Hari Literasi Internasional: Sudahkah Kita Bisa Membaca Krisis Lingkungan?
Tulisan dari Budi Hartono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Literasi tidak hanya mengajarkan kita membaca kata, tetapi juga memahami perubahan yang terjadi di sekitar kita.
Pada suatu pagi, seorang siswa berjalan melewati sungai yang airnya berubah warna. Di pinggir jalan, tumpukan sampah menggunung. Asap kendaraan memenuhi udara, sementara lahan terbuka perlahan berubah menjadi bangunan. Semua itu hadir di depan mata, tetapi belum tentu terbaca sebagai sebuah persoalan.
Siswa tersebut sudah lancar membaca buku. Ia mampu menemukan gagasan utama, menjawab pertanyaan berdasarkan bacaan, bahkan menulis kembali isi sebuah teks dengan baik. Namun, kemampuan membaca yang diperoleh di sekolah belum tentu membuatnya mampu memahami perubahan yang sedang berlangsung di lingkungannya.
Dalam konteks krisis lingkungan, peringatan Hari Literasi Internasional setiap 8 September menjadi momentum untuk memperluas makna literasi.
Selama ini, literasi sangat dekat dengan kemampuan membaca dan menulis. Keduanya merupakan fondasi penting dalam pendidikan. Namun, kehidupan terus menghadirkan bentuk teks yang semakin beragam. Berita, unggahan media sosial, infografik, video pendek, iklan, hingga percakapan sehari-hari membentuk cara seseorang memahami dunia.
Lingkungan juga hadir di dalam semua itu. Kita membaca berita tentang banjir, kebakaran hutan dan lahan, pencemaran sungai, sampah plastik, kekeringan, serta perubahan iklim. Informasinya begitu mudah ditemukan. Persoalannya bukan lagi semata-mata ketersediaan informasi. Tantangannya terletak pada kemampuan memahami informasi tersebut dan melihat persoalan yang lebih besar di baliknya.
Jika banjir hanya dibaca sebagai peristiwa musiman, kita kehilangan persoalan yang lebih besar, yakni tata ruang, perubahan tutupan lahan, sistem drainase, perilaku manusia, dan kebijakan pembangunan yang saling berkelindan.
Begitu pula dengan kebakaran hutan dan lahan. Berita tentang luas yang terbakar memang penting, tetapi angka tidak pernah berdiri sendiri. Ada hutan yang kehilangan tutupan, satwa kehilangan habitat, masyarakat yang terganggu kesehatannya, anak-anak yang kehilangan kenyamanan belajar, serta kehidupan sosial dan ekonomi yang ikut terdampak.
Membaca lingkungan, dengan demikian, membutuhkan kemampuan menghubungkan satu persoalan dengan persoalan lainnya.
Kemampuan tersebut dapat dikembangkan melalui literasi ekologis, yakni kemampuan memahami hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan serta konsekuensi tindakan manusia terhadap ekosistem. Di sekolah, lingkungan memang sudah hadir sebagai tema. Ada teks tentang kebersihan, poster tentang membuang sampah pada tempatnya, bacaan mengenai penghijauan, atau tugas menulis tentang menjaga lingkungan. Semuanya itu penting, tetapi pendidikan lingkungan kehilangan daya kritis apabila berhenti pada pesan moral yang sederhana.
Menjaga Lingkungan Tidak Cukup Hanya untuk Dihafalkan
Siswa perlu diajak memahami bagaimana sebuah persoalan ekologis terbentuk, diberitakan, dan dimaknai melalui bahasa.
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, ruang untuk membangun literasi ekologis sebenarnya sangat terbuka. Teks berita dapat digunakan untuk melihat bagaimana bencana diberitakan dan siapa yang ditempatkan sebagai pihak yang bertanggung jawab. Teks argumentasi dapat menjadi ruang mempertemukan kepentingan pembangunan dengan keberlanjutan lingkungan. Teks eksplanasi dapat membantu siswa memahami hubungan sebab-akibat suatu fenomena ekologis. Sementara itu, karya sastra dapat menghadirkan alam bukan sekadar sebagai latar cerita, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang memiliki hubungan dengan manusia.
Pembelajaran seperti itu membuat kegiatan membaca memiliki hubungan langsung dengan pengalaman siswa.
