Entertainment
·
18 November 2020 11:21

Mess Karyawan Berhantu di Tasikmalaya

Konten ini diproduksi oleh BriiStory
Mess Karyawan Berhantu di Tasikmalaya (32188)
Ilustrasi rumah hantu. Foto: Shutter Stock
Lingkungan kerja baru, pasti menyajikan cerita baru juga, apa lagi kalau sampai harus tinggal di tempat baru. Kita gak tahu ada sejarah apa di belakangnya.
ADVERTISEMENT
Fadli, akan menceritakan kisah seram ketika tinggal di mess berhantu di Tasikmalaya.
Simak di sini, di Briistory..
***
“Ok Mas Fadli, sampai ketemu hari senin ya.”
“Ok ok. Eh tapi saya minggu sore udah ada di Tasik. Saya udah ada di mess minggu sore, insyaAllah.”
“Oh gitu. Tapi Mas, kalau minggu sore mess masih kosong, belum pada datang. Biasanya penghuni baru berdatangan senin pagi.”
“Ya gak apa-apa lah mas, biar santai. Kalau senin pagi saya harus berangkat malam dari Jakarta.”
Tapiii...,”
“Tapi kenapa Mas?”
Gapapa, gapapa, hehe.”
Begitu percakapanku dengan Ridwan melalui telepon.
Ridwan adalah teman yang baru saja aku kenal. Dia nantinya akan menjadi rekan di perusahaan tempatku bekerja.
ADVERTISEMENT
Nantinya? Iya,
Aku baru saja diterima kerja di satu perusahaan manufaktur, memproduksi plastik.
Setelah melalui serangkaian wawancara dan test yang dilakukan di Bandung, akhirnya aku diterima, bekerja sebagai operator mesin.
Iya, aku menjalani wawancara dan tes masuk di Bandung, di kantor perwakilan perusahaan. Jadi, sama sekali belum pernah datang mengunjungi lokasi pabrik yang di Tasikmalaya.
Aku yang belum menikah dan masih tinggal di rumah orang tua, gak berpikir dua kali untuk mengambil kesempatan ini.
Walaupun bukan multinasional tapi perusahaan ini bukan perusahaan kecil, memiliki sekitar 500 karyawan.
Yang membuatku tertarik, mereka memberikan beragam fasilitas, salah satunya mess tempat tinggal untuk karyawan berdomisili di luar Tasikmalaya seperti aku ini yang tinggal di Jakarta, jadi gak perlu pusing memikirkan biaya kost atau kontrak rumah.
ADVERTISEMENT
Ya sudah, singkat kata, aku memutuskan untuk berangkat bekerja mencari nafkah dan tinggal di Tasikmalaya.
***
Tahun 2007, ini bukanlah pertama kali aku menginjakkan kaki di Tasikmalaya, semasa kuliah dulu sudah beberapa datang berkunjung. Kota di lintas selatan Jawa Barat, masih kota kecil, tapi sangat menarik dan nyaman.
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, pada satu minggu sore aku sudah sampai di terminal Bis Tasikmalaya, di terminal besar inilah bis yang mengantarku dari Jakarta sampai di penghentian terakhir.
Nah, ternyata alamat perusahaanku ini lokasinya agak jauh dari pusat kota, malah sudah lebih dekat ke Ciamis. Karena itulah, dari terminal harus terlebih dahulu dua kali naik angkot untuk sampai di tujuan.
ADVERTISEMENT
Tapi gak apa-apa, perjalanan menggunakan angkot di Tasik sungguh masih dapat dinikmati, suasananya menyenangkan, tipikal kota kecil yang menawarkan kesegaran udara dan pemandangan, aku menikmatinya.
Sebelumnya, aku sudah bertanya kepada Ridwan mengenai detail perjalanan yang harus aku tempuh, kata Ridwan sekitar satu jam kurang naik angkot seharusnya aku sudah sampai pabrik.
Dan benar yang Ridwan bilang, setelah kurang lebih satu jam perjalanan akhirnya aku sampai di tujuan.
Pagar tembok tinggi dan gerbang besi besar, itulah pemandangan yang pertama kali aku lihat ketika baru turun dari angkot.
Bangunan di dalam hanya kelihatan atapnya saja, juga beberapa pohon tinggi menutupi sedikit pandangan.
