Anyer, Tempat Kami (Ber)Pulang

Jangan baca sendirian..
Tulisan dari BriiStory tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hembusan angin pesisir menerpa tubuh, sinar matahari yang sudah menghangat sejak beberapa jam tadi masih setia menerangi hari.
Pukul setengah enam sore, suatu hari di tahun 2011, gue di atas motor menyusuri jalan pantai Anyer. Pulang kerja dari kantor di Labuan, menuju rumah di Cilegon.
Labuan adalah kota kecil di ujung pulau Jawa, Provinsi Banten, teman-teman bisa lihat peta supaya tau letak pastinya.
Kurang lebih 60 kilometer jarak yang harus gue tempuh untuk sampai rumah, pulang pergi menjadi 120 km. Sebagian besar perjalanan menyusuri garis pantai Anyer, pemandangan pantai pagi, sore, kadang malam menjadi santapan nyaris setiap hari.
Kira-kira tiga tahun lamanya gue jalani seperti itu.
Selain pemandangan indah pantai di satu sisi dan hutan-hutan kecil di sisi lainnya, banyak juga peristiwa janggal, aneh, kadang mengerikan yang pernah gue alami, beberapa di antaranya akan gue angkat kali ini.
***
Kantor tutup jam lima sore, biasanya kalau semua pekerjaan sudah selesai gue gak akan buang waktu, langsung buru-buru naik motor untuk pulang.
Sama juga pada hari itu, jam lima gue sudah mulai menyusuri jalan pinggir pantai. Di mulai dari pantai Carita lalu lanjut pantai-pantai berikutnya.
Kalau hari kerja, apa lagi masih jauh dari akhir pekan, daerah pantai Carita sampai ke pasar Anyer akan sepi, berbeda jauh keadaannya ketika menjelang akhir pekan, ramai wisatawan.
Makanya, sebisa mungkin gue gak akan pulang malam, semakin malam suasananya akan semakin sepi, masih rawan kejahatan juga.
Biasanya kalau kemalaman karena pekerjaan, gue akan menginap di kantor atau di rumah rekan kerja yang tinggal di Labuan.
Tapi, kalau memang harus menginap di kantor, gue akan menyiapkan mental sekuat mungkin, karena kantor tempat gue kerja amat sangat angker, gue pernah cerita salah satu kejadiannya, dulu banget.
***
Setengah jam berlalu, gue sudah hampir sampai di daerah yang namanya tikungan Jambu, gak tau kenapa namanya begitu, tapi penduduk sekitar memang menyebutnya seperti itu, tikungan Jambu.
Dari arah Labuan, sebelum tikungan Jambu gue akan melewati jalan sepi menanjak yang kanan kirinya tebing agak tinggi, jadi seperti gunung kecil yang dibelah untuk jalan.
Setelah itu jalanan akan menurun, nah kira-kira 300 meter di depan sudah sampai tikungan Jambu.
Tikungan Jambu ini jalannya persis di sisi pantai, melengkung bentuknya nyaris seperti tapal kuda. Waktu gue masih kerja di Labuan, belum ada hotel di sebelah kiri (sisi pantai), sekarang katanya sudah ada.
Ketika mulai memasuki wilayah ini, berbeda seperti biasanya, gue melihat banyak orang di pantai, sisi kiri jalan.
Melambatkan laju motor, gue tertarik untuk mengetahui kegiatan apa yang orang-orang ini sedang lakukan.
Terus gue perhatikan, sampai ketika sudah benar-benar di tikungan, gue melihat semakin banyak orang, beberapa di antaranya berpakaian oranye layaknya seragam tim penyelamat
Nyaris jam enam sore ketika akhirnya gue memutuskan untuk berhenti, penasaran.
"Ada apa Pak? Kok rame banget?"
Tanya gue kepada salah satu orang, ketika sudah turun dari motor.
"Ada orang hilang dari jam dua siang tadi, sepertinya tenggelam. Jenazahnya belum ketemu."
Jawab orang itu sambil matanya tetap terus memandang ke arah pantai.
Jadi, tikungan Jambu ini, kalau agak bergeser sedikit memang ada spot lumayan bagus bagi wisatawan untuk berenang. Tapi menurut gue dan orang-orang yang sudah mengenal wilayah, sebenarnya daerah ini ada bagian yang berbahaya untuk berenang, karena ada karang yang memanjang, di bawah karang itu banyak rongga yang bisa membuat perenang terjebak di dalamnya.
