Konten dari Pengguna

Bukan Diskalkulia: Kenali Penyebab Anak Malas Belajar Matematika

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari yulius wahyu putranto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

source: gemini.ai
zoom-in-whitePerbesar
source: gemini.ai

Sulit berhitung belum tentu gangguan belajar spesifik. Ada kalanya itu murni soal kebiasaan, pengasuhan, dan kelelahan yang menumpuk. Yuk, bedakan sebelum salah diagnosa!

Jebakan Stigma: Saat Kesulitan Berhitung Langsung Dicap Diskalkulia

Melihat anak kesulitan mengerjakan soal matematika sering kali membuat orangtua panik. Stigma langsung muncul: "Jangan-jangan anak saya diskalkulia?" Eits, tunggu dulu. Kesulitan berhitung tidak selalu identik dengan diskalkulia, lho. Faktanya, ada banyak faktor eksternal yang membuat anak hari ini struggling dengan angka, dan itu bukan semata-mata soal gangguan neurologis. Banyak orangtua yang langsung mengambil kesimpulan tanpa menelusuri akar masalahnya. Padahal, salah label justru bisa berdampak buruk pada psikologis anak dan cara ia memandang dirinya sendiri seumur hidup.

Faktor Internal: Budaya Malas dan Dampak Pola Asuh yang Terlalu Longgar

Penyebab pertama datang dari dalam diri anak atau remaja itu sendiri. Zaman sekarang, banyak yang terjebak dalam budaya malas belajar dan cenderung berpikir pragmatis: "Ah, nanti juga beres sendiri." Sikap pasrah ini sering kali diperparah oleh pola asuh orangtua yang terlalu longgar. Ketika orangtua selalu menuruti semua keinginan anak tanpa batas, anak kehilangan disiplin diri. Mereka tidak terbiasa menghadapi kesulitan, sehingga saat bertemu soal matematika yang rumit, reaksi pertama adalah menyerah. Anak yang tumbuh dalam lingkungan serba dimudahkan akan kesulitan mengembangkan grit (ketangguhan akademik). Padahal, kemampuan berhitung adalah keterampilan yang bisa dilatih, bukan sekadar bakat bawaan.

Faktor Eksternal: Kelelahan Fisik dan Jadwal yang Terlalu Padat

Faktor berikutnya adalah kelelahan fisik yang menumpuk. Banyak anak zaman now yang sangat aktif, ikut ini itu, les sana-sini, atau sibuk dengan kegiatan organisasi dan ekstrakurikuler. Sayangnya, kelelahan ini membuat mereka "zonk" di kelas. Saat pelajaran matematika berlangsung, tubuh dan otak mereka sudah terlalu lelah. Akibatnya, performa akademik pun terpengaruh. Ini bukan karena mereka bodoh, melainkan karena energi mereka sudah habis terkuras di tempat lain. Orangtua sering lupa bahwa anak punya batas kapasitas; jadwal yang terlalu padat tanpa istirahat justru membuat anak kehilangan fokus dan motivasi.

Memahami Diskalkulia yang Sesungguhnya: Gangguan Spesifik, Bukan Kebodohan

Lalu, apa itu diskalkulia sebenarnya? Penting untuk dipahami bahwa diskalkulia bukanlah penyakit mental dan bukan tanda IQ rendah. Diskalkulia adalah gangguan belajar spesifik (specific learning disorder) yang membuat seseorang mengalami kesulitan dalam memproses angka dan perhitungan. Ini murni soal cara otak bekerja, bukan soal kemalasan. Anak dengan diskalkulia mungkin sangat cerdas dalam bidang lain, seperti bahasa, seni, atau sosial, tetapi otaknya kesulitan memetakan simbol angka dan operasi matematika. Mereka bisa memahami konsep secara verbal, tetapi bingung saat harus menuangkannya dalam bentuk hitungan.

Jalan Keluar: Deteksi Dini, Terapi, dan Pendampingan yang Tepat

Kabar baiknya, kondisi ini tentu saja bisa ditangani dengan baik. Diskalkulia dapat diatasi melalui pendampingan khusus, seperti terapi okupasi, metode belajar multisensori, atau pendekatan individual yang disesuaikan dengan gaya belajar anak. Kuncinya adalah deteksi dini dan pendekatan yang tepat sasaran. Semakin cepat orangtua dan guru mengenali gejalanya, semakin besar peluang anak untuk mengembangkan strategi kompensasi yang efektif.

Jadi, sebelum melabeli anak dengan gangguan belajar, mari bedakan dulu: mana yang karena kebiasaan malas, mana yang karena kelelahan, dan mana yang benar-benar gangguan neurologis. Jangan sampai salah diagnosa, ya! Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan anak bukanlah label, melainkan pemahaman dan pendampingan yang tepat.