Konten dari Pengguna

BTS, Kebangkitan Global South, dan Lahirnya Tata Budaya Dunia Multipolar

Sarah Novianti

Sarah Novianti

Dosen Hubungan Internasional UPN Veteran Jakarta

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sarah Novianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

BTS menyampaikan pidato dalam Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat tahun 2018, sebagai bagian dari keterlibatan mereka dalam isu global. (Foto: Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
BTS menyampaikan pidato dalam Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat tahun 2018, sebagai bagian dari keterlibatan mereka dalam isu global. (Foto: Getty Images)

Berakhirnya Era Monopolistik Barat

Selama sebagian besar abad ke-20, peta budaya dunia seolah memiliki arah yang jelas: dari Barat menuju dunia lainnya. Film Hollywood ditonton di berbagai negara, musik pop Amerika dan Inggris mendominasi tangga lagu, sementara televisi dan industri hiburan Barat menjadi rujukan utama dalam menentukan tren global (Tomlinson, 1991). Dalam pola ini, Barat bukan hanya menjadi pusat produksi budaya, tetapi juga memiliki kekuatan untuk menentukan apa yang dianggap modern, populer, dan layak disebut sebagai budaya global (Appadurai, 1996).

Namun, peta tersebut perlahan berubah. Perkembangan internet dan platform digital membuat arus budaya tidak lagi bergerak secara linear dari North to South. Masyarakat di berbagai belahan dunia kini dapat memproduksi, menyebarkan, dan mengonsumsi budaya tanpa harus menunggu persetujuan media Barat (Jin, 2016). Korea Selatan menjadi salah satu contoh paling jelas. K-pop, drama Korea, film, hingga berbagai produk budaya Korea tidak lagi hanya dikonsumsi oleh masyarakat Asia, tetapi justru ikut membentuk selera publik di Amerika Serikat dan Eropa (Iwabuchi, 2015).

BTS menjadi salah satu simbol paling kuat dari perubahan tersebut. BTS adalah grup K-Pop paling sukses dan berpengaruh sepanjang sejarah. Sepanjang karier mereka hingga tahun 2026, grup bentukan HYBE (Big Hit Music) ini telah mendobrak batasan industri musik global dan mencetak berbagai rekor yang belum pernah dicapai oleh musisi Asia lainnya.

Pidato mereka dalam Sidang Umum PBB tahun 2018 memperlihatkan bagaimana mereka memanfaatkan diplomasi publik untuk membagikan narasi kepemudaan dan isu global. Mereka bukan sekadar grup musik Korea yang berhasil menembus pasar Amerika. BTS merupakan bagian dari fenomena yang lebih besar ketika Asia tidak lagi hanya menjadi konsumen budaya global, tetapi mulai menjadi produsen budaya yang ikut menentukan apa yang dianggap populer di tingkat dunia (Kim, 2021).

Meruntuhkan Hegemoni Bahasa Inggris

Selama puluhan tahun, musik populer dunia dikuasai oleh lagu-lagu berbahasa Inggris dari musisi AS dan Inggris. BTS membuktikan bahwa lagu berbahasa non-Inggris (bahasa Korea) dapat mendominasi percakapan global tanpa harus terlebih dahulu diterjemahkan menjadi bahasa Inggris. Estetika, koreografi, gaya berpakaian, hingga budaya fandom yang berkembang dari Korea kemudian direplikasi dan dikonsumsi oleh masyarakat di berbagai negara (Lie, 2015).

BTS mencatatkan sejarah saat lagu "Life Goes On"—yang mayoritas liriknya berbahasa Korea—berhasil memuncaki tangga lagu Billboard Hot 100 dan mendominasi platform Spotify Global. Pencapaian ini membuktikan bahwa bahasa bukan lagi rintangan mutlak di era streaming global, sekaligus membuka jalan bagi musisi Asia lainnya untuk diterima secara universal tanpa harus mengorbankan identitas linguistik mereka (Yim, 2022).