Ridwan juga bilang, kalau sudah sampai aku bisa meminta tolong satpam yang ada di depan untuk mengantarkan ke mess karyawan.
ADVERTISEMENT
“Sore Pak. Saya Fadli, karyawan baru, mungkin pak Ridwan sudah kasih info-nya?” Ucapku ketika sudah masuk gerbang dan menemui sekuriti yang kutemui di pos-nya.
“Oh iya iya, Pak Fadli ya. Selamat datang Pak, pikir saya habis maghrib baru sampai, hehe. Perkenalkan, saya Saepudin, panggil aja Udin.” Pak Sekuriti yang belakangan aku tahu kalau namanya Pak Udin, menjawab dengan ramah dengan logat sunda yang kental.
Setelahnya, kami berbincang saling memperkenalkan diri di pos sekuriti.
Perusahaan ini berdiri di lahan yang menurutku sangat luas, ada tiga bangunan utama.
Bangunan besar yang paling depan adalah kantor manajemen, berlantai dua, bangunan ini yang tadi pertama kali kelihatan dari luar.
Di belakangnya ada bangunan pabrik/warehouse, ukurannya nyaris sama dengan gedung manajemen, berisi segala mesin yang menghasilkan bahan produksi, yaitu plastik.
ADVERTISEMENT
Di sebelahnya ada gedung lagi yang lebih kecil, menurut Pak Udin bangunan ini juga berisi mesin produksi, hanya skalanya saja yang lebih kecil.
Oh iya, lokasi perusahaan letaknya agak jauh dari pemukiman warga, gak di pinggir jalan utama, agak masuk ke dalam tapi tetap masih bisa dilewati kendaraan besar. Lokasi yang sepertinya memang diperuntukkan untuk kawasan industri.
“Oh iya, Mas Fadli katanya bakalan tinggal di mess ya? Kalau sudah siap hayuk saya antar ke mess, gak jauh kok, bisa jalan kaki.” Pak Udin bilang begitu.
“Iya Pak. Mungkin Pak Udin tau, ada berapa orang yang tinggal di mess ya?” Tanyaku.
“Oh kalo dulu sih banyak Pak, ada belasan orang. Kalo sekarang kayaknya tinggal bertujuh, termasuk Mas Fadli ini, karena hampir semua karyawan tinggal di Tasik atau Ciamis, mereka lebih milih untuk pulang pergi dari pada tinggal di mess.” Panjang lebar Pak Udin menjelaskan.
ADVERTISEMENT
Hanya tujuh orang yang tinggal di mess? Aku pikir banyak. Tapi gak apa, seenggaknya aku gak akan terlalu sendirian.
Setelah ada sekuriti yang lain lagi untuk menjaga pos, aku dan Pak Udin lalu berangkat.
***
Mess terletak di belakang luar wilayah pabrik, kami harus memutar lewat depan, mengitari pabrik lalu ke belakang. Jaraknya gak terlalu jauh, hanya sekitar 15 menit berjalan kaki.
“Ini tempatnya Mas.”
Begitu kata Pak Udin ketika kami sudah berdiri persis di depan bangunan berpagar tinggi dengan pintu besi yang sepertinya terkunci, karena dia sambil berusaha untuk membuka gemboknya.
“Ada orang atau gak ada orang, pagar selalu terkunci mas, takut ada maling, hehe.”
ADVERTISEMENT
Aku hanya tersenyum mendengarnya, sambil kami melangkahkan kaki masuk ke area mess.
Ada dua bangunan, yang pertama berbentuk rumah agak besar, gak bertingkat. Satu bangunan lagi berdiri di belakang, bentuknya memanjang seperti rumah kontrakan, pintunya berjajar ada lima.
“Rumah ini diperuntukkan untuk level Supervisor ke atas mas, kalau yang di belakang untuk level di bawahnya. Mas fadli kan supervisor, jadi tinggal di rumah ini, yuk masuk mas.” Pak Udin menjelaskan.
Rumah tiga kamar dengan fasilitas lengkap, ada tv, kulkas, peralatan dapur, dan lainnya.
“Yang tinggal di sini, biasanya datangnya senin pagi. Terkadang ada juga yang datang minggu sore atau malam, tapi jarang banget, hehe.”
