Rumah Teteh Chapter 5

Jangan baca sendirian..
Tulisan dari BriiStory tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rumah ini, entah bagaimana, udara di dalamnya selalu segar dan nyaman, membuat semua penghuninya betah tinggal berlama-lama. Padahal struktur bangunannya bukan struktur bangunan yang dibuat sengaja untuk mempermudah aliran udaranya agar mengalir lancar, jendelanya tidak terlalu banyak, langit-langitnya juga tidak terlalu tinggi. Agak aneh sebenarnya, terkadang suhu di dalam lebih dingin dari suhu di luar.
Tapi ya tetap saja, kami tidak terlalu memikirkan keanehan itu, karena kami memang nyaman-nyaman saja. Banyak yang bilang, mungkin karena Bandung memang cuacanya selalu dingin, tapi terkadang ada juga rumah yang di dalamnya pengap dan panas, padahal suhu di luar dingin, entah mungkin sirkulasinya yang kurang bagus, atau ada sebab-sebab lain.
Suasananya seperti di rumah kami sendiri, tidak seperti tempat-tempat kost yang lain.
Teman-teman kami pun lebih sering menjadikan rumah ini sebagai tempat berkumpul untuk sekadar ngobrol atau mengerjakan tugas kuliah, tempat nongkrong istilahnya, banyak yang betah tinggal berlama-lama. Walaupun belakangan hampir semuanya tidak ada yang berani untuk menginap, kalau tidak terpaksa.
Kenapa begitu? Ada alasannya..
Aku punya kebiasaan ketika tinggal di rumah ini, kebiasaan itu adalah tidak pernah mengunci pintu kamar, semua penghuni rumah bebas keluar masuk, walaupun aku sedang berada di luar rumah. Mungkin karena kamarku adalah kamar yang paling lengkap fasilitasnya, ada tv, radio tape, dan sound systemnya, komputer, play station, gitar, dan lain-lain, lengkap. Teman-teman seisi rumah bebas untuk menggunakan semua fasilitas di dalam kamar, atau hanya sekadar menonton TV. Termasuk Memi dan Sisi, mereka juga tanpa sungkan masuk ke kamarku kapan pun mereka mau.
Begitulah..
***
Aku punya tiga sahabat yang aku kenal sejak kecil, sejak kami masih sama-sama tinggal di kampung halaman. Mereka adalah Rai, Deddy, dan Ali. Rai dan Deddy kuliah di Bogor, sedangkan Ali bekerja di kampung halaman.
Rai dan Deddy sering berkunjung ke Bandung ketika sedang libur perkuliahan, dan tentu saja mereka menginap di tempat kostku.
***
Sekitar tiga bulan setelah tinggal di rumah itu, Deddy menghubungiku kalau dia akan berkunjung ke Bandung selama beberapa hari, sekaligus berniat untuk menginap di tempat kost-ku yang baru. Deddy belum pernah menginap di rumah tempat yang baru ini.
Karena ini adalah kunjungan yang pertama, Deddy sama sekali belum mengetahui jalur menuju rumah kost, jadi rencananya aku akan menjemputnya di terminal Leuwi Panjang sepulang dari kampus.
Tapi, pada akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu, baru setelah itu jemput Deddy ke terminal.
Tapi betapa terkejutnya aku, ketika sesampainya di rumah, ternyata Deddy sudah ada di dalam kamar. Sedikit bersyukur juga, karena akhirnya aku tidak harus repot-repot menjemput ke terminal.
“Kok bisa tiba-tiba sudah sampai rumah aja Ddy? Gimana caranya? tempat ini kan jauh dari terminal,” tanyaku penasaran.
“Iya, tadi di terminal saya langsung telpon ke rumah ini, malas menunggu berlama-lama di terminal..” jawab Deddy tegas.
“Lantas, yang mengangkat dan menjawab telpon tadi siapa?” tanyaku semakin penasaran.
“Sepertinya pembantu kalian deh, dia yang memberi tahu petunjuk jalan menuju rumah ini. Saya harus naik angkot apa dan turun di mana, terus menyambung naik angkot yang mana lagi.”
