Konten dari Pengguna

Ketika Hutan Terbakar, Apa yang Kita Ajarkan kepada Anak?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Budi Hartono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (sumber: https://pixabay.com/id/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (sumber: https://pixabay.com/id/)

Karhutlah bukan sekadar persoalan hutan dan asap. Ketika ribuan sekolah harus mengubah pembelajaran akibat paparan asap, kita perlu bertanya: sudahkah pendidikan mengajarkan anak memahami hubungan manusia, alam dan masa depan?

Setiap musim kemarau ada sesuatu yang selalu seolah berulang: api menyala, asap mengepul, petugas dikerahkan, pesawat diterbangkan, dan air ditumpahkan dari udara. Setelah itu, kita berharap segera turun hujan. Ketika api kembali padam, perhatian perlahan beralih dan berita pun berganti. Kita kembali pada rutinitas. Namun, benarkah persoalannya selesai ketika api berhenti menyala?

Pertanyaan itu penting untuk diajukan pada tahun ini. Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutlah nasional sepanjang Januari –Juni 2026 mencapai 107.465,47 hektare, meningkat 366 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Hingga Juli 2026, luas karhutla bahkan mencapai sekitar 202.004 hektare. Angka sebesar itu sulit dibayangkan. Kita lebih mudah membayangkan satu pohon terbakar daripada ratusan ribu hektare lahan yang kehilangan tutupan vegetasinya. Kita lebih mudah merasakan perihnya mata akibat asap daripada membayangkan kehiupan yang hilang bersama habitatnya.

Padahal, ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pohon.

Yang Terbakar Bukan Sekadar Hutan

Hutan sering disebut sumber daya alam. Namun, jika alam hanya dilihat dari nilai ekonominya, ada sesuatu yang perlahan hilang dari cara kita berpikir. Hutan memang menghasilkan kayu, lahan dapat menghasilkan komoditas, dan tanah dapat memberikan keuntungan. Namun, hutan juga menyimpan air, menjaga kesimbangan ekosistem, menyediakan habitat bagi satwa, dan menjadi ruang hidup bagi masyarakat. Karena itu, ketika hutan terbakar, kerugiannya tidak selesai dihitung berdasarkan seberapa kayu atau luas lahan yang hangus. Berapa nilai seekor orangutan yang kehilangan habitatnya? Berapa harga udara bersih yang hilang? Berapa biaya sosial ketika anak-anak tidak dapat belajar secara normal? Dan berapa nilai sebuah ekosistem yang membutuhkan puluhan tahun untuk pulih?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena krisis ekologis sering membuat kita sibuk menghitung apa yang mudah diukur, tetapi lupa terhadap sesuatu yang tidak mudah diberi harga. Barangkali kisah seekor orangutan yang kehilangan rumahnya hanya satu dari begitu banyak kehidupan yang tidak pernah menjadi berita.

Ketika Asap Masuk ke Ruang Kelas

Dampak karhutlah tidak berhenti di hutan. Asap bergerak ke ruang hidup manusia, termasuk sekolah.

Berdasarkan data Kemendikdasmen per 11 Agustus 2026, sebanyak 3.524 satuan pendidikan dengan 571.338 murid di sejumlah wilayah Kalimantan telah menetapkan Pembelajaran Jarak Jauh akibat dampak karhutla. Angka tersebut menunjukkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan kehutanan. Ia telah menjadi persoalan pendidikan.

Anak-anak yang seharusnya belajar di ruang kelas harus beradaptasi dengan kondisi darurat. Guru harus menyesuaikan pembelajaran. Orang tua kembali mendampingi proses belajar dari rumah. Semua itu menunjukkan bahwa kerusakan ekologis pada akhirnya masuk ke ruang-ruang yang selama ini kita anggap jauh dari persoalan hutan.

Di sinilah kita perlu melihat karhutla secara luas. Ketika lingkungan rusak, pendidikan ikut terdampak. Ketika kualitas udara memburuk, hak anak untuk belajar dengan aman ikut dipertaruhkan.

