Entertainment
·
5 Agustus 2020 12:01

Rumah Hantu di Perkebunan Karet (7)

Konten ini diproduksi oleh BriiStory
Rumah Hantu di Perkebunan Karet (7) (45290)
Ilustrasi rumah hantu. Foto: Shutter Stock
Tujuh
Jenazah di sungai belakang
Wahyu berjalan berjalan torgopoh-gopoh mendekat ke arahku yang sedang duduk di bawah salah satu pohon karet. Ketika aku dan para pekerja baru saja selesai membereskan peralatan.
ADVERTISEMENT
"Pak, ada orang meninggal tenggelam di sungai belakang." Ucap Wahyu sambil tersengal-sengal.
"Tenggelam? Siapa yang tenggelam Yu?" Tanyaku penasaran.
"Orang dari kampung hulu sungai Pak, tenggelam dan hanyut, jenazahnya ditemukan di sungai belakang." Wahyu menjelaskan.
Lalu kami bergegas berjalan menuju bagian sungai yang dimaksud oleh Wahyu. Tidak terlalu lama, setelah melewati pepohonan bambu, akhirnya kami sampai di tujuan. Ternyata benar, tiga orang terlihat berdiri di pinggir sungai, mengelilingi satu jenazah yang belum tertutup oleh apa pun, tergeletak begitu saja di atas bebatuan.
Jenazah laki-laki muda, berumur sekitar dua puluh tahun, rambut hitam agak gondrong tidak beraturan, mengenakan kaus tanpa lengan berwarna biru muda, bercelana pendek hitam.
"Bapak yang mandor di perkebunan karet di atas ya?"
ADVERTISEMENT
Salah satu orang yang bertanya kepadaku yang baru saja sampai.
"Iya Pak, ini Wahyu rekan saya. Ini yang meninggal pemuda mana Pak?"
Aku menjawab sambil tersenyum, diakhiri dengan pertanyaan mengenai jati diri jenazah yang tengah terbaring di hadapan kami.
"Pemuda dari kampung hulu sungai, dia tenggelam kemarin sore sewaktu mencoba menyeberangi sungai. Sepertinya tidak bisa berenang, kemudian tenggelam."
"Sejak kemarin sore kami mencarinya, berjalan mengikuti aliran sungai, akhirnya menemukannya di sini."
Bapak itu menjelaskan semuanya. Sementara yang lain hanya diam berdiri, sesekali memandangi jenazah yang ada di depannya.
"Wahyu, coba kamu ambil kain atau selimut di rumah, untuk menutupi jenazahnya."
"Baik Pak.."
Wahyu langsung berlari kecil pulang ke rumah. Sementara aku bersama Bapak-bapak itu tetap menunggu sambil mengelilingi jenazah yang sudah tampak pucat memutih itu.
ADVERTISEMENT
“Terus nanti Jenazahnya akan langsung di bawa pulang kan Pak?” Tanyaku memastikan.
“Iya, kami akan langsung membawanya pulang. Keluarganya sudah menunggu di rumah.”
Salah satu Bapak yang ada di situ menjawab.
Kalau memang jenazah ini sudah dari kemarin sore hanyut terbawa arus sungai, berarti sudah sekitar dua puluh empat jam dia terendam air. Pantas saja tubuhnya sudah sangat pucat.
Aku adalah orang yang paling tidak bisa melihat jenazah, apalagi jenazah yang wajahnya jelas terlihat seperti peristiwa kali ini, setelahnya wajah sang jenazah akan menempel dalam pikiran dalam waktu lama.
Tidak berapa lama kemudian, Wahyu datang dengan membawa kain batik di tangan, dia menyerahkannya kepada salah satu Bapak yang ada di situ.
ADVERTISEMENT
Kemudian dengan cekatan mereka langsung membungkus si jenazah.
“Kami akan langsung membawanya pulang, terima kasih atas bantuannya.”
Salah seorang dari mereka berpamitan.
“Iya Pak, Hati-hati di jalan..”
Aku memperhatikan mereka yang langsung membopong jenazah lalu berjalan meninggalkan aku dan Wahyu yang masih berdiri di pinggir sungai.
Mereka lebih memilih melalui jalan setapak yang berada pinggir sungai, dari pada harus berjalan melewati rumah kami dan melalui perkebunan karet.
Hari sudah mulai gelap ketika lama-kelamaan mereka mulai menghilang dari pandangan, tertutup oleh rindangnya hutan yang berada di sisi sungai.
