Opini & Cerita
·
25 Agustus 2020 21:47

Horor Villa Tua Lembang

Konten ini diproduksi oleh BriiStory
Horor Villa Tua Lembang (112393)
Ilustrasi Vila tua. Dok: Pixabay.
Berlibur bareng sobat, bisa jadi momen indah gak pernah terlupa.
ADVERTISEMENT
Tapi, kadang bisa berubah jadi menyeramkan, karena kita berada di tempat dan waktu yang (mungkin) salah.
Simak cerita Nisa bareng sahabatnya ketika menginap di Villa tua Lembang, di sini, di Briistory..
***
Aku Nisa, akan bercerita tentang pengalaman seram yang aku alami pada tahun 2011, bersama empat sahabat kampus, berlibur menghabiskan libur akhir pekan panjang di Bandung.
Waktu itu kami masih kuliah tingkat akhir.
Sama seperti anak-anak muda kebanyakan lainnya, Aku, Hani, Putri, Danang, dan Dimas punya rencana untuk menginap di kota kembang dengan mencari rumah atau Villa, bukan hotel per kamar, jadi bisa lebih leluasa untuk melakukan kehebohan tanpa harus khawatir mengganggu orang lain.
Singkatnya, atas rekomendasi teman dari ayahnya Danang, kami memutuskan untuk menyewa satu villa besar bertingkat di daerah Lambang.
ADVERTISEMENT
Menurut Danang, teman ayahnya bilang kalau villa ini memiliki lahan yang luas, jadi gak berdempetan dengan villa atau bangunan lain, dan juga letaknya masih sangat asri dan banyak pepohonan, katanya sih gitu.
“Iya, kata temen bokap gw, Villa ini gede, bagus, baru direnovasi, halamannya luas, dan yang pasti gak mahal, hehe.” Begitu kata Danang coba meyakinkan kami lagi.
“Gak kegedean emang nang?” Tanya Hani.
“Iya Nang, kita cuma berlima loh, masa kamarnya ada empat.” Aku menambahkan.
“Aaaahh, nih liat nih poto-potonya.” Jawab Danang sambil menunjukkan poto di layar ponselnya.
Setelah melihat poto-poto itu, aku setuju dengan Danang, Villa-nya memang bagus, besar dan bertingkat, lingkungan sekitarnya juga asri, tempat yang tepat untuk menyepi.
ADVERTISEMENT
Ya sudah, singkat kata akhirnya kami setuju untuk berlibur selama empat hari tiga malam di situ, begitu rencananya.
***
Menggunakan mobil Dimas, kami berangkat kamis jam sepuluh pagi menuju Bandung.
Bertepatan dengan musim liburan sekolah, ditambah pula dengan long weekend, aku yakin kalau Bandung akan padat dan ramai wisatawan.
Menyusuri jalan tol Cipularang yang kala itu belum terlalu ramai, kami bersenda gurau sepanjang perjalanan, ceria. Dimas yang duduk di belakang kemudi mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
Seperti biasa, kami sangat senang dan gembira ketika sedang berlibur seperti ini, menghabiskan waktu bersenang-senang dengan sahabat erat, sungguh akan menjadi waktu yang menyenangkan, harusnya.
***
Sekitar jam 12 siang, kami akhirnya sampai juga di tol Pasteur, pintu gerbang masuk Bandung kalo kata orang Jakarta.
ADVERTISEMENT
“Pak Epi, saya sampe villa sekitar jam tiga-an ya, mau cari makan dulu Pak.” Begitu kata Danang berbicara melalui ponselnya dengan Pak Epi, si penjaga Villa.
Iya, sesampainya di Bandung tujuan pertama kami adalah makan, di salah satu rumah makan favorit di Cihampelas. Baru setelah makan nantinya kami akan langsung menuju villa.
***
Selesai makan sekitar jam dua, mengikuti rencana kami langsung jalan menuju villa.
Dari Cihampelas kami lewat Cipaganti lalu menyusuri jalan Setiabudi, menuju lembang.