“Memang percakapan di telpon tadi seperti apa sih Ddy?” Aku semakin penasaran.
Kemudian Deddy menceritakan detail percakapannya:
Deddy: “Haloo, Brii nya ada?”
Perempuan: “Brii nya sedang kuliah mas, ini siapa”
Deddy: “Ini Deddy, teman Brii dari Bogor. Maaf, ini dengan siapa ya?”
Perempuan: “Ini Teteh.., Mas Deddy langsung ke sini saja.”
Setelah itu, Deddy langsung menuju alamat rumah dengan mengikuti petunjuk jalan yang diberikan oleh perempuan yang menjawab telpon itu. Perempuan yang menurut Deddy berbicara dengan logat Sunda Bandung. Sekadar Info, Memi dan Sisi tidak berlogat Sunda, karena memang mereka bukan orang sunda. Apalagi berbahasa sunda, mereka sama sekali tidak bisa.
Sekitar satu jam kemudian Deddy sampai, dan langsung mengetuk pintu rumah.
Deddy bilang, cukup lama dia menunggu di depan, karena tidak ada yang membukakan pintu. Setelah beberapa puluh menit, akhirnya pintu rumah ada yang membuka.
Dari dalam muncul seorang perempuan. Perempuan itu berambut panjang dan berkulit putih, berumur sekitar 30 tahun.
“Silahkan masuk Mas, kamar Brii yang sebelah sini, pintunya gak terkunci kok..” Dengan ramahnya perempuan itu mempersilakan Deddy untuk masuk, seraya menunjukkan letak kamarku.
Setelah memperkenalkan diri dan mengucapkan terima kasih, Deddy langsung masuk kamar. Masih menurut Deddy, perempuan itu langsung berjalan ke arah belakang dan tidak pernah kelihatan lagi setelah itu.
“Dia kelihatannya sakit Brii, wajahnya pucat dan kuyu,” ucap deddy mengakhiri cerita.
Aku agak kaget mendengar cerita panjang lebar yang Deddy katakan. Setelah itu, aku langsung memeriksa seisi rumah dan mendapati bahwa rumah dalam keadaan kosong, hanya aku dan Deddy yang berada di dalamnya.
Di rumah itu memang ada perempuan yang kami pekerjakan untuk membersihkan rumah dan mencuci pakaian, tetapi dia hanya datang pada hari sabtu dan minggu, tidak menginap. Pada waktu Deddy datang pun perempuan itu sedang tidak bertugas, karena memang hari itu bukan harinya beliau bekerja.
Aku sengaja tidak menceritakan tentang hal itu kepada Deddy selama tiga hari dia menginap, dia seorang yang penakut, aku tidak mau nantinya jadi tidak nyaman.
***
Masih pada hari itu juga, kami berbincang berdua di kamarku sampai larut malam.
Sekitar jam dua belas tengah malam aku tertidur pulas, tapi kemudian sekitar satu jam setelah itu aku terbangun, dan mendapati Deddy tidak ada di dalam kamar.
“Kemana Deddy..?” Pikirku dalam hati.
Ah mungkin ke toilet, itu yang ada di benakku saat itu.
Tidak lama kemudian, Deddy kembali masuk ke dalam kamar.
“Perempuan yang tinggal di kamar sebelah kedengarannya lagi sedih ya Brii, dia menangis dan bicara sendiri..”
Jadi, Deddy memang benar ke toilet, toilet yang letaknya dekat dengan kamar kosong yang ada di sebelah kanan kamarku.
Ketika Deddy berjalan menuju toilet, dia mendengar suara perempuan yang terdengar menangis dan berbicara sendirian.
“Kamu nguping kamar sebelah ya Ddy..?” tanyaku penasaran.
“Gak sengaja mendengar, ketika lewat depan pintunya saya mendengar dia menangis tersedu-sedu, jadi ikut sedih mendengarnya. Ada apa ya Brii..? kamu tahu?” jawab Deddy menjelaskan.
