Entertainment
·
1 Juni 2020 9:39

Rumah Teteh Chapter 2 & 3

Konten ini diproduksi oleh BriiStory
Rumah Teteh Chapter 2 & 3 (184230)
Karena Hantu, Rumah Tak Laku. Foto: Dok. kumparan
DUA
Bandung, sekitar tahun 2007, udaranya masih tergolong dingin. Suhu terendah bisa menyentuh 14 derajat celsius, kabut masih sering terlihat tebal pada pagi hari.
ADVERTISEMENT
Dan yang lebih seru lagi, waktu kamar mandi kost-ku masih menggunakan bak mandi, setiap subuh permukaan airnya membeku, alias menjadi lempengan es karena begitu dinginnya. Mungkin memang dipengaruhi faktor daerah Ciumbuleuit–Dago-Dipatiukur masih termasuk wilayah Bandung bagian atas alias dataran tinggi.
Begitulah gambaran Bandung ketika itu.
***
Hujan angin disertai petir menemaniku ketika sedang mengemasi barang-barang di tempat kost yang lama. Bandung waktu itu memang sedang di berada tengah-tengah musim penghujan.
Sebenarnya cukup berat meninggalkan tempat kost-ku yang di Ciumbuleuit ini, selama tiga tahun lebih aku menempatinya. Ibu dan Bapak pemilik kost sangat baik memperlakukan aku. Walaupun terhitungnya masih keluarga jauh, tapi mereka menganggapku anak mereka sendiri.
Tapi dikarenakan keinginan untuk mencari suasana baru dan tinggal satu rumah dengan para teman dekat, aku membulatkan tekad untuk pindah ke tempat kost yang baru.
ADVERTISEMENT
Setelah barang-barang sudah terbungkus rapi aku pun pamit dan berangkat pindah ke tempat kost yang baru. Tempat di mana dua tahun kedepannya akan terjadi banyak cerita dan kejadian yang akan aku ingat seumur hidup.
Hingga kemudian, untuk kedua kalinya aku menginjakkan kaki di rumah itu, rumah besar bercat putih dengan bangunan bergaya arsitektur tahun 1980-an. Fisik bangunannya sudah bagus dan rapi, karena memang baru saja selesai direnovasi. Halamannya juga cukup luas dan bersih.
Aku mengetuk pintu, yang tidak lama kemudian ada yang membukanya.
Muncul dari balik pintu seorang perempuan dengan senyum mengembang di wajahnya.
“Hai, Aku Sisi anaknya Ibu Lusi..” ucap perempuan itu sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
Oh, ternyata Sisi,
ADVERTISEMENT
“Aku Brii, salah satu yang akan kost di sini..” jawabku dengan senyuman, sambil membalas uluran tangannya dan bersalaman. Selanjutnya aku dipersilakan masuk.
Sisi adalah anak pertama dari Tante Lusi. Perempuan berumur sekitar 21 tahun, berparas cantik, bertubuh tinggi langsing dan berambut panjang hingga menutupi punggungnya.
Itulah kali pertama aku bertemu Sisi, cukup ramah dan terlihat memiliki tingkah laku yang baik. Cukup lama kami berbincang dalam rangka memperkenalkan diri masing-masing.
Ternyata Sisi berkuliah di tempat yang sama denganku, hanya berbeda jurusan dan angkatan.
Tidak lama kemudian, muncul perempuan dari lorong tangga yang menuju lantai atas.
“Hai Mas, Aku Memi..” ucap perempuan itu sambil menjulurkan tangannya mengajak bersalaman.
“Oh..ini yang namanya Memijawabku sumringah.
ADVERTISEMENT
Memi adalah adik dari Sisi, berbeda jauh dengan penampilan kakaknya. Dia berambut pendek layaknya laki-laki, berkulit lebih gelap dari Sisi. Berpenampilan tomboi, bercelana jeans dan memakai kaus band metal, tidak ketinggalan aksesoris gelang dan cincin menghiasi tangannya. Wajah ber-makeup gotik dengan eye liner hitam di bawah mata dan hidung yang ditindik. Anak metal, penampilannya sangat berbeda jauh berbeda jauh dengan kakaknya.
