Opini & Cerita
·
6 Oktober 2020 10:06

Hantu di Vila Pangandaran (2)

Konten ini diproduksi oleh BriiStory
Hantu di Vila Pangandaran (2) (267833)
Ilustrasi wanita seram Foto: Dok: Shutterstock
Kita Lanjut cerita pengalaman Alena dan teman-temannya ketika menginap di vila seram Pangandaran ya.
ADVERTISEMENT
Simak kisah mencekamnya di sini, di Briistory.
Ingat, jangan baca sendirian, kadang "mereka" gak hanya sekadar hadir dalam cerita.
***
Teman-teman yang lain begitu menikmati suasana pagi hingga menjelang siang di pantai, tapi aku masih saja memikirkan kejadian yang baru saja terjadi di vila.
Gak mau merusak suasana, aku bersikeras untuk gak menceritakannya ke teman-teman.
Singkat cerita, kamis pagi itu kami habiskan dengan menikmati suasana pantai.
Setelahnya kami pulang kembali ke vila.
Masih jam 12, kami sudah sampai di vila. Tapi, sementara teman yang lain langsung istirahat, aku malah berkeliling untuk melihat-lihat lingkungan sekitar.
Saat itulah aku baru sadar kalau ternyata halaman belakang sangat luas, sampai-sampai pagarnya nyaris gak kelihatan, karena jauh dan juga tertutup pepohonan serta rumput ilalang.
ADVERTISEMENT
Beberapa pohon besar berdiri tegak, membuat suasana menjadi agak teduh walaupun sinar matahari menyengat terik.
Aku terus berjalan berkeliling melihat-lihat.
Bagian yang masih dekat vila memang kelihatan terawat dan rapi, tapi berbeda ketika sudah agak menjauh, mendekati pagar, rumput liar dan ilalang tumbuh tinggi, dedaunan kering berserakan.
Waahh, Pak Ilham ngerawat bersihin cuma yang deket-deket vila aja nih.” Begitu gumamku sendirian.
Langkahku berhenti ketika hanya tinggal beberapa meter saja dari pagar.
Pagar tembok yang harusnya berwarna putih, tapi sudah kusam terlihat.
Pagar ini gak tinggi, hanya setinggi dada orang dewasa, jadi aku masih bisa melihat pemandangan yang ada di baliknya.
Lanjut melihat-lihat sekitar,
Semilir angin berhembus hangat, menerbangkan dedaunan jadi terangkat. Sesekali aku menyeka butir keringat yang jatuh bergulir di wajah.
ADVERTISEMENT
Suasananya sangat sepi, gak terdengar suara selain suara ranting daun pohon tertiup angin, benar-benar sepi.
Sangat suka situasi seperti ini, gak ada kebisingan, gak ada hiruk pikuk memekakan telinga.
Aku senang, sungguh suasana yang menenangkan.
Sambil kaki menendang-nendang dedaunan kering, aku melangkah pelan menyusuri pagar tembok belakang, dari sisi kanan ke sisi kiri.
“Loh, kok ada rumah?”
Langkahku terhenti, ketika melihat ada satu bangunan di luar pagar, di sebelah kiri belakang. Jaraknya gak terlalu jauh, kira-kira hanya sekitar 20 meter dari tempatku berdiri.
Bangunan berbentuk rumah biasa, gak bertingkat, ukurannya gak besar tapi gak bisa dibilang kecil, atapnya terbuat dari genteng tanah yang sudah berwarna gelap. Dinding depannya putih kusam.
ADVERTISEMENT
Aku dapat melihat jelas semuanya karena rumah ini gak berpagar, hanya rumput ilalang berdiri agak tinggi yang sedikit menghalangi pandangan.
Sama juga, rumah ini berdiri sendirian, gak ada bangunan lain di kanan kirinya.