Sesampainya di ujung Setia budi, tepatnya di depan terminal, Dimas membelokkan kendaraan ke kiri, masuk ke jalan Sersan Bajuri.
“Kenapa gak lurus aja Mas?” Tanyaku penasaran.
“Enakan lewat sini, gak macet, pemandangannya lebih asik.” Begitu kata Dimas.
ADVERTISEMENT
Ya sudah, kami nurut aja, toh emang Dimas masih banyak keluarga yang tinggal di Bandung, jadi dia lebih tahu situasinya.
Benar kata Dimas, Sersan Bajuri lebih lengang dan pemandangannya lebih enak dipandang mata. Warna-warni bunga menghias sisi jalan yang dilewati, beberapa tempat wisata juga ada di daerah ini, walaupun lebih jauh dan berputar tapi gak apa.
Mungkin karena sudah agak lelah setelah menempuh perjalanan dari Jakarta, saat itu kami lebih banyak diam, menikmati sejuknya udara dan pemandangan.
Di ujung jalan, di atas nanti, jalan yang kami lalui ini akhirnya akan bertemu juga dengan jalan raya Lembang.
Nah, menurut Danang, lokasi villa-nya gak jauh dari pertigaan jalan raya Lembang ini, sekitar 15 menit sebelumnya.
ADVERTISEMENT
***
“Kalo dari petunjuk jalan yang dikasih tau Pak Epi, di depan itu kita belok kanan Mas.” Danang bilang begitu ke Dimas.
“Yakin ya?”
“Yakin,” Jawab Danang.
Ah akhirnya sebentar lagi sampai, aku sudah gak tahan pingin rebahan, capek juga duduk dari tadi.
Dari belokan yang Dimas maksud tadi, kami memasuki jalan mengecil, namun masih bagus untuk dilewati.
Jendela kami buka lebar-lebar, membiarkan angina sejuk masuk dan terhirup.
“Asik banget ya suasananya,” Putri yang dari awal lebih banyak diam, akhirnya bersuara.
Langit yang juga sedang mendung semakin membuat syahdu, benar-benar menenangkan.
Kira-kira 20 menit dari belokan tadi, akhirnya kami sampai.
“Nah, kayaknya ini nih gerbang masuknya. Gw turun dulu.” Begitu kata Danang, ketika kami sampai di depan gerbang besi besar dan tinggi, lalu dia turun untuk membukanya.
ADVERTISEMENT
***
Dari gerbang masuk itu, yang kelihatan hanya pepohonan tinggi dan rindang, belum ada bangunan villa sama sekali.
Sepertinya baru saja turun hujan, jalanan basah dan beberapa bagiannya ada genangan air.
Jalan kecil, hanya bisa dilalui satu mobil saja, dan lagi-lagi jalannya menanjak.
Satu atau dua menit kemudian, barulah terlihat ada bangunan, harusnya sih itu villa-nya, karena gak ada bangunan lagi selain itu.
Eh bentar, ternyata ada bangunan satu lagi di sebelah kanannya, bentuknya lebih kecil dari bangunan utama.
“Yakin lo ini villa nya Nang?” Tanya Hani.
“Ntar, gw telpon Pak Epi dulu.” Jawab Danang.
Kemudian Dimas memarkirkan kendaraan di depan Villa besar itu, lalu kami semua turun dari kendaraan.
ADVERTISEMENT
Sementara Danang coba menghubungi Pak Epi, kami berjalan melihat-lihat keadaan sekitar villa.
Benar kata Danang, Villa ini bangunan lama tapi kelihatan rapih dan bagus, sepertinya memang baru daja direnovasi. Bertingkat, tomboknya tebal dan kokoh, bercat putih dengan sedikit garis hitam pada kusen pintu dan jendela.
Halamannya sangat luas, sekeliling villa terhampar rumput hijau terawat, pohon pinus menjulang di banyak bagian. Benar-benar asri dan menyejukkan.
Sementara teman-teman melihat bagian sisi lain, aku malah tertarik dengan bangunan kecil di sebelah kanan.
Iya, bangunan ini menarik perhatianku.