Setelah itu kami bertiga melanjutkan perbincangan di ruang tengah. Banyak yang mereka ceritakan, mulai dari kampus masing-masing hingga bercerita tentang keluarga. Begitu juga denganku, menceritakan hal-hal yang menurut aku penting untuk mereka ketahui. Pada intinya, aku bilang bahwa aku dan teman lainnya yang akan tinggal di rumah ini adalah anak-anak yang cukup baik dan bisa menjaga kepercayaan yang sudah Tante Lusi berikan untuk tinggal di rumah itu.
ADVERTISEMENT
Ada yang menarik ketika kami membahas tentang hal unik yang Sisi miliki, Sisi bilang kalau dia memiliki kebiasaan yang agak aneh, yaitu “Tidur berjalan”. Iya, Sisi punya kebiasaan yang cukup menarik perhatianku, katanya dia terkadang berjalan dalam keadaan tidur.
Makanya, Sisi berpesan agar aku dan teman-teman tidak kaget apabila suatu saat melihatnya berjalan dalam keadaan tidur.
Menarik, karena sebelumnya aku sama sekali belum pernah melihat ada orang yang memiliki kebiasaan ini.
Hingga pada akhirnya di akhir perbincangan aku berkesimpulan bahwa Sisi dan Memi adalah dua perempuan muda yang menyenangkan, ramah, dan suka untuk menceritakan hal apa pun.
Setelah cukup lama di ruang tengah, aku meminta izin untuk membereskan barang-barang dan menyusunnya di dalam kamar. Selanjutnya, mereka ke lantai atas, menuju ke kamarnya masing-masing.
ADVERTISEMENT
Pada waktu memutuskan untuk tinggal di rumah itu, kami langsung membagi-bagi tempat, siapa tinggal di kamar yang mana.
Begini pembagiannya:
  • Kamar aku
  • Kosong
  • Irwan
  • Doni
  • Asep
  • Nando
Di kamarku yang berukuran kira-kira lima kali empat meter itu sudah disediakan tempat tidur, lemari pakaian, dan meja belajar. Kamar lainnya pun sudah berisi perabotan yang sama, yang membedakan adalah luasnya, kamar yang paling besar adalah kamar yang aku tempati.
Bisa dibilang kami cukup beruntung bisa tinggal di rumah itu, di samping letaknya yang cukup strategis –tidak di pusat kota, tapi bukan di pinggir kota juga— harga sewa per kamarnya pun tergolong murah, hanya setengah dari harga pasaran tempat kost di Bandung pada saat itu. Dengan harga yang sudah cukup murah itu, kami juga mendapatkan fasilitas yang lengkap, termasuk dapur dan perlengkapannya.
ADVERTISEMENT
Kami cukup senang tinggal di rumah itu, pada awalnya..
TIGA
Masih di hari yang sama, setelah cukup lelah membereskan barang-barang, selepas maghrib aku tertidur dan tidak tahu apa yang terjadi di luar kamar kemudian.
Bandung sedang turun hujan sepanjang hari, berlanjut hingga malam menjelang, memaksaku terlelap cukup lama.
Tapi sekitar jam satu malam aku terbangun..
Sekujur tubuh menggigil kedinginan, disebabkan oleh hembusan angin malam yang bertiup langsung ke badan, ternyata jendela kamar dalam keadaan terbuka, pantas saja..
Sambil menahan kantuk yang masih cukup hebat, berjalan gontai aku menuju jendela kamar untuk menutupnya. Melalui jendela itu, aku bisa melihat seluruh bagian depan rumah dengan halaman luasnya. Yang terlihat pada saat itu, suasananya masih cukup terang, terbantu dengan lampu depan yang sudah menyala.
ADVERTISEMENT
Aku masih sangat bisa memandangnya dengan jelas.
Gerimis masih saja turun dari langit, Jalan depan rumah sudah terlihat sangat sepi, tidak ada kendaraan yang melintas atau pun orang lalu lalang.
Cukup lama aku berdiri diam di depan jendela.
