Konten dari Pengguna

Rumah Hantu di Perkebunan Karet (2)

BriiStory

BriiStoryverified-green

Jangan baca sendirian..

comment
9
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari BriiStory tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Karena Hantu, Rumah Tak Laku. Foto: Dok. kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Karena Hantu, Rumah Tak Laku. Foto: Dok. kumparan

Dua

Suara sapu lidi

Juli 1990.

Langkah kaki pertama sudah jatuh di tanah Sumatera, tepatnya di kota kecil yang berada di pedalaman provinsi Lampung.

Sengaja aku naik bis malam, perjalanan menjadi tidak terasa karena dapat tidur sepanjang jalan. Tapi akibatnya, masih pagi buta aku sampai di tujuan, jam empat pagi sudah berdiri di pinggir jalan di kota yang sama sekali belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Di kota ini, nantinya aku akan menemui relasi perusahaan yang akan menjadi pemandu selama bekerja nantinya, namanya Pak Rusli. Berbekal alamat yang tertulis pada secarik kertas, aku akan datang menemui dia di rumahnya. Tapi hari masih sangat gelap, aku tidak mungkin datang ke rumahnya saat ini juga.

Maka dari itulah yang pertama kucari terlebih dahulu adalah Masjid atau musala, untuk mendirikan salat dan sebentar beristirahat setelahnya.

Kota kecil ini masih sangat sepi, sangat jarang motor atau mobil melintas. Dengan tas gendong di punggung aku menyusuri jalan, semilir angin dingin menerpa wajah yang masih sangat mengantuk karena kualitas tidur yang buruk selama perjalanan tadi.

“Masuk ke gang itu saja mas, gak jauh di dalamnya ada Musala, kalau masjid masih jauh.”

Begitu kata seorang bapak yang kutemui ketika aku bertanya letak masjid atau musala terdekat.

“Terima kasih Pak.”

Lalu aku mengikuti petunjuknya.

Benar saja tidak jauh dari pintu gang yang dimaksud, aku sudah menemukan musala kecil yang masih kelihatan kosong dan gelap.

Duduk di terasnya, aku mengeluarkan botol minum yang terselip di dalam tas sejak tadi, menghela napas panjang, menunggu orang-orang sekitar untuk datang dan melaksanakan salat.

***

“Mas, mas, bangun mas.”

Ah aku ketiduran di teras musala, yang ternyata sudah ada beberapa orang yang bersiap untuk salat.

“Iya Pak, terima kasih, maaf saya ketiduran.” Jawabku.

“Iya, Gak apa-apa. Silakan ambil wudu dulu, sebentar lagi mulai.”

Lalu aku bergegas ke belakang untuk mengambil air wudu.

Musala ini walaupun kecil tetapi terbilang rapi dan bersih, bentuknya sederhana, berlantaikan semen keras dan mengkilat, tampak jelas kalau benar-benar terawat.

Sekitar lima belas orang yang hadir di dalamnya, masing-masing ada yang duduk sambil berzikir ada pula yang sedang melaksanakan salat sunah. Hingga akhirnya salah satu orang berdiri dan mengumandangkan adzan, waktu salat subuh sudah tiba.

***

“Memang mas dari mana mau ke mana? Sepertinya dari jauh.”

Salah seorang Bapak bertanya kepadaku ketika aku sedang duduk di teras sambil memakai sepatu.

“Saya datang dari Jawa Pak, ke sini akan bekerja di perkebunan karet yang katanya gak terlalu jauh dari kota ini.” Jawabku kemudian.

“Oh, Saya tahu, berarti mas mau ketemu Pak Rusli ya?”

“Loh kok Bapak tahu? Bapak kenal Pak Rusli?” Tanyaku bersemangat.

“Sebentar lagi orangnya keluar, mungkin masih berdzikir di dalam.”

Begitu penjelasan Bapak itu, ternyata dari awal aku sudah salat bersama dengan Pak Rusli di dalam musala, kebetulan yang sangat menyenangkan.

Benar saja, tidak lama kemudian ada sosok laki-laki yang berjalan mendekat ke arah kami, sosok tinggi besar dengan kumis hitam lebat menghiasi wajahnya. Dari jauh beliau sudah melemparkan senyum ramah.

“Pak Heri ya? Yang akan bekerja di perkebunan karet kan? Saya Rusli.”