Berbentuk bangunan dasar, empat dinding membentuk bangunan persegi panjang, dengan atap genteng segi tiga. kecil tapi gak terlalu kecil.
Dinding tembok hanya jadi pondasi setinggi satu atau dua meter, selebihnya kayu yang jadi penunjang atap.
ADVERTISEMENT
“Ini bangunan apa sih?” Aku bertanya-tanya dalam hati sambil berdiri tepat di depan pintunya, pintu kayu yang besar, dan sepertinya gak terkunci karena agak sedikit terbuka.
Aku semakin tertarik setelah beberapa saat kemudian mendengar suara, sepertinya suara yang berasal dari dalam.
“Krieeeeet, krieeeeeeet, krieeeet,” Kira-kira seperti itu bunyinya.
“Suara apa itu?” Gumamku sendirian.
Suara aneh, membuat aku semakin ingin untuk membuka pintunya dan melihat ke dalam.
Krieeeeet, krieeeeeeet, krieeeet..
Kedengaran lagi,
Penasaran, akhirnya aku nekat meraih gagang pintu dan perlahan membukanya.
Krieeeeet, krieeeeeeet, krieeeet..
Setelah pintu sudah sebagian terbuka, aku masih belum bisa melihat ke dalam dengan jelas karena sangat gelap, sama sekali gak ada cahaya.
Semakin penasaran, karena ketika pintu sudah dibuka, suara itu masih saja kedengaran.
ADVERTISEMENT
Krieeeeet, krieeeeeeet, krieeeet,
“Nisaaa!, ngapain lo di situ, ayok masuk.”
Teriakan Dimas dari depan villa mengagetkanku. Ya sudah, aku tutup lagi pintu bangunan kecil itu sebelum sempat melihat apa-apa di dalamnya.
***
“Pak, itu bangunan apa ya?”
Masih penasaran, aku akhirnya bertanya kepada Pak Epi yang ternyata sudah datang sejak tadi, dia sedang berbincang dengan Danang.
“Oh, itu gudang neng. Jangan masuk ke situ lah ya, kotor. Banyak barang-barang teu jelas.” Begitu kata Pak Epi sambil menghisap rokok, lelaki berumur sekitar 40 tahun, bertubuh kurus dan berkumis tebal.
Oh ternyata gudang.
Tapi aku masih saja penasaran dengan bunyi misterius yang terdengar dari dalamnya tadi, suara apakah itu?
ADVERTISEMENT
“Ini di dalam sudah siap semua, Gas untuk masak, kompor, air minum, kopi, teh, sudah ada semua. Termasuk kayu bakar dan perlengkapan panggang sudah ada di belakang. Kamar juga sudah bersih, pokoknya tinggal isi weh, hehe.” Begitu kata Pak Epi dengan logat sundanya yang kental.
“Saya tinggal di bawah situ, cuma lima menit dari sini, kalo ada apa-apa atau perlu apa-apa tinggal telpon aja kana hape, 24 jam siap sedia, hehe.” Sekali lagi beliau cengengesan di akhir kalimat. Orang yang menyenangkan.
Gak lama setelah itu, Pak Epi pergi dengan motornya, meninggalkan kami.
***
Udara dingin sejuk terhirup ketika kami masuk ke dalam villa.
Bangunan yang sangat bersih, lantai terbuat dari keramik berwarna gelap khas bangunan jaman dulu, dinding tebal didominasi cat putih bersih.
ADVERTISEMENT
Kami langsung menemui ruang tengah, dengan sofa kulit besar dan meja di tengahnya, menghadap tv tabung besar di sisi berlawanan.
Ruang tengahnya sangat besar, ada dua kamar di lantai dasar. Di bagian belakang tempatnya dapur dan dua kamar mandi bersebelahan.
Di depan kamar mandi dan dapur ada tangga yang menuju lantai atas. Aku lalu naik ke atas.
Di atas ada tiga kamar, gak ada kamar mandi, tapi ada ruang tengahnya juga, gak ada tv.
Teras cukup besar jadi tempat bersantai di lantai atas bagian depan.