Lamunan terusik seketika, ketika sekilas aku melihat ada perempuan berjalan masuk ke arah lorong samping rumah. Walaupun hanya sekilas, tapi aku dapat melihatnya dengan jelas.
Perempuan dengan rambut ikal panjang sebahu, berpakaian baju terusan sebatas lutut, tapi aku tidak sempat memperhatikan raut wajahnya.
Sekilas perawakannya seperti Sisi, tapi aku berpikir kalau itu adalah teman Doni atau Asep, karena mereka memang menempati kamar yang terletak di bagian samping rumah, untuk memasukinya dapat melalui pintu di lorong samping.
ADVERTISEMENT
Tidak terlalu ambil pusing, aku langsung kembali ke niat awal, menutup jendela kamar dan juga tirainya. Kemudian aku mematikan lampu kamar dan langsung merebahkan badan di atas tempat tidur untuk melanjutkan tidur yang sempat terpotong. Badan masih terasa sangat lelah.
Dalam keadaan kamar yang gelap, hanya dibantu cahaya dari tv yang masih dalam keadaan menyala, aku memaksa mata untuk terpejam.
Tapi usahaku tidak juga kunjung berhasil, karena mendengar sesuatu yang bersumber dari lantai atas.
Ada suara yang cukup mengganggu, aku mendengarnya seperti suara langkah kaki..
Duk…duk..duk..duk..duk..”, kira-kira seperti itu bunyinya.
Terkadang seperti suara langkah orang sedang berjalan, kadang seperti berlari. Membuatku semakin susah untuk tidur..
Memi dan Sisi, sudah tengah malam seperti ini masih belum tidur juga..” Pikirku dalam hati.
ADVERTISEMENT
Posisi kamar mereka memang tepat berada persis di atas kamarku. Sehingga kalau dalam keadaan hening dan sepi seperti ini, suara langkah kaki mereka pasti terdengar dari bawah, seperti itulah kira-kira.
Cukup lama suara itu terus-menerus terdengar, sampai pada akhirnya hanya terdengar suara “Duk…duk..” sesekali. Mungkin Sisi dan Memi memang sudah selesai melaksanakan aktivitasnya, syukurlah, dengan begitu aku bisa melanjutkan tidurku lagi.
Waktu menunjukkan pukul dua lewat tengah malam, ketika tiba-tiba aku merasa haus. Saat itu juga aku berniat untuk keluar kamar dan menuju dapur untuk minum.
Untuk sampai ke dapur, aku harus melewati lorong tangga yang menuju ke lantai atas, lalu melewati ruang tengah, ruang makan, setelah itu baru sampai di dapur.
ADVERTISEMENT
Isi rumah sudah sangat hening dan sepi, aku pikir mungkin karena sebagian besar penghuninya sudah tidur, mungkin hanya aku, Memi, dan Sisi yang masih terjaga.
Tidak ada perasaan takut atau aneh, ketika membuka pintu kamar kemudian melihat suasana ruang tengah yang terlihat temaram, hanya terbantu cahaya lampu dari halaman belakang yang masuk melalui sela-sela jendela di ruang makan. Suasananya membuat nyaliku menjadi melemah, ditambah dengan suara angin yang bertiup cukup kencang di luar, menemani turunnya hujan yang intensitasnya semakin besar.
Ah mungkin karena ini adalah malam pertama tinggal di rumah baru, aku belum mengenal benar suasananya, aku berpikir begitu bermaksud untuk menambah nyali yang memang sudah semakin goyah.
Sebelah kiri kamar adalah ruang tamu yang dalam juga sama keadaannya, gelap gulita, tidak berani melirik ke arah situ, perasaanku tidak enak.
ADVERTISEMENT
Aku mulai melangkahkan kaki keluar kamar.
Tiga langkah pertama, aku sampai di depan tangga yang menuju lantai atas, tempat di mana kamar Memi dan Sisi berada. Sempat melirik ke arahnya, aku melihat lorong tangga dalam keadaan gelap, hanya terlihat porselen putih pada anak tangga yang memantulkan sedikit cahaya dari atas.
Aku sempat sebentar menghentikan langkah, tepat di depan lorong tangga, karena kembali mendengar sesuatu..
Hihihihihi, hihi, hihihi..”
