Konten dari Pengguna

"Penumpang" Bus Trans Jakarta

BriiStory

BriiStoryverified-green

Jangan baca sendirian..

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari BriiStory tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekadar mengingatkan, berdoa sebelum perjalanan adalah hal yang harus dilakukan, meminta keselamatan kepada-Nya, supaya dijauhkan dari mara bahaya, termasuk dijauhkan dari kejadian yang menyeramkan.

Malam ini, salah satu teman akan menceritakan kisah yang dia alami ketika dalam perjalanan pulang dari kantor, menggunakan bis Trans Jakarta.

Simak di sini, di Briistory..

***

Hujan di jam 9.30 malam, menambah kesempurnaan hari kamis ini. Seharian berkutat dengan pekerjaan kantor, menyedot nyaris semua energi yang aku punya. Hanya tersisa sedikit tenaga yang bisa dikerahkan untuk perjalanan pulang.

Aku Siska, karyawati sebuah perusahaan yang berkantor di Jakarta Barat. Sudah nyaris dua tahun bekerja di tempat ini, perusahaan yang lingkungan kerjanya aku suka, cukup nyaman untuk bekerja mencari nafkah.

Rumahku di daerah Rempoa, Jakarta Selatan. Bersama Ibu dan Adik, aku tinggal di rumah yang sebenarnya terlalu besar bagi kami. Ayah sudah tiada sejak aku masih kecil, kakak satu-satunya tinggal di luar kota bersama suami dan anaknya.

Sebenarnya jarak rumah ke kantor gak terlalu jauh, hanya sekitar enam belas kilometer kalau dilihat melalui google map. Tapi ini Jakarta, yang harusnya dekat malah bisa memakan waktu lebih lama karena banyak faktor.

Aku pengguna transportasi umum, Bis Trans Jakarta (atau masih sering juga disebut busway) dan angkot menjadi tumpuan perjalanan setiap hari. Sama juga dengan malam ini, aku harus naik bis trans Jakarta menuju lebak bulus, dari lebak bulus nanti akan lanjut menggunakan angkot menuju Rempoa.

***

Sudah nyaris jam sepuluh, aku masih di lobby gedung menunggu hujan deras berhenti, atau seenggaknya mereda.

Dasar aku, di waktu yang sepertinya mulai masuk musim penghujan ini malah gak bawa payung.

"Mba Siska, pake payung ini aja, gak apa-apa. Tapi besok bawa lagi ya.. Hehe."

Pak Andi, sekuriti, tiba-tiba sudah berdiri di sampingku, menawarkan payungnya dengan senyum sumringah.

"Gak Pak, makasih. Bentar lagi juga berhenti hujannya. Hehe."

Duh, bukannya menolak rejeki, tapi payung yang Pak Andi tawarkan adalah payung hitam berukuran sangat besar, dengan gagang kayu melengkung yang besar juga, gak ah. Aku mikir bawanya besok akan repot.

Jarak antara lobby gedung kantor dan halte bis TJ gak terlalu jauh, dari tempatku berdiri sekarang ini pun haltenya sudah kelihatan. Hanya cukup berjalan kaki sebentar, lalu naik jembatan penyebrangan yang sekaligus menuju halte, sampai deh..

"Ah akhirnya reda." Bergumam sendiri aku melihat hujan yang berkurang intensitasnya.

"Pak Andi, aku pulang ya." Aku pamit ke Pak Andi yang sedari tadi sudah setia menemani.

Lalu setengah berlari aku menuju gerbang gedung, lanjut menuju jembatan penyebrangan. Untunglah, jembatan penyebrangan memiliki atap, aku jadi gak kehujanan.

Gerimis ternyata hanya sebentar, seketika berubah lagi menjadi hujan deras, aku yang sudah berdiri di depan loket bisa bersukur karena sudah berada di tempat aman dari hujan.

"Mas, masih ada kan ya bisnya?"

Sudah jam sepuluh lewat, aku memastikan lagi mengenai keberadaan bis dengan bertanya kepada mas petugas, karena di aplikasi ponsel gak terlihat ada bis yang mendekat.

"Masih ada mba, silakan ditunggu aja." Jawab mas petugas.

Ah lega mendengarnya. Duduk manis di kursi, aku menunggu kedatangan bis, sambil sesekali melihat ke jalan tempat kemunculannya.

Jam setengah sebelas lebih sedikit, hati mulai gundah gulana karna bis belum muncul juga, sementara hujan masih saja deras turunnya.

Di halte Green Garden ini hanya ada aku dan beberapa petugas yang sepertinya sudah mulai bersiap untuk pulang.

***

Sinar terang tiba-tiba muncul mendekat, kelihatan kalau itu adalah lampu dari kendaraan yang berukuran besar, sukurlah bis datang juga. Sungguh lega oerasaan ini.

Berdiri dari duduk, lalu aku mendekat ke pintu halte, menunggu bis untuk benar-benar sampai dan berhenti.

Akhirnya bis berhenti tepat di hadapan, pintunya terbuka lalu aku melangkahkan kaki untuk masuk.

