Konten dari Pengguna

Solastalgia: Suatu Ajakan untuk Menyatu dengan Alam

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Steni Bernadinus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi keindahan alam Papua. Foto: Dok. Yayasan EcoNusa
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi keindahan alam Papua. Foto: Dok. Yayasan EcoNusa

Apakah Anda pernah mengalami homesick di rumah sendiri, seperti nostalgia pada alam yang indah, air yang jernih, gunung yang sejuk, alam yang terbuka, bunga yang warna warni, pohon yang rindang, dan sebagainya. Perasaan itu begitu dalam hingga menimbulkan keresahan placeless pada dekapan semesta yang damai.

Limitasi ruang, apalagi di tengah kepungan gedung, menyeret kita tertatih tatih mengumpulkan kepingan ingatan akan bumi yang nyaman itu. Tetapi ingatan itu terus mengakumulasi, acapkali meletup dalam bentuk ketidakstabilan emosi, stress, dan impuls negatif lainnya yang membingungkan karena tidak diketahui persis sebab musababnya.

Orang kota menerjemahkannya menjadi piknik, bertamasya ke alam, mudik ke kampung halaman, dan jenis rekreasi lainnya. Namun, betapa pun itu semua rutin dilakukan, bahkan jadi industri pariwisata masif hari ini, manusia saat ini tidak pernah luruh dari homesick pada dekapan alam.

Glenn Albrecht menyebut jenis homesick yang demikian itu sebagai solastalgia. Terminologi itu digunakan Albrecht pada tahun 2003 dalam presentasinya di Konferensi Kesehatan Lingkungan (Ecohealth Conference) di Montreal Kanada. Istilah itu merupakan tesis dari refleksi Albrecht atas korelasi yang gamblang antara kerusakan lingkungan dan patologi psikis yang dialami masyarakat asli di Australia akibat pertambangan batu bara.

Patologi terjadi karena goyahnya keseimbangan kosmos pada suatu komunitas, berikut individu-individu di dalamnya. Dalam teori-teori kesehatan dan lingkungan, manusia dan jagad hidupnya bersifat interaktif. Setiap pribadi dan komunitas merupakan titik keseimbangan yang terpelihara antara jagad tubuh (mikro kosmos) dan jagad semesta (makro kosmos) yang membentuk pengertian-pengertian relasional di antara keduanya sekaligus membentuk kesehatan yang bersifat holistik. Dengan kata lain, alam yang sehat akan menyehatkan manusia. Sebaliknya, alam yang porak poranda juga akan meluluhlantakkan kesehatan manusia.

Solastalgia merupakan gabungan dari kata Latin solus dan kata Yunani algia. Solus artinya sendirian, sepi, kesunyian, terasing. Kata ini kemudian berkembang menjadi desolate, yakni hilangnya kenyamanan yang disertai kepedihan yang dalam, perasaan kesepian akibat tercerabut dari kenyamanan.

Algia artinya rasa sakit, penderitaan, duka. Yakni tekanan emosional atau ketidakstabilan eksistensial yang diakibatkan oleh perasaan tercerabut atau perasaan terasing (solus). Albrecht mengalamatkan tekanan tersebut pada perubahan lingkungan yang disandingkan dengan nostalgia ekologis, sehingga menyulutkan stres emosial, yakni perasaan tercerabut dari lingkungan.

Ketika dihubungkan dengan bayangan masa depan, ketidaknyamanan itu memupuk trauma eksistensial yakni kecemasan terhadap topangan alam yang terus tergerus dan lenyap, melahirkan kecemasan ekologis.

Pada tahun 2007, Albrecht mendalami istilah itu dalam situasi yang dihadapi suku Wonnarua and suku Awabakal di wilayah Upper Hunter New South Wales, Australia. Dua suku ini menyaksikan dan mengalami hilangnya alam yang mereka jiwai dari generasi ke generasi setelah sejumlah perusahaan pertambangan raksasa mengeruk wilayah leluhur mereka menjadi penambangan batu bara.

Situs sakral dan warisan kebudayaan yang mereka hayati sekonyong-konyong disulap jadi hamparan pengerukan yang kelam dan hampir tidak dikenali lagi; suatu dunia alien yang menyedot mereka seperti mesin waktu. Dalam sekejap, dua suku ini menjumpai kenyataan yang kontras dengan peradaban yang mereka hayati dari generasi ke generasi.

Tercerabut dari kenyataan yang telah membentuk seluruh makna diri dan relasinya dengan dunia, menurut Albrecht menimbulkan sindrom psikoteratik, yakni guncangan psikis akibat perubahan lingkungan. Ketika perubahan tersebut permanen, ingatan akan tempat yang dulunya nyaman membayang-bayangi dan terus menjadi sandaran untuk mengukur masa depan.