Desentralisasi Arus Budaya (Decentering the West)

Teori globalisasi lama berasumsi bahwa penyebaran budaya bersifat satu arah dari Barat ke Timur melalui mekanisme Americanization (Crane, 2002). Kesuksesan BTS membuktikan adanya arus balik (counter-flow), di mana audiens di negara-negara Barat justru mengonsumsi, mempelajari, dan mengadopsi budaya dari belahan dunia lain (Thussu, 2007). Pengaruh mereka melahirkan model baru dalam interaksi budaya transnasional yang lebih setara.

Perubahan ini menjadi semakin menarik karena arus budaya sekarang bergerak secara multipolar: dari North to South, South to North, South to South, bahkan dari East to West sebelum menjadi fenomena global (Iwabuchi, 2010). Budaya Korea dapat menyebar dari Seoul ke Jakarta, Bangkok, Manila, dan Tokyo, lalu bergerak ke Los Angeles, Paris, dan London. Dalam ekosistem digital, batas antara pusat dan pinggiran budaya menjadi semakin cair.

Perubahan ini berkaitan dengan cara kita memahami istilah “global”. Selama bertahit-tahun, sesuatu yang berhasil di Amerika Serikat atau Inggris lebih mudah disebut sebagai fenomena global, sementara karya yang sangat populer di Asia, Afrika, atau Amerika Latin sering kali dipandang sebagai fenomena regional belaka (Chakrabarty, 2000). Kebangkitan Global South bukan hanya persoalan ekonomi dan politik, melainkan persoalan siapa yang memiliki kemampuan untuk memproduksi makna dan memengaruhi imajinasi masyarakat dunia (Connell, 2007).

BTS memperlihatkan bahwa popularitas global dapat dibangun tanpa harus sepenuhnya mengikuti jalur budaya tradisional Barat. Bahasa Korea, estetika Korea, dan narasi yang mereka bawa justru menjadi bagian utama dari daya tarik internasional mereka (Otmazgin & Ben-Ari, 2012).

Tentu hal ini tidak berarti hegemoni budaya Barat telah berakhir. Hollywood, industri musik Amerika, dan berbagai institusi budaya Barat masih memiliki pengaruh yang sangat besar (Hesmondhalgh, 2019). Grammy Awards, misalnya, tetap memiliki modal simbolik (symbolic capital) yang kuat dalam menentukan legitimasi di industri musik internasional (Bourdieu, 1984). Tetapi pengaruh tersebut kini berhadapan dengan semakin banyak pusat kekuatan budaya baru.

Korea Selatan, Jepang, India, China, negara-negara Amerika Latin, hingga berbagai negara di Asia Tenggara memiliki ekosistem budaya yang semakin mampu memproduksi dan menyebarkan tren secara mandiri (Keane, 2006). Dunia budaya kini menyerupai jaringan dengan banyak pusat yang saling berinteraksi (multicentric network).

Dalam perspektif Hubungan Internasional, perubahan ini dapat dibaca sebagai munculnya tata budaya global yang multipolar (Huntington, 1996; Acharya, 2014). Di sinilah keputusan BTS untuk tidak mengajukan karya ke Grammy 2027 memperoleh makna yang lebih luas. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa artis dari luar pusat kekuasaan kini memiliki kemampuan untuk membangun legitimasi melalui sumber yang berbeda: komunitas penggemar, platform digital, pasar global, dan ekosistem budaya mereka sendiri (Jenkins, 2006).

BTS mungkin tetap membutuhkan industri musik global, tetapi industri musik global juga semakin membutuhkan Asia. Hubungan asimetris ini perlahan bergeser menjadi negosiasi posisi tawar yang lebih seimbang (Kraidy, 2005).

