Konten dari Pengguna

Rumah Hantu di Perkebunan Karet (1)

BriiStory

BriiStoryverified-green

Jangan baca sendirian..

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari BriiStory tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Karena Hantu, Rumah Tak Laku. Foto: Dok. kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Karena Hantu, Rumah Tak Laku. Foto: Dok. kumparan

Satu

Panggilan Wawancara Pekerjaan

Semarang, Februari 1990.

Aku bahagia bukan main, hati berbunga-bunga, harapan untuk diterima pada perusahaan milik pemerintah tampaknya akan segera terwujud. Di tangan, aku menggenggam surat panggilan wawancara dari perusahaan perkebunan yang dimiliki oleh pemerintah. Aku tidak terlalu memikirkan di mana akan ditempatkan, melihat tulisan instansi pemerintah di kepala suratnya saja sudah senang bukan kepalang.

Setelah setengah tahun lebih bekerja sebagai supir ambulan rumah sakit, akhirnya aku berkesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan sesuai dengan pendidikan yang telah ku selesaikan.

“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri Her?”

Fuad yang tiba-tiba muncul dari balik pintu membuyarkan pikiranku yang tengah melayang senang tak karuan.

“Ada panggilan wawancara Ad, dari perusahaan perkebunan pemerintah, Alhamdulillah.”

“Ah Sukurlah, kapan Her? Wawancaranya di mana?”

“Di Jakarta Ad. Jadi sepertinya aku akan meminta ijin dari rumah sakit untuk tidak bekerja selama beberapa hari.”

***

“Hati-hati bekerja di tengah hutan seperti itu, apa lagi itu perkebunan karet yang baru dibuka kembali, rangkul penduduk sekitar. Yang sabar, ini adalah pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan kamu.”

Begitu kata Kak Imron, kakak pertama, beliaulah yang sedikit banyak membantu biaya sekolah dan kuliahku. Beliau tinggal menetap di Cilegon, kota indurstri yang jaraknya tidak begitu jauh dengan Jakarta. Aku tinggal di rumahnya ketika menunggu pengumunan tes masuk dan wawancara di perusahaan perkebunan itu.

Sukurlah, penantian dan harapanku akhirnya terwujud, akhirnya aku diterima di perusahaan itu. Posisi yang akan aku emban adalah pengawas perkebunan, nantinya akan diberi tanggung jawab atas beberapa ribu hektar perkebunan karet. Perkebunan yang baru saja diambil alih oleh pemerintah setelah sebelumnya terbengkalai pengelolaannya oleh pihak swasta.

Perkebunan karet yang akan menjadi tempat bekerja aku ini letaknya di pedalaman Sumatera, di Propinsi Lampung tepatnya. Aku tidak terlalu memperdulikan tentang penempatan itu, aku sudah sangat senang akhirnya menjadi pegawai pemerintah.

Iya, Aku sangat senang.

***

Selama tiga bulan lamanya aku diberi pelatihan kerja yang penempatannya beberapa kali berpindah tempat, terkadang di Bogor, Bandung, sampai ke Kalimantan. Semua aku jalani dengan senang hati, semua pelatihan dan tes tertulis aku lalui dengan baik, aku puas dengan Hasilnya mengesankan, termasuk peserta pelatihan yang nilainya terbaik.

Akhirnya manajemen perusahaan menilai kalau aku sudah layak untuk diterjunkan langsung di perkebunan tempat aku akan ditugaskan.

Sekali lagi bersukur, akhirnya semua proses sudah aku lalui dengan baik, akhirnya sudah dapat mulai bekerja.

Garis hidup seperti sudah menuntunku untuk bekerja dan mengerahkan segala ilmu yang aku dapat di bangku kuliah pada perkebunan karet. Padahal nantinya, ternyata bukan hanya ilmu pengetahuan yang harus aku andalkan, tapi juga nyali..

***

“Her, kamu nanti di sana akan tinggal di satu rumah yang sudah manajemen siapkan, semua sudah tersedia, kamu hanya tinggal mengisinya saja.”

Begitu kata atasanku di kantor pusat.

“Letak rumahnya di tengah perkebunan karet milik kita, letaknya kira-kira satu jam perjalanan menggunakan motor dari kota terdekat. Di kota kecil itu kamu akan ditemui oleh orang lokal yang akan mengantar kamu ke lokasi.”

Lanjut sang atasan,

Kata beliau juga, aku akan dibantu oleh seorang pekerja yang akan menjadi asistenku nantinya, Wahyu namanya.

Nyali agak sedikit melemah ketika tahu kalau rumah yang akan aku tempati nanti ternyata belum dialiri listrik, kami hanya akan mengandalkan lampu petromak dan lampu templok untuk penerangan, yang tentu saja sudah disediakan oleh perusahaan. Tapi memang, perkebunan-perkebunan lain yang masih di bawah naungan perusahaanku ini hampir seluruhnya belum ada aliran listrik.

Iya, perusahaan milik Negara ini membawahi banyak perkebunan yang tersebar di seluruh Indonesia, nyaris semuanya berada di pedalaman. Nah, perkebunan karet yang akan menjadi tanggung jawabku ini adalah perkebunan karet yang baru saja diambil alih dari pihak swasta, perkebunan ini terbengkalai dan tidak terurus sebelumnya.

Tugasku adalah mulai merapihkannya lagi, dari awal hingga nantinya bisa menjadi penghasil karet seperti perkebunan-perkebunan lainnya.

Begitulah..

Perusahaan ini memberikan banyak fasilitas dan tunjangan yang sangat didambakan oleh para pencari kerja seperti aku ini. Sangat jauh perbedaannya dengan pekerjaan sebagai supir ambulan yang aku jalani sebelumnya.

Gaji yang diberikan jauh lebih besar dari perkiraanku, tunjangan yang ada sangat bisa membuatku tersenyum. Tempat tinggal disediakan, ada tunjangan makan, tunjangan kesehatan, tunjangan pensiun, semuanya ada, aku hanya tinggal bekerja sebaik mungkin.

***

“Hati-hati ya Om, nanti ajak Brii ke tempat kerja om Heri ya.”

Brii, keponakanku, bilang begitu ketika aku berpamitan dengan dia dan kedua orang tuanya untuk pergi berangkat ke tempat bekerjaku yang baru.

“Iya Brii, nanti om ajak kamu ke sana ya.”

Aku sangat dekat dengan keponakanku yang satu ini, anaknya cerdas dan pemberani, walaupun umurnya masih sepuluh tahun.

Selesai berpamitan, aku pun menaiki bis lintas Sumatera yang sudah siap berangkat.

Dari Cilegon, perjalanan kira-kira sembilan sampai sepuluh jam sampai ke tujuan, yaitu kota kecil tempat di mana aku akan menemui sesorang yang menjadi perwakilan perusahaan di sana.

Akhirnya, perjalananku dimulai.

Awal perjalanan yang nantinya akan menjadi kisah yang sangat panjang, perjalanan yang akan menjadi penggalan brutal yang ada di dalam hidup.

***

Belum serem ya? sabar...baru juga Bab 1.

Kalo gak sabar silakan tengok post dan threadnya di Twitter @briistory atau IG @brii_story, atau beli bukunya di Toko Buku terkemuka, atau enaknya beli dari rumah aja, bisa cari di online shop atau marketplace terkemuka di tanah air dengan kata kunci "Rumah di Perkebunan Karet".

Tetap sabar, jaga kesehatan biar bisa merinding bareng terus.