Media yang Katanya Sosial

Mahasiswa Teknik Elektro, Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Andri Budiarto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Judul di atas mungkin bisa menjadi sebuah satire yang tepat untuk menggambarkan kondisi saat ini. Manusia sejatinya membutuhkan interaksi fisik di dalam proses kesempurnaannya, begitu sepertinya yang bisa digambarkan dari perkataan seorang filsuf Muslim Al-Farabi.
Hingga akhirnya, tibalah kita di zaman ini. Saat sebuah wadah bernama "Media Sosial", dari namanya apakah mampu mewakilkan kita? Atau mengganti posisi untuk berinteraksi? Pertanyaan yang menarik dan menggelitik di benak. Sebuah fenomena yang sedang terjadi di tengah kita, mulai bergesernya interaksi fisik dengan artifisial, batasan di antara keduanya mulai kabur, layar gawai berubah menjadi pengganti wajah.
Sejatinya dalam syariat Islam, musofahah dan bersilaturahmi adalah sebuah anjuran yang sangat ditekankan. Bertemunya seorang muslim dengan muslim lainnya hingga mereka saling memandang satu sama lain akan menumbuhkan rasa cinta dan mampu meruntuhkan ego. Begitulah yang disampaikan guru kami tercinta Al-Ustadz Syahrul Ahadi AK, di sela mengajarnya. Perbedaan pendapat, pandangan politik, dan sebagainya antara orang tua dan anak, suami dan istri, kawan sejawat akan terus meruncing jika dituangkan di atas “media yang katanya sosial”. Berbeda jika hal tersebut dituangkan pada interaksi fisik, niscaya akan tumpul bahkan mencair. Dalam wajah-wajah ada sifat rohim (kasih sayang) yang secara fitrah Allah berikan kepada kita manusia.
Kita bisa amati secara umum di sekitar, sepertinya kita mulai kehilangan esensi dari manusia sebagai makhluk sosial menuju manusia sebagai produk emosional bagi para raksasa pendulang algoritma like dan share. Bisa dikatakan kita sebenarnya bukan pada posisi konsumen mereka, melainkan komoditas. Mereka mengolah dan terus memeras emosi, minat, dan hal-hal yang kita sukai melalui rangkaian algoritma yang dingin.
Untuk mencegah pola ini berkembang dan mendarah daging, mari kita mulai perlahan namun pasti untuk kembali berinteraksi secara nyata. Hadirkan fisik secara utuh dengan ditemani secangkir kopi. Di sanalah kita bisa membahas perbedaan pandangan, ide-ide liar pemuda, pergerakan, dan inovasi untuk mencegah tumpulnya pola pikir. Sebuah usaha sederhana, yang harus dimulai dari kita.
Sejatinya secangkir algoritma tidak akan pernah sama dengan secangkir kopi.