“Ya sudah, Mas Fadli mungkin mau istirahat dulu. Saya balik ke pos depan ya Mas, ini kunci gembok dan kunci rumah.”
ADVERTISEMENT
Akhirnya, Pak Udin pamit pergi untuk kembali bertugas, meninggalkan aku sendirian di rumah ini.
Nyaman, udaranya bersih dan sejuk, sepi, jauh dari jalan raya dan keramaian. Seharusnya aku betah tinggal di tempat ini.
Seharusnya..
***
Aku memilih kamar tengah, karena kamar depan dalam keadaan terkunci, sepertinya sudah berpenghuni. Sedangkan kamar belakang, aku gak yakin sudah ada penghuninya atau belum.
Kamarku cukup besar, berisi lemari dan tempat tidur. Berjendela kayu yang kalau dibuka akan terlihat halaman samping, dan sebagian mess belakang.
Selepas maghrib aku duduk di ruang tengah sambil menonton tv, menikmati suasana sambil menunggu kalau-kalau ada penghuni mess lain yang tiba-tiba muncul, karena itulah pintu depan aku biarkan dalam keadaan terbuka.
ADVERTISEMENT
Tapi, sampai jam delapan malam belum juga ada yang datang.
Suasana malam di mess ini benar-benar sepi, kalau tv aku matikan hanya terdengar suara jangkrik atau binatang malam lainnya. Tapi sesekali terdengar suara kendaraan yang lewat di jalan depan pabrik, samar karena jaraknya memang cukup jauh.
Udara juga cukup dingin, aku jadi berselimut duduk depan tv.
Begitulah..
Tapi sekitar jam sepuluh, lamunanku terhenti, lalu mengecilkan volume tv, karena mendengar suara pagar depan seperti ada yang membuka.
“Akhirnya ada yang datang juga, jadi gak sendirian malam ini.” Begitu ucapku dalam hati, sedikit lega.
Bangkit dari duduk, lalu bergegas menuju teras rumah untuk melihat siapakah gerangan yang datang.
ADVERTISEMENT
Tapi gak ada siapa-siapa, pagar tetap dalam keadaan tertutup ketika aku melihatnya.
“Siapa yang tadi buka tutup pagar?”
Ah ya sudahlah, mungkin aku salah dengar, lalu berniat untuk masuk lagi ke dalam.
Tapi, baru saja beberapa langkah, tiba-tiba kembali aku mendengar sesuatu lagi, kali ini suara langkah kaki.
Langkah kaki yang sepertinya berasal dari samping, seperti sedang berjalan menuju bangunan mess belakang.
Langkah kaki siapa itu?
Penasaran, kemudian ke samping rumah untuk melihat sumber suara.
Dari samping, kelihatan kalau mess belakang sangat gelap, hanya deretan pintu tertutup yang terlihat, karena lampu terasnya mati semua.
Tapi, sepersekian detik kemudian, tiba-tiba aku melihat seperti ada orang berjalan, tapi hanya kelihatan sebentar saja karena sosok itu langsung menuju belakang rumah, pandanganku jadi terhalang.
ADVERTISEMENT
Semakin penasaran, aku lalu berjalan ke belakang rumah, untuk mencari tahu siapa gerangan yang sedang ada di belakang.
Sesampainya di belakang, lagi-lagi aku gak melihat ada siapa-siapa.
“Mas?,”
Aku coba memanggil entah siapa pun itu, tapi gak ada jawaban, sepi aja.
Lalu siapa orang itu tadi? Aku sangat yakin kalau benar melihat ada yang berjalan.
Hmmmm, aneh.
Akhirnya, setelah beberapa belas detik lamanya berdiri diam dalam gelap, aku memutuskan untuk masuk rumah.
Setelah sudah di dalam, aku menutup pintu lalu menguncinya, kembali duduk di ruang tengah, di depan tv.
Kembali duduk dalam kesendirian, di tempat yang masih sangat asing ini.
Jujur, saat itu aku sudah mulai merasa kalau ada yang aneh, perasaan gak enak.
ADVERTISEMENT
Sepinya memperhatikan, seperti hendak bercerita.
Momen yang berlangsung lama, sampai jam sebelas malam aku masih duduk di tempat yang sama.
Sementara acara tv mulai gak ada yang menarik.