“Yuk kita pulang Yu.” Aku mengajak Wahyu untuk kembali ke rumah.
Tapi Wahyu seperti tidak mengindahkan, dia malah tetap berdiri diam, pandangannya mengarah tajam ke seberang sungai.
ADVERTISEMENT
“Ada apa Yu? Ayo kita pulang.” Sekali lagi aku mengajaknya untuk pulang.
Pak…
Wahyu hanya menyebut satu kata itu, dengan pandangan yang masih menuju ke seberang.
Penasaran dengan apa yang sedang Wahyu lihat, akhirnya aku ikut menoleh ke tempat itu, seberang sungai.
Hari sudah mulai gelap, keadaan sudah sangat sepi, tapi dari kejauhan akhirnya aku dapat melihat apa yang menjadi perhatian Wahyu sejak tadi.
Agak jauh di seberang, jaraknya sekitar lima puluh meter dari tempat kami berdiri, di bawah rindangnya pepohonan, ada beberapa sosok yang sedang berdiri diam, berdiri menghadap ke arah kami.
Terlihat ada sekitar lima sampai enam sosok yang sepertinya laki-laki, mengenakan pakaian serba hitam, nyaris berbentuk seperti siluet, mereka berdiri berbaris sejajar.
ADVERTISEMENT
Siapa mereka?
Apa yang sedang mereka lakukan?
Tidak lama kemudian gerimis hujan mulai turun.
Ayok pulang Yu, jangan perhatikan mereka lagi.”
Kali ini Wahyu menurut, lalu kami pulang ke rumah, tanpa sekali pun berani menoleh lagi ke belakang, melihat ke arah sosok-sosok yang tengah berdiri di seberang sungai.
***
Sudah beberapa kali kami melihat mereka, sosok yang selalu berpakaian serba hitam, berjumlah sekitar lima atau enam orang, terkadang malah lebih.
Kali pertama melihatnya adalah ketika mereka berjalan membawa keranda mayat pada tengah malam, pada waktu kami baru saja datang ke tempat ini. Mereka sepertinya mengetahui dan menyadari tentang keberadaan kami, selalu memperhatikan keseharian kami, entah itu siang atau pun malam. Sekali lagi, sudah beberapa kali kami melihatnya, mereka yang sering kali hanya berdiri diam memperhatikan dari kejauhan. Cukup menakutkan penampakannya.
ADVERTISEMENT
Siapakah mereka?
Pertanyaan yang belum kami temukan jawabannya.
Sebegitu ketakutannya akan sosok-sosok itu, membuat kami sangat jarang membicarakan tentang mereka.
***
Malam tiba.
Seperti yang sudah aku bilang tadi, jarang sekali kami menyinggung tentang sosok-sosok misterius itu, malam ini pun sama, kami sama sekali tidak membicarakan tentang mereka, tidak berani. Padahal sore tadi kami baru saja melihat mereka.
Kami hanya membahas tentang penemuan mayat korban hanyut yang berasal dari kampung di hulu sungai.
“Pak Heri perhatikan gak sih tadi, kalau bapak-bapak yang membawa jenazah itu semuanya berwajah pucat?, tampaknya mereka sangat kelelahan, kasihan aku melihatnya.”
Omongan Wahyu membuat pikiranku menjadi terbang kembali ke sore tadi, ketika kami berkumpul dengan bapak-bapak yang Wahyu maksud.
ADVERTISEMENT
Ternyata iya, setelah diingat-ingat lagi aku baru sadar kalau mereka semua wajahnya kelihatan pucat, benar kata Wahyu, mungkin akibat dari kelelahan setelah berjalan sehari semalam menyusuri sungai dalam rangka pencarian kerabatnya yang tenggelam.
Iya, mungkin mereka kelelahan.
***
Jam dinding berbentuk bulat dan cukup besar yang menempel di dinding di atas lemari, sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat sedikit.
Dua gelas kopi tinggal menyisakan bubuk hitam pada dasarnya.
Bahan perbincangan sudah semakin sedikit, hanya radio yang masih setia mengisi keheningan malam di dalam rumah, di perkebunan karet. Radio yang beberapa waktu sebelumnya sempat menyiarkan acara yang cukup aneh dan mengerikan.
Malam ini stasiun radio kesukaan kami sedang menyiarkan siaran berita daerah, siaran yang mengabarkan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada daerah tingkat provinsi yang kami tinggali ini. Hingga akhirnya radio memberitakan hal yang menarik perhatian kami. Penyiarnya memberitakan kabar duka, menceritakan kalau telah terjadi peristiwa yang cukup mengenaskan.