Tiba-tiba ada perasaan aneh yang gue rasakan, entah apa, hingga akhirnya gue benar-benar penasaran dan ikut memperhatikan orang-orang yang sedang mencari wisatawan tenggelam itu, beberapa anggota tim penyelamat juga terlihat menyusuri menyisir garis pantai.
Langit yang berangsur gelap membuat proses pencarian sepertinya sebentar lagi akan dihentikan untuk sementara. Begitu yang gue dengar dari orang-orang sekitar.
Menjelang magrib, angin seperti berhenti bertiup, laut menjadi tenang, hanya gelombang-gelombang kecil airnya yang pecah menghantam pasir pantai.
Sekali lagi, pandangan gue sebar menyusuri setiap sudut pantai dari tempat gue berdiri.
Tapi, entah sudah yang ke berapa kali gue selalu memandang ke salah satu spot pantai, memandang ke situ lagi situ lagi, terus menerus, sampai akhirnya gue curiga ke spot itu.
Agak jauh di sebelah kanan, ada karang laut yang memanjang menjorok jauh ke tengah. Di bagian ujung karang, sudah berada di bagian pantai yang dalam, gue melihat sesuatu.
Di samping deburan ombak kecil yang menghantam ujung karang, ternyata ada seorang laki-laki yang sedang duduk di situ, di bagian karang yang paling ujung.
Jarak gue ke tempat laki-laki itu sekitar seratus meter lebih, masih cukup jelas melihat kalau dia mengenakan kaus hitam dan bercelana pendek.
Dia hanya duduk diam memandang ke lautan lepas.
"Ngapain orang itu di tengah laut?"
Tanya gue dalam hati.
Gak lama, hanya sekitar lima menit kemudian orang itu berdiri dan menghadap ke arah tempat gue berdiri.
Dia sepertinya tahu kalau gue sedang terus memperhatikannya..
Masih berdiri diam memandang gue, dia tetap gak bergerak sama sekali.
Hingga akhirnya, laki-laki itu melambaikan tangannya, seperti menyapa gue.
"Itu siapa? Kenal gue kah?"
Bingung, gue gak balas melambai tangan, karna sepertinya gak kenal. gue malah celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, siapa tahu dia melambaikan tangan ke orang lain yang berada di sekitar gue berdiri.
Tambah bingung, karna gue merasa kalau orang di sekitar gak ada yang sadar akan keberadaan laki-laki itu.
Semakin aneh, ketika gue memandang kembali ke tempat laki-laki misterius itu berada, ternyata dia sudah hilang, gak ada lagi.
Aneh, sangat aneh.
Merasakan hal yang gak enak ini akhirnya memaksa gue untuk mendekat ke salah satu anggota tim penyelamat yang ada di situ.
"Pak, di ujung karang di tengah itu udah diperiksa?" Tanya gue.
"Udah tadi, gak ketemu kok, kosong." Begitu jawab Bapak itu.
"Boleh tolong diperiksa sekali lagi? Sebelum rehat. Tolong ya Pak."
Sedikit memohon gue meminta Bapak itu dan timnya untuk menyisir karang itu sekali lagi.
Mereka menyanggupi, karena memang rencananya akan menyusuri seluruh bagian pantai sekali lagi.
Gue terus memperhatikan mereka yang sekali lagi mencari keberadaan orang yang diduga tenggelam itu.
Gue semakin mendekat ke pantai ketika beberapa orang mulai menyelam di sekitar ujung karang yang sejak tadi membuat gue penasaran.
Jantung gue berhenti, was-was, ketika salah satu penyelam muncul di permukaan, munculnya gak sendirian, dia terlihat sedang memeluk tubuh manusia.
Seketika itu juga, orang-orang langsung mengerumuni ketika mereka sudah sampai di pantai.
"Orangnya ketemu, sudah meninggal."
Begitu yang gue dengar dari salah satu orang.
Akhirnya, korban tenggelam ditemukan, tubuhnya terjebak di bawah karang yang menjorok ke tengah laut itu.
Dengan mata kepala sendiri, gue melihat jenazahnya, seorang laki-laki mengenakan kaus hitam dan bercelana pendek. Persis seperti laki-laki misterius yang melambaikan tangan ke arah gue sebelumnya.
***
Perjalanan pulang pergi menuju kantor yang nyaris setiap hari, membuat gue semakin hapal setiap sudut jalan yang harus di tempuh.