Ironisnya, masa lalu itu tak pernah kembali. Inilah yang menjadi esensi solastalgia, suatu nostalgia akan alam yang memberi dekapan nyaman, alam tempat bersandar, alam yang memberi susu dan madu. Gerakan lingkungan global menyebutnya alam motherearth atau suku-suku Amerika Tengah menamainya pachamama. Solastalgia adalah kerinduan pada "mama bumi" yang pernah membesarkan dan memberi mereka kehangatan alamiah. Mama itu terusir oleh deru mesin eskavator dan ledakan dinamit tambang. Orang Wonnarua and orang Awabakal memanggilnya pulang, tetapi sang Mama tak pernah kembali.

Pengalaman Wonnarua and Awabakal adalah tragedi global yang juga dialami oleh banyak wilayah lainnya. Banyak suku di Indonesia juga mengalami musnahnya dunia mereka dan alam yang memberi mereka makan akibat eksploitasi mesin-mesin industri. Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara, mempunyai banyak inventarisasi narasi tragedi peralihan paksa dari dunia motherearth menjadi crazy earth.

Cerita ini lebih dalam pada masyarakat adat dan komunitas lokal yang besar dan tumbuh bersama alam. Mereka akhirnya terasing dari tanahnya sendiri. Sayangnya, belum banyak studi akademik yang mendalami dampak yang mereka alami dalam kaca mata kesehatan mental seperti kerja keras Albrecht dkk.

Di beberapa negara lain, mirip dengan studi Albrecht, para peneliti mulai menyelidiki pengalaman sensorik manusia dalam bentuk kecemasan ekologis. Tidak hanya pada masyarakat asli, kecemasan tersebut menguat pada masyarakat kota. Di Belanda, Venhof dkk (2025) menganalisa kecemasan ekologis menguat di kalangan usia 16-35 tahun, bahkan terakumulasi menjadi hilangnya kepercayaan pada otoritas yang gagal menjaga ikatan kolektif mereka pada alam yang mereka cintai. Studi lain di Amerika (Ballew et. al. 2024) juga menunjukkan meningkatnya gerakan kolektif akibat pengalaman-pengalaman kecemasan lingkungan.

Indonesia juga sudah mulai melakukan identifikasi secara terpisah-pisah. Beberapa waktu lalu, sebuah diagnosa awal telah dimulai dari survei pandangan generasi muda terhadap isu lingkungan. Lembaga Survei, Indikator, melakukan survei tahun 2021 pada 4020 responden dari dua kelompok generasi usia yakni 17-26 dan 27-35 tahun.

Survei itu menemukan kecemasan yang signifikan dari generasi muda terhadap sejumlah masalah lingkungan (sangat kuatir dan agak kuatir). Mereka cemas terhadap kerusakan lingkungan (84%), polusi (74%), dan perubahan iklim (70%). Semuanya ini menunjukkan bahwa kalangan generasi muda mulai memahami dampak masalah-masalah ini pada rumah masa depan mereka.

Solastalgia dan loneliness

Meskipun belum banyak dikupas, beberapa ahli meyakini solastalgia berkontribusi pada masalah kesepian eksistensial (loneliness) yang melanda kota-kota di seluruh dunia. Clayton Aldern dalam bukunya “The Weight of Nature: How a Changing Climate Changes Our Brains”, menulis kaitan kuat antara perubahan iklim dan kinerja otak serta persoalan mental. Pengaruh itu dapat meningkatkan ketegangan relasi sosial akibat gejolak mental yang membingungkan tidak hanya pasangan atau komunitas, bahkan memusingkan pelakunya sendiri. Pada giliran berikutnya, pengaruh itu menimbulkan kecemasan konstan yang memicu banyak jenis sakit dan penyakit.

Tahun 2023, The US Surgeon General’s Advisory mengeluarkan analisis yang mencemaskan mengenai gejala loneliness di negeri itu. Mereka menyebut kehampaan sebagai epidemi. Menurut WHO, satu dari enam orang di muka bumi mengalami kesepian. Survei Gallup mencatat 24% orang yang berusia 15 tahun atau lebih tua mengalami derita kesepian. Masalah ini memburuk di negara-negara berpenghasilan rendah. Menurut survei itu, separuh dari orang dewasa di Brazil mengalami atau pernah merasa kesepian. Turki 46%, India 43%.