Wait, di bawah ada dua kamar, di atas ada tiga kamar, bukannya kemarin Danang bilang kamarnya ada empat, kok tiba-tiba ada lima?
ADVERTISEMENT
“Nang, kok kamarnya lima?” Tanyaku ke Danang di lantai bawah.
“Iya, barusan gw telpon Pak Epi, dia bilang kamar yang itu kuncinya rusak, jadi gak bisa dibuka. Katanya gudang juga dalemnya.” Jawab Danang sambil tangannya menunjuk ke kamar depan yang letaknya di sebelah kiri tv.
Oh gitu, kok gitu ya? Emang seberapa susah sih memperbaiki kunci pintu sampai dibiarkan kamarnya tertutup rapat?, pertanyaan itu yang muncul di kepalaku. Tapi ya sudahlah, aku gak memikirkannya lebih jauh.
Secara keseluruhan, villa ini sangat nyaman, tempat yang benar cocok untuk menyepi menjauh dari hingar bingar sesak Jakarta.
Kami sangat senang dengan keadaan dan suasananya, pada awalnya.
***
“Gw sama Danang Putri mau nyari ayam dulu buat ntar malem ya, lo ikut gak Nis? Hani gak mau ikut katanya.”
ADVERTISEMENT
Sekitar jam setengah lima Dimas bilang begitu, mereka bertiga mau ke pasar Lembang.
“Gak ah, gw mau di sini aja.” Jawabku.
Ya sudah, akhirnya mereka bertiga berangkat menggunakan mobil.
Tapi sebelum berangkat, Hani bilang kalau dia mau nebeng sampai ke toko yang letaknya gak jauh dari Villa, dia mau membeli minuman dan makanan kecil, Hani bilang juga dia akan kembali ke Villanya jalan kaki aja, gak jauh juga katanya.
Akhirnya aku sendirian di villa pada sore hari itu.
Sendirian? masa sih..
***
Setelah keempat sahabatku pergi, aku bersantai di depan tv, sambil menunggu Hani pulang.
Harusnya sih Hani gak lama, karena kalau gak salah toko yang dia tuju gak terlalu jauh jaraknya.
ADVERTISEMENT
Sekitar 20 menit kemudian, aku mendadak pingin buang air kecil. Kebiasaan di tempat dingin, aku akan sering buang air kecil, begitulah.
Ya sudah, aku lalu berjalan menuju kamar mandi yang letaknya di belakang.
Seperti yang aku bilang di awal tadi, ada dua kamar mandi yang letaknya bersebelahan persis.
Kamar mandi berpintu tebal, di dalamnya masih menggunakan bak air besar, walau sudah ada air mancur air panas.
Aku masuk ke kamar mandi sebelah kanan, lalu melaksanakan niatku.
Ternyata, setelah aku perhatikan, di dalam kamar mandi ada lubang kecil pada bagian atas dindingnya. Lubang ini sepertinya terhubung dengan kamar mandi sebelah. Jadi harusnya kalau ada aktivitas di kamar mandi sebelah, akan kedengaran olehku.
ADVERTISEMENT
Benar saja, tiba-tiba aku mendengar suara pintu terbuka kemudian menutup dari sebelah.
Sepertinya itu Hani, aku yakin itu, karena memang harusnya dia sudah kembali ke villa lagi.
“Han, langsung ke kamar mandi aja lo. Kebelet ya? Hehe.” Tanyaku.
“Iyaa.” Hani menjawab dari sebelah, dengan logat sunda.
Logat sunda? Hani kan orang jawa, sama sekali gak bisa berlogat sunda.
“Halaah, baru beberapa jam di Bandung aja udah sunda logat lo Han, lebay ah.” Aku bilang begitu, masih di dalam kamar mandi.
“Iyaa, hihihihi.” Hani menjawab begitu, pelan, sambil cekikikan.
Dasar Hani, begitu gumamku dalam hati.
Setelah selesai, aku keluar dan bermaksud kembali ke ruang tengah.