Bis ini adalah bis yang panjang, jadi seperti bis gandeng, entahlah apa biasa disebutnya. Yang pasti tempat duduknya berjajar di kanan kiri, saling berhadapan, aku memilih tempat duduk yang sejajar dengan supir, gak jauh dari tempat pak supir yang sedang duduk di belakang kemudi.

Sementara petugas Trans Jakarta yang satu lagi berdiri di dekat pintu paling belakang.

Bis mulai berjalan perlahan meninggalkan halte, sementara hujan masih turun cukup deras.

Sepertinya ini bis terakhir, terlihat dari penumpangnya yang sangat sedikit, aku menghitungnya hanya ada empat orang selain aku, tiga laki-laki di badan bis belakang, satu perempuan duduk di kursi yang berseberangan dengannku, kursi khusus penumpang wanita.

Seperti biasanya, lampu di dalam menyala terang, dengan begitu aku dapat melihat dengan jelas ke setiap bagian bis.

Dalam gelapnya malam yang semakin larut, kami membelah barat Jakarta menuju bagian selatan, menyusuri jalan yang biasa disebut dengan jalan panjang.

Ponsel ditangan menjadi fokusku untuk menghabiskan waktu. Bukan kebetulan, di malam jumat memang biasanya adalah waktu untuk membaca cerita seram yang ada di twitter, cerita dari mas @briistory sudah menjadi langganan bacaanku.

Bis sudah sangat sepi, karna dua penumpang sudah turun, jadi hanya tinggal aku dan penumpang laki-laki yang duduk di kursi paling belakang. Pada bagian depan, hanya ada aku dan pak supir.

Sekali lagi, hujan masih turun sangat derasnya.

***

Nyaris sudah setengah perjalanan, beberapa halte perhentian sudah terlewati, aku masih fokus membaca ceritanya mas Brii.

Tapi, ternyata pada saat inilah peristiwa seram mulai terjadi.

Ketika mata masih terus mengarah ke layar ponsel, tiba-tiba seperti ada sesuatu yang mengganggu perasaan. Waktu itu posisi bis sedang berhenti di halte salah satu rumah sakit, entah kebetulan atau gimana tapi saat itu bis berhenti cukup lama, gak seperti biasanya.

Kalian pernah kan merasa kalau seperti ada yang sedang memperhatikan kita? Walaupun gak/belum melihat langsung ke siapa pun yang mungkin memang sedang memperhatikan, tapi perasaan mengatakan demikian. Pernah kan?, nah aku merasakan hal seperti itu, seperti ada yang sedang memperhatikan..

Yang pertama kali aku lakukan adalah melihat sekeliling, pandangan menyapu ke seluruh sudut bis. Masih sama, situasi masih sepi, hanya ada aku dan penumpang laki-laki yang sedang tidur di kursi paling ujung belakang. Suara hujan deras yang sesekali disertai petir jadi semakin jelas terdengar karena pintu bis dalam keadaan terbuka.

Ketika pandangan kembali mengarah ke depan, saat itulah akhirnya aku menemukan ada seseorang yang sedang memperhatikan..

***

Ada perempuan sedang berdiri di atas tangga menuju jembatan penyebrangan, jembatan yang sekaligus dipergunakan untuk jalan menuju halte bis.

Aku sama sekali gak mengenali perempuan itu, gak kenal.

Dia hanya berdiri diam menghadap ke arah bis, aku berpikir mungkin dia sedang berteduh dari hujan yang memang turun semakin deras. Kalau memang hanya berteduh, aku gak akan memperhatikan dia juga, yang sedikit membuat creepy ternyata wajahnya, pandangannya, mengarah ke aku, memperhatikan aku.

Cukup menyeramkan, jarak kami memang gak terlalu dekat, tapi lampu penerangan di atas tempat dia berdiri masih menyala terang, cukup membuatku untuk dapat melihat jelas wajah dan penampilannya.

Rambutnya panjang tergerai, mengenakan gaun hitam panjang. Beberapa detik kami saling berpandangan.

Lalu, seperti tersadar, aku langsung menundukkan wajah ketika senyum mulai mengembang di wajahnya yang pucat dan sedikit basah seperti kena serpihan air hujan.

Merinding melihatnya..

Untunglah, kemudian pintu tertutup lalu bis mulai berjalan lagi.

Detik berikutnya, karena penasaran, aku memberanikan diri untuk melihat kembali ke perempuan itu.

Ternyata dia masih berdiri di tempatnya, dengan wajah terus mengikuti pergerakan bis yang bergerak semakin menjauh, memperhatikan dengan senyum yang masih mengembang.

***

Ah bukan apa-apa, mungkin itu hanya seorang perempuan yang mengira kalau aku kenal dengannya. Itu yang ada di pikiranku, mencoba menghilangkan rasa cemas yang mulai timbul.

Gak berapa lama kemudian, bis kembali berhenti di Halte ITC permata hijau.

Kali ini bis berhenti hanya sebentar, karna memang gak ada penumpang yang naik atau turun.

Tapi, walaupun hanya beberapa detik berhenti, ada kejadian aneh lagi yang terjadi..