Benar, itu Pak Rusli. Dia memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman.

“Saya dari tadi sudah menduga kalau orang asing ini adalah Pak Heri, dan ternyata benar hehe..”

Lagi-lagi Pak Rusli menjelaskan sambil tersenyum ramah, sangat berbeda dengan perawakannya yang terkesan galak dan menyeramkan.

“Iya Pak, saya Heri, tadinya mau langsung ke rumah Pak Rusli tapi urung karena masih terlalu pagi.”

Kami bersalaman, dan melanjutkan berbincang berkenalan.

“Kalau begitu, kita sambil berjalan ke rumah saja Pak, kita ngobrol di rumah saja.” Begitu kata Pak Rusli, lalu aku mengiyakan ajakannya.

Selang sekitar sepuluh menit kemudian, kami sudah sampai di depan rumah besar dengan halaman luas, rumah yang tidak terlalu jauh dari jalan utama lintas Sumatera.

“Nah, ini rumah saya, mari masuk.”

Di dalam, aku disambut oleh istri pak Rusli yang dengan sangat ramah mempersilakanku untuk duduk.

Di ruang tamu, aku dan Pak Rusli melanjutkan perbincangan.

Menurut beliau, perusahaanku sudah menghubunginya lewat telepon kemarin, menginformasikan kalau aku akan tiba hari ini. Makanya dia sangat yakin kalau orang asing yang ada di musala tadi adalah aku, karena kota tempat dia tinggal ini termasuk kota kecil, kalau ada orang luar kota yang datang bisa dipastikan akan kelihatan jelas.

“Jadi Pak, perkebunan tempat Pak Heri bekerja ini adalah perkebunan yang tadinya terbengkalai dan tidak terurus. Bertahun-tahun dibiarkan liar dan tidak terawat oleh perusahaan swasta yang memilikinya. Sampai akhirnya pemerintah mengambil alih, karena mereka yakin kalau perkebunan ini masih memiliki prospek yang bagus.”

Panjang lebar Pak Rusli menjelaskan tentang perkebunan karet yang akan menjadi tempatku bekerja.

“Saya dengar dari manajemen, tiga bulan belakangan ini sudah ada pekerja yang mulai membersihkannya ya Pak?” Tanyaku kemudian.

“Benar, sudah ada beberapa pekerja yang membersihkannya, yang diawasi oleh karyawan perkebunan yang nantinya akan menjadi asisten Pak Heri di sana, Namanya Wahyu.”

“Saya juga yang waktu itu mengantarkan Wahyu dan memperkenalkan dengan para pekerja perkebunan.” Jelas Pak Rusli.

“Lalu, saya nanti tinggal di mana Pak?” Tanyaku.

“Nah, Pak Heri nanti tinggal di satu rumah yang agak besar. Rumah lama yang bangunannya masih bagus, letaknya berada di Sisi perkebunan, gak di tengah-tengah. Pak Heri hanya tinggal membawa pakaian dan keperluan pribadi saja, karena semuanya sudah tersedia di rumah itu, dari tempat tidur sampai perlengkapan dapur, semuanya sudah ada.”

Menurut pak Rusli, Wahyu sudah tinggal di rumah itu selama tiga bulan terakhir, sendirian. Beberapa kali juga dia datang berkunjung ke rumahnya, sekadar untuk berbincang dan laporan mengenai keadaan perkebunan.

Jarak antara rumah Pak Rusli dan perkebunan sekitar satu jam.

“Oh iya, Motor itu yang nantinya akan Pak Heri pergunakan sehari-hari di perkebunan.”

Jari tangan Pak Rusli menunjuk ke satu motor yang terparkir di halaman rumahnya, motor yang kelihatannya masih baru, motor lelaki dengan tangki bensin di depan, motor kopling yang persis bentuknya dengan motor kesayanganku di Semarang dulu.

“Kalau Pak Heri sudah siap, kita bisa berangkat sekarang. Tapi habiskan dulu itu kopinya, hahahaha..”

Gelak tawa Pak Heri membuatku semakin terjaga.

Menyeruput kopi pagi dengan nikmatnya, namun pikiranku melayang menebak-nebak tentang situasi kondisi yang akan aku hadapi dan rasakan nantinya di perkebunan karet. Sebagian besar isi kepala bertanya-tanya seperti itu, sebagiannya lagi hanya pasrah dan berharap semoga semua akan berjalan dengan mulus dan baik-baik saja.