Tapi, ketika sedang di depan kamar mandi, aku melihat kalau pintu kamar mandi sebelah dalam keadaan terbuka dan dalamnya kosong.
ADVERTISEMENT
Hani ke mana? Kok gak ketahuan keluarnya?.
Aku pikir juga, mungkin Hani sudah masuk ke kamarnya di atas.
Gak pikir macam-macam, aku lalu menuju ruang tengah, kembali bersantai depan tv.
Ketika sedang asik-asiknya bersantai, tiba-tiba Hani muncul dari pintu depan, membawa serta banyak belanjaan di kedua tangannya.
“Aduh, ternyata tokonya agak jauh ya, capek juga gw jalan kaki, mana nanjak terus lagi. Hehe.”
Begitu kalimat pertama yang muncul dari mulutnya, lalu dia merebahkan tubuhnya di sofa.
“Han, lo baru dateng emang? Beneran baru dateng?” Tanyaku sangat penasaran.
“Lah iya, emang kenapa? Kok kaget? Ngeliat gw kaya ngeliat setan aja lo ah.” Jawab Hani.
“Lo gak becanda kan? Gak lagi ngerjain gw?” Tanyaku sekali lagi.
ADVERTISEMENT
“Nggak Nisaaa, ini keringet gw masih bercucuran kayak habis hiking. Ada apa sih emangnya?”
“Gak, gak ada apa-apa.” Jawabku pendek.
Kalau Hani baru aja datang, lalu siapa yang tadi ada di kamar mandi sebelah?
***
Malam pun tiba,
Sekitar jam tujuh, Dimas Danang dan Putri akhirnya kembali ke rumah dengan semua keperluan kami.
Aku yang sore tadi baru saja mengalami kejadian janggal, sudah bisa sedikit tenang dan agak melupakan ketika semua akhirnya berkumpul.
Malam pertama, kami menghabiskannya dengan barbekyu-an di teras atas, berbincang senda gurau sambil menikmati dinginnya malam.
Oh iya, dari teras atas ini kami bisa menikmati juga city light yang menjadi pemandangan indah.
Sungguh saat-saat yang menyenangkan.
ADVERTISEMENT
Hmmm, seperti yang kubilang tadi, aku menjadi sering ingin buang air kecil kalau sedang berada di udara dingin. Sekitar jam sembilan, hasrat itu muncul lagi, aku pingin pipis.
“Gw ke bawah dulu ya, kebelet lagi nih.” Aku bilang begitu.
“Ah beser lo Nis kalo di bandung. Perlu ditemenin gak?” Kata Dimas.
“Gak perlu, sebentar kok.” Jawabku.
Lalu aku bergegas ke bawah, sementara empat temanku tetap di teras atas.
Sesampainya di bawah, keadaannya terang benderang, karena memang kami biarkan lampu menyala semua, termasuk dua kamar mandi dan dapur.
Aku coba berjalan dengan santai tanpa beban karena tiba-tiba teringat dengan peristiwa sore tadi.
Akhirnya memutuskan buru-buru melangkah agar cepat sampai kamar mandi. Aku memilih kamar mandi yang sebelah kanan lagi, sebelum masuk aku melihat kalau kamar mandi sebelah kiri pintunya dalam keadaan terbuka.
ADVERTISEMENT
Sesampainya di dalam aku langsung pipis.
Dalam keparnoan yang mulai muncul lagi, aku jadi semakin was-was ketika terdengar kalau pintu kamar mandi sebelah seperti ada yang menutupnya, iya, pintunya tertutup.
Awalnya aku diam, sambil terus menajamkan pendengaran, tapi gak ada suara apa-apa lagi.
Penasaran..
“Put..? Hani..? lo ya? Jangan becanda deh kalian.” Begitu ucapku.
Gak ada jawaban..
Tapi, beberapa detik kemudian baru terdengar suara..
“Nisa..”
Begitu suaranya, ada yang memanggil namaku dari dalam kamar mandi sebelah!
Suaranya jelas terdengar, diakhiri dengan suara tawa tertahan.