Yang agak aneh, kalau diperhatikan, ternyata gak ada akses jalan menuju rumah itu, sama sekali gak ada meskipun hanya jalan setapak. Sekelilingnya hanya rumput liar semak belukar setinggi pinggang, seperti yang aku bilang tadi.
Melihat semuanya, aku mengambil kesimpulan kalau rumah itu sepertinya rumah kosong, gak berpenghuni. Pada bagian depan, ada pintu dan dua jendela, satu jendela sepertinya jendela kamar, jendela yang lebih besar adalah jendela ruang tamu.
Jendela yang besar ini berbentuk kusen kayu dengan permukaan kaca, beberapa kacanya ada yang pecah.
ADVERTISEMENT
“Serem amat itu rumah kosong.” Pikirku dalam hati setelah melihat semuanya, kemudian berniat untuk melangkah pergi dari situ.
Tapi, ketika hendak melangkahkan kaki, aku melihat sesuatu,
Kelihatan ada seseorang berada di dalam rumah itu.
Ada orang di dalam rumah? Bukannya itu rumah kosong?
Ya makanya, aku jadi tertarik untuk memperhatikan, alih-alih pergi meninggalkan.
Walaupun gak terlalu jelas, tapi aku bisa melihat ada anak kecil sedang berdiri di balik jendela kaca, berdiri diam dengan wajah yang gak kelihatan jelas.
Yang pasti, itu anak perempuan, berpakaian terusan warna gelap, rambutnya tergerai panjang.
Dia terus saja berdiri, sepertinya berdiri menatapku. Kami saling bertatapan walaupun sinar mentari siang memantul dari jendela kaca.
ADVERTISEMENT
Itu siapa?
Anak siapa?
Ngapain dia sendirian di rumah kosong itu?
Banyak pertanyaan di dalam kepala,
Beberapa saat lamanya kami berposisi seperti itu.
Hingga akhirnya aku mendengar teriakan memanggil dari belakang.
“Neng, hati-hati, suka ada ular di belakang situ.”
Ternyata Pak Ilham, dia ternyata sudah berdiri di belakang vila, entah sejak kapan dia sudah berada di situ.
“Iya Pak.” Jawabku sambil tersenyum kepadanya.
Beberapa detik lamanya aku mengalihkan pandangan dari sosok anak kecil tadi, hanya beberapa detik. Tapi, setelah aku kembali memandang ke rumah kosong itu lagi, ternyata anak perempuan itu sudah menghilang, gak kelihatan lagi.
“Pak, itu yang ada di belakang rumah siapa ya? Punya pemilik vila ini juga?” Tanyaku kepada Pak Ilham ketika aku sudah bersamanya.
ADVERTISEMENT
“Bukan neng, itu mah beda pemilik. Punya orang Bandung juga, tapi udah lama gak diurus, gak tau kenapa.” Jawab Pak Ilham.
“Jadi itu rumah beneran kosong Pak? Gak ada yang tinggal di situ?”
“Ya gak ada lah neng, rumahnya udah gak keurus pisan gitu.”
Aku gak melanjutkan bertanya, gak berani, takut ada pernyataan Pak Ilham yang nantinya bisa jadi akan membuatku ketakutan. Lebih baik diam dan gak membahasnya lagi.
Kemudian aku masuk ke dalam Vila, sementara Pak Ilham menyiapkan ikan bakar sebagai menu makan siang kami.
***
“Al, ke depan yuk bentar. Anterin gw beli rokok.”
Sore itu ketika kami sedang kumpul di ruang tengah, tiba-tiba Devin mengajakku ke luar.
ADVERTISEMENT
“Bawa mobil gak?” Tanyaku.
“Jalan aja ah, ke warung depan aja kok.” Jawab Devin.
Ya sudah, lalu kami berdua berjalan kaki menuju toko di depan, Bayu dan Della tetap di vila.
Toko kecil yang kami tuju jaraknya mungkin sekitar 200 meter, agak jauh memang, jarak ini memberikan kami waktu untuk berbincang panjang lebar.
