Rumah Teteh Chapter 4

Jangan baca sendirian..
Tulisan dari BriiStory tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

EMPAT
Rumah ini terhitung sudah cukup penuh penghuninya. Aku, Asep, Doni, dan Irwan masing-masing menempati kamar yang ada di lantai dasar bangunan utama. Sedangkan Nando sendirian menempati kamar yang letaknya di bagian belakang, bersebelahan dengan gudang, berhadapan langsung dengan taman terbuka.
Sedangkan Memi dan Sisi menempati dua kamar yang ada di lantai atas, seperti yang sudah aku ceritakan di awal.
Tetapi, ada satu kamar yang belum terisi sejak kami menempati rumah itu. Kamar yang masih kosong ini letaknya persis di sebelah kanan kamarku.
Kamar ini ukurannya lebih kecil dari kamar lainnya, memiliki jendela yang langsung menghadap keluar. Kamar ini juga sudah dilengkapi perabotan dasar di dalamnya, ada tempat tidur, lemari pakaian, dan meja. Beberapa kali aku sempat masuk ke dalamnya, karena memang ada beberapa barang tidak terpakai yang kami letakkan di situ.
Mungkin memang karena tidak berpenghuni dan jarang ada orang yang memasukinya, suasana di dalamnya terasa sedikit menyeramkan, udaranya pengap yang mungkin karena jendela kamar selalu dalam keadaan tertutup.
Pada awalnya kami tidak pernah manaruh perhatian pada kamar itu, kami menganggapnya hanya sebuah kamar kosong belaka, itu saja.
Tante Lusi pun sudah bilang, kalau kamar itu nantinya akan disewakan kepada penghuni lain yang bukan dari lingkungan pertemanan kami. Kami setuju-setuju saja dengan ide beliau itu, karena memang belum ada teman dekat lagi yang membutuhkan kamar kost.
Tapi, hari-hari pertama aku tinggal di rumah itu, aku merasakan ada yang aneh dengan kamar itu. Karena letaknya yang bersebelahan, aku sering mendengar suara-suara aneh yang bersumber dari dalam kamar kosong itu.
Pernah pada suatu malam, aku mendengar suara dari balik tembok yang bunyinya seperti kuku yang di gesek-gesek ke dinding kamar. Kadang terdengar pintu kamar seperti ada yang membuka, diikuti dengan suara pintu kamar mandi yang terbuka juga, hal ini terjadi pada malam hari, aku berpikir mungkin itu karena ada penghuni kost lain yang masuk ke kamar. Tapi setelah aku memanggilnya, “Ndo? Asep?..Doni?” tidak ada yang menjawab.
Ada kejadian yang membuat aku heran dan merinding kemudian. Di lantai satu ada dua toilet, toilet yang pertama letaknya paling dekat dengan kamarku, toilet yang kedua terletak di belakang, bersebelahan dengan kamar Irwan, aku lebih sering menggunakan toilet yang pertama, karena itu tadi, letaknya paling dekat dengan kamar yangku. Tetapi, untuk menuju ke toilet itu aku harus melewati pintu kamar yang kosong itu.
Pada suatu malam, tengah malam persisnya, aku sakit perut dan sepertinya harus buang air besar. Tidak ada pikiran aneh ketika aku melangkahkan kaki ke toilet.
Ketika sedang berjalan tepat di depan pintu kamar kosong itu, aku mendengar suara, suara yang membuatku penasaran. Ada suara perempuan yang berbicara sendiri dari dalamnya.
Pada awalnya, suara yang terdengar tidak cukup jelas, terdengar seperti suara perempuan yang sedang menggerutu, diselelingi hela nafas panjang.
Penasaran, aku dekatkan telinga ke pintu kamar, dengan harapan dapat mendengarkan dengan lebih jelas. Setelah telinga sudah hampir menempel pada daun pintu, akhirnya aku bisa mendengar dengan jelas.
“Hhhhhhh…(hela nafas), Seperti yang sudah-sudah, gak ada perubahan. Cuma bisa pasrah…”
Begitu kira-kira sedikit kalimat yang tertangkap, suaranya terdengar bergetar dan mengambang, kemudian diiringi suara tangisan setelahnya. Aku cukup tercengang mendengarnya, lalu mundur beberapa langkah. Kaget, aku langsung masuk ke dalam toilet.
Ketika sudah di dalam toilet aku terdiam beberapa saat memikirkan apa yang baru saja kudengar. Sesaat kemudian, bulu kudukku berdiri, ketika mendengar suara pintu kamar kosong itu seperti ada yang membuka.
Setelah itu terdengar ada langkah kaki yang keluar dari kamar, langkah kaki orang berjalan, menuju ke belakang rumah. Aku tidak berani bergerak sedikit pun, aku tidak berani membuat suara sedikit pun. Aku ketakutan, memikirkan apa yang sedang terjadi di luar.