ADVERTISEMENT
Ada empat orang laki-laki yang meninggal tenggelam di salah satu sungai, jasadnya hanyut terbawa arus, ketika sang penyiar menyebutkan nama sungainya, ternyata yang dimaksud adalah sungai yang mengalir di belakang rumah.
Kami menggerakkan kepala menjadi lebih dekat dengan radio, mengubah posisi duduk agar dapat mendengar dengan lebih jelas.
"Sepertinya ini berita tentang jenazah yang tadi sore Pak." Wahyu menegaskan.
Penyiar juga bilang kalau ternyata keempat jenazahnya sudah ditemukan pada pagi hari tadi, ditemukan di anak sungai yang melintas di salah satu desa yang ada di hilir. Yang cukup mengherankan, ternyata desa yang dimaksud oleh penyiar adalah desa yang letaknya lebih jauh ke hilir sungai, lebih jauh dari anak sungai yang mengalir di belakang.
ADVERTISEMENT
Jadi, jika berpatokan dengan berita di radio, keempat jenazah yang hanyut, ditemukan bukan di sungai belakang rumah kami, tetapi masih jauh ke hilir.
Lalu bapak-bapak yang kami temui tadi sore itu siapa?
Apakah peristiwanya berbeda dengan yang ada di radio?
Entahlah, kami tidak tahu dan sedikit tidak mau tahu..
***
“Pak, saya ke kamar mandi dulu ya..” Sudah jam sebelas malam, ketika wahyu pamit untuk ke belakang.
Aku masih tetap duduk di ruang tengah sambil terus mendengarkan siaran radio, volumenya tidak terlalu keras tetapi masih dapat terdengar, sementara keadaan di luar rumah sangat sepi. Gerimis rintik hujan terdengar mulai turun, tetesan airnya berdetik jatuh di atap, membuat udara menjadi semakin dingin menusuk tulang.
ADVERTISEMENT
Tapi tiba-tiba, samar aku mendengar sesuatu, seperti ketukan pintu, pintu depan.
Aku langsung mematikan radio, mencoba lebih meyakinkan pendengaran kalau yang terdengar memang benar-benar suara ketukan pintu.
Tok, tok, tok..
Ternyata benar, ketukan itu terdengar lagi, kali ini membuatku yakin kalau itu memang ketukan pintu.
Aku berdiri, kemudian berjalan mendekati pintu..
“Siapa ya?”
Tidak ada jawaban dari luar..
Tok, tok, tok..
Pintu diketuk dari luar sekali lagi.
Karena tidak ada jawaban, aku mendekat ke jendela yang berada di samping pintu, meraih tirainya dan menggesernya sedikit. Melalui celah tirai, aku mengintip ke luar, mencari tahu siapakah gerangan yang mengetuk pintu.
Setelah celah yang terbuka sudah cukup besar, aku akhirnya dapat melihat sesuatu..
ADVERTISEMENT
Walaupun di luar terbilang sangat gelap, aku masih dapat melihat kalau ada dua orang yang sedang berdiri di depan. Aku mengenali orang yang berdiri paling dekat pintu, ternyata itu adalah bapak yang aku temui tadi sore di sungai belakang, bapak yang paling banyak bicara, aku mengenali wajahnya.
Sementara aku tidak mengenali yang berdiri di belakangnya, karena tidak berada dalam sorotan cahaya yang bersumber dari lampu dalam rumah, hanya terlihat siluetnya saja.
Mengetahui akan hal itu, aku langsung membuka pintu dan menyapa mereka.
“Oh Bapak, saya kira siapa datang malam-malam seperti ini.” Aku menyapa dengan ramah, namun mereka hanya diam tanpa bicara.
“Mari masuk Pak, gerimis di luar. Kita ngobrol di dalam saja.”
ADVERTISEMENT
Mereka tetap diam, namun bapak yang berdiri paling depan mulai tersenyum.
“Terima kasih Pak, kami hanya datang dengan maksud mengembalikan ini." Akhirnya, beliau bicara juga, sambil tangannya menyodorkan sesuatu. Dia memegang kain batik yang sudah terlipat rapi..
Beberapa detik kemudian aku baru sadar, ternyata kain batik itu adalah kain yang mereka gunakan untuk membungkus jenazah yang kami lihat di sungai tadi sore. Kain yang dibawa dan diserahkan oleh Wahyu.