Sontak aku langsung keluar kamar mandi, lalu lari menuju lantai atas, tanpa sedikit pun melihat ke belakang.
***
“Knapa muka lo begitu Nis?” Tanya Putri sesampainya aku di teras atas.
ADVERTISEMENT
“Hmmm, ada yang aneh di villa ini.” Jawabku pelan.
“Aneh gimana?” Tanya Danang yang ikut penasaran.
Lalu aku ceritakan kepada mereka semua tentang kejadian yang baru saja aku alami dan sore tadi.
“Mungkin gak sih kalo itu cuma perasaan lo doang Nis?” Hani coba untuk mencari celah logika.
“Gak Han, gw yakin, gw denger suara itu jelas banget.” Aku bersikukuh.
“Jadi tolong, malam ini kita tidur bareng-bareng aja ya, gw takut.”
Mereka setuju, supaya aku merasa tenang.
Akhirnya, sekitar jam 11 acara berbincang selesai, lalu kami masuk ke dalam, karena udara juga sudah semakin dingin menusuk tulang.
***
Benar, akhirnya kami tidur bersama dalam satu kamar.
Tetapi ketika pertama kali masuk kamar, hanya aku, Putri, dan Hani, sementara Dimas dan Danang masih ingin menonton tv di bawah.
ADVERTISEMENT
Mungkin karena sudah lelahnya badan ini, aku jadi gak kesulitan untuk tidur, ketika sudah bertemu bantal dan berselimut aku langsung terlelap.
Tapi hanya sebentar, sekitar jam satu dini hari aku terbangun karena tiba-tiba pingin pipis.
Posisi tidur kami bertiga berjajar di atas tempat tidur yang sangat besar, aku di sisi sebelah pinggir, Hani di tengah. Sedangkan Putri di bagian ranjang dekat dinding, tidurnya pun menghadap dinding, aku hanya melihat punggungnya saja.
Sebelum berjalan ke bawah, aku duduk sebentar di pinggir tempat tidur, mengucek-ngucek mata, mengumpulkan kesadaran.
“Nisa mau ke mana?” Tiba-tiba seperti suara Putri kedengaran bertanya.
“Pipis Put.” Jawabku pendek sambil melirik ke arah Putri yang masih saja menghadap ke dinding.
ADVERTISEMENT
Lalu aku melihat Putri hanya mengeleng, tanpa bersuara. Sementara hani masih saja terlelap.
Aku lalu berjalan ke luar kamar dan menuruni tangga, menuju kamar mandi.
Di bawah, aku melihat Danang, Dimas, dan Putri, mereka bertiga masih asik ngobrol depan TV.
Iya, ada Putri juga ternyata. Aku berhenti melangkah di ujung tangga ketika sadar akan hal itu.
“Knapa lo Nis?” Tanya Dimas.
“Pipis lagi lo?” Tanya Danang.
Aku lalu ke kamar mandi, karena memang sudah sangat kebelet pipis.
Setelah selesai dari kamar mandi, aku lalu menceritakan kejadian yang baru saja aku alami. Kemudian kami semua naik ke kamar atas, untuk melihat keadaan.
Benar saja, di dalam kamar hanya ada Hani sendirian yang masih saja terlelap, gak ada siapa-siapa lagi.
ADVERTISEMENT
***
Keesokan harinya, kami bangun agak siang karena semalaman kurang tidur membahas beberapa peristiwa yang aku alami.
Jam sepuluh, kami baru berkumpul semua di ruang tengah.
Nasi goreng buatan Hani menjadi santapan pagi itu.
“Nanti, gw sama Danang jumatan di masjid yang di depan itu ya, gak jauh-jauh kok. Nanti beres jumatan baru kita jalan muter-muter Lembang, hehe.” Begitu Dimas bilang di tengah kami bersantap.
Begitulah, jam 12 siangnya, Danang dan Dimas benar menuju masjid depan untuk sholat jumat, aku bersama Hani dan Putri menunggu di villa sambil bersiap untuk keluar.