Ketika bis berhenti, aku melihat sesuatu.

Gak persis di hadapan, tetapi pintu bis yang berada di depan tempat aku sedang duduk memiki kaca, dari kaca itu aku dapat melihat ke luar.

Nah, melalui kaca itulah aku melihat sesuatu, seseorang..

Aku melihat perempuan itu lagi, perempuan yang tadi berdiri di tangga halte. Penampilannya sama persis, kali ini penerangan gak sebagus ketika pertama kali melihat dia, tapi dalam remang aku yakin kalau itu orang yang sama.

Dia berdiri di bawah pohon, di atas separator jalan, di bawah derasnya hujan yang masih turun cukup deras.

Sekali lagi, dia berdiri diam memperhatikan, sekilas aku dapat melihat senyum di wajahnya.

Hanya beberapa detik, kemudian bis kembali berjalan..

Kecemasan semakin membuncah, rasa takut mulai timbul, tapi tetap saja aku memaksa otak untuk mengusir pikiran seram di kepala.

***

Di halte-halte berikutnya masih belum ada juga penumpang yang naik, padahal aku berharap semoga ada penambahan penumpang, mengurangi keheningan bis yang semakin lama sepertinya semakin mencekam.

Ah, semoga hanya pikiranku aja..

Mall Gandaria City masih kelihatan ramai, sepertinya karna bertepatan dengan jam pulang para karyawannya. Gak lama setelah mall, bis mulai masuk underpass, terowongan bawah yang agak panjang.

Di tengah-tengah terowongan, tiba-tiba lampu di dalam bis mati total, entah kenapa, seketika itu pula keadaan menjadi gelap gulita. Tapi hanya beberapa detik, setelahnya lampu kembali menyala.

Sukurlah, bikin kaget aja..

Nah, ketika lampu kembali menyala, aku kembali terkejut, ketakutan.

Dari sudut mata sebelah kiri, aku seperti melihat ada penumpang baru, sedang duduk di ujung belakang. Reflek, aku langsung melihat ke belakang.

Astaga, ternyata perempuan bergaun hitam itu sedang duduk di kursi belakang, berdekatan dengan penumpang laki-laki yang sedang tertidur pulas..

Dia duduk diam, kali ini wajahnya menghadap ke depan, ke jalan raya, gak sedang memperhatikan aku.

Aku ketakutan, karna sangat yakin kalau sebelum insiden lampu mati tadi gak ada satu pun penumpang yang naik..

Jantung berdegup kencang, ketakutan, tapi masih mampu bergeser posisi duduk untuk lebih dekat lagi ke Pak supir.

Gak berani melihat lagi ke belakang, aku arahkan pandangan terus ke depan, ke jalan raya yang masih saja terguyur hujan.

***

Selepas halte mall pondok indah, bis semakin mendekat ke terminal lebak bulus, aku masih belum berani melihat ke belakang. Sialnya, sepertinya belum ada satu pun penumpang yang naik. Setiap halte yang kami lalui selalu dalam keadaan kosong.

Memasuki perumahan pondok indah, suasananya gelap, karena lampu gak sebanyak ketika kami melewati mall, apalagi kalau sudah mendekat ke bundarannha, sungguh gelap.

Ketika keadaan di luar gelap itulah, walaupun gak secara langsung tapi aku dapat melihat isi bis dari pantulan kaca depan, sampai ke bagian paling belakang.

Saat melihat pantulan dari kaca itu, aku mulai menangis pelan, ketakutan, merinding sekujur badan..

Dari pantulan kaca, aku melihat kalau perempuan itu ternyata masih ada di dalam bis, tapi sudah berpindah tempat. Dia duduk jadi lebih mendekat ke tempatku, persis di samping pintu keluar. Jarak kami hanya beberapa meter, dipisahkan oleh beberapa kursi dan pintu.

Sekelebatan, aku melihat dia tetap duduk diam menghadap lurus ke depan..

Tuhan, aku takut..

Perjalanan dari pondok indah ke terminal lebak bulus yang gak terlalu jauh, jadi terasa sangat panjang..

***

Akhirnya bis berhenti di lebak bulus.

Belum berani melihat ke belakang..

Nekat aku menggedor sekat pembatas yang memisahkan penumpang dengan kabin supir.

"Pak, aku boleh keluar dari pintu itu aja?"

Sambil menangis aku meminta ijin Pak supir untuk turun melalui pintunya.

Sukurlah, beliau mengijinkan. Aku langsung masuk ke kabin supir.

"Ada apa mba?" Tanya pak Supir.

"Saya takut Pak, ada penumpang seram." Jawabku pendek sambil gemetar.

Lalu aku keluar dan berjalan meninggalkan bis.

Setelah sedikit sudah menjauh, aku memberanikan diri untuk melihat ke belakang, ke arah bis.

Perempuan itu masih ada, dia sudah berdiri di depan pintu, memperhatikan aku sambil tersenyum..

***

Sekian dulu cerita kali ini ya..

Yang masih di perjalanan, hati-hati di jalan.

Salam

~Brii~