Semoga..

***

Roda motor menggelinding di atas jalan setapak yang membelah hutan rindang, sudah setengah jam lebih kami meninggalkan kota, menuju perkebunan. Menunggangi motor baru, aku mengikuti laju motor Pak Rusli tidak jauh di belakang.

Jalan tanah setapak yang hanya selebar kira-kira satu meter, belum terlihat banyak debu yang beterbangan karena jalan masih sedikit lembab dan basah.

Terpaan sinar matahari membentuk garis-garis berbagai ukuran menembus sela-sela pepohonan. Embun pagi masih terlihat menutup tanah dan rerumputan, membuat angin yang menampar wajahku jadi terasa sejuk dan menyegarkan, rasa kantuk yang tidak mau pergi sejak tadi menjadi berkurang.

Awal yang sangat menyenangkan hati, keadaan situasi yang jarang aku dapatkan selama ini, hutan rindang sejauh mata memandang, hijau pepohonan membuat mata menjadi seperti liburan.

Sekitar lima belas menit kemudian, pemandangan hutan selesai, berganti dengan barisan pepohonan yang tinggi menjulang, pepohonan karet.

“Ini sudah masuk wilayah perkebunan karetnya Pak.”

Sambil berteriak, Pak Rusli memberitahu kalau benar seperti dugaanku tadi, kalau kami sudah benar-benar masuk ke dalam wilayah perkebunan karet.

Sejauh mata memandang, aku hanya melihat pohon-pohon karet yang berbaris rapi membentuk garis lurus pada kanan kiri jalan yang kami lalui, jalan yang dari tadi berubah-ubah ukurannya, kadang hanya setapak kecil, terkadang bisa melebar menjadi satu meter.

Perkebunan karet ini masih kelihatan terbengkalai, rumput liar dan semak belukar masih kelihatan memenuhi sela-sela pohon, daun-daun kering masih bertebaran seperti sampah yang sedikit merusak pemandangan. Sudah terbayang betapa harus bekerja kerasnya aku nanti untuk membersihkannya.

Tapi untunglah, ketika sudah memasuki bagian perkebunan yang lain, ternyata bagian ini sudah sedikit lebih rapi dan terawat dari pada bagian yang di awal tadi.

Sudah tidak ada lagi rumput liar dan semak belukar, sela-sela pepohonan hanya ada rumput kecil dan jarang terlihat dedaunan kering.

“Sepertinya sudah mau sampai tujuan.” Begitu pikirku dalam hati.

***

“Nah, ini yang namanya Wahyu Pak.”

Begitu kata Pak Rusli ketika kami akhirnya sampai, memperkenalkan aku dengan pemuda berkulit agak gelap, rambut sedikit gondrong, menggunakan seragam perkebunan berwarna coklat.

“Iya Pak, Saya Wahyu. Waahh, akhirnya Pak Heri sampai juga ya di tempat ini. Saya jadi gak sendirian lagi di sini.”

Senyum lebar mengembang di wajah Wahyu sambil mengajakku bersalaman, menyapaku dengan ramah.

“Pak Heri, karena sudah bertemu Wahyu, saya pamit kembali ke kota ya. Ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan.”

Itulah hari pertama aku bertemu dan berinteraksi dengan Pak Rusli. Setelahnya, dalam skala waktu tertentu kami sesekali bertemu lagi perihal pekerjaan atau hal lainnya.

Setelah berpamitan, Pak Rusli meninggalkan aku berdua dengan Wahyu.

***

“Jadi, kamu selama tiga bulan tinggal sendirian di rumah ini?” Tanyaku membuka percakapan.

“Wah, nggak Pak, hanya satu minggu pertama saya tinggal di sini. Setelah itu saya mengontrak kamar di kota. Gak betah saya tinggal sendirian. Setiap hari saya pulang pergi menggunakan motor. Nah, setelah Pak Heri datang, saya berani tinggal di sini lagi, hehe” Begitu jawabnya.