Sampai akhirnya, sekitar jam setengah dua belas aku masuk ke dalam kamar, mencoba untuk tidur. Seharian tadi sangat melelahkan, perjalanan Jakarta Tasik cukup membuat energiku terkuras, seharusnya aku gak akan kesulitan untuk memejamkan mata.
Tapi, tetap saja, di atas tempat tidur aku belum juga bisa terlelap. Sendirian di tempat ini membuat pikiran melanglang buana, resah dan gelisah sambil memperhatikan langit-langit kamar.
Sempat berpikir untuk keluar rumah lalu menuju suatu tempat, ketika rasa cemas dan takut semakin memenuhi isi kepala, tapi mau ke mana? Aku belum tahu benar daerah sini.
ADVERTISEMENT
Akhirnya hanya bisa pasrah, sambil terus berharap rasa kantuk akan datang.
Tapi, ketika sudah jam setengah satu, lamunanku terhenti, ketika tiba-tiba mendengar seperti ada suara pintu terbuka!
Mendengar dari arah suaranya, aku yakin kalau itu pintu depan.
Ada yang membuka pintu depan!
Beberapa saat kemudian, pintu kedengaran kembali tertutup.
Siapa yang masuk ke dalam rumah?
Langkah kaki bersepatu kemudian terdengar, melangkah dari pintu menuju bagian belakang rumah.
Gak, aku gak berani untuk membuka pintu kamar untuk melihat ruang tengah, lebih baik menunggu di dalam, diam dalam ketakutan.
Namun, posisi aku yang tadinya terbaring di tempat duduk, seketika berubah menjadi duduk, karena tiba-tiba gagang pintu bergerak-gerak, seperti ada yang sedang coba membukanya dari luar.
ADVERTISEMENT
“Siapa ya?” Sontak aku langsung bertanya.
Hening, gak ada jawaban..
Aku semakin ketakutan.
Tapi hanya beberapa detik saja, karena akhirnya aku mendengar suara.
“Iman.”
Begitu jawab seseorang yang ada di ruang tamu.
“Ah sukurlah, ternyata orang,” Ucapku dalam hati, sedikit bernafas lega.
Kemudian aku turun dari tempat tidur dan membuka pintu.
Benar, ada seseorang yang sedang berdiri di ruang tengah.
Ruang tengah dalam keadaan gelap karena memang sengaja dimatikan lampunya, menjadikan aku gak bisa melihat orang itu dengan jelas, tapi samar terlihat kalau dia berpakaian layaknya seragam pabrik, lengkap dengan sepatu safety.
“Eh, malam mas Iman. Baru datang ya? Saya karyawan baru, baru aja sampai sore tadi.” Ucapku berbasa-basi.
ADVERTISEMENT
“Iya, gak apa, istirahat aja dulu.” Jawabnya.
Setelah itu, tanpa basa basi dia lalu berjalan ke belakang, sepertinya menuju kamar yang ada di belakang.
Ya sudah, aku kembali masuk kamar dan menutup pintu.
Setelah itu, aku gak merasakan cemas lagi, karena menyadari kalau sudah gak sendirian di rumah ini, sudah ada Iman, penghuni mess lama.
Benar, gak lama kemudian aku terlelap, tidur sangat nyenyak.
Jam setengah lima pagi aku sudah bangun, lalu berniat untuk salat subuh.
Setelah nyawa sudah terkumpul, kemudian aku keluar menuju kamar mandi untuk berwudu.
Tapi, lagi-lagi aku melihat Iman, dia sedang duduk di sofa ruang tengah, duduk menghadap depan rumah.
Iman sudah mengenakan seragam pabrik lengkap dengan sepatu.
ADVERTISEMENT
“Mas Iman, sudah siap berangkat aja, pagi-pagi amat mas, Hehe.” Aku berbasa-basi ketika sedang tepat melintas di sampingnya.
Iman hanya menoleh sambil tersenyum, gak berkata apa-apa.
Aku lalu meneruskan langkah menuju kamar mandi.
Setelah selesai, aku kembali menuju kamar. Tapi saat itu aku gak melihat Iman lagi, dia sudah gak ada.
“Pagi amat Iman berangkat kerja.” Begitu gumamku dalam hati.
Selesailah malam pertama aku tinggal di mess.