“Sudahlah biarkan saja, gak usah dipikirin..” jawabku yang menjadi agak merinding setelah mendengar apa yang Deddy ucapkan.
Malam itu pun aku tidak menceritakan perihal kamar sebelah yang sebenarnya dalam keadaan kosong, belum saatnya aku cerita.
***
Sebelum kedatangan Deddy, ada salah satu teman kuliahku yang mengalami kejadian yang nyaris sama dengan yang Deddy alami. Dia menelpon ke rumah untuk mencariku, di ujung telpon ada yang menjawab kalau aku sedang tidak ada di rumah. Ketika ditanya dia siapa, perempuan itu menjawab “Saya Teteh..” dengan logat Sunda.
Aku menceritakan hal itu kepada teman-teman satu kost (Kecuali Memi dan Sisi) perihal percakapan telpon temanku itu.
Setelah kami semua membahasnya, terungkaplah bahwa ada beberapa teman dari Nando dan Doni yang mengalami hal yang sama. Teman-teman mereka itu pernah menelpon ke rumah, dan ada yang menjawab telpon, padahal dapat dipastikan kalau saat itu rumah dalam keadaan kosong.
Ketika ditanya jati dirinya, perempuan itu juga bilang kalau dia adalah “Teteh”.
Sejak saat itulah kami semua memanggil sosok perempuan yang sering muncul di rumah itu dengan sebutan Teteh, dan rumah itu adalah rumah Teteh.
Begitulah awal kisahnya..
***
Setelah kurang lebih tiga hari lamanya, akhirnya Deddy pun pulang kembali ke Bogor, aku mengantarnya ke terminal.
Dalam perjalanan, akhirnya aku ceritakan semua kejadian sebenarnya yang terjadi di rumah itu. Aku ceritakan semua detailnya.
“Dy.., Saya ada yang mau diceritain nih, tapi jangan kaget ya,” ucapku membuka pembicaraan.
“Ada apa Brii..?” tanya Deddy penasaran.
“Begini, sebenarnya di rumah itu gak ada pembantu. Waktu pertama kali kamu datang, rumah dalam keadaan kosong, alias gak ada orang sama sekali.”
“Kamar yang letaknya di sebelah kanan kamar saya itu sebenarnya gak berpenghuni, selalu dalam keadaan kosong. Gak ada yang betah lama-lama tinggal di situ.”
Deddy terdiam sambil terus mendengarkan.
“Lantas, siapa yang angkat telpon waktu itu? Siapa yang membukakan pintu? Yang menangis tersedu-sedu di kamar sebelah siapa?” Kemudian tiba-tiba Deddy bertanya dengan nada yang mulai meninggi.
Aku hanya tersenyum melihat kepanikan Deddy.
“Kami penghuni kost, memanggil dia dengan sebutan Teteh. Beliau sudah meninggal sekitar tahun 80-an.” Sambungku melanjutkan pembicaraan.
“Yang menjawab telpon Teteh, yang membukakan pintu Teteh Juga, yang menangis tersedu-sedu di kamar sebelah ya Teteh juga..”
Deddy hanya bengong, “Kenapa gak cerita dari awal sih Brii..?”.
Setelah agak tenang Deddy mulai bercerita. Pada malam sebelum dia pulang ke Bogor, ada kejadian yang membuatnya bingung. Walau cuma sebentar, tetapi sedikit menyeramkan.
Sekitar jam satu tengah malam, Deddy harus ke toilet. Seperti biasa, dia menggunakan toilet yang paling dekat dengan kamar, yang bersebelahan dengan kamar kosong.
Setelah selesai aktivitas di dalam toilet, Deddy keluar dan berniat langsung menuju kamar, pada awalnya.
Tetapi setelah di depan pintu toilet dia melihat ada perempuan yang sedang duduk sendirian di meja makan, duduk di dalam remangnya cahaya di dalam rumah pada malam itu.