Kami berdiri di depan sebuah rumah yang cukup besar, tidak berpagar, bertatapan langsung dengan perkebunan karet di depannya. Rumah yang berdiri sendirian, tidak ada bangunan lain di sekelilingnya, apa lagi rumah penduduk. Rumah yang berdiri sendiri di tengah-tengah perkebunan karet dan hutan rindang di pedalaman Sumatera.

Tidak lama berbincang di luar, lalu kami melangkah masuk. Benar, rumahnya cukup besar, ada tiga kamar berbaris di sisi kiri, memanjang sampai belakang. Di sisi kanan ada ruang tamu yang bentuknya memanjang berbatasan tembok dengan dapur di belakangnya.

Di ruang tamu ada tiga kursi yang mengelilingi meja kayu.

Paling ujung belakang sebelah kiri ada kamar mandi, di depannya ada pintu yang aku yakin kalau itu adalah pintu belakang.

Pantas saja Wahyu tidak betah, rumahnya terlalu besar kalau untuk tinggal sendirian.

Secara fisik keseluruhan, rumah ini sangat layak untuk ditempati, bersih dan rapi, ventilasi yang cukup banyak membuat udara dari luar mengalir lancar masuk ke dalam. Benar kata Pak Rusli, perabotan rumah sudah lengkap, dari tempat tidur hingga perlengkapan dapur, semua ada.

Namun, rumah di tengah-tengah perkebunan karet ini belum ada listrik, nantinya kami akan mengandalkan lampu petromak dan lampu templok yang berbahan bakar minyak tanah.

Aku membuka pintu belakang, ternyata di belakang rumah bukan pepohonan karet, tapi pepohonan bambu yang cukup banyak dan rimbun.

“Itu kebun bambu Pak. Sudah bukan termasuk wilayah kebun karet lagi, rumah kita ini berada di paling pinggirnya.”

Wahyu langsung menjelaskan ketika aku mungkin terlihat kebingungan.

“Gak jauh di belakang pohon-pohon bambu itu ada sungai besar yang mengalir, di seberang sungai itu masuk lagi ke wilayah hutan lindung Pak. Kita masih belum akan menemui rumah penduduk, masih sangat jauh. Nanti lama kelamaan Pak Heri pasti akan memahami daerah sini, hehe.”

Panjang lebar Wahyu menjelaskan, sementara aku menanggapinya sedikit saja, masih coba memetakan keadaan rumah dan sekitarnya. Tapi benar kata Wahyu, lama kelamaan aku pasti akan memahami semua.

***

Hari pertama ini, aku ingin langsung mulai bekerja, padahal tubuh masih sangat lelah akibat perjalanan jauh semalaman, aku pikir nanti malam saja istirahatnya.

Setelah mandi dan berpakaian, aku menuju ke teras depan rumah, ternyata di situ sudah berkumpul para pekerja perkebunan yang jumlahnya belasan, aku lalu memperkenalkan diri. Setelahnya mereka memperkenalkan diri juga satu persatu. Para pekerja ini usianya bervariasi, yang paling muda berumur delapan belas tahun, ada yang berumur 55 tahun juga. Beberapa pekerja sudah menjadi penyadap sejak perkebunan ini masih dimiliki oleh swasta.

Setelah perkenalan dan berbincang santai selesai, aku lalu diajak ke tempat para pekerja akan melakukan aktivitasnya.

Aku sempat melihat-lihat dan memperhatikan semuanya, keadaan situasi perkebunan, apa yang sedang dilakukan para pekerja, semuanya, Sebelum akhirnya Wahyu mengajakku berkeliling. Berboncengan kami menyusuri jalan setapak yang menghubungi setiap bagian perkebunan.

Wahyu menunjukkan cakupan wilayah yang nantinya akan menjadi tanggung jawab kami. Sangat luas, menurut informasi yang aku dapatkan dari kantor pusat sebelum berangkat ke tempat ini, wilayahnya mencapai ribuan hektar, tetapi aku diberikan keringanan hanya untuk menggarap beberapa ratus hektar saja, karena memang masih termasuk lahan garapan baru.

Sambil berkeliling, di atas motor aku memperhatikan kalau semua sisi perkebunan berbatasan langsung dengan hutan lindung. Jadi, perkebunan ini benar-benar berada di tengah hutan, hutan yang berada di pedalaman.

“Sebagian wilayah perkebunan sudah kami bersihkan Pak, sudah siap untuk melaksanakan proses selanjutnya, menunggu perintah dari Pak Heri.”