***
Jam menunjukkan pukul setengah delapan pagi.
Aku yang sudah berpakaian rapi siap berangkat kerja, duduk di teras rumah sambil menikmati kopi dan rokok.
Satu persatu penghuni mess berdatangan, satu persatu juga memperkenalkan diri.
“Saya Ridwan mas, hehe.”
ADVERTISEMENT
“Oh ini mas Ridwan toh, kang Ridwan hehe. Akhirnya kita ketemu ya.” Sapaku kepada Ridwan yang akhirnya datang.
Ridwan tinggal di Bandung, anak dan istrinya tinggal di kota kembang itu. Senin sampai jumat dia tinggal di mess, jumat sore pulang ke Bandung lagi.
Lalu kami berbincang sebentar di teras rumah.
Ridwan ini Supervisor keuangan, beda divisi denganku. Sepertinya lebih tua dariku.
“Gimana mas Fadli? Bermalam di mess sendirian Betah gak? Enak kan suasananya, hehe”
“Saya gak sendirian kok Kang hehe.” Jawabku.
“Ah bisa aja mas fadli ini, hahaha.”
Dari nada kalimatnya, sepertinya Ridwan menganggap aku sedang bercanda.
“Bener kang, saya gak sendirian.” Ucapku lagi.
“Eh, sudah hampir jam delapan nih. Ayok kita jalan ke pabrik.” Kang Ridwan memotong pembicaraan, sebelum aku menjelaskan semuanya.
ADVERTISEMENT
Ya sudah, lalu kami berangkat.
***
Layaknya karyawan baru, aku menjalani proses pengenalan lingkungan dan pekerjaan. Hendra, pemuda daerah yang bertugas sebagai teknisi mesin membantuku memperkenalkan dan menjelaskan semua hal menyangkut pekerjaanku nantinya. Dari proses awal produksi sampai selesai.
Begitulah, sampai akhirnya jam makan siang tiba kami harus menghentikan kegiatan sejenak untuk beristirahat dan berbincang hangat.
“Gimana Pak tidur di mess semalam? Betah kan ya?, segar ya udaranya, pasti nyenyak tidurnya, hehe.” Hendra membuka percakapan ketika kami masih bersantai selesai makan.
“Enak kok ndra, awalnya gak bisa tidur, sepi banget soalnya.” Jawabku.
“Emang begitu Pak, yang tinggal di mess biasanya baru pada datang senin pagi, jarang ada yang datang minggu sore atau malam,”
ADVERTISEMENT
“Tapi akhirnya ada yang datang, jam 12-an ada yang pulang ke mess, akhirnya saya bisa tidur lelap karena gak merasa sendirian lagi, hehe.”
“Oh begitu, Alhamdulillah mun kitu mah. Jadi gak terasa ke’eung lagi kan, hehe.”
“Iya, untung aja Iman datang, jadi ada temennya kan saya.”
“Iman? Pak Iman yang datang tengah malam Pak?”, Raut wajah Hendra mendadak berubah.
“Iya, Iman yang datang. Kenapa emang Ndra? Emang Iman rumahnya di mana?” Tanyaku kemudian.
“Ooh. Pak Iman. Hmmmm, Pak Iman rumahnya di Bandung Pak, dulunya dia manajer Accounting.”
“Dulunya? Emang sekarang dia bagian apa?”
“Hmmm, masih.., masih Pak, masih manajer.”
Hendra agak gelagapan, entah kenapa dia seperti itu.
Percakapan terhenti sampai di situ saja, ketika jam sudah menunjukkan pukul satu lewat sedikit, kami sudah harus melanjutkan pekerjaan.
ADVERTISEMENT
Singkat cerita, hari pertama itu selesai juga, cukup melelahkan. Menjelang maghrib kami kembali pulang ke mess.
***
Malam tiba, seluruh penghuni tetap mess sudah berkumpul semua, kami berbincang seru di teras depan rumah. Lengkap, ada aku, Ridwan, Rendy, Dadi, Asep, Hendar, dan Ago. Nyaris semuanya tinggal di Bandung kecuali Ago, dia orang Cilacap, dan aku dari Jakarta.
Dalam perbincangan seru kali ini, aku sebagai pendatang baru masih menjadi pendengar yang baik, mendengarkan teman-teman bercerita tentang apa saja.