Cukup lama aku mendekam di dalam toilet, mendengarkan suara langkah kaki yang sepertinya hilir mudik di ruang tengah. Terdengarnya, langkah kaki itu bersumber hanya dari satu orang, sendirian. Berjalan santai mengelilingi segala penjuru rumah,kadang menghilang, kadang muncul kembali. Aku semakin ketakutan, dan berharap langkah kaki itu tetap beraktifitas di luar toilet, dan semoga “dia” tidak menyadari kalau aku sedang berada di dalam toilet.
Hingga akhirnya, aku mendengar pintu kamar kosong itu kembali terbuka, kemudian tertutup, lalu suasana kembali hening. Saat itu pula, tanpa ragu aku langsung berlari keluar toilet dan masuk ke kamar.
Di dalam kamar, aku tidak berani menimbulkan suara sedikit pun. Dan kebetulan juga, kalau aku perhatikan dengan seksama, tidak ada aktifitas apa-apa lagi di luar kamar. Cukup lega perasaanku, dan langsung bisa terlelap sampai pagi menjelang.
***
Beberapa kali ada mahasiswa/i atau karyawan/wati yang datang berniat untuk kost di kamar itu. Semuanya tidak ada yang menempati lama, paling lama hanya satu bulan, itu pun aku perhatikan hanya beberapa malam menginap di kamar itu, selebihnya entah kemana.
Ada penghuni yang menempati hanya tiga hari, hari ke empat dia langsung pindah lagi, entah kemana.
Kami tidak sempat mangakrabkan diri, karena tiba-tiba mereka sudah pergi dan pindah kost. Begitu seterusnya setiap ada penghuni baru yang menempati kamar itu. Kami tidak pernah sempat untuk bertanya alasan mereka tidak betah tinggal di kamar itu.
Hingga pada suatu saat, ketika aku membeli makan di warung makan langganan yang letaknya masih di sekitar rumah, aku bertemu dengan mahasiswa yang pernah tinggal di kamar itu, Indra namanya. Kami berbincang cukup lama. Hingga tiba pada satu topik yang sudah kurencanakan untuk aku angkat sedari awal.
“Kok waktu itu cuma tinggal sebentar? Hanya dua minggu, kenapa Ndra? Ada apa?” tanyaku membuka pembicaraan.
“Gw gak tahan Brii..” jawab Indra memberikan jawaban, jawaban pembuka yang membuat semuanya mulai jelas.
“Awalnya gak merasakan hal-hal aneh di kamar itu. Tapi di malam ketiga atau keempat mulai ada kejadian yang aneh, tapi belum terlalu menakutkan” Indra melanjutkan penjelasan.
“Contohnya, tiba-tiba meja belajar berantakan ketika gw bangun pagi. Isi lemari pakaian yang tumpah acak-acakan keluar lemari ketika pulang kuliah, padahal sebelum masuk, kamar dalam keadaan terkunci.”
“Berikutnya semakin aneh dan mulai menyeramkan, kadang gw melihat tirai jendela yang bergeser terbuka dengan sendirinya, lemari pakaian terbuka dengan sendirinya juga ketika tidur.”
“Sering juga terjadi, ketika tidur selimut yang gw pakai tiba-tiba seperti ada yang menarik ke bawah. Atau lampu kamar yang hidup atau mati sendri. Hal-hal kecil seperti itu sering terjadi Brii...”
“Dan hampir setiap malam bermimpi buruk, di dalam mimpi gw didatangi perempuan berambut panjang dan menunjukan raut muka yang sedang marah. Hampir setiap malam bermimpi buruk seperti itu. Gw mulai tidak tahan.”
“Hingga puncaknya, pada malam terakhir tinggal di kamar itu, ada kejadian yang sangat menakutkan.”
“Pada tengah malam, gw terjaga, dengan posisi tidur menyamping. Setelah sudah benar-benar terjaga, gw merasakan ada yang aneh, gw merasa kalau ada sesuatu yang ikut berbaring di tempat tidur, berbaring tepat dibelakang gw, sedikit menempel di punggung. Gw mendengar suara nafas, saat itu gw gak berani membalikkan badan untuk melihatnya, ketakutan.”
“Dan, beberapa saat kemudian ada yang mendorong gw sampai jatuh ke lantai. Reflek, gw langsung melihat ke atas tempat tidur. Di sana gw melihat perempuan berambut panjang sedang duduk, menunjukkan wajah yang marah. Gw tidak mengenalinya.”
“Gw ketakutan, pada detik itu pula langsung lari keluar kamar, menuju pintu keluar, dan meninggalkan rumah. Malam itu juga gw mengungsi ke tempat kost teman.”