Di sela-sela perjalanan, Wahyu menceritakan apa yang sudah dia dan pekerja perkebunan lakukan selama tiga bulan terakhir. Dan memang benar, setelah aku perhatikan beberapa wilayah memang sudah bersih dan rapi.

Perasaanku campur aduk antara senang dan bersemangat karena melihat lahan garapan yang menjadi tanggung jawabku, tapi ada perasaan aneh yang hinggap di dalam diri, entah apa.

Seharian itu aku benar-benar berkeliling perkebunan, sangat melelahkan, hingga akhirnya matahari mulai bersandar di ufuk barat, menandakan malam akan tiba. Kami pun pulang..

***

Dengan cekatan Wahyu menyalakan lampu petromak di ruang tengah dan lampu templok pada setiap kamar, suasana rumah menjadi terang.

Sementara di luar, gelap pekat sudah menutupi seluruh wilayah perkebunan, sangat sepi dan hening. Walaupun sebelumnya aku sudah menebak kalau suasananya akan seperti ini, tetapi tetap saja setelah merasakannya sendiri ada rasa sedikit mencekam yang menggoyang nyali, berujung pada timbulnya rasa takut dan khawatir.

Namun, semua perasaan yang mengganggu sedikit banyak tertutupi, ketika selepas waktu Isya aku dan Wahyu sudah mulai bersenda gurau berbincang di teras depan rumah. Untungnya, Wahyu tidak pendiam dan tertutup, dia pemuda yang senang berbincang dan bercerita banyak hal, ini secara tidak langsung semakin mempermudah prosesku beradaptasi.

Ketika duduk di teras, pemandangan yang ada di hadapan gelap pekat, hanya terlihat siluet pohon-pohon karet dan rumput ilalang di sela-selanya.

“Pak Heri nanti tidur di kamar tengah aja, lebih besar. Saya tidur di kamar depan.”

Begitu kata Wahyu, aku mengiyakan.

Melelahkannya hari itu, sekitar jam sembilan malam kami menyudahi berbincang, mencoba untuk tidur lebih awal lalu masuk ke dalam rumah.

***

Persis di depan kamarku ada ruang tengah, sementara Wahyu di kamar sebelah kanan. Satu kamar yang lain ada di bagian belakang, berdekatan dengan dapur dan kamar mandi.

Wahyu mematikan lampu petromak, hanya lampu templok di kamar yang dibiarkan menyala.

Setelahnya, kami masuk ke kamar masing-masing, mencoba untuk tidur.

***

Rencananya, aku berniat untuk beristirahat dan tidur lebih awal, tapi ternyata kenyataan berlangsung lain.

Sudah jam dua belas malam aku masih terjaga, tubuh sudah sangat lelah tetapi kantuk belum datang juga. Tidak ada yang dapat dilakukan di kamar ini selain melamun dan terus coba memejamkan mata.

Hembusan angin malam masuk melalui sela-sela lubang jendela, Jendela kamar yang langsung berbatasan dengan pepohonan karet di luar, anginnya dingin menusuk tulang.

Aku terus saja berdiam diri memandang langit-langit.

Suara binatang malam bersahutan silih berganti, suara yang sebenarnya tidak mengganggu, malah seharusnya bisa meninabobokan.

Hingga akhirnya pendengaranku menangkap suara yang membuat rasa kantuk menghilang seluruhnya, ada lolongan anjing hutan dari kejauhan. Awalnya terdengar jarang, tapi lama kelamaan semakin sering terdengar, dan sepertinya semakin dekat. Ada yang tidak lazim..

Lalu lolongan itu tiba-tiba berhenti. Begitu juga dengan suara-suara binatang malam lainnya, menghilang..

Suasana menjadi sangat hening dan sepi.

Keheningan yang berlangsung cukup lama.

***

Sreek,srek,sreeek.”

Jarum jam sudah menunjuk di angka satu, ketika aku mendengar suara itu, suara yang menarik perhatian. Dengan posisi masih berbaring di atas tempat tidur, aku terdiam sambil coba menajamkan pendengaran.

Sreeek, sreek, sreeek.”

Suara itu kembali terdengar.

Beberapa saat kemudian, aku langsung terkesiap, ketika tersadar kalau suara itu sepertinya adalah suara sapu lidi yang bergesekan dengan tanah.