Ketika siswa membaca berita tentang banjir di daerahnya, guru dapat membawa mereka pada persoalan yang lebih dekat, yakni perubahan lingkungan di sekitar sekolah, kebiasaan masyarakat membuang sampah, kondisi saluran air, atau berkurangnya ruang terbuka. Siswa tidak berhenti pada pemahaman terhadap isi berita. Mereka dapat diajak melihat bagaimana sebuah peristiwa diceritakan, siapa yang disebut sebagai penyebab, siapa yang menjadi korban, dan bagaimana lingkungan ditempatkan dalam pemberitaan. Pilihan kata dan cara sebuah peristiwa diceritakan ikut membentuk cara manusia memandang alam.
Karena itu, mengajarkan literasi ekologis melalui Bahasa Indonesia bukan sesuatu yang dipaksakan ke dalam pembelajaran. Justru di dalam teks, bahasa, dan aktivitas membaca terdapat ruang yang luas untuk membangun kesadaran terhadap lingkungan.
Tantangan lain datang dari perubahan ekosistem informasi. Siswa saat ini tidak hanya memperoleh informasi dari buku. Mereka hidup di tengah arus informasi media sosial yang disusun dan dipengaruhi oleh algoritma. Berita lingkungan dapat berdampingan dengan opini, potongan video, klaim tanpa sumber, bahkan informasi yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian.
Dalam situasi seperti ini, kemampuan membaca seharusnya disertai kemampuan menilai.
Siswa perlu terbiasa membedakan fakta dan opini, memeriksa sumber, memahami konteks, membandingkan informasi, dan mengenali cara sebuah pesan dibentuk. Kemampuan tersebut sangat penting ketika isu lingkungan sering kali bersinggungan dengan kepentingan ekonomi, politik, dan kebijakan publik.
Literasi Tidak Cukup Berhenti pada Pengetahuan
Seorang siswa dapat mengetahui bahwa membuang sampah ke sungai merupakan tindakan buruk. Namun, pendidikan yang lebih bermakna akan membawanya memahami mengapa kebiasaan ini terjadi, bagaimana dampaknya terhadap ekosistem, dan apa yang dapat dilakukan untuk mengubahnya. Pengetahuan perlu bergerak menjadi kepedulian, dan kepedulian menemukan bentuknya dalam tindakan.
Sekolah memiliki ruang yang besar untuk mengubah pengetahuan ekologis menjadi kesadaran dan tindakan.
Sekolah merupakan ruang bagi siswa untuk menghubungkan teks dengan kehidupan. Buku dan berbagai bentuk teks menjadi jembatan antara pengetahuan dengan realitas. Karena itu, literasi lingkungan tidak seharusnya hanya muncul dalam kegiatan seremonial atau pada saat tertentu ketika isu lingkungan sedang ramai dibicarakan.
Ukuran literasi tidak berhenti pada berapa banyak buku yang selesai dibaca. Yang lebih penting ialah kemampuan memahami apa yang sedang terjadi di sekitar kita. Lingkungan menyediakan begitu banyak “teks” yang dapat dibaca, seperti sungai yang tercemar, hutan yang berkurang, udara yang memburuk, tanah yang rusak, musim yang berubah, dan bencana yang semakin dekat dengan kehidupan manusia.
Semua itu merupakan bagian dari realitas yang membutuhkan pembacaan.
Generasi yang literat adalah generasi yang mampu memahami informasi sekaligus menyadari konsekuensi dari apa yang dibacanya. Mereka tidak berhenti pada mengetahui bahwa lingkungan sedang berubah, tetapi mampu memahami penyebabnya, melihat dampaknya, dan menentukan sikap.
Literasi yang kita rayakan setiap 8 September seharusnya tidak berhenti pada kemampuan membaca kata-kata. Ia perlu membawa manusia sampai pada kemampuan membaca kehidupan.
Alam adalah salah satu buku terbesar yang terbuka di hadapan kita. Sungai, hutan, udara, tanah, dan perubahan musim adalah halaman-halaman yang dapat dibaca setiap hari. Sayangnya, sebagian halaman itu kini sedang rusak. Jangan sampai generasi berikutnya mewarisi sebuah buku yang hanya menyisahkan judul.