Berbincang panjang lebar? Iya ternyata Devin mengajak pergi ada tujuannya, dia ingin mengutarakan sesuatu.
“Gw pingin ngomong ama elu nih.” Begitu Devin bilang membuka percakapan.
“Apaan sih Dev, tumben-tumbenan.”
“Gw gak mau ngomong depan Bayu ama Della, ama elu aja dulu deh.”
“Ada apaan sih emang?” Aku semakin penasaran.
“Lo ngerasa ada yang aneh sama vila itu gak sih Al? Jawab yang jujur ya.”
ADVERTISEMENT
Aku agak kaget mendengar pertanyaan Devin, kami sampai berhenti melangkah sebentar karenanya.
“Lo kata nanya begitu?” Aku bertanya balik.
“Dari kemarin kita dateng, feeling gw udah gak enak sama vila ini.”
“Gak enak gimana?”
“Gak enak aja, agak serem gitu perasaan.”
Sesampainya di toko, kami lalu duduk di warung kopi yang ada di sebelahnya, lanjut berbincang di situ.
“Nah, semalam kayaknya gw liat hantu deh Al.” Begitu Devin bilang to the point.
“Hantu? Hantu apaan? Di mana?” Tanyaku.
Lalu Devin bercerita panjang lebar.
Devin bilang, sepulangnya dia dari luar untuk membeli minuman bersama Bayu, dia melihat sesuatu. Kebetulan, kemarin malam Devin yang duduk di belakang kemudi.
ADVERTISEMENT
Sesampainya mereka di depan vila, Bayu turun untuk membuka pagar supaya mobil bisa masuk.
Nah pada saat itulah Devin melihat sesuatu di teras atas, dia melihat ada perempuan sedang berdiri sendirian.
Awalnya, Devin pikir itu aku atau Della, karena ketika mereka pergi aku dan Della memang sedang di teras atas. Tapi setelah lampu mobil sudah benar-benar menyorot ke depan rumah, akhirnya dia yakin kalau yang sedang berdiri itu bukan aku atau Della.
“Pas gw tegesin lagi, ternyata itu bukan kalian, karena penampakannya kayak anak kecil, masih SD gitu, perempuan, rambutnya panjang. Dia berdiri aja, diem di teras atas.”
“Serem Al, gak mungkin itu orang, pasti setan, hiiii, merinding lagi gw.”
ADVERTISEMENT
Begitu cerita Devin.
Mendengar itu, akhirnya aku ceritakan semua kejadian yang aku alami kemarin dan tadi pagi, tentang suara langkah kaki di lantai atas dan depan toilet, serta penampakan anak kecil di rumah kosong yang ada di belakang vila.
“Nah, klop kan, ternyata lo juga ngerasain. Aduuhh, gimana nih Al? Mana udah dibayar sampe hari minggu nih vila. Asli, gw takut.”
“Ya udahlah, gak usah dipikirin, kita senang-senang aja, cuekin. Semoga gak muncul lagi.” Begitu jawabku, pura-pura tegar.
Kenapa Devin memutuskan hanya menceritakan semuanya kepadaku? Karena Bayu dan Della sangat penakut, parnoan. Kalau sampai mereka tahu tentang kejadian ini, dijamin langsung minta pergi meninggalkan vila dengan segera.
ADVERTISEMENT
***
Malam menjelang, malam jumat.
Sekitar jam sembilan kami baru saja sampai di vila, sejak jam setengah tujuh menghabiskan waktu di pinggir pantai. Sengaja mengunjungi pantai untuk merasakan suasananya pada malam hari.
Tapi, sesampainya di depan pagar vila, kami semua sempat berdiri diam, gak langsung melangkah masuk karena ada yang aneh, kami melihat vila dalam keadaan gelap gulita, sama sekali lampu gak ada yang menyala.