Seperti ada yang sedang menyapu menggunakan sapi lidi, di luar, dekat jendela kamar.

Siapa yang menyapu halaman tengah malam begini? Wahyu kah? Ah sepertinya tidak mungkin.

Lalu perlahan aku bangkit mendekati jendela, mencoba memastikan keberadaan suara itu.

Setelah sudah benar-benar berdiri di dekat jendela, suara itu terdengar lagi.

Sreeek, sreek, sreeek.”

Rasa penasaran yang memuncak, akhirnya aku mengintip ke luar melalui sela-sela lubang jendela. Tapi belum bisa melihat apa-apa, hanya gelap gulita, tidak ada apa-apa, namun suara sapu lidi itu terus saja terdengar.

Karena masih penasaran, akhirnya perlahan aku membuka jendela.

Sedikit demi sedikit jendela mulai terbuka..

Ketika sudah ada celah yang cukup besar, barulah aku dapat melihat dengan lebih jelas. Pada saat itu akhirnya aku dapat melihat sesuatu yang dari tadi menghasilkan suara.

Benar, ternyata ada sosok yang sedang menyapu menggunakan sapu lidi, dan itu bukan Wahyu.

Aku melihat sosok seperti seorang nenek dengan rambut panjang dan berwarna putih, tubuhnya membungkuk bergerak seperti sedang menyapu, membelakangi aku yang masih diam berdiri di balik jendela.

Sosok nenek itu mengenakan baju kebaya dengan kain coklat sebagai bawahannya, dengan beberapa potong kayu bakar terikat di punggungnya.

Sontak aku langsung merinding, ketakutan, ketika sadar kalau sosok itu sangat mungkin bukan manusia.

Perlahan aku mulai menutup jendela. Saat itulah ketika aku melihat nenek itu mulai membalikkan badannya perlahan..

Tangan kanan yang sedang menutup jendela tiba-tiba berhenti bergerak, karena perlahan wajah nenek itu mulai terlihat, semakin lama semakin jelas.

Walaupun situasi sangat gelap, tetapi jarak kami cukup dekat, cukup dekat buatku untuk melihat dengan jelas wajah nenek itu.

Wajah pucat dengan lingkar mata yang hitam, kami saling bertatapan, hingga akhirnya dia tersenyum seperti menyeringai, dan mengeluarkan suara seperti tawa cekikikan.

Mengerikan..

Aku langsung menutup jendela rapat-rapat dan menguncinya.

Bergegas kembali ke tempat tidur dan menutup tubuh dengan selimut dari kaki hingga kepala, sementara suara sapu lidi nenek itu terus terdengar dari luar, sesekali diiringi dengan tawa ringkih yang terdengar pelan.

Aku sangat ketakutan tapi tidak bisa dan tidak tahu harus berbuat apa.

Suara lolongan panjang anjing semakin menambah mencekam suasana.

Keadaan itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya sekitar jam tiga pagi semuanya berhenti, setelah itulah aku akhirnya baru bisa terlelap.

***

Peristiwa tadi malam tidak aku ceritakan kepada Wahyu, masih kusimpan sendiri, khawatir nantinya dia akan menjadi takut.

Lagi pula hari-hari berikutnya aku sudah mulai sibuk akan rutinitas yang sangat memakan waktu, pikiran, dan tenaga, sedikit banyak semua itu dapat mengalihkan perhatianku dari peristiwa yang terjadi ketika malam pertama tinggal di rumah perkebunan karet ini.

Walaupun hari-hari berikutnya, suara nenek sedang menyapu lidi itu beberapa kali masih kerap terdengar lengkap dengan suara tawa ringkihnya, dalam ketakutan aku coba untuk selalu mengabaikan, sampai akhirnya kegiatan nenek itu berhenti dengan sendirinya.

***

eh gimanaaa...udah dapet getaran merindingnya? Kalo gak sabar sama lanjutannya sila periksa post dan threadnya di Twitter @briistory atau IG @brii_story, atau beli bukunya di Toko Buku terkemuka, atau enaknya beli dari rumah aja, bisa cari di online shop atau marketplace terkemuka di tanah air dengan kata kunci "Rumah di Perkebunan Karet".

Tetap sadar, jaga kesehatan biar bisa merinding bareng terus.