“Keesokan paginya gw langsung membereskan barang-barang, dan pindah. Gw gak berani Brii.., terornya sangat mengerikan.”
Begitulah penjelasan panjang lebar dari Indra. Aku cukup terkejut mendengarnya, membuatku berpikir kalau “Indra-Indra” yang lainnya pun mengalami hal yang sama, sehingga mereka tidak ada yang bertahan lama tinggal di kamar itu.
Aku akhirnya mengerti kenapa mereka semua bergegas pergi, mereka ketakutan.
Ternyata persis seperti apa yang aku perkirakan dan apa yang aku alami, ada sesuatu dengan kamar itu. Tapi aku masih belum punya rencana untuk menceritakan hal ini kepada teman-teman lainnya, masih ku simpan sendiri.
***
Kami punya kebiasaan yang dilakukan di rumah, kami biasa berbincang ngalor ngidul di meja makan. Biasanya dengan formasi lengkap, atau kadang hanya sebagian saja.
Oh iya, kami memiliki teman yang cukup di rumah itu, kami mengenalnya ketika baru beberapa hari tinggal di situ, kami bertetangga, kami memanggilnya dengan panggilan “Bang Kopral”.
Bang Kopral adalah paman dari Rudi, teman kuliahku yang merekomendasikan rumah ini. Rudi dan bang Kopral tinggal dengan keluarga besar mereka, persis di depan rumah yang kami tinggali. Umur bang Kopral sekitar 30 tahun, pribadi yang sangat ramah dan menyenangkan. Hobinya berbincang, membicarakan hal apapun. Penampilannya cukup slenge-an, rambut gondrong, kulit agak gelap, sangat santai pembawaanya. Bang Kopral lebih banyak menghabiskan waktunya di Jakarta, hanya sesekali pulang saja pulang ke bandung, pada saat pulang itulah sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah kost kami.
Kami semua cukup cocok berteman dengannya, apalagi aku, kenapa? karena Bang Kopral ini sangat tertarik dengan hal-hal yang berbau mistis dan perhantuan. Mungkin bisa disebut ghost buster, karena apabila mendengar cerita ada tempat angker atau kejadian mistis yang sedang jadi perbincangan, bisa dipastikan dia akan datang ke tempat itu dan coba membuktikan kebenarannya, bukan menantang, tapi hanya sekedar membuktikan.
Kedepannya, aku beberapa kali mengikuti ajakan dia untuk mengunjungi tempat-tempat angker itu.
***
Seperti biasa, malam itu kami berbincang seru di meja makan, sekitar jam satu tengah malam. Aku, Nando, Doni, dan bang Kopral duduk mengelilingi meja makan yang berbentuk lingkaran berbahan kaca.
Kalau ada bang Kopral, sampai pagi pun kami tidak pernah kehabisan energi dan bahan obrolan, ramai.
Tapi malam itu agak sedikit berbeda, karena perasaan dan mataku selalu tertarik ke arah kamar kosong yang letaknya ada di sebelah kanan tempat aku duduk. Ada yang aneh, aku beberapa kali seperti melihat ada sekelebat bayangan yang melintas di depan pintu kamar.
“Ada apa Brii..? kaya ada yang lo perhatikan..” tanya bang Kopral dengan senyumnya, dia seperti tahu gelagatku.
“Gak bang, gak ada apa-apa..” jawabku sambil cengengesan.
Tidak lama dari itu, aku perhatikan, anak kunci yang menggantung di pintu kamar itu bergerak-gerak dengan sendirinya, padahal tidak ada angin atau apa pun yang mungkin dapat menggerakannya.
Beberapa menit kemudian pintu kamar itu bergeser sedikit, menjadi terbuka. Sontak kami semua langsung mengarahkan pandangan ke situ. Diam seribu bahasa, dengan pikiran bertanya-tanya di dalam kepala masing-masing.
Setelah itu pintu tertutup kembali dengan sendirinya juga.
Aku, Nando, dan Doni sudah terlihat ketakutan. Sedangkan bang Kopral hanya tersenyum-senyum kecil, sepertinya dia tahu apa yang sedang terjadi.
Tidak lama kemudian, “Braakk..!”, terdengar suara dari dalam kamar. Suaranya terdengar seperti ada barang yang dibanting, diikuti dengan suara yang sama berikutnya. Suara kedua terdengar seperti suara pintu lemari yang dibanting dengan keras.
Kami kembali terdiam..
Sampai kemudian suara semakin terdengar bersahut-sahutan dari dalam kamar, seperti ada orang yang sedang mengamuk di dalamnya.
Aku ketakutan, ketika tiba-tiba bang Kopral berucap “Gw coba lihat ke dalam kamar ya..”