Ada beberapa bagian yang jangankan malam, siang hari aja kalo melewati nya sedikit membuat bulu kuduk berdiri. Agak seram..
Nanti kapan-kapan gue akan ceritakan satu persatu daerahnya mana aja, dan kejadian apa yang pernah gue alami di tempat-tempat itu. Gak semuanya malam ini..
Kisah kedua kali ini, gue punya cerita yang berkaitan dengan satu rumah yang letaknya di sebelah kiri jalan pantai Anyer, kalau dari arah Jakarta. Jadi, letak rumah ini berseberangan dengan vila-vila besar di pinggir pantai.
Rumah yang sangat besar, bercat putih, menurut gue bentuk bangunannya masih ada sedikit sentuhan arsitektur Belanda. Ada dua tiang besar yang terbuat dari tembok berdiri kokoh menunjang atapnya, dua tiang ini letaknya persis di depan pintu utama.
Kalau dilihat dari luar, sepertinya rumah ini berlantai dua.
Sebenarnya bentuknya kelihatan biasa, seperti kotak kubus, hanya saja ukurannya sangat besar.
Halamannya sekelilingnya luas, jarak dari gerbang pagar depan ke pintu rumah sekitar tiga puluh meter. Di bagian belakang sebelah kanan ada satu bangunan lagi, bentuknya nyaris sama, hanya ukurannya saja yang beda, bangunan yang di belakang jauh lebih kecil, sepertinya hanya diperuntukkan untuk gudang atau sejenisnya.
Kenapa gue tahu nyaris setiap detail rumah ini? Karena pada akhirnya nanti gue akan memasukinya.
Tapi, rumah besar dengan halaman luas ini dalam keadaan kosong, sepertinya sudah kosong sejak lama, terlihat dari keadaannya yang sudah sangat gak terawat.
Cat dindingnya kusam, semak belukar dan ilalang nyaris memenuhi setiap sudut halamannya, halaman belakangnya juga sama, dipenuhi rumput dan tanaman liar. Benar-benar menyeramkan melihat keadaannya, seperti rumah angker yang berhantu.
Kalau kita sedang melintasi jalan raya Anyer yang letaknya persis di depan, kalau gak benar-benar diperhatikan, rumah ini gak akan kelihatan, hanya pagar kusamnya saja yang terlihat dari jalan, karena bangunan rumah nyaris tertutup tanaman liar dan semak belukar.
Tapi kalau diperhatikan benar-benar, baru akan kelihatan, bangunan rumah besar dengan halaman luas yang gak terawat.
Kebayang ya?
Kalau sudah kebayang, gue akan mulai ceritanya..
***
Seperti sebelum-sebelumnya, waktu itu gue berangkat kerja sekitar jam enam pagi, sekitar satu setengah jam perjalanan sepeda motor, biasanya jam delapan kurang gue sudah sampai di Labuan.
Cilegon sebagai kota Industri, sepagi itu sudah banyak orang yang memulai aktivitas, entah yang berangkat sekolah atau yang berangkat kerja, termasuk gue yang sudah melenggang di atas motor menuju ujung barat pulau Jawa.
Tapi geliat kesibukan masyarakat hanya sampai di sekitar kota Cilegon saja, situasi menjadi sepi ketika sudah memasuki wilayah Anyer. Seperti yang sudah gue ceritakan di awal tadi, Anyer di hari kerja gak seramai ketika menjelang akhir pekan, sangat sepi malah.
***
Setengah jam perjalanan kemudian gue sudah masuk wilayah Anyer, diawali dengan sedikit keramaian karena adanya pasar.
Tipikal pasar tradisional, kanan kiri jalan dipenuhi toko-toko kecil dan pedagang kaki lima berbaris menjajakan jualannya. Gue gak bisa terlalu laju mengendarai motor, karena agak ramai.
Pasar Anyer ini gak terlalu besar, paling hanya sepanjang lima ratus meter aja. Wilayah pasar akan diakhiri oleh lapangan luas yang biasanya digunakan untuk pasar malam, atau lapangan sepak bola kalau gak ada kegiatan.
Gak jauh dari lapangan sepak bola ini ada area pemakaman tua, gerbangnya persis di pinggir jalan raya Anyer.
Nah, dari pemakaman inilah peristiwa ganjil yang gue alami pada hari itu dimulai.