Kehampaan meningkatkan kematian prematur hingga 65%, bahkan lebih buruk dari mengepul 15 batang rokok per hari. Kehampaan menurut berbagai analisa yang ada dapat diatasi dengan membangun jaringan sosial. Ketika mengalami deru debu kehidupan, koneksi sosial membuat harapan kita untuk bertahan meningkat hingga 50%.

Kehampaan menjadi wabah di kota-kota tidak semata-mata karena lenyapnya jaringan sosial pendukung. Lebih dari itu, hilangnya rumah alami (bumi yang asri) ikut merapuhkan pertahanan diri seseorang. Sebab, hutan, bunga, sungai yang jernih, dan bentang alam yang asri memiliki kemampuan alamiah untuk membersihkan debu dan kotoran yang melilit pikiran kita. Alam yang indah adalah rumah yang damai, tempat stress dikuburkan, tanpa harus kuatir akan menjadi bahan gosipan tetangga. Alam juga memberi efek charging positif pada perasaan tenang yang memulihkan tekanan mental. Bahkan dalam banyak studi dapat menyehatkan seseorang melalui suatu proses yang disebut ekoterapi.

Panggilan spiritual

Menurut saya, solastalgia bukan semata-mata dipicu oleh pengalaman-pengalaman sensorik dari luar. Perasaan terasing juga bersifat spiritual. Dalam pandangan agama-agama samawi, manusia pernah mengalami taman Eden yang indah. Eden dimana segalanya ada.

Eden adalah suatu negeri ideal yang diabstrasikan hampir nyata dalam pikiran hampir semua orang beragama. Para filsuf yang berdiri di alam ide seperti Plato meyakini bahwa kehidupan di bumi hanya cermin tak sempurna dari rekaman pengalaman alam surgawi, yakni dunia Eden yang sempurna itu. Dalam segala keterbatasannya, manusia mati-matian memperjuangkan kehadiran ide itu secara partikular untuk membumi dalam alam sekitar yang terhubung dan mendukung manusia sehari-hari.

Meskipun tidak sepenuhnya mewakili keindahan yang ideal dari Firdaus, manusia merawat imajinasi tersebut melalui interaksi yang memberikan kenyamanan dari alam. Ini sangat kuat pada suku-suku asli atau dunia pertanian ketika intervensi industri belum begitu dominan. Relasi dengan alam masih dijiwai oleh relasi spiritual. Sehingga, wajah Eden masih ditemukan di sana.

Manakala alam yang terhubung tersebut dihancurkan, tidak hanya ikatan sensorik yang lenyap, tetapi satu-satunya gambaran nyata yang dapat diraih dari imajinasi Eden ikut musnah. Kehancuran ekologis tidak hanya membuat manusia kehilangan tanah dan rumah tetapi juga mencerabutnya dari ingatan akan asal muasal manusia dari negeri Eden. Karena itu, solastalgia adalah perasaan manusia tercerabut dari memori spiritualitas akan firdaus. Nostalgia itu mendorongnya untuk memberontak agar ingatannya itu dipulihkan.

Perasaan tercerabut dari Eden adalah yang paling mendasar karena menggusur pengalaman jiwa dari imajinasi ideal tentang alam. Pengalaman ini tidak dapat diukur, sehingga tidak dapat pula ditelisik sebab musabah materialnya. Pengalaman itu hanya bisa dijelaskan dari perasaan itu sendiri. Dalam pengertian itu, kita bisa memahami pengalaman masyarakat asli yang merasa tercerabut dari tanah mereka akibat perubahan bentang alam yang menjungkalkan hutan, sungai, danau, bahkan rumah mereka. Itu semua membuat mereka tergusur tidak hanya secara fisik, tetapi spiritualitas mereka pada “Eden” versi mereka ikut lenyap.

Solastalgia, pada titik itu mencapai kecemasan tertinggi yakni solaspiritual, suatu kesepian spiritual akibat kerusakan alam. Kesepian ini seharusnya mengundang kita kembali pada sang Pencipta. Tetapi bukan untuk meratap dan berdoa, melainkan bertindak nyata. Dalam hal ini semua agama meyakini bahwa manusia bukan sebagai penghancur tetapi perawat dan penjaga bumi.

Dalam makna yang demikian itu maka, pembangunan modern harus dikonstruksikan kembali agar sungguh menempatkan manusia sebagai perawat dan penjaga. Dalam aksi nyata, agama-agama seharusnya menjadi pelopor pemulihan ekologis, bukan sebaliknya mengeruk daratan, menggasak lautan dan menambah derita solastalgia yang diproyeksikan akan bertambah di hari esok.