Sering kali diselingi dengan gelak tawa, perbincangan semakin seru seiring waktu yang semakin larut malam.
Tapi, kemudian aku baru tersadar, ada satu orang yang gak kelihatan.
“Eh sebentar, Iman ke mana ya? Kok gak kelihatan?” Tanyaku tiba-tiba.
ADVERTISEMENT
Entah kenapa, tiba-tiba semua terdiam seketika, memandangku dengan wajah keheranan.
“Pak Iman? Kok mas Fadli kenal sama Pak Iman? Kenal dari mana?” Aga yang akhirnya mulai bertanya.
“Loh, semalam saya ketemu. Jam dua belas dia datang, baru datang dari Bandung. Rumahnya di Bandung kan?” Tanyaku lagi.
“I.., iya Mas, Pak Iman emang rumahnya di Bandung.” Kali ini Ridwan yang menjawab, dengan wajah masih keheranan.
“Nah, trus sekarang dia ke mana? Kok belum balik mess?” Aku lagi-lagi bertanya.
Ooohh, tadi dia sore dia pulang lagi ke Bandung Mas, ada urusan mendadak katanya.” Asep akhirnya ikut nyamber dengan logat sundanya.
“Eh udah jam sebelas aja, yuk ah tidur, isukan kudu gawe deui yeuh.”
ADVERTISEMENT
Ridwan tiba-tiba menutup acara ngobrol. Ya sudah, perbincangan juga sudah lebih sering banyak diam setelah aku membahas tentang Iman.
Setelah itu kami masuk ke kamar masing-masing.
Selesailah hari pertamaku tinggal di Tasikmalaya.
***
Gak terasa, sudah satu minggu lamanya bekerja di tempat baru. Aku harus cepat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan pekerjaan dan lingkungannya karena memang posisi yang aku tempati mengharuskan seperti itu,
proses produksi harus tetap terus berjalan walaupun aku masih terbilang karyawan baru.
Hari jumat, untuk sebagian besar karyawan merupakan hari terakhir bekerja dalam seminggu. Tapi ada sebagian kecil yang bekerja di hari sabtu, yaitu karyawan yang bertugas di pabrik, karena mesin produksi masih harus terus berjalan.
ADVERTISEMENT
Aku salah satu karyawan yang harus tetap bekerja di hari sabtu.
Sehingga pada hari sabtu kawasan pabrik menjadi sepi, hanya beberapa orang yang masih kelihatan bekerja.
Sabtu sore, ketika sudah selesai jam kerja, kami penghuni mess berkumpul lagi, beristirahat sejenak sebelum semua bersiap pulang. Iya, sabtu sore waktunya pulang ke rumah masing-masing, semuanya mudik, kecuali aku.
“Wah, mas Fadli sendirian lagi nih, gak apa-apa ya mas? Hehe.” Ucap Ridwan sambil dia bersiap untuk berangkat.
“Gak apa-aka kang. Saya mau ke mana lagi, mau pulang ke Jakarta kan jauh, di sini ajalah.” Jawabku.
“Eh mas, nanti ikut saya ke depan ya, ke pos satpam sebentar. Ada yang mau saya omongin,” Mimik Ridwan berubah menjadi serius.
ADVERTISEMENT
“Oh boleh kang, sambil saya juga mau beli rokok ke depan.”
Ya sudah, sekitar jam lima kami semua meninggalkan mess.
Yang lain langsung berangkat ke tujuan masing-masing, sementara aku dan Ridwan mampir sebentar di pos satpam.
“Mas, saya mau ada cerita nih, tapi jangan kaget ya.” Ucap Ridwan membuka percakapan ketika kami sudah duduk di pos satpam.
Waahh, kelihatannya serius nih, ada apa kang?” Aku penasaran.
“Jadi gini. Minggu yang lalu Mas Fadli sempat cerita kalau waktu itu, ketika pertama kali menginap di mess ada Iman yang datang tengah malam ya?”
“Iya Kang. Iman datang jam sekitar jam dua belas malam, lalu subuh-subuh dia sudah berangkat ke pabrik. Habis itu saya gak pernah lihat dia lagi. Saya dengar dari Hendra, kalau Iman itu manajer Accounting, bener kang?” Jawabku panjang lebar.