Sambil menunggu Dimas Danang Jumatan, aku mencari udara segar dengan berkeliling sekitaran villa, sementara Hani dan Putri mandi dan bersiap.
ADVERTISEMENT
Siang itu cuaca sangat cerah, langit biru nyaris tanpa awan, tapi tetap saja udaranya sejuk dan dingin. Aku terus berjalan melihat-lihat sekitar.
Sampai akhirnya lagi-lagi aku mendengar suara, suara yang persis sama dengan yang aku dengar ketika baru saja tiba kemarin, “Krieeeeet, krieeeeeeet, krieeeet”, kira-kira seperti itu.
Sumbernya pun sama, dari dalam bangunan kecil yang ada di samping kanan villa, menurut Pak Epi itu adalah gudang kotor, yang kebetulan saat itu aku sedang berdiri gak jauh dari situ.
Penasaran, aku lalu melangkah menuju pintu gudang.
Semakin dekat jarak langkah, semakin jelas suara kriet-kriet itu terdengar.
Agak ragu ketika akhirnya aku sampai di depannya, antara takut dan penasaran. Tapi akhirnya rasa penasaran mengalahkan segalanya, lalu aku memberanikan membuka pintunya.
ADVERTISEMENT
Belum sempat pintu terbuka penuh, tiba-tiba ada suara memanggil dari arah villa.
“Nisaaaa, mau ngapain lo? Hayu jalan ah.” Dimas memanggilku, ternyata dia sudah selesai jumatan.
Gagal lagi aku untuk tahu suara apa gerangan dari dalam gudang.
Setelah itu, kami langsung keluar villa untuk berjalan-jalan keliling lembang.
***
Sekitar jam 10 malam, kami sudah sampai lagi di villa setelah selesai jalan-jalan.
Beda dengan malam kemarin yang cuacanya cerah, kali ini langit Lembang tertutup awan, gerimis kecil turun dari langit.
Di dalam villa kami bergantian mandi membersihkan diri, setelah itu berkumpul lagi di ruang tengah untuk berbincang dan bersenda gurau. Kami coba untuk melupakan semua peristiwa seram yang aku alami kemarin.
ADVERTISEMENT
Singkat kata, sekitar jam 12 malam kami masuk kamar atas, berlima tidur dalam satu kamar.
Semuanya berjalan normal, gak lama setalah masuk kamar kami semua langsung terlelap dalam mimpi masing-masing.
Normal..
Tapi hanya beberapa jam saja, karena sekitar jam dua ada kehebohan di dalam kamar, aku jadi kaget terbangun.
“Nisa, ayok cepetan beresin barang-barang lo, kita pergi dari villa ini sekarang juga.” Begitu kata Dimas agak panik dan heboh.
“Ada apa Mas? Yang lain pada ke mana?” Tanyaku yang jadi ikutan panik.
“Nanti aja ceritanya, buruan beresin barang-barang lo. Yang laen udah pada di bawah, udah siap pergi semua.” Lanjut Dimas.
Ya sudah, aku nurut, lalu membereskan semua barang-barangku. Setelahnya kami langsung ke bawah.
ADVERTISEMENT
Benar, sudah ada Hani Putri dan Danang di bawah.
Wajah Hani pucat, dengan mimik sangat ketakutan, begitu juga dengan Putri.
“Ada apa sih ini?” Tanyaku semakin panik.
“Nanti aja Nis di jalan ceritanya. Ayok berangkat” Jawab Danang.
Lalu, pada jam dua pagi itu, kami pergi meninggalkan villa menuju kota Bandung untuk mencari hotel, kami pindah penginapan.
“Ada apa siiiiiih?, kalian cerita doooong.” Di dalam mobil dalam perjalanan, sekali lagi aku bertanya.
Jadi, ternyata sekitar jam satu, Hani dan Putri mengalami kajadian yang sangat menyeramkan.
Sambil terbata-bata dan menahan tangis, keduanya akhirnya bisa mulai cerita.
***
Jadi, setelah kami masuk kamar kemudian terlelap, sekitar jam satu Hani terbangun.
ADVERTISEMENT
Dia terbangun karena mendengar suara yang samar namun masih jelas.
