Kredit Tumbuh, Laba Naik, Lalu Apa?

Mahasiswa Pascasarjana Magister Akutansi Universitas Pamulang dan Banker pada salah satu bank swasta nasional
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Selamet Budi Rianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membaca kualitas pertumbuhan kredit digital dari perspektif risiko dan akuntansi
Bayangkan sebuah perusahaan mengumumkan kinerja yang terlihat sempurna: kredit tumbuh dua digit, pendapatan meningkat, dan laba mencetak rekor baru. Investor tentu memiliki alasan untuk tersenyum. Manajemen pun memiliki alasan untuk merayakanencapaian tersebut.
Tetapi ada satu pertanyaan yang sering terlupakan di balik angka-angka tersebut:
Berapa harga yang harus dibayar untuk menghasilkan pertumbuhan itu?
Pertanyaan ini semakin relevan ketika kredit semakin mudah diperoleh melalui teknologi digital. Hanya dengan telepon pintar, masyarakat dapat mengakses pinjaman, membeli barang dengan skema Buy Now Pay Later (BNPL), atau memperoleh pembiayaan tanpa harus datang ke kantor cabang.
Digitalisasi jelas membawa manfaat. Ia memperluas akses keuangan, mempercepat proses pembiayaan, dan membuka peluang bagi masyarakat yang sebelumnya sulit mendapatkan layanan keuangan formal.
Namun, semakin cepat kredit tumbuh, semakin penting pula memastikan bahwa pertumbuhan tersebut memiliki kualitas.
Bank Indonesia mencatat kredit perbankan pada Juli 2026 tumbuh 13,58% secara tahunan, meningkat dari 12,67% pada Juni 2026. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa fungsi intermediasi perbankan terus berjalan dan pembiayaan masih menjadi salah satu motor aktivitas ekonomi.
Di sisi lain, pembiayaan digital menunjukkan pertumbuhan yang lebih agresif. OJK mencatat baki debet BNPL perbankan pada Mei 2026 mencapai Rp30,1 triliun dan tumbuh 37,72% secara tahunan.
Angka tersebut bukan sesuatu yang harus ditakuti. Justru pertumbuhan pembiayaan menunjukkan semakin luasnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan. Tetapi dari perspektif akuntansi, pertumbuhan outstanding hanyalah awal dari cerita, bukan akhir dari cerita.
Pertumbuhan Tidak Sama dengan Penciptaan Nilai
Bayangkan dua lembaga keuangan sama-sama menghasilkan laba Rp100 miliar. Lembaga pertama memperoleh laba tersebut dari portofolio dengan risiko gagal bayar rendah. Lembaga kedua menghasilkan laba yang sama dari portofolio dengan risiko jauh lebih tinggi.
Secara sederhana, keduanya terlihat sama-sama berhasil.
Namun secara ekonomi, keduanya tidak sama.
Inilah pentingnya melihat risk-adjusted return. Laba tidak seharusnya hanya dilihat dari besarnya pendapatan yang berhasil diperoleh, tetapi juga dari risiko yang harus diambil untuk menghasilkan pendapatan tersebut.
Pertanyaan yang seharusnya tidak berhenti pada “berapa besar laba yang dihasilkan?”, tetapi juga “berapa besar risiko yang harus diambil untuk menghasilkan laba tersebut?”
Perbedaan cara pandang ini penting karena pertumbuhan kredit pada dasarnya merupakan pertukaran antara return dan risiko. Semakin tinggi risiko yang diambil, semakin besar kompensasi yang seharusnya diperoleh.
Masalah muncul ketika pertumbuhan return tidak lagi sebanding dengan pertumbuhan risiko.
Akuntansi sebagai Radar Risiko
Perspektif ini sebenarnya sudah tercermin dalam penerapan PSAK 71 melalui konsep expected credit loss (ECL).
Akuntansi tidak lagi sekadar menunggu sampai debitur benar-benar gagal bayar. Entitas perlu mempertimbangkan potensi kerugian kredit berdasarkan informasi yang tersedia dan kondisi yang diperkirakan terjadi.
Pesannya sederhana: risiko masa depan harus mulai tercermin dalam angka keuangan hari ini.