***
Laju motor masih belum terlalu cepat ketika gue sudah mulai meninggalkan daerah pasar, lalu lalang orang menyeberang masih sesekali membuat gue terpaksa menginjak pedal rem.
Setelah melewati lapangan sepak bola, beberapa puluh meter setelahnya gue akan melewati areal pemakaman. Gerbangnya masih berdiri kokoh, walaupun sudah terlihat lusuh dan renta, membentuk barisan panjang ketika bersatu dengan dinding putih di kanan kirinya.
Beberapa orang berjalan melintas depan pemakaman dengan tujuannya masing-masing, ada juga satu atau dua gerobak pedagang yang sedang berjualan, gak terlalu sepi.
Ketika masih sedang menikmati pemandangan pagi yang gak pernah membosankan itu, entah kenapa pandangan gue tertarik untuk melihat seseorang, eh dua orang, yang sedang berdiri tepat di depan gerbang makam.
Kenapa gue tertarik melihatnya? Karena orang ini penampilannya sangat berbeda dengan orang-orang lain yang ada di sekitarnya.
Seorang Ibu yang sedang menggandeng anak perempuan pada tangan kanannya.
Ibu ini berumur sekitar empat puluh tahun, rambut hitam panjangnya diikat satu, tubuhnya langsing dan berkulit putih, mengenakan rok panjang berwarna hitam, pakaian kemeja lengan panjang berwarna warni tapi gak mencolok.
Sedangkan anak perempuan yang berdiri di sebelahnya berumur sekitar lima tahun, rambut hitam kepang dua, mengenakan kaus berwarna putih dan celana pendek (gue lupa warnanya).
Yang menarik perhatian, ibu ini berdiri sambil memegang payung berwarna hitam dalam keadaan terbuka di atas kepalanya, padahal hari belum panas, matahari belum menyengat.
Posisi mereka berdiri di pinggir jalan seperti sedang menunggu angkutan umum.
Saat itu gak terlalu ambil pusing, karena gue berpikir perempuan itu hanya salah seorang dengan keperluannya di pagi hari.
Gue terus melanjutkan perjalanan.
***
Setelah melewati pasar Anyer, suhu menjadi lebih sejuk, karena sudah benar-benar lepas dari kawasan industri, udara menjadi lebih bersih.
Ditambah dengan mulai memasuki wilayah pantai, gue akan terus menyusuri garisnya di sebelah kanan jalan, menjadikan perjalanan sangat gak membosankan.
Banyak vila-vila besar di sebelah kanan yang menutupi pemandangan, itu aja sih kekurangannya.
Kira-kira lima belas menit dari pasar Anyer, gue sampai di depan hotel Marbella, setelahnya akan ada pasar lagi tapi gak sebesar pasar Anyer.
Sepuluh menit dari hotel Marbella, gue memasuki wilayah yang terbilang masih sangat sepi. Memang ada beberapa rumah, tapi tetap aja keadaannya sepi kalau masih pagi seperti ini. Saat itu sama sekali gak ada kendaraan lain, mobil ataupun motor, hanya ada gue sendirian melintas di jalan.
Pohon-pohon besar berdiri angker di kanan kiri jalan, membentuk terowongan gelap karena matahari belum penuh memancarkan sinarnya.
Tiba-tiba gue memperlambat laju motor yang sebenarnya sedang agak kencang..
Ada sesuatu yang menarik perhatian, sekitar tiga puluh meter di depan gue melihat sesuatu.
Ada perempuan yang sedang berdiri di pinggir jalan, di bawah salah satu pohon besar.
Perempuan ini berdiri sambil menggandeng anak perempuan kecil, dengan payung hitam terbuka di atas kepala keduanya.
Benar, mereka berdua penampilannya sama persis dengan mereka yang gue lihat di depan pemakaman pasar Anyer beberapa puluh menit sebelumnya.
Bentuk tubuhnya sama, pakaiannya sama, cara berdirinya sama, karena (mungkin) memang orang yang sama.
Mereka berdiri diam menatap ke depan, ke arah pantai, ketika gue benar-benar sedang melintas tepat di hadapannya.
“Buset, Ibu itu cepet juga udah sampe situ lagi. Kapan lewatnya?”
Gue masih pikir positif, belum berpikir macam-macam. Mungkin aja mereka naik ojek dan gue gak sadar kalau sudah didahului, mungkin begitu.
Lalu gue melanjutkan perjalanan.