Karena penasaran, Deddy langsung berubah niatan, dia bermaksud berpura-pura menuju dapur untuk mengambil minum, supaya dapat melihat perempuan itu dari dekat. Selama tinggal di situ, Deddy sama sekali belum pernah bertemu dengan Memi ataupun Sisi. Ketika itu Memi dan Sisi sedang ada keperluan di luar rumah selama beberapa hari. Malam itu Memi dan Sisi memang belum juga pulang.
Ketika sedang melintas tepat di depan perempuan itu, Deddy mencoba untuk berbasa-basi.
“Maaf, mbak ini Memi atau Sisi? Saya Deddy temannya Brii..” ucap Deddy sambil mengulurkan tangan berniat mengajak bersalaman.
Deddy bilang, malam itu lampu yang ada di atas meja makan hanya hidup sebagian. Walaupun masih remang-remang, Deddy masih bisa melihat dengan jelas penampilan dan wajahnya, apalagi setelah perempuan itu menatap balik ke arah Deddy. Menurutnya, perempuan itu hanya diam tanpa kata dan tidak menyambut uluran tangan Deddy yang mengajak bersalaman.
Dan ternyata, setelah bertatapan cukup dekat, Deddy baru sadar bahwa perempuan itu adalah perempuan yang membukakan pintu rumah ketika Deddy pertama kali datang. Hanya saja malam itu wajahnya terlihat lebih cantik dan bersih, tidak terlihat pucat seperti pada waktu Deddy melihatnya pertama kali. Berpakaian baju terusan panjang berwarna putih dan bermotif bunga. Dengan rambut panjang yang terurai, dia duduk bersandar pada salah satu kursi yang menghadap ke bagian belakang rumah.
“Oh maaf, saya kira Memi atau Sisi. Ternyata Teteh..” ucap Deddy sambil tersenyum.
Teteh tersenyum balik, namun masih belum mengucapkan satu kata pun, hanya terdiam sambil matanya tetap memandang ke arah Deddy.
Kemudian Deddy berjalan menuju dapur dan menuangkan segelas air, dengan posisi membelakangi teteh. Setelah selesai minum, Deddy membalikkan badan dan kembali menghadap ke meja makan. Ternyata Teteh sudah menghilang, tidak terlihat lagi.
Saat itu Deddy langsung merinding sekujur tubuhnya, dan menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan kejadian yang baru saja dialami. Bergegas dengan sedikit berlari, Deddy langsung masuk kamar dan menutup pintu.
“Iya Ddy, itu Teteh. Kenapa baru cerita sekarang, ya karena saya gak mau kamu ketakutan,” ucapku setelah mendengar Deddy cerita panjang lebar.
Setelah mengetahui cerita yang sebenarnya, Deddy langsung bilang kalau dia tidak akan mau lagi menginap di rumah Teteh, kalau nanti kapan-kapan dia ke Bandung lagi. Tapi pada kenyataannya, kedepannya dia tetap menginap di rumah Teteh kalau ke bandung, karena memang tidak ada pilihan lain.
***
Setelah banyak kejadian-kejadian aneh yang melibatkan sosok Teteh di rumah itu, --dan karena kejadian-kejadian itu tidak hanya menimpa kami yang menghuni rumah, tetapi beberapa teman juga--, maka keadaan di rumah itu tidak bisa lagi menjadi normal. Kami jadi hampir selalu dalam ketakutan, entah ketika sendirian maupun ketika bersama dengan teman lainnya.
Itulah alasannya kenapa banyak teman-teman yang sebisa mungkin tidak mau menginap di rumah Teteh, kalau tidak terpaksa. Mereka takut dengan keberadaan Teteh.
Yang juga cukup aneh adalah, Teteh malah sering muncul dengan kejadian-kejadian seramnya pada malam minggu, bukan malam jumat atau malam-malam lainnya. Dan hampir dapat dipastikan, sepanjang yang kami tahu, Teteh tidak pernah muncul atau melakukan hal-hal yang menyeramkan, apabila Memi dan Sisi ada di rumah. Kami tidak tahu kenapa, tetapi memang begitu kenyataannya.
Aneh..
