Psikologi di Balik The 'Us' Fallacy: Pembelaan Buta Fans Terhadap Idola

Mahasiswa Creative Media Communication Universitas Kristen Petra. Menulis isu sosial, politik, dan budaya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Brigitta Vaness tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena psikologi "fusi identitas" sangat dekat dengan kita. Mungkin kita pernah mengamati seorang die-hard fan K-Pop. Saat idolanya tersandung skandal, reaksinya bukan sekadar kecewa. Ia memasuki fase denial, amarah, dan patah hati mendalam, seakan itu adalah pengkhianatan personal yang menimpa dirinya.
Atau di sisi lain, seorang fanatik klub sepak bola yang terus membela timnya meski mengalami lose streak. Baginya, roasting di media sosial atas performa buruk tim adalah serangan langsung atas harga dirinya.
Kita semua pernah melihatnya atau mungkin mengalaminya sendiri. Perang antarfandom di kolom komentar. Amarah kolektif saat dua idola dirumorkan berpacaran. Ada rasa 'memiliki' yang begitu kuat, seakan kita berhak mengatur hidup mereka, padahal mereka bahkan tidak mengetahui eksistensi kita.
Fenomena ini selalu mengherankan. Mengapa mereka bisa semarah itu? Segetir itu? Kenapa mereka tidak bisa menerima realitas soal idola mereka? Padahal, idola itu tak mengenal mereka, tapi mereka rela loyal, baik secara emosional maupun finansial, bahkan di saat hidup mereka sendiri mungkin sedang susah. Afirmasi "selama idolaku bahagia, aku ikut bahagia" menjadi semacam mantra.
Bagaimana bisa sesuatu yang 'jauh di sana' terasa begitu 'dekat' di hati?
Melebur Menjadi 'Kita': Logika Fusi Identitas
Fenomena ini memiliki penjelasan psikologis yang mendalam. Teori psikologi yang paling kuat untuk menjelaskannya melampaui sekadar "identitas sosial" biasa; ini disebut Fusi Identitas (Identity Fusion), sebuah konsep dari psikolog William B. Swann Jr.
Fusi adalah kondisi di mana batas antara diri personal 'saya' dan diri sosial 'kita' benar-benar melebur dan menjadi 'keropos' (porous). Tidak ada lagi jarak. Ketika fusi terjadi, ancaman terhadap grup secara harfiah dirasakan oleh otak sebagai ancaman terhadap diri individu. Teori ini juga menjelaskan perilaku pengorbanan ekstrem: orang yang telah 'melebur' (fused) bersedia mengorbankan apa saja (waktu, uang, bahkan nyawa) demi grup.
Secara lebih mendasar, fusi ini bisa terjadi karena sebuah kebutuhan primer. Konsepnya sederhana saja, kita semua butuh 'suku'. Kita butuh 'kita'. Psikolog menyebut fondasi dasarnya sebagai identitas sosial. Sederhananya, harga diri kita tidak hanya datang dari "Aku seorang penulis," tapi juga dari "Aku adalah bagian dari fandom A."
Fusi identitas adalah versi ekstrem dari kebutuhan dasar ini. Kita bisa melihat gejalanya: saat tim kita menang, kita tidak bilang "Mereka menang," melainkan "Kita menang." Kita turut "mandi" dalam kemuliaan mereka. Kemenangan mereka adalah validasi kesuksesan kita.
Maka, logikanya pun berlaku sebaliknya. Saat 'suku' kita diserang, otak kita tidak memprosesnya sebagai kritik terhadap objek jauh. Otak kita membacanya sebagai ancaman terhadap diri kita sendiri.
Dan yang paling menakjubkan, kebutuhan psikologis mendasar ini dikapitalisasi dengan presisi. Industri K-Pop adalah master dalam menciptakan ilusi 'hubungan'. Anda rela membayar mahal untuk fan-sign dua detik; Anda rela begadang untuk streaming melihat idola sementara tugas kuliah terakumulasi; Anda rela membeli semua produk yang mereka endorse dengan gaji yang mungkin masih UMR.
Kebutuhan sense of belonging Anda terpenuhi. Tentu, Anda harus membayarnya. Loyalitas telah menjadi komoditas.
Jadi, ini jelas bukan sekadar 'suka'. Ini adalah kebutuhan psikologis yang bisa berujung pada pilihan hidup yang irasional.
Masalahnya bukan menjadi fans. Harus diakui, menemukan komunitas yang terasa seperti 'rumah' itu indah. Masalahnya adalah ketika 'kita' menelan 'saya'. Ketika kita mengalami fusi identitas secara total. Inilah yang bisa disebut sebagai The 'Us' Fallacy.
Pertanyaannya, bagaimana kita bisa tetap menjadi bagian dari 'suku' tanpa kehilangan diri kita sendiri?
Membangun Kembali Batas Diri
Mungkin refleksi ini bisa dimulai dengan mengenali sinyal tubuh. Lain kali Anda membaca komentar yang menghina idola Anda, rasakan sensasi di tubuh Anda. Apakah dada Anda panas? Rahang mengeras? Apakah jari Anda gatal ingin membalas dengan kebencian serupa? Itulah sinyalnya. Sinyal bahwa otak Anda baru saja mengaktifkan mode 'serangan terhadap suku'.
Ketika Anda menyadari itu, ambil jeda. Tanyakan dalam hati: "Apakah ini benar-benar serangan terhadap hidup saya, atau hanya opini orang asing di internet tentang seorang musisi?"
Sangat mudah untuk melihat 'mereka', fandom rival, sebagai sekumpulan orang bodoh, iri, atau jahat. Namun coba ingat, orang di balik akun anonim itu mungkin sama seperti kita. Dia punya pekerjaan, keluarga, dan 'suku'-nya sendiri yang ia bela mati-matian. Dia juga sedang terjebak dalam 'Us' Fallacy yang sama, mengingat kemanusiaan mereka mungkin bisa mendinginkan amarah kita.
Mungkin ini juga soal memegang dua ide sekaligus: Bisakah kita mencintai karya musiknya tanpa harus membela mati-matian setiap tindakan artisnya? Bisakah kita mendukung tim, tanpa harus setuju dengan semua keputusan manajemennya? Kemampuan mengkritik apa yang kita cintai adalah tanda identitas yang aman; sebuah paradoks kedewasaan.
Pada akhirnya, mungkin ini soal diversifikasi 'portofolio identitas'. Bayangkan jika kita menaruh 100% harga diri kita di satu 'saham': 'Aku Fans A'. Saat 'saham' itu anjlok, kita ikut hancur. Namun, jika portofolio kita beragam: 'Aku juga seorang penulis', 'seorang kakak yang bertanggung jawab', 'seorang profesional di kantor', satu guncangan, entah itu ujaran kebencian, tidak akan meruntuhkan seluruh dunia kita.
Pada akhirnya, kita semua punya 'suku' yang kita bela. Namun, di tengah riuh rendah pembelaan atas nama 'kita', ada satu pertanyaan: Demi membela 'kita' yang semu, 'saya' yang mana yang sebenarnya sedang kita korbankan?