“Kenapa gelap ya? Kan tadi lampu udah kita nyalain semua.” Ucapku membuka percakapan.
“Iya, gw yakin kok tadi terang, lampu nyala semua.” Kata Bayu menimpali.
“Mati lampu mungkin?” Tanya Della pelan.
“Gak ah, sepanjang jalan ke sini tadi rumah-rumah lain nyala semua lampunya, masa kita doang yang mati lampu.” Devin akhirnya bicara.
ADVERTISEMENT
“Iya, bukan mati lampu deh, itu tv di dalam nyala.” Ucapku kemudian.
Tv nyala? Iya, ternyata aku melihat ada cahaya dari ruang tengah, dari jendela yang tirainya tertutup pun kami dapat menebak kalau cahaya dari dalam itu berasal dari layar tv yang menyala.
Kok bisa? Semua lampu mati tapi tv menyala sendirian?
Sebentaran, aku dan Devin saling berpandangan, melempar gelagat yang sama, gelagat keanehan.
“Ya udahlah, masuk aja yuk, mungkin ada terminal yang ngejepret.” Begitu Devin bilang, coba menenangkan.
Kami akhirnya masuk.
Benar, setelah sudah berada di dalam, cahaya terang yang kelihatan dari luar tadi ternyata memang dari layar tv. Dan benar juga, semua lampu di dalam dalam keadaan mati.
ADVERTISEMENT
Hmmmmm..
Setelahnya, kami berempat langsung menyalakan semua lampu, membuat seisi vila jadi terang kembali, lalu beraktivitas normal seperti biasanya, coba gak memikirkan keanehan yang baru saja terjadi, khususnya aku dan Devin.
Kemudian malam semakin larut, kami masih terus berbincang di ruang tengah lantai bawah, di depan tv.
Semilir angin terasa lebih kencang dari hari sebelumnya, semilir dinginnya masuk ke dalam melalui lubang-lubang ventilasi.
“Malam ini anginnya kenceng ya, dingin pula.” Ucap Della.
“Iya nih, dingiiiiinn.” Aku menimpali.
“Guys, malam ini kita tidur sekamar aja ya, biar bisa ngobrol sambil nunggu ngantuk gitu.” Devin melempar ide, aku sepertinya mengerti maksud dia.
Devin kelihatan mulai ketakutan, raut wajahnya beberapa kali memandangku dengan tatapan aneh, seperti memberi kode.
ADVERTISEMENT
Benar, aku mengerti maksudnya, kami berdua berfikir kalau tidur berempat dalam satu kamar mungkin akan bisa menghindari sesuatu yang gak diinginkan.
Gak bisa dipungkiri, setelah kejadian lampu mati semua tapi tv menyala tadi, perasaanku jadi semakin gak enak, semakin menyadari kalau ada yang aneh dari tempat ini.
Syukurlah, Bayu dan Della setuju dengan ide Devin, akhirnya kami memutuskan untuk tidur berempat, tidur di kamar atas yang dekat teras.
Sekitar jam sebelas, kami semua masuk kamar, seluruh lampu kami biarkan menyala.
Di dalam kamar, sebentar kami masih berbincang, tapi kemudian satu persatu akhirnya tidur.
Kami semua terlelap..
***
Awalnya gak tahu saat itu jam berapa, tapi tiba-tiba aku terbangun.
ADVERTISEMENT
Kamar dalam keadaan gelap, hanya sedikit cahaya dari luar yang membantu penglihatan.
Aku mengambil ponsel yang tergeletak di samping bantal, lalu melihat ke layarnya, ternyata masih jam satu, kira-kira baru dua jam kami tertidur.
Aku yang tidur di sisi ranjang, dapat melihat kalau Bayu dan Devin masih di posisinya masing-masing, tidur di lantai.
Sementara aku dan Della di atas tempat tidur.
Tapi tunggu, ternyata Della gak ada di sebelahku, dia gak ada di tempat tidur.