“Krieeeeet, krieeeeeeet, krieeeet,” Kira-kira seperti itu suaranya menurut cerita Hani.
Suara yang persis sama dengan yang aku dengar bebrapa kali sebelumnya.
Hani penasaran, dia bangun dari tidurnya, lalu duduk di atas tempat tidur, menajamkan pendengaran.
Benar, dia yakin kalau mendengar suara itu, dan yakin juga kalau suaranya berasal dari gudang di sebelah villa.
“Han, lo denger juga?” Tiba-tiba Putri yang tidur di sebelah bilang begitu.
“Iya Put, gw denger. Itu suara apa ya?” Jawab Hani.
“Udahlah tidur aja, abaikan.”
“Gak bisa Put, suaranya ganggu banget, penasaran juga gw.”
“Trus lo mau apa? Nyamperin itu suara?”
“Iya Put, anterin yuk. Penasaran gw.”
ADVERTISEMENT
“Aaaah gw takut ah”
“Ayolaaah Put, takut ada apa-apa.”
Akhirnya, entah apa yang ada di pikiran Putri, akhirnya dia menuruti permintaan Hani, kemudian mereka turun lalu keluar villa menuju asal suara, yaitu gudang di sebelah.
Hanya berbekal cahaya lampu senter dari ponsel, perlahan mereka menembus gelap, berjalan di atas rumput basah sisa hujan.
Krieeeeet, krieeeeeeet, krieeeet..
Sementara suara itu semakin jelas terdengar, seiring dengan semakin dekatnya jarak gudang.
Terus terdengar..
Sampai akhirnya mereka berdua sampai juga di depan pintu gudang.
Gudang dalam keadaan gelap total, gak ada cahaya sama sekali, lagi-lagi hanya cahaya senter ponsel yang membantu penglihatan.
Krieeeeet, krieeeeeeet, krieeeet..
Akhirnya, Hani memberanikan diri untuk meraih gagang pintu untuk membukanya..
ADVERTISEMENT
Perlahan tapi pasti, pintu gudang akhirnya terbuka lebar.
Isi gudang masih gelap, sama sekali gak kelihatan apa-apa, karena Hani dan Putri belum menyorot cahaya ponselnya ke dalam, tapi suara kriet-kriet itu sangat jelas kedengaran.
Sampai akhirnya mengarahkan cahaya senter ponsel ke dalam, baru pada saat itulah mereka bisa melihat semuanya, bisa melihat sumber suara misterius itu berada.
Persis di tengah gudang, ada perempuan yang menggantung dengan tali di lehernya, tubuhnya berayun ke depan ke belakang.
Ada perempuan berposisi gantung diri..
Suara kriet-kriet itu ternyata berasal dari gesekan tali tambang yang terikat pada palang kayu di atap gudang, tali tambang di ujung satu laginya melilit di leher perempuan yang berayun di bawahnya.
ADVERTISEMENT
Sontak mereka langsung menjerit ketakutan, dan berlari masuk ke villa sambil menangis.
Dimas yang pertama kali ditemui, langsung mereka ceritakan kejadian yang baru saja dialami.
Dimas yang pemberani, kemudian melangkah menuju gudang tanpa ragu, untuk memeriksanya, apakah benar ada orang gantung diri di gudang? Dimas ingin memastikan itu.
Ternyata, Dimas gak menemukan apa-apa, gudang sempit itu kosong melompong, gak ada siapa-siapa.
Makanya, setelah itu mereka langsung membangunkanku yang masih tertidur di kamar atas.
Itulah alasannya kenapa kami memaksa diri untuk meninggalkan villa saat itu juga.
***
Hai, Brii lagi nih, hehe.
Serem ya ceritanya, gila emang. Makanya kita harus lebih hati-hati lagi dalam memilih villa, supaya gak merasakan apa yang Nisa dkk rasakan.
ADVERTISEMENT
Sekian cerita kali ini, sampai jumpa minggu depan.
Met bobok, semoga mimpi indah.
Salam,
~Brii~