Konten dari Pengguna

Inovasi Hijau: UMY Inisiasi Daur Ulang Air Wudhu Jadi Instalasi Akuaponik

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bryliant Putri Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tampilan instalasi daur ulang air wudhu yang disulap menjadi sistem akuaponik produktif. Dengan memanfaatkan nutrisi organik dari kolam ikan untuk instalasi sayuran hidroponik.
zoom-in-whitePerbesar
Tampilan instalasi daur ulang air wudhu yang disulap menjadi sistem akuaponik produktif. Dengan memanfaatkan nutrisi organik dari kolam ikan untuk instalasi sayuran hidroponik.

Sleman, 5 April 2026 – Tim pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berkolaborasi dengan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) meluncurkan program Model Inovasi Hijau Budikdamber di Masjid Al Ittihad, Pedukuhan Karangwuni, Sleman, pada Minggu (5/4).

Inovasi ini memanfaatkan limbah air wudhu yang selama ini terbuang percuma untuk menghidupkan sistem akuaponik terintegrasi. Dengan teknologi ini, air bekas bersuci tersebut digunakan kembali untuk membudidayakan ikan nila dan lele yang di atasnya terdapat instalasi sayuran hidroponik.

Sirkulasi Mandiri: Dari Limbah Menjadi Nutrisi

Ketua Tim Pengabdian, Ir. Lestari Rahayu, M.P., menjelaskan bahwa sistem ini bekerja secara sirkular. Kotoran ikan dari kolam dialirkan sebagai nutrisi organik alami bagi tanaman. Sebaliknya, akar tanaman berfungsi sebagai penyaring (filter) alami yang membersihkan air sebelum dialirkan kembali ke kolam ikan.

“Program ini bertujuan mengoptimalkan limbah air wudhu yang selama ini terbuang agar menjadi sumber daya produktif melalui teknologi Budikdamber. Ini adalah solusi cerdas untuk keterbatasan lahan di kawasan perkotaan,” pungkasnya.

Sinergi Akademisi dan Pelaku Bisnis Lokal

Penyerahan Kit Akuaponik – Tim pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memberikan unit kit akuaponik secara simbolis kepada Mas Bagas, perwakilan General Affair Warung Spesial Sambal (SS) di Masjid Al Ittihad, Sleman.

Kegiatan ini tidak hanya berupa instalasi fisik, tetapi juga edukasi teknis kepada marbot, remaja masjid, serta warga sekitar. Narasumber praktis, Muhammad Farhan, S.P. (Owner Karya Farm & Alumni UMY), hadir memberikan pelatihan dan pendampingan langsung berbasis pengalaman usahanya.

Menariknya, agenda ini juga menarik perhatian sektor industri kuliner. Mas Bagas, perwakilan General Affair Warung Spesial Sambal (SS), turut hadir untuk mendalami sistem hidroponik demi efisiensi bahan pangan di gerai mereka. Sebagai bentuk dukungan nyata, tim pengabdian menyerahkan unit kit akuaponik kepada pihak Masjid Al Ittihad dan perwakilan Warung SS.

Mendorong Kewirausahaan Berbasis Masjid

Takmir Masjid Al Ittihad sekaligus Ketua RW 05 Kocoran Baru, Anis Hardana, S.H., menilai program ini sangat relevan dengan kebutuhan ekonomi warga. “Keberadaan banyak warung makan di sekitar masjid membuka peluang pemasaran hasil budidaya. Ini bisa menjadi embrio kewirausahaan berbasis lingkungan di tingkat kampung,” ungkapnya.

Program yang didukung oleh Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP) UMY tahun anggaran 2025/2026 ini juga melibatkan aktif mahasiswa Agribisnis UMY (Muhammad Rangga Satria, Nana Diah A, Amanda) serta tenaga kependidikan Titin Resiana, S.P.

Melalui inisiatif ini, Masjid Al Ittihad diproyeksikan menjadi model Eco-Masjid yang mampu menginspirasi wilayah lain dalam mengelola sumber daya air secara berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat di lahan sempit. (BPZ)