Ke mana Della?
“Ah mungkin dia ke kamar mandi.” Begitu pikirku dalam hati, karena melihat pintu kamar agak terbuka sedikit, mungkin itu pertanda kalu Della memang sedang ke kamar mandi.
Dari celah pintu itu aku dapat melihat lampu ruang tengah dalam keadaan mati, jadinya temaram.
ADVERTISEMENT
Sedikit perang batin, logikaku mengatakan gak mungkin Della keluar kamar sendirian, kalau harus ke kamar mandi dia pasti akan membangunkanku untuk menemaninya, gak akan mungkin berani sendirian.
Lalu kenapa pintu kamar dalam keadaan terbuka?
Tapi aku terus memaksa diri untuk berpikir positif, coba menyingkirkan pikiran-pikiran jelek dan seram yang terus memaksa masuk ke dalam kepala.
Aku hanya bisa diam, menunggu Della kembali ke kamar.
Satu menit..
Dua menit ..
Tiga menit..
Lima menit berlalu, belum juga ada tanda-tanda Della datang.
Mulai semakin ketakutan bercampur panik, menit berikutnya aku berniat untuk membangunkan Devin dan Bayu, agar kami dapat mancari tahu keberadaan Della bersama-sama.
Tapi, belum aku membangunkan mereka, tiba-tiba perhatianku teralihkan.
ADVERTISEMENT
Aku melihat kalau ada yang sedang berdiri di luar, berdiri di depan pintu..
Della kah? Bukan, itu bukan Della.
Ada anak kecil yang sedang berdiri di depan pintu, dalam temaramnya cahaya aku masih dapat melihatnya dengan jelas.
Anak perempuan mengenakan baju berwarna gelap, rambutnya panjang tergerai ke belakang.
Aku terpaku melihatnya, anak perempuan itu tetap berdiri diam sambil menatapku.
Beberapa saat lamanya aku seperti terhipnotis.
Kami berpandangan.
Sampai kemudian, tiba-tiba dia tersenyum, tertawa..
Hihihihihihi..”
Lalu lari ke arah kiri, menuju tangga.
Aku seperti tersentak, lalu tersadar, kemudian merinding ketakutan.
Lemas tubuhku kemudian.
Beberapa detik kemudian, jantungku kembali seperti berhenti, karena tiba-tiba anak perempuan itu muncul lagi, kali ini dia berlari ke teras depan, berlari sambil tertawa riang.
ADVERTISEMENT
Aku semakin ketakutan..
Hanya berselang beberapa detik, anak itu lalu kelihatan lagi, balik lagi berlari menuju tangga, aku melihat semua itu masih dari celah pintu kamar yang terbuka.
Cekam belum berhenti di saat itu, masih berlanjut.
Beberapa detik setelah anak itu kelihatan sekelebat lari ke arah tangga, tiba-tiba aku melihat Della,
dia berjalan cepat dari arah teras menuju tangga juga, dari gesturnya dia seperti mengejar anak perempuan tadi, Della terdengar sambil tertawa pelan.
“Della..” Refleks aku memanggilnya.
Tapi Della cuek, dia terus saja berlari kecil menuju tangga.
Aku yang penasaran, kemudian berdiri lalu menuju pintu, belum berani langsung keluar kamar.
Dari pintu aku melongokkan kepala, melihat ke arah tangga.
ADVERTISEMENT
Aku melihat Della sedang berdiri diam persis di depan tangga, dia gak bergerak sama sekali menghadap ke tangga bawah, membelakangiku.
“Della..” Sekali lagi aku memanggilnya, tapi sekali lagi dia gak memberi respons.
Akhirnya, perlahan aku memberanikan diri untuk melangkahkan kaki, untuk mendekat ke tangga, tempat di mana Della berada.
Sangat pelan aku melangkah, rasa takut dan penasaran campur aduk menjadi satu.
