Konten dari Pengguna

Salah Duduk, Salah Pula Cara Kita Mengambil Ilmu

Andri Budiarto

Andri Budiarto

Mahasiswa Teknik Elektro, Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andri Budiarto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi suasana belajar di majelis ilmu (Foto : Dokumen Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi suasana belajar di majelis ilmu (Foto : Dokumen Pribadi)

Sebuah cermin intropeksi diri, tugas kuliah menumpuk tak kunjung selesai materi tak ada yang berbekas, tugas praktikum gagal total. Hal ini kerap kali terjadi pada diri kita yang sedang menuntut ilmu, sekolah, atau belajar, baik di pendidikan dasar maupun perguruan tinggi.

Kita sering bertanya-tanya, apakah metode belajar kita yang salah? Atau apakah ada yang keliru dengan cara kita "mengambil" ilmu?

Sebagai seorang penuntut ilmu, saya mulai mengingat kembali bahasan dan pelajaran dari Ta'lim Muta'allim buah karya Syekh Az-Zarnuji. Sebuah kitab klasik namun jadi panduan dan pedoman paten dalam hal menuntut ilmu yang saya dapatkan di Majelis Addhiyaul Mukhtar Kebon Jeruk, Jakarta Barat, di bawah bimbingan guru mulia kami, Al-Ustadz Syahrul Ahadi AK. Di sana, saya menyadari bahwa menuntut ilmu memiliki "aturan main" yang tak tertulis namun krusial.

Mungkin selama ini kita merasa tugas yang menumpuk dan kesulitan belajar adalah masalah teknis belaka. Namun, bisa jadi masalah utamanya adalah kurangnya penghormatan dan memuliakan guru. Syekh Az-Zarnuji dengan tegas menyatakan bahwa di antara adab memuliakan guru dan pemilik ilmu adalah tidak berjalan di depannya dan tidak duduk di tempat duduknya. Kita tanpa sadar sering meremehkan hal kecil seperti duduk di kursi dosen atau guru, entah saat kelas kosong atau karena merasa akrab. Tapi kenyatannya dari sudut pandang Ta'lim Muta'allim itu adalah bentuk "pelanggaran" yang fatal.

Sebuah teori kelistrikan, bahwasannya arus Listrik dapat mengalir jika terdapat beda potensial dari potensial tinggi ke potensial rendah. Begitu pun dengan ilmu, ia akan mengalir dari sumber yang memiliki potensial lebih tinggi, yakni pemilik ilmu, menuju kita yang sedang menimba ilmu. Namun, saat kita duduk di bangku guru atau memposisikan diri sejajar dengannya, kita seolah sedang meniadakan beda potensial tersebut. Akibatnya, aliran arus ilmu itu pun terhambat, bahkan bisa jadi berhenti, karena tidak ada lagi celah bagi ilmu untuk mengalir ke dalam diri kita.

Banyak penuntut ilmu yang pintar secara teori, namun kehilangan "buah" dari ilmunya. Mereka hafal rumus dan teori, tapi tidak mendapatkan kemudahan dalam mengamalkan atau memahami esensi materi tersebut. Seringkali, kegagalan itu bukanlah karena materi kuliah yang terlalu sulit, melainkan karena kita belum memosisikan diri dengan benar sebagai seorang murid.

Jadi, sebelum menyalahkan tugas yang menumpuk atau materi yang rumit, mari kita coba cek lagi cara kita menghormati dan memuliakan guru. Karena ilmu yang bermanfaat tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras kita belajar, tapi seberapa tertib kita menempatkan diri sebagai murid.