Aku mendengar suara tawa perempuan dari atas. Tawa yang terdengar hanya terdiri dari satu orang.
“Itu Memi atau Sisi ya..? sudah larut malam begini masih belum tidur juga.” Begitu gumamku dalam hati. Setelahnya, aku melanjutkan langkah menuju dapur.
Sempat berniat untuk membangunkan teman-teman yang lain, untuk menemaniku sekadar berbincang, tapi aku urungkan niat itu, takut mengganggu istirahat mereka.
ADVERTISEMENT
Sebenarnya, bagian rumah yang menurutku cukup menyeramkan adalah lorong yang letaknya berada di sebelah dapur. Lorong ini menuju pintu samping yang melewati kamar Doni dan Asep. Karena itulah, ketika dalam perjalanan menuju dapur dan melewatinya, ku percepat langkah, aku merasakan kalau ada sesuatu di lorong itu.
Sesampainya di dapur aku langsung membuka lemari es dan meneguk segelas air. Aku biarkan dapur dalam keadaan gelap, hanya cahaya lampu dari dalam lemari es yang membantu penerangan.
Setelah selesai, aku langsung melangkahkan kaki kembali menuju kamar..
Di dalam perjalanannya, kembali langkahku terhenti tepat di depan tangga.
Kembali aku mendengar sesuatu, ada suara yang terdengar mengambang dan sayup-sayup, tetapi masih cukup jelas.
Aku bisa memastikan bahwa suara itu adalah suara tangisan..
ADVERTISEMENT
Suara perempuan yang menangis tersedu-sedu, bukan tangisan histeris, tetapi suara tangisan yang menurutku adalah tangisan kesedihan. Tertegun aku mendengarnya.
Masih saja aku berpikir kalau itu adalah suara Memi atau Sisi.
Aneh, sebelumnya aku mendengar suara perempuan tertawa cekikikan dari tempat yang sama, kenapa sekarang tiba-tiba menjadi suara tangisan?
Karena penasaran, aku sempat berniat untuk naik dan mencari tahu ada apa sebenarnya di lantai atas, tapi di anak tangga yang ketiga aku berhenti dan mengurungkan niat, kembali melangkah turun, aku takut mengganggu privasi Memi dan Sisi. Kemudian langsung masuk kamar dan menutup pintu.
Di kamar, aku tak mendengar ada suara-suara lagi, entah itu suara tangisan, tertawa, atau pun suara langkah-langkah kaki.
ADVERTISEMENT
Keadaan itu membuatku kembali tertidur pulas.
Tapi, belum lama tertidur, aku kembali terbangun. Kali ini terjaga karena mendengar seperti ada yang membuka pagar rumah.
“Ada apa lagi ini…Gumamku dalam hati, dan melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi.
Setelah suara pagar, kemudian aku mendengar suara teman-teman kost yang lain, dan ternyata ada suara Memi dan Sisi juga. Aku langsung bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar.
“Maaf Mas Brii, terbangun gara-gara kita ya..hehe. Tadi aku minta tolong Nando dan Doni untuk membantu mengambil barang-barang dari tempat kost yang lama. Tadinya mau ngajak mas Brii juga, tapi kelihatan capek sekali, jadi gak enak untuk membangunkan..” Memi membuka pembicaraan ketika aku masih terlihat bingung.
ADVERTISEMENT
Hmmmm.., setelah mendengar penjelasan dari Memi, aku baru tersadar kalau ternyata mereka (Memi, Sisi, Nando, dan Doni) pergi ke luar rumah selepas maghrib ketika aku sedang tertidur pulas. Sedangkan Irwan dan Asep rencananya baru akan datang pada minggu pagi.
Jadi, sejak lepas maghrib, hanya ada aku di dalam rumah..
Sendirian…
***
Hmmm, masih panjang nih cerita tentang "Rumah Teteh", buat yang penasaran bisa cari dan beli bukunya di e-commerce terkemuka di Indonesia dengan kata kunci "Rumah Teteh", atau bisa juga intip beberapa thread sebelumnya di akun twitter @briistory atau IG @bri_story.
Selamat datang di Rumah Teteh..🙂