ADVERTISEMENT
“Nah ini, saya mau cerita sedikit ya, semoga Mas Fadli gak ketakutan nantinya.”
Mendengar itu, aku jadi semakin penasaran, lalu menunggu Ridwan untuk bercerita lebih lanjut.
“Pak Iman itu benar dulunya Manajer Accounting di sini. Rumahnya di Bandung, senin sampai jumat dia tinggal di mess kita itu, di rumah itu.” Ridwan mulai bercerita.
“Dulunya kang? Sekarang nggak lagi?”
“Iya, dulunya. Tapi sekarang dia gak kerja di sini lagi.”
“Kok gitu kang? Ke mana dia?” Aku semakin penasaran.
“Sekitar enam bulan yang lalu, ketika sedang dalam perjalanan menuju ke sini dari Bandung, Pak Iman kecelakaan motor, meninggal di tempat kejadian.”
Sontak, aku kaget mendengarnya. Ternyata Iman sudah meninggal, kecelakaan.
ADVERTISEMENT
Kemudian Ridwan melanjutkan ceritanya,
“Dulu-dulu, Ago dan Asep paling jarang mudik, lebih banyak tinggal di mess ini. Tapi karena banyak kejadian seram, akhirnya mereka memilih untuk pulang pada sabtu Minggu.”
“Kami beberapa kali melihat penampakan almarhum Pak Iman datang ke mess tengah malam Mas” Nyaris berbisik Ridwan bilang begitu.
Astaga, jadi yang aku temui minggu yang lalu benar Pak Iman, tapi beliau sudah meninggal.
Selanjutnya, kami terus membahas perihal almarhum pak Iman, sampai akhirnya selepas maghrib Ridwan harus berangkat pulang ke Bandung. Sementara aku kembali ke mess..
Di mess ini, aku sendirian lagi..
***
Malam minggu, seharusnya menjadi malam yang indah. Kalau di Jakarta, biasanya aku akan menghabiskan waktu bersama teman tongkrongan di cafe atau mal.
ADVERTISEMENT
Tapi, kali ini aku harus bermalam minggu sendirian di tempat yang masih tergolong asing.
Sejak maghrib, perasaan was-was sudah bergelayut di sanubari, memaksa otak dan pikiran untuk mengolah situasi agar gak menjadi mencekam seram.
Informasi mengenai Pak Iman yang baru saja aku dengar, mau gak mau terus berkecamuk dalam kepala. Aku sangat takut kalau nantinya almarhum akan datang ke mess ini lagi.
Sampai akhirnya, menjelang jam dua belas tengah malam, aku memutuskan untuk masuk kamar, tapi membiarkan semua lampu di dalam rumah dalam keadaan menyala.
Aku takut..
Tapi untunglah, walaupun sama sekali aku gak bisa tidur sampai subuh, tapi gak ada peristiwa seram yang terjadi.
Aman..
ADVERTISEMENT
***
Hari minggu aku habiskan untuk menonton tv dan istirahat, coba untuk “berteman” dengan keadaan, memaksa diri bersantai dan menikmati suasana.
Syukurlah, semua berjalan dengan dengan baik, aku bisa sebentar melebur di sini, lupa akan cekam seram tempat ini.
Tapi, semua berubah kembali ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat, menyisakan redup cahayanya yang perlahan ikut menghilang.
Kembali, aku merasa sendiri di tempat ini.
Untuk mengurangi perasaan yang mulai gak enak, aku nyalakan semua lampu, termasuk lampu teras mess belakang, sehingga nyaris setiap sudutnya jadi tersentuh cahaya.
Menunggu malam larut, aku duduk di ruang tengah menonton tv.
Sampai menjelang jam sepuluh, pintu depan aku biarkan terbuka dengan alasan untuk mengurangi kengerian.
ADVERTISEMENT
Tapi ternyata salah, dengan pintu terbuka malah aku jadi seperti merasakan ada “kegiatan” di depan rumah.
Beberapa kali menoleh ke luar, karena merasa seperti ada yang sedang mondar-mandir di depan, di teras. Tapi ketika dilihat, ternyata gak ada apa-apa, gak ada siapa-siapa.
Lalu seperti ada langkah kaki, dari ujung mata seperti ada yang berjalan melintas depan pintu, tapi sekali lagi ketika aku lihat langsung gak ada apa-apa.