“Oh iya Pak, kan bisa besok kalau memang mau mengembalikannya, gak perlu malam-malam seperti ini.” Ucapku kepada Bapak itu,
Sang Bapak hanya tersenyum kecil..
Beberapa saat kemudian, aku baru tertarik untuk memperhatikan orang yang satu lagi, yang berdiri agak di belakang. Setelah pintu rumah terbuka lebar, barulah terlihat jelas penampilannya.
ADVERTISEMENT
Seorang pemuda yang masih berumur sekitar dua puluh tahun, rambut hitam pekat agak gondrong, mengenakan kaus tanpa lengan berwarna biru muda dan bercelana pendek warna hitam.
Awalnya dia selalu dalam posisi agak menunduk, karena itulah aku masih belum bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tetapi mungkin karena tahu kalau aku memperhatikan, perlahan dia mulai mengangkat wajahnya..
Aku langsung tersadar, ketika wajah pucat nya sudah terlihat jelas.
Badanku lemas, jantung langsung berdetak tidak beraturan, bulu kuduk berdiri semua..
Ternyata dia mirip sekali dengan jenazah yang tergeletak di pinggir sungai tadi sore, aku hafal dengan wajahnya.
“Terima kasih Pak.” Ucap pemuda itu berbisik pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
Aku tidak menjawab, hanya berdiri memperhatikan keduanya dalam ketakutan. Kembali aku tersadar satu hal lagi, ternyata wajah bapak yang berdiri di depan sangat pucat, seperti orang yang sudah mati.
ADVERTISEMENT
Perlahan mereka membalikkan badan, lalu berjalan menuju pohon-pohon karet di depan rumah. Dengan langkah gontai, pelan-pelan mereka menghilang di tengah gelapnya pepohonan karet.
***
“Ngobrol sama siapa Pak? Memang ada tamu?”
Suara Wahyu membuatku terkejut dan segera tersadar, kemudian langsung menutup pintu dan menguncinya.
“Gak ada siapa-siapa Yu. Ayo kita tidur saja”
“Itu kain apa di tangan Bapak?”
“Besok saja ceritanya Yu..”
Aku letakkan kain batik di atas meja. Setelahnya, kami langsung masuk ke dalam kamar..
***
"Ada apa sih Pak?"
Wahyu tetap saja penasaran, terus memaksaku untuk menceritakan apa yang terjadi ketika dia sedang di kamar mandi.
"Besok saja Yu.." Aku bersikukuh tidak mau untuk menceritakan apa-apa.
Sementara itu suasana di luar mulai terasa mencekam, gerimis hujan masih terdengar turun, tapi selain suara hujan sama sekali tidak ada suara lain, hanya sesekali suara dahan pohon-pohon karet bersinggungan satu sama lain tertiup angin.
ADVERTISEMENT
Jam sudah hampir di pukul satu tengah malam.
Sementara kami di kamar terhanyut dalam lamunan masing-masing, masih terjaga sambil terus berharap rasa kantuk akan segera datang.
"Tadi ketika kamu di kamar mandi, ada dua orang yang datang Yu.."
Akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan kejadian yang tadi aku alami.
"Siapa yang datang Pak? Ada perlu apa datangnya malam-malam?"
"Mereka datang untuk mengembalikan kain yang kamu ambil dari rumah tadi, kain batik untuk menyelimuti jenazah." Jawabku.
"Oh, Bapak yang mana yang datang Pak? Kenapa malam-malam begini datangnya?"
Wahyu terus mencecarku dengan pertanyaan.
Aku lama terdiam, bingung untuk menjawabnya, karena yakin kalau salah satu dari dua orang itu adalah jenazah yang kami lihat tergeletak di pinggir sungai.
ADVERTISEMENT
"Yang satu adalah Bapak yang paling sering bicara." Jawabku pendek.
"Lalu, yang satu lagi Pak?"
Wahyu terus mengejarku dengan pertanyaan.
Aku sempat menarik napas panjang sebelum akhirnya memutuskan akan menceritakan semuanya kepada Wahyu saat itu juga.
Tapi belum aku mulai berbicara, tiba-tiba terdengar ada suara dari ruang tengah.
Kita dengarkan berita daerah, bersama saya …..
Radio di ruang tengah menyala dengan sendirinya, menyiarkan siaran berita daerah.
Kami hanya diam berpandangan ketika mendengar radio menyiarkan berita yang sudah kami dengar sebelumnya, yaitu berita tentang meninggalnya empat warga yang tenggelam di sungai.