Sampai kemudian, akhirnya aku hanya tinggal satu langkah lagi untuk berada persis di samping Della. Tapi, pada posisi ini aku berhenti, diam gak bergerak, pandanganku tertuju ke tempat yang sepertinya Della juga sedang memandang ke sana, ke ujung tangga bagian bawah.
Napasku sesak, lalu merasakan hawa panas yang tiba-tiba mengalir dari punggung lalu manjalar ke seluruh tubuh, aku melihat sesuatu yang menyeramkan di ujung bawah tangga..
ADVERTISEMENT
Ada perempuan yang sedang berdiri, perempuan dengan wajah yang mengerikan, menyeringai menunjukkan mimik seram.
Sosok perempuan itu gak sendirian, tangan kirinya menggandeng anak perempuan yang berdiri diam juga, tapi tawa kecilnya terdengar pelan cekikikan, “Hihihihihi..”
Beberapa belas detik lamanya kami terus berposisi seperti itu.
Hingga akhirnya, entah dapat kekuatan dari mana, aku meraih tangan Della lalu menariknya mundur.
Della seperti dalam keadaan gak sadar, namun matanya terbuka lebar, wajahnya datar tanpa ekspresi.
Aku terus menariknya menuju kamar.
Setelah sudah berada di dalam kamar, aku menutup pintu.
“Bayu, Devin, bangun..!” Dengan suara pelan, aku membangunkan dua teman laki-lakiku, sambil mengguncang-guncang tubuh mereka.
“Della kenapa Al?” Tanya Bayu ketika sudah bangun dari tidurnya, dia aneh melihat Della berdiri di pojok kamar.
ADVERTISEMENT
Sementara Devin, dia langsung berdiri lalu mencari kunci mobil, dia seperti sudah tahu apa yang sedang terjadi.
Kemudian, Della menangis pelan, tapi masih saja belum berbicara sepatah kata pun juga, hanya menangis.
“Kita cabut, kita pergi dari vila ini.” Kata Devin.
Aku setuju. Bayu juga begitu, tanpa banyak tanya dia langsung berdiri dan siap-siap keluar kamar.
“Lo duluan Dev. Hati-hati di tangga, tadi ada di situ.” Bisikku ke Devin.
“Lo sama Bayu bawa Della ya” Kata Devin lagi. Aku dan Bayu mengangguk pelan.
Kemudian kami keluar kamar, Devin berjalan paling depan, Aku dan Bayu mengikuti di belakangnya sambil memeluk Della yang masih terus saja menangis.
ADVERTISEMENT
Sampai juga kami di tempat di mana tadi aku sebelumnya melihat sosok menyeramkan bersama anak kecil, tangga ke bawah.
Syukurlah, dua sosok itu sudah menghilang, gak ada di tempatnya lagi.
Buru-buru kami melangkah, menuruni tangga lalu berjalan cepat ke pintu keluar.
Di luar, kami langsung masuk ke dalam mobil, Devin duduk di belakang kemudi. Lalu perlahan mobil meninggalkan halaman vila.
Ketika sudah berada di luar pagar, aku yang duduk di kursi belakang, menoleh lagi ke arah vila. Saat itu aku melihat sosok perempuan bersama anak kecil itu lagi, mereka sedang berdiri di atas teras, bergandengan tangan, menatap kami yang berjalan terus menjauh pergi.
Setelah sudah cukup jauh, barulah Della seperti tersadar.
ADVERTISEMENT
“Ini kok kita ada di mobil? Mau ke mana? Ada apa sih?” Tanya Della, dia terlihat gak tahu sama sekali tentang peristiwa seram yang baru saja terjadi.
***
Hai, balik lagi ke gw ya Brii.
Begitulah, petualangan mencekam dari empat sahabat ketika berlibur di Pangandaran.
Sampai jumpa dengan cerita gw berikutnya.
Tetap sehat, supaya bisa terus merinding bareng.
Salam,
~Brii~