Tukin Cair, Tapi Bagaimana dengan Integritas Akademik Kita?

Dosen dan Peneliti di Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Magelang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Budi Waluyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pekan ini, suasana euforia menyelimuti kampus-kampus negeri di seluruh Indonesia. Notifikasi masuk dari aplikasi perbankan, tangkapan layar transfer, hingga unggahan syukur dan perhitungan tunjangan kinerja (tukin) membanjiri grup WhatsApp para dosen.
Wajar. Tukin bukan sekadar angka di rekening. Ia adalah wujud pengakuan atas kerja keras akademisi yang berjibaku dengan tridharma perguruan tinggi, mengajar, meneliti, dan mengabdi. Ada kebanggaan, ada semangat baru.
Tapi di tengah gegap gempita itu, satu ironi justru muncul ke permukaan. Laporan Research Integrity Index (RII) terbaru mengungkap realitas pahit: sejumlah perguruan tinggi kita masuk zona merah dan oranye. Artinya? Tingginya potensi pelanggaran integritas akademik. Plagiarisme, publikasi ganda, manipulasi data, dan publikasi di jurnal predator bukan lagi isu sepele, tapi gejala sistemik.
Pertanyaannya: apakah penghargaan tukin selama ini benar-benar selaras dengan kualitas dan integritas akademik yang ditunjukkan?
Jangan buru-buru menyalahkan dosen. Jangan pula sepenuhnya menyudutkan kampus. Masalah integritas riset tak bisa dilihat sebagai kesalahan moral individu semata. Ini juga buah dari kebijakan pendidikan tinggi yang sejak lama terlalu menekankan kuantitas daripada kualitas.
Kita semua tahu indikatornya: jumlah publikasi di jurnal Scopus, paten yang didaftarkan, indeks sitasi, dan seterusnya. Tapi sayangnya, indikator itu sering kali membutakan kita dari satu hal paling penting dalam penelitian: kebenaran ilmiah dan kebermanfaatannya bagi masyarakat.
Saatnya kita mengubah arah. Tukin, insentif, dan penghargaan semacamnya tak boleh hanya berbasis output administratif. Harus ada penilaian pada proses ilmiah yang etis dan berdampak.
Pemerintah sebagai pembuat kebijakan, perguruan tinggi sebagai institusi, dan dosen sebagai pelaku, perlu menyepakati satu hal: integritas riset bukan slogan. Ia adalah pondasi dari semua karya ilmiah yang bermartabat.
Tanpa integritas, tukin hanyalah sekadar transfer bulanan. Tapi dengan integritas, tukin menjadi bahan bakar untuk membangun peradaban ilmu.
Budi Waluyo
Dosen dan Peneliti di Program Studi Teknik Mesin Unimma