Kita Terlalu Sibuk Memadamkan

Tidak ada yang keliru dengan pemadaman. Api memang harus segera dipadamkan. Negara harus hadir ketika masyarakat berada dalam bahaya. Namun, jika setiap tahun kita mengulang pekerjaan yang sama, ada pertanyaan yang lebih mendasar, yakni mengapa kita lebih sibuk memadamkan api daripada mencegahnya?

Pemerintah tentu memiliki tanggung jawab besar. Pengawasan perlu diperketat. Pelaku pembakaran harus ditindak tegas. Pengelolaan lahan harus diperbaiki. Ekosistem gambut harus dilindungi dan dipulihkan.

Kementerian Kehutan sendiri terus memperkuat pengendalian karhutla sekaligus mendorong penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran. Namun, penegakan hukum saja tidak cukup. Kita juga membutuhkan perubahan cara pandang. Selama pembakaran dianggap sebagai cara termurah dan tercepat untuk membuka lahan, selama keuntungan jangka pendek lebih penting daripada keberlanjutan, dan selama kerusakan alam dianggap sebagai biaya yang dapat ditanggung bersama, api akan selalu menemukan alasan untuk kembali menyala.

Di sinilah pendidikan memiliki peran penting

Pendidikan Tidak Boleh Sekadar Mengajarkan Menanam Pohon

Pendidikan lingkungan tidak cukup berhenti pada ajakan menanam pohon, menghemat air, atau membuang sampah pada tempatnya. Anak perlu memahami hubungan antara tindakan manusia dan konsekuensi ekologisnya. Mereka belajar bahwa hutan bukan sekadar pemandangan hijau, sungai bukan sekadar tempat air mengalir, dan satwa bukan sekadar objek yang menarik untuk dilihat.

Alam adalah bagian dari kehidupan manusia. Ketika cara pandang itu tumbuh, menjaga lingkungan tidak lagi terasa sebagai kewajiban tambahan. Ia menjadi bagian dari cara manusia menjalani kehidupan.

Pendidikan juga perlu membantu anak memahami bahwa krisis ekologi tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada pilihan manusia, kebijakan, cara produksi, pola konsumsi, dan cara memperlakukan alam yang ikut menentukan apakah sebuah ekosistem akan bertahan atau justru rusak.

Dengan demikian, pendidikan lingkungan seharusnya tidak hanya membentuk anak yang tahu bahwa hutan harus dijaga, tetapi juga anak yang mampu bertanya mengapa hutan terbakar, siapa yang terdampak, apa penyebabnya, dan apa yang dapat dilakukan untuk mencegahnya?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu jauh lebih penting daripada sekadar menghafalkan jenis-jenis keruskan lingkungan.

Masa Depan Tidak Berada di Tahun Depan

Kita sering mengatakan bahwa anak-anak adalah masa depan bangsa. Kalimat itu terdengar indah, namun, masa depan tidak pernah benar-benar berada di tahun yang belum datang. Masa depan dibentuk hari ini.

Anak-anak yang belajar di tengah asap adalah masa depan itu. Anak-anak yang kehilangan ruang bermain karena kualitas udara buruk adalah masa depan itu. Anak-anak yang melihat hutan terbakar tanpa memahami mengapa dan bagaimana hal tersebut terjadi juga adalah masa depan itu.

Karhutla mengajarkan kita satu hal bahwa kerusakan jauh lebih mudah terjadi daripada pemulihan. Menyalakan api mungkin hanya membutuhkan beberapa menit. Namun, memulihkan hutan membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Karen itu, jangan menunggu api padam untuk memulai memikirkan masa depan.

Ketika hutan terbakar, sesungguhnya yang kita pertaruhkan bukan sekadar pepohonan. Kita mempertaruhkan udara yang kita hirup, air yang kita minum, satwa yang hidup bersama kita, ruang belajar anak-anak, dan kualitas kehidupan generasi yang akan datang.

Hari ini api mungkin dapat kita padamkan, namun, jika cara berpikir kita tidak berubah, api akan selalu menemukan tempat lain untuk menyala sehingga yang terbakar adalah masa depan kita sendiri.