Dalam bisnis kredit, pendapatan bunga bukan satu-satunya angka yang penting. Ada expected loss, biaya pendanaan, biaya operasional, dan kebutuhan modal.
Karena itu, kredit dengan bunga tinggi tidak otomatis menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi.
Jika tambahan pendapatan dari kredit berisiko tinggi lebih kecil daripada tambahan expected loss dan biaya lainnya, pertumbuhan tersebut justru dapat menghancurkan nilai.
Di sinilah risk premium menjadi penting. Risk Premium bukan sekadar bunga yang lebih tinggi, melainkan kompensasi atas risiko yang diambil.
Dengan demikian, pertumbuhan kredit yang sehat seharusnya bukan hanya menghasilkan tambahan return, tetapi juga menghasilkan return yang memadai setelah risiko diperhitungkan.
Jangan Terjebak pada Angka Outstanding
Digitalisasi membuat persoalan tersebut semakin penting.
Teknologi memungkinkan proses kredit berlangsung lebih cepat. Analisis dapat dilakukan menggunakan data, keputusan dapat dibuat secara otomatis, dan pencairan dapat dilakukan hampir seketika.
Namun, kecepatan tersebut juga membuat pertumbuhan portofolio dapat terjadi jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Perbedaan laju pertumbuhan antara kredit perbankan dan pembiayaan digital menarik untuk dicermati. Bukan karena pertumbuhan BNPL otomatis menunjukkan risiko yang buruk, tetapi karena semakin cepat suatu portofolio tumbuh, semakin penting kualitas proses underwriting, kemampuan membayar debitur, early warning system, dan kecukupan pencadangan.
Sebab, outstanding adalah ukuran besarnya bisnis, bukan ukuran kualitas bisnis.
Kita perlu melihat apa yang berada di balik angka tersebut: siapa debiturnya, bagaimana kemampuan membayarnya, bagaimana tren keterlambatan pembayaran, dan apakah tingkat pencadangan sudah mencerminkan risiko yang ada.
Dari Growth Menuju Quality of Growth
Menurut saya, industri keuangan Indonesia perlu mulai mengubah cara memandang pertumbuhan.
Kita terlalu mudah memberikan penghargaan kepada perusahaan yang tumbuh paling cepat. Padahal perusahaan yang tumbuh 10% dengan kualitas aset yang baik bisa saja menciptakan nilai lebih besar dibandingkan perusahaan yang tumbuh 30% tetapi harus membayar mahal melalui peningkatan kredit bermasalah, pencadangan, dan kebutuhan modal.
Karena itu, pertumbuhan seharusnya dibaca bersama empat indikator: growth, return, risk, dan capital.
Laba harus dilihat bersama biaya risikonya. Pendapatan harus dibandingkan dengan modal yang digunakan. Pertumbuhan outstanding harus dibaca bersama kualitas aset dan pencadangan.
Menariknya, kondisi industri perbankan saat ini masih menunjukkan ketahanan yang cukup kuat. Artinya, pembahasan mengenai kualitas pertumbuhan bukanlah alarm bahwa industri sedang bermasalah. Justru sebaliknya, ini adalah momentum untuk memperkuat disiplin risiko ketika kondisi masih relatif sehat.
Di sinilah akuntansi memiliki peran yang jauh lebih strategis daripada sekadar mencatat transaksi.
Akuntansi seharusnya membantu menjawab pertanyaan: apakah pertumbuhan yang terlihat hari ini benar-benar menciptakan nilai untuk masa depan?
Pada akhirnya, digitalisasi kredit merupakan peluang besar bagi Indonesia. Ia dapat memperluas inklusi keuangan dan mendukung aktivitas ekonomi. Tetapi pertumbuhan kredit tidak boleh hanya mengejar angka.
Kita perlu mengubah pertanyaan dari “seberapa cepat kredit tumbuh?” menjadi “seberapa berkualitas pertumbuhan tersebut?”
Karena pada akhirnya, pertumbuhan bukanlah tentang seberapa besar angka yang berhasil dicatat dalam neraca, tetapi seberapa besar nilai yang mampu dipertahankan setelah seluruh risiko diperhitungkan.
Selamet Budi Rianto
Mahasiswa Pascasarjana Magister Akutansi Universitas Pamulang dan Banker pada salah satu bank swasta nasional