***
Sudah jam tujuh lewat sedikit ketika gue akhirnya sampai di tikungan Jambu, daerah yang sudah gue ceritakan di awal.
Semakin mendekati kota Labuan dan pantai Carita, keadaan semakin sepi, kendaraan sangat jarang melintas, hanya sesekali angkot yang lewat mengantar penumpangnya.
Gak ada juga motor apa lagi mobil yang mendahului gue. Sepi aja..
Sekitar satu kilometer dari tikungan Jambu gue kembali masuk ke wilayah hutan kecil yang letaknya di sebelah kiri jalan, sebelah kanan langsung bersinggungan dengan pantai, air laut hanya beberapa belas meter jaraknya dari pinggir aspal.
Udara sejuk pagi tiba-tiba menjadi gak ada arti, keringat dingin mengucur perlahan, ketika gue tiba-tiba menghentikan motor secara mendadak.
Gue kaget, gue terkejut, ketika melihat perempuan dan anak kecil berpayung hitam, yang gue lihat sebelumnya, tiba-tiba sudah berdiri lagi di depan, jarak kami hanya sekitar dua puluh meter.
Dengan bentuk tubuh yang sama, penampilan dan pakaian yang sama, posisi berdiri yang sama.
Barulah saat itu gue sadar akan ada yang aneh dan janggal, karena yakin kalau gak ada kendaraan yang mendahului sejak kali kedua gue melihat mereka tadi.
Mereka berdiri di sebelah kiri jalan, menghadap dan menatap ke pantai, tetap dengan payung hitam mengembang di atas kepalanya.
Rok panjang hitam yang dikenakan si Ibu terlihat melambai-lambai tertiup angin pantai, sementara tangannya tetap menggandeng anak perempuan kecil di sebelahnya.
Beberapa puluh detik kemudian, gue memutuskan untuk kembali meneruskan perjalanan, gak ada pilihan lain.
Benar-benar perlahan ketika gue tepat melintas di depan mereka, penasaran, gue ingin melihat wajahnya.
Perempuan setengah baya, anak perempuan yang sedang digandengnya sama diam seperti ibunya. Yang mengerikan, mereka kelihatan pucat, layaknya orang yang sudah mati.
Mereka tetap menghadap dan menatap ke pantai, pandangan mengarah ke depan, gak memandang ke arah gue, tapi mereka tersenyum dengan wajah tanpa ekspresi..
Gue langsung mempercepat laju motor,
Setelah sudah agak jauh, gue memberanikan diri untuk melirik kaca spion, mereka masih ada di tempatnya..
***
“Siapa mereka?, serem amat pagi-pagi begini udah liat yang begituan.”
Gue bergumam dalam hati..
Sekitar lima belas menit kemudian, sebentar lagi gue akan sampai di rumah besar yang sudah gue ceritakan di awal tadi. Rumah besar menyeramkan yang letaknya di sebelah kiri jalan.
Jalan raya Anyer yang berada persis di depan rumah besar ini membentuk tikungan panjang, letak rumah berada di tengah sudut tikungan. Jadi, pada beberapa belas meter mendekatinya, barulah kita akan bisa melihatnya.
Wilayah sekitar rumah ini juga dulu termasuk wilayah yang masih sepi, dengan banyak pohon besar berdiri di kanan kiri jalan.
Agak cepat gue melaju ketika mulai memasuki tikungan menuju rumah besar itu,
Lalu tiba-tiba kembali mengerem mendadak! Lagi-lagi gue melihat perempuan dan anak kecil itu lagi, untuk yang keempat kalinya.
Gue berhenti di pinggir jalan, beberapa belas meter dari pagar rumah besar itu.
Ada yang berbeda, kali ini mereka gak lagi berdiri diam, tapi bergerak berjalan masuk halaman. Masih dengan payung hitam di atas kepalanya.
Mereka berjalan seperti tanpa halangan, padahal di hadapannya banyak alang-alang dan semak belukar, aneh..
Lagi-lagi penasaran, gue memutuskan untuk lanjut jalan sambil ingin melihat mereka lebih dekat lagi.
Benar, mereka sedang berjalan menuju pintu utama rumah, ketika gue sudah berada persis di depan pagarnya.
Lalu, gue kembali ketakutan ketika mereka tiba-tiba balik badan jadi menghadap ke arah gue dan tersenyum, sang anak malah melambaikan tangannya.
Gue ketakutan, langsung tancap gas menuju kantor..
***