Ah, dari pada semakin parno, akhirnya aku tutup pintunya, lalu masuk kamar mencoba untuk tidur.
Di dalam kamar, lagi-lagi aku sulit terlelap, karena memikirkan omongan Ridwan yang bilang kalau semasa hidupnya, jadwal Pak Iman datang kembali ke mess adalah minggu malam.
ADVERTISEMENT
Ya ini minggu malam, malam senin..
Entah karena memang malam sebelumnya kurang tidur atau alasan lain, tapi menjelang jam dua belas tengah malam rasa kantuk mulai hinggap, tampaknya sebentar lagi aku akan terlelap.
Benar saja, setelah itu aku gak sadarkan diri, tertidur.
Tapi sayangnya hanya sebentar, terbangun lagi karena mendengar suara, suara yang sepertinya berasal dari ruang tengah.
Krieeeeeett..
Aku mendengar suara pintu depan, ada yang membukanya.
Ketakutan kembali menyergap..
“Pak Iman datang?” Pikirku bertanya.
Setelah suara pintu, lalu muncul suara langkah kaki, langkah kaki yang masih mengenakan sepatu. Berderap langkahnya perlahan menyusuri ruang tengah.
Aku hanya bisa terdiam mendengarkan semuanya, mencekam.
Langkah kaki terus-terusan terdengar cukup lama.
ADVERTISEMENT
Tubuhku mulai merinding, gemetaran, cekam suasananya mematikan nyali.
Sampai akhirnya langkah kaki tiba-tiba menghilang, hening kembali menyelimuti.
Tapi hanya sebentar, karena ada kejadian lain mengikuti.
Pintu kamar ada yang mengetuk dari luar!
Tok, tok, tok..
Tuhan, ada apa lagi ini..
Ketukan pintu hanya sekali, tapi ternyata setelahnya lebih menyeramkan lagi. Gagang pintu bergerak-gerak sendiri, seperti ada yang sedang mencoba untuk membukanya dari luar!
Aku duduk di sudut kamar, berselimut sebatas leher, gemetar seluruh tubuh.
“Iya? Siapa ya?” Entah apa yang ada di dalam pikiran, aku tiba-tiba berani bersuara.
Beberapa detik lamanya gak ada jawaban, tapi gagang pintu masih terus bergerak pelan.
“Iman..”
Tiba-tiba ada suara dari balik pintu! Menjawab seperti itu.
ADVERTISEMENT
Aku semakin ketakutan, cekamnya di luar batas.
“Maaf Pak, saya permisi tinggal di sini.” Kembali aku nekat untuk berucap.
Kemudian, gagang pintu berhenti bergerak, langkah kaki gak terdengar lagi, hanya tinggal sesekali saja.
Malam yang panjang dan mencekam, sekali lagi aku gak bisa tidur semalaman.
Sampai akhirnya waktu salat subuh tiba.
Sambil berharap semuanya sudah selesai, aku berniat menuju kamar mandi untuk berwudu.
Tapi perkiraanku salah, ternyata masih ada, Pak Iman masih di ruang tengah, dia duduk di kursi yang menghadap ke depan rumah. Nyaliku sudah mulai tumbuh, lalu melangkah pelan berjalan di sampingnya sambil terus diam, menuju kamar mandi.
Sambil berwudu aku berdoa, semoga Pak Iman sudah gak ada di tempatnya lagi ketika aku selesai.
ADVERTISEMENT
Doaku dikabulkan, Pak Iman sudah gak ada lagi di tempatnya.
Selesailah malam menyeramkan itu.
***
Jadi, semasa hidupnya, almarhum Pak Iman memang tinggal di rumah mess itu, dan ternyata dia menempati kamar yang aku isi.
Setelah mengetahui semuanya, aku memutuskan untuk pindah kamar.
Tapi, selama aku tinggal di situ, sosok almarhum Pak Iman masih beberapa kali menampakkan diri, sampai sekarang..
***
Hai,
Balik lagi ke gw, Brii.
Selesai cerita malam ini, sampai jumpa minggu depan.
Tetap jaga kesehatan, supaya bisa terus merinding bareng.
Met bobok, semoga mimpi indah untuk yang tinggal di mess.
Salam,
~Brii~