Kami terus diam mendengarkan siaran radio.
"Biar saya matikan radio itu Pak, sekalian saya mau matikan lampu petromaks juga."
Wahyu kelihatan memaksa diri untuk mematikan radio meski dalam ketakutan.
ADVERTISEMENT
"Ya sudah Yu, jangan lupa periksa pintu depan, takut belum terkunci."
"Iya Pak.." Wahyu berdiri dan berjalan menuju pintu.
Dia membukanya pelan-pelan, seperti ada perang batin di pikirannya.
Setelah pintu baru terbuka setengah, Wahyu menghentikan gerakan tangannya.
Dia terdiam sambil memandang ke luar, memandang ke ruang tengah.
Pandanganku terhalang pintu dan tubuh Wahyu, aku tidak bisa melihat apa yang sedang Wahyu lihat.
"Ada apa Yu?"
Wahyu tidak menjawab, hanya diam dan terus berdiri memandangi ruang tengah.
Kemudian dia menutup pintu secara perlahan.
Setelah itu kami duduk bersebelahan, menghadap ke pintu kamar, bersandar pada tembok yang berjendela.
"Ada apa Yu?"
Kembali aku keluarkan pertanyaan yang sama.
Wajah Wahyu pucat pasi, badannya gemetar, dia sangat ketakutan.
ADVERTISEMENT
"Aaa..aaa.a..a...ada mayat di ruang tengah Pak."
Wahyu menjawab dengan suara yang nyaris berbisik, suaranya bergetar layaknya orang yang sangat ketakutan.
Aku hanya diam mendengarnya, Tidak berani mengeluarkan pertanyaan yang lain.
Kami tetap dalam posisi bersandar di dinding, tidak melepaskan pandangan sedikit pun dari pintu.
Jantung berdegup kencang, napas gemetar tak beraturan, ketika tiba-tiba pintu kamar mulai bergeser terbuka, ada yang mendorongnya dari luar.
Suara engsel pintu yang bergeser terdengar pelan namun jelas.
Sedikit demi sedikit keadaan ruang tengah mulai terlihat, situasi yang akan sangat terlihat jelas karena lampu petromaks masih dalam keadaan menyala. Suara siaran radio tetap terdengar mengiringi peristiwa yang sangat mengerikan ini.
Akhirnya, kami dapat melihat semuanya, melihat ke ruang tengah, ketika pintu sudah benar-benar dalam keadaan terbuka.
ADVERTISEMENT
Ada sosok yang berdiri menghadap ke kamar, laki-laki bercelana pendek, hanya wajah pucatnya saja yang terlihat. Hampir seluruh tubuhnya tertutup oleh kain batik, kain yang sama digunakan untuk menutup jenazah sore sebelumnya.
Benar, itu kain yang sama, karena yang berdiri pun adalah orang yang sama.
Yang berdiri depan pintu adalah orang meninggal yang terbaring di pinggir sungai, mayat itu sekarang berdiri di depan pintu dengan tubuh berbalut kain.
Sementara di belakangnya duduk tiga sosok yang juga berwajah pucat seperti mayat, mereka duduk di kursi panjang yang juga menghadap ke kamar.
Badan kami gemetar, tak bisa berteriak apa lagi melangkahkan kaki untuk melarikan diri.
Perlahan, sosok yang berdiri berbalut kain, dengan langkah gontainya berjalan masuk ke dalam kamar.
ADVERTISEMENT
Dengan wajahnya pucat dan lingkar mata yang hitam, dia tersenyum..
Senyum yang sangat menyeramkan.
Jarak kami hanya tinggal beberapa meter, ketika bau anyir mulai tercium.
Bau anyir yang membuat badanku seperti terbius.
Kepalaku pusing, seperti berputar-putar, setelah itu tidak ingat apa-apa lagi..
***
weitsss balik lagi bareng gw Brii....
Maaf ya lama sambungannya..kalo penasaran banget, yuk acak2 post dan threadnya di Twitter atau youtube @briistory atau IG @brii_story .
Atau....kalau mau versi tuntas tas tassssnya hanya bisa dibaca di bukunya, ada kok di toko buku terkemuka, atau bisa cari di online shop/marketplace terkemuka di tanah air dengan kata kunci "Rumah di Perkebunan Karet".
ADVERTISEMENT
Jaga kesehatan, jaga kewarasan, biar kita bisa merinding bareng terus.
Salam.
*Brii*