaian terhadap beban kerja, ekspektasi, dan kepercayaan, AI tidak membuat pekerjaan lebih efisien, melainkan justru lebih intens.

Dalam observasi saya, masalahnya terletak pada pendekatan organisasi terhadap transformasi digital. Banyak perusahaan telah berinvestasi pada perangkat, konektivitas, dan infrastruktur. Namun, hal ini tidak diimbangi dengan kesiapan budaya dan cara kerja yang mendukung pemanfaatan AI.

Program peningkatan keterampilan belum merata, dan akses terhadap alat AI sering kali terbatas pada pimpinan atau tim teknologi informasi (TI). Data WRI 2025 yang sama menunjukkan bahwa hanya 41 persen knowledge worker yang menggunakan platform AI dari perusahaan. Ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan 70 persen atau lebih pada pimpinan bisnis dan tim TI.

Contoh lain dapat dilihat dari pengurangan kerja hybrid. Banyak

orang dituntut untuk lebih banyak datang ke kantor, namun rapat masih dijadwalkan seolah semua orang bekerja dalam kondisi yang sama dari rumah. Seiring waktu, hal ini menurunkan kualitas kolaborasi, memperlambat eksekusi, dan berisiko mengeksklusi sebagian orang.

Kurangnya arahan yang jelas terkait adopsi AI membuat karyawan menggunakan alat pribadi tanpa memahami risiko data atau implikasi kepatuhan yang mungkin timbul. Informasi sensitif pun tak sengaja dibagikan di luar sistem yang secara resmi diakui perusahaan, sementara organisasi tidak memiliki visibilitas atas ke mana data tersebut mengalir atau bagaimana data digunakan. Hal ini meningkatkan risiko keamanan dan kepatuhan. Ketika masalah akhirnya muncul, praktik tersebut sering kali sudah meluas dan sulit dihentikan.

Transformasi tempat kerja yang sesungguhnya bukan sekadar menambah perangkat atau langganan platform AI. Ini memerlukan peninjauan ulang atas workload dan prioritas. Perlu kejelasan tentang peran manusia dan mesin, serta kepercayaan kepada karyawan untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Fase Pertumbuhan Indonesia Berikutnya Bergantung pada Tempat Kerja yang Siap AI

Dengan ambisi Indonesia menjadi negara berpenghasilan tinggi, produktivitas, inovasi, dan kualitas SDM menjadi kunci. Teknologi, khususnya AI, akan memainkan peran besar dalam mendorong kemajuan tersebut.

Namun, dampak AI tidak diukur dari seberapa banyak pekerjaan yang diotomatisasi tetapi oleh seberapa mahir manusia memanfaatkannya untuk menghasilkan kerja yang berdampak. Organisasi yang secara intensional berinvestasi pada teknologi dan pengalaman karyawan memiliki peluang hingga lima kali lebih tinggi untuk menciptakan hubungan yang sehat dengan pekerjaan. Organisasi ini juga lebih siap mempertahankan kinerja dalam jangka panjang.

Jelas bahwa kesiapan AI adalah isu kepemimpinan, bukan sekadar isu teknologi. Pesannya jelas: masyarakat Indonesia sudah siap untuk AI. Mereka telah menggunakan, mempelajari, dan memercayai teknologi ini. Yang dibutuhkan sekarang adalah tempat kerja yang mampu menyamai kesiapan tersebut melalui akses yang inklusif terhadap alat, peningkatan keterampilan yang berkelanjutan, sistem yang aman dan terpercaya, serta pemimpin yang menempatkan manusia sebagai pusat transformasi.

Jika kesenjangan ini dijembatani, AI dapat mendorong produktivitas, inovasi, dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi. Tenaga kerja telah bergerak lebih dulu. Kini saatnya tempat kerja menyusul.