Bang Kopral berdiri dan langsung berjalan menuju kamar kosong itu. Kami hanya memperhatikan dari meja makan, tidak keberanian untuk mengikuti langkahnya. Bang Kopral membuka pintu kamar, terlihat dari tempatku duduk kalau di dalamnya gelap gulita.
“Kalian kesini deh, aman kok, coba lihat..” ucap bang kopral dari dalam kamar. Kami pun beranjak menuju kamar itu.
Aku lihat, kamar dalam keadaan berantakan, antena tv yang tadinya ada di atas lemari, terlihat sudah berantakan di atas lantai. Pintu lemari terbuka, dengan anak kunci yang masih bergerak-gerak, seperti baru saja ada yang menggerakkan.
Setelah itu kami memutuskan untuk menyelesaikan perbincangan dan masuk ke kamar masing-masing, sedangkan bang Kopral pulang ke rumahnya.
***
Beberapa kejadian seram juga pernah aku alami sendiri ketika awal-awal tinggal di rumah itu.
Salah satu kejadian adalah ketika aku sedang mengerjakan tugas kuliah di depan Komputer di kamar, sampai larut malam. Sudah jadi kebiasaan, jendela selalu ku biarkan terbuka, membiarkan hembusan angin malam masuk.
Tapi malam itu entah kenapa terasa sangat dingin, membuatku memutuskan untuk menutup jendela dan tirainya.
Ketika sedang asik-asiknya mengerjakan tugas, tiba-tiba lembaran kertas-kertas yang letaknya berada di sebelah komputer terbang berhamburan, seperti tertiup angin yang cukup besar. Aneh, karena jendela sudah dalam keadaan tertutup, tidak ada kipas angin. Saat itu aku merasa ada yang tidak beres, kemudian tiba-tiba bulu kuduk berdiri semua.
Tapi aku tetap melanjutkan pekerjaan, setelah membereskan kertas-kertas yang tadi sempat berantakan.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba tumpukan kertas tadi kembali terbang berhamburan. Aku kaget, karena kali kedua kertas berhamburan, aku juga mendengar sayup-sayup ada suara perempuan tertawa cekikikan tepat di belakangku.
Ketakutan, aku langsung membereskan lagi kertas yang berantakan dan mematikan komputer. Setelah itu aku mematikan lampu kamar dan ambil posisi tidur di atas tempat tidur. Sesuai kebiasaan, tv aku biarkan dalam keadaan menyala.
Posisi tempat tidur ada di sisi sebelah kiri kamar, menghadap lemari pakaian yang bersebelahan dengan meja tv, posisi pintu kamar berada di samping aku tidur.
Ketika mata sedang tertuju ke arah tv, aku tiba-tiba tersadar kalau ternyata ada sosok perempuan berambut panjang dan berbaju putih berdiri tepat di pojok kamar, di depan pintu. Tdak melihat secara langsung, tapi dari ujung mata aku dapat melihat dengan jelas kalau dia berdiri diam.
Aku ketakutan, merinding seluruh badan, gemetar. Tidak berani melakukan apa-apa, cuma bisa pasrah dan coba menarik selimut pelan-pelan sampai menutup muka, memaksa badan untuk bergerak jadi menghadap tembok, yang pada akhirnya posisiku jadi membelakangi sosok perempuan itu.
Aku tetap diam dan tidak berani melakukan apapun, hanya bisa berdoa semampuku ditengah kekalutan yang teramat sangat.
Kemudian aku mencium aroma bunga, entah bunga apa. Perasaanku mengatakan kalau perempuan itu berjalan mendekat, meninggalkan sudut kamar. Semakin tekun aku membaca doa dan meminta perlindunganNya. Aku ketakutan..
Cukup lama kejadian menyeramkan itu berlangsung, sampai ketika wangi bunga perlahan menghilang.
Seketika itu pula aku memberanikan diri untuk nekat membalikkan badan dan langsung melihat ke pojok kamar. Ternyata sosok perempuan itu sudah tidak ada di tempatnya. Tanpa pikir panjang, aku langsung berdiri dan berlari keluar, berniat untuk mengungsi ke kamar lain yang berpenghuni.
Ternyata belum selesai..
Tepat ketika sedang melintas di depan tangga, di dalam kegelapan sekilas aku melihat ada sosok perempuan dengan perawakan yang sama dengan sosok yang baru saja nampak di dalam kamar, dia sedang duduk di anak tangga bagian atas, dengan rambut terurai nyaris menutupi wajahnya.
Melihat itu aku langsung berlari lebih kencang, menuju ke kamar Doni..
***
Hi balik ke Brii lagi nih..kalau mau ngintip lebih dalam tentang Rumah Teteh, silakan acak acak Likes di Twitter @briistory atau Post di IG @Brii_story, atau beli buku Rumah Teteh di online store terkemuka dengan kata kunci "Rumah Teteh".