Solidaritas Fandom Lintas Batas (Global South Solidarity)

Keberhasilan BTS sangat didorong oleh basis penggemar mereka, ARMY. Pertumbuhan basis penggemar terbesar dan paling loyal di awal karier mereka justru banyak terkonsentrasi di wilayah Global South seperti Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Timur Tengah (Jang & Paik, 2012).

Lirik lagu BTS yang membahas tentang kesehatan mental, tekanan sistem pendidikan, kesenjangan kelas, dan kritik sosial sangat relevan dengan realitas anak muda di negara-negara berkembang (Lafolie, 2021). Meskipun perjalanan BTS di industri Barat tidak selalu mulus akibat xenofobia dan pengucilan radio lokal (Jung, 2014), keputusan kolektif BTS dan fandomnya untuk menantang standarisasi industri musik Barat menunjukkan adanya kesadaran kritis bahwa kesuksesan sebuah karya musik tidak perlu divalidasi oleh institusi Barat yang konservatif (Lee, 2020).

Hibridasi Musik dan Kapitalisme Transnasional

Musik K-pop dan BTS pada dasarnya mengadopsi akar musik Barat seperti Hip-Hop, R&B, dan EDM yang dikembangkan oleh komunitas kulit hitam di Amerika Serikat (Fuhr, 2015). Industri K-pop beroperasi menggunakan strategi bisnis kapitalisme modern yang sangat agresif, yang dalam beberapa hal meniru metode industrialisasi Barat demi mencapai pasar global (Shim, 2006). Proses hibridasi ini membuktikan bahwa artikulasi lokal dan sistem kapitalisme transnasional dapat saling bertaut untuk menciptakan daya saing global baru (Nederveen Pieterse, 2009).

Potensi Global South dan Wajah Baru Industri Musik Dunia

Potensi serupa sebenarnya terdapat di banyak negara Global South. Nigeria dengan Afrobeats telah menunjukkan bagaimana musik dari Afrika dapat berkembang menjadi fenomena internasional. Amerika Latin memiliki kekuatan besar melalui reggaeton dan berbagai genre musik Latin. India memiliki industri musik dan film yang sangat besar, sementara Jepang telah lama membangun pengaruh melalui J-pop dan anime (Iwabuchi, 2002).

Musik global pada dasarnya bukan kategori geografis, melainkan hasil dari kemampuan sebuah karya untuk melampaui batas bahasa, negara, dan identitas budaya (Feld, 2012). Kebangkitan Global South tidak berarti hegemoni Barat telah runtuh sepenuhnya, melainkan munculnya pusat-pusat kekuatan budaya baru yang semakin mampu menegosiasikan posisinya (Morley & Robins, 1995).

BTS menunjukkan bahwa seorang artis dari Asia dapat menjadi global tanpa kehilangan identitas asalnya (Cho, 2021). Legitimasi budaya kini dapat bersumber dari penggemar, komunitas digital, pasar internasional, dan ekosistem budaya sendiri. Masa depan musik global bukan lagi tentang musik siapa yang paling berhasil menembus Barat, melainkan ketika Seoul, Jakarta, Lagos, Mumbai, Tokyo, São Paulo, hingga Johannesburg dapat sama-sama menjadi pusat tempat budaya global lahir, berkembang, dan bergerak ke seluruh dunia (World Culture Report, UNESCO).

Daftar Pustaka Penunjang:

Acharya, A. (2014). The End of American World Order. Polity Press.

Appadurai, A. (1996). Modernity At Large: Cultural Dimensions of Globalization. University of Minnesota Press.

Hesmondhalgh, D. (2019). The Cultural Industries. SAGE Publications.

Iwabuchi, K. (2015). Resilient globalization and spent transnationalism: K-pop, fans, and anti-Korean sentiment in Japan. Inter-Asia Cultural Studies.

Jin, D. Y. (2016). New Korean Wave: Transnational Cultural Power in the Age of Social Media. University of Illinois Press.

Thussu, D. K. (2007). Media on the Move: Global Flow and Counter